Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
42. Semua Orang Berhak Hidup Bahagia


__ADS_3

Awalnya ibu Ranti sangat kecewa dengan pilihan anaknya sehingga ia menentang pernikahan tersebut. Ia merasa malu karena Bryan yang sudah berhasil dalam pendidikannya dan menjadi terkenal di desanya. Masih muda tapi sudah jadi seorang polisi menjadi suatu kebanggaan tersendiri namun tak pernah disangkah bahwa ia akan jatuh cinta kepada seorang janda beranak satu.


Boleh dikata bahwa semua warga desa tahu bagaimana kisah dan perjalanan hidup Lin dan suaminya yang menjadi masa lalu yang suram. Ibu Ranti semakin malu mendengar komentar-komentar dari warga desa yang mengatakan bahwa bisa-bisanya seorang polisi, orang yang berpendidikan mau menjadikan perempuan malas dan dekil untuk menjadi istrinya, apa dia tidak malu membawa istrinya ke kondangan atau bertemu dengan istri-istri polisi yang cantik-cantik?


Namun setelah dinasihati oleh suaminya akhirnya ia mengalah dan membiarkan pernikahan tersebut berlangsung setelah ditunda selama dua minggu.


Minggu lalu Lin datang ke rumah orang tuanya untuk menyampaikan rencana pernikahannya sekaligus menjemput Rizha.


Kedatangannya membuat kedua orang tua dan adik-adiknya kagum dengan perubahan dirinya. Kini ia tampak lebih muda dengan wajah yang mulus dan body yang aduhay bak gitar spanyol. Pakaiannya juga bermerek membuat salah seorang penghuni rumah merasa risih dan malu. Siapa lagi kalau bukan Janes yang sudah merebut suaminya.


Adik-adiknya sangat senang dengan kedatangannya karena ada banyak ole-ole yang dia bawa dari Makassar. Selain aneka makanan ada juga dua tas besar yang berisi pakaian bekas milik majikannya. Adik-adiknya itu sampai berebutan, hanya Janes yang tetap berdiam diri di tempat.


Ia kaget ketika melihat Janes berada di rumah itu dan sedang menggendong seorang bayi mungil yang wajahnya sangat mirip dengan Rian, mantan suaminya. Ia tak pernah menyangkah bahwa adiknya itu akan berani datang menemui orang tuanya.


Hanya semalam ia berada di rumah kedua orang tuanya dan lebih banyak berdiam diri. Ia tidak pernah menanyakan bagimana kehidupan adiknya apalagi mau menanyakan perihal mantan suaminya.


"Bagaimana dengan sekolah Rizha?" tanya ibu Erna ketika Lin pamit dan membawa serta anaknya.


"Nanti saya urus surat pindahnya setelah acara pernikahanku selesai," sahut Lin sambil mencium tangan kedua orang tuanya.


"Oh, iya Pa, Ma, jangan lupa datang ke pesta pernikahanku yang akan digelar di Makassar, bawa semua adik-adikku agar mereka juga sekali-kali keluar kandang. Kalian tinggal tunggu mobil aja yang akan menjemput karena kak Raka akan mengurus semuanya!" kata Lin lagi sebelum berangkat.


Kedua orang tuanya tersenyum dan adik-adiknya yang mendengar perkataan kakaknya juga ikut melompat kegirangan.


"Hore, hore, kita mau jalan-jalan ke Makassar!" teriak anak-anak itu dengan bahagia.


Lin tidak menceritakan kepada kedua orang tuanya, siapa nama calon suaminya. Ia hanya mengatakan bahwa nanti setelah hadir di acara pernikahan baru dikenalkan kepada mereka.


***


Sehari sebelum pesta digelar, Raka telah menghubungi orang tuanya agar bersiap karena sudah ada mobil yang menjemput mereka sedangkan ia sendiri beserta Sita dan anaknya sudah berada di Makassar. Mereka menyewa sebuah penginapan dan orang tuanya serta adik-adiknya pun akan menginap di situ nantinya.


Ketika keluarga pihak laki-laki menjemput pengantin perempuan di rumah pak Geral, wajah ibu Ranti yang selalu murung tiba-tiba tersenyum melihat calon istri anaknya yang sangat rupawan.


"Rupanya kamu sudah membohongi Ibu!" bisiknya ke telinga Bryan.


"Maksud Ibu?" tanya Bryan dengan heran.


Ibu Ranti tidak menjawab lagi karena penerima tamu sudah mempersilahkan untuk duduk dikursi yang telah disiapkan. Ia terus memperhatikan wajah calon mantunya dengan saksama. "Perempuan itu bukan Lin, Lin yang ia kenal bertubuh gemuk dan dekil serta kulitnya hitam sedangkan perempuan itu cantik, putih, dan langsing," gumannya dalam hati.


Demikian juga dengan kedua orang tua Lin, mereka takjub dengan segala kemewahan dan sekali gus heran karena banyak yang hadir dengan berpakaian polisi yang lengkap.


Rizha datang menemui opa dan omanya. Ia juga sudah didandani sehingga tampak sangat cantik.


"Riz, kenapa banyak sekali pak polisi?" tanya adiknya Lin yang paling bungsu dengan wajah cemas. Dari kecil ia selalu ditakut-takuti bahwa kalau nakal akan ditangkap pak polisi.


"Itu semua adalah teman calon suami mama, soalnya calon papa tiriku iku seorang polisi loh!" sahut Rizha dengan bangga.


Pak Ali dan ibu Erna saling berpandangan karena tidak menyangkah bahwa anaknya akan dinikahi oleh seorang polisi.


Pak Geral dan ibu Yanti yang menjadi pendamping pengantin perempuan atas permintaan Lin dan hal ini sudah ia rundingkan sebelumnya dengan Raka sebagai kakak sulungnya. Kedua orang tua Lin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga dengan tulus kepada pak Geral dan ibu Yanti karena telah menjadi orang tua bagi Lin.


Tak lama kemudian iringan-iringan yang mengantar pasangan pengantin sudah keluar dari rumah. Semua mata tertuju kepada pasangan pengantin yang sangat serasi. Senyum tak lepas dari bibir menambah keanggunan dan menyempurnakan penampilan mereka.


Ucapan selamat dari saudara, teman, sahabat, dan keluarga melengkapi kebahagiaan yang dialami oleh Bryan dan Lin.


Usai pelaksanaan pesta, semua keluarga kembali ke kediaman masing-masing. Raka beserta keluarga kecilnya masih menyempatkan diri ke desa harapan untuk mengunjungi orang tua sekaligus akan menghadiri acara syukuran yang akan diadakan di rumah kedua orang tuanya untuk menyambut Lin dan suaminya.


Ketika mobil berhenti di depan rumah, Janes mengintip dari balik jendela kamarnya dan ia terkejut ketika Lin digandeng oleh seorang pria yang tak asing baginya. Janes mencubit lengannya karena tidak percaya dengan penglihatannya dan ia pun meringis kesakitan. "Saya tidak sedang bermimpi," rintihnya dalam hati.


Janes terkulai lemas. Tubuhnya gemetar, apalagi melihat kemesraan di antara Bryan dan Lin. Bayangan masa lalu muncul dalam benaknya, bagaimana ia telah menyia-nyiakan pria yang sangat mencintainya dulu. Tapi mengapa harus Kak Lin yang jadi istrinya? Mengapa bukan gadis atau perempuan lain agar hati ini tidak semakin hancur?


Janes mengurung diri dalam kamar kerena tidak sanggup untuk menyaksikan semua ini namun mau tidak mau ia terpaksa keluar juga karena dipanggil oleh papanya untuk bersalaman dengan Lin dan suaminya.


"Janes, janes... ayo keluar sebentar, ini kakak kamu sudah datang loh!" seru ibu Erna. Ia sengaja ngomong begitu karena ingin membuktikan bahwa ternyata Lin bisa berubah dan bisa mendapatkan seorang suami yang tampan, apa lagi ia seorang polisi.


Kedua orang tuanya tersebut tidak pernah tahu cerita masa lalu antara Bryan dan Janes.

__ADS_1


Mendengar kata Janes disebut membuat jantung Bryan berdetak cepat.


"Iya Ma," sahut Janes lalu keluar dengan wajah menunduk karena malu dan gugup. Ia tidak berani menatap ke arah Lin dan Bryan yang sudah berdiri di hadapannya.


Tubuh Janes sudah tak seindah yang dulu bahkan sekarang ia tampak lebih tua dari Lin. Tubuhnya sangat kurus dan penampilannya sangat tidak menarik apalagi tubuhnya hanya dibalut dengan pakaian lusuh.


"Selamat berbahagia, Kak!" ucapnya dengan wajah masih tertunduk sambil menjabat tangan mereka.


Ada rasa iba dalam hati Bryan menyaksikan kenyataan yang ada tapi ia tidak mau terlena. Biarlah kenangan bersama Janes tinggal jadi kenangan belaka yang tak berarti karena tidak ada orang lain yang tahu selain dirinya dan Janes, bahkan Lin yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya tidak pernah tahu bahwa di antara mereka pernah terjalin sebuah hubungan yang akrab.


Bryan menyambut tangan Janes dengan biasa saja lalu kembali menggandeng lengan istrinya menuju ke tempat duduk yang sudah disediakan bagi mereka berdua karena acara syukuran akan segera dimulai.


Janes tergesa kembali ke dalam kamar dan menguncinya lalu menangis sejadi-jadinya. Ia tidak keluar-kaluar lagi hingga acara selesai.


Pak Ali dan ibu Erna mengadakan acara syukuran yang sangat sederhana ketika Bryan dan Lin mengunjungi mereka karena rencananya setelah ini mereka akan tinggal di Makassar di sebuah perumahan yang baru saja dibeli oleh Bryan. Mereka juga sekalian mengurus surat pindah sekolahnya Rizha.


Usai acara tersebut, Bryan, Lin, serta Rizha langsung pamit karena di rumahnya, ayah dan ibunya sudah menunggu kehadiran mereka.


Demikian juga dengan Raka beserta istri dan anaknya, mereka pamit dan hari itu juga kembali ke Morowali karena mereka sudah mendirikan rumah dan menetap di sana.


Pak Edi dan ibu Ranti sangat senang ketika mobil Bryan sudah memasuki pekarangan rumahnya. Ibu Ranti masih penasaran dengan anak mantunya yang belum ia kenal.


Mereka bertiga memasuki rumah. Hati Lin dag, dig, dug setelah berhadapan dengan mertuanya karena ia sempat dengar bahwa mereka tidak setuju dengan pernikahan ini, terutama ibunya Rian.


"Ayo, silahkan dicicipi!" ajak ibu Ranti dengan ramah setelah mereka sudah duduk di ruang tamu. Di meja sudah tersaji minuman dan aneka kue.


"Iya, terima kasih, Bu!" sahut Lin dengan sopan.


"Oh yah, ini siapa?" tanya ibu Ranti sambil mengusap kepala Rizha dengan pelan.


"Namanya Rizha Bu, dia akan jadi cucu Ibu," sahut Bryan menjelaskan.


"Apa? Maksud kamu apa?"


"Kan, dari awal saya sudah ngomong bahwa calon istriku itu seorang janda dan punya anak satu, kok Ibu kaget?"


"Maaf sebelumnya Bu, saya ini Lin dan saya yakin Ibu sudah kenal!"


Ibu Ranti memandang mereka secara bergantian karena makin bingung dengan ucapan-ucapan yang didengar saat ini.


Ibu Ranti yakin bahwa tidak mungkin anaknya akan berbohong tapi sekali lagi ia memperhatikan wajah Lin yang cantik dan orang-orang yang melihatnya pun pasti akan menyangkah bahwa ia masih gadis.


"Ayo Nak, silahkan minum!" kata Bryan kepada Rizha yang duduk dengan tenang.


"Iya Om, terima kasih!" sahut Rizha dengan sopan.


"Mulai sekarang Nak Rizha nggak boleh panggil Om lagi tapi panggil dengan sebautan Ayah!" kata Bryan dengan lembut.


"Iya Om ehhh... Ayah,"


Mereka menertawakan ucapan Rizha yang masih kaku memanggil Bryan dengan sebutan Ayah.


"Ini Opa kamu!" seru pak Edi sambil tersenyum.


"Dan ini Oma kamu!" sambung ibu Ranti pula dengan wajah yang ceria.


Mata Lin berkaca-kaca menyaksikan kebahagiaan yang terpancar dari wajah ayah dan ibu mertuanya.


Mereka masih menginap di situ selama satu minggu karena Bryan membantu ayahnya untuk mengurus biaya pelunasan tanah dan rumah yang dibeli ke pak Asep beberapa waktu yang lalu.


Ibu Ranti senang karena Lin sangat rajin bekerja dan membantu mengerjakan pekerjaan apa pun. Ia juga sangat akrab dengan Rizha yang tumbuh menjadi anak yang cantik dan periang sehingga rumah mereka tidak sepi.


Hari ini pak Edi mengajak mereka semua untuk jalan-jalan karena besok rencananya akan berpisah karena Bryan sudah harus masuk kerja dan Rizha juga sudah mau didaftar di sekolah baru.


"Kita berhenti dulu di depan!" kata pak Edi kepada Bryan yang sedang menyetir mobil.


Hati Lin berdebar dan ia bertatapan dengan Rizha karena rumah yang ada di depan itu adalah rumah orang tua mantan suaminya.

__ADS_1


"Ayo kita semua turun dulu, soalnya Ayah mau melunasi pembayaran tanah mereka!" ajak pak Edi.


Lin menurut saja. Ia menggenggam tangan anaknya dengan kuat.


Di teras rumah ada tuan rumah yang sudah menunggu. Rupanya pak Edi sudah menghubungi sebelumnya. Lin yakin bahwa pria yang duduk membelakang ke arah jalanan adalah mantan suaminya tapi ia berbesar hati dan akan menggunakan kesempatan ini untuk memperlihatkan kepada Rian bahwa ia juga bisa bangkit dari keterpurukan.


"Loh kok cucuku bisa bersama dengan kalian?" tanya ibu Nani penuh keheranan. Rupanya ibu Nani sudah tidak kenal dengan mantan menantunya.


"Maksud ibu?" tanya ibu Ranti dengan bingung.


Mendengar ucapan mamanya, Rian membalikkan tubuhnya dan shok ketika melihat anak dan mantan istrinya yang sedang bergandengan tangan dengan pria tampan.


"Papa... !" Rizha menghambur ke pelukan papanya. Ia sangat rindu sama papanya karena sudah beberapa tahun tidak pernah bertemu. Rian memeluknya sambil menangis.


"Kok Papa pakai tongkat?" tanya Rizha heran melihat tongkat papanya.


Tidak ada jawaban. Pak Asep dan ibu Nani juga ikut memeluk cucunya dengan erat sambil beruraian air mata.


"Lihatlah Pa, oma, Opa... saya udah punya punya papa baru, kalian ngggak boleh macam-macam sama mamaku yah soalnya nanti di tembak, Ayah baruku itu seorang polisi loh!" ucap Rizha dengan polosnya membuat yang mendengarnya saling berpandangan.


Pak Asep, ibu Nani, dan Rian ternganga melihat perubahan Lin, tidak ada lagi plek hitam di wajahnya dan tubuhnya juga sudah langsing. Penampilannya sudah menyaingi penampilan keluarga sultan membuat Rian menelan air liurnya.


Ada rasa iri menyusup ke dalam hati Rian tapi apa mau dikata semua sudah terlambat. Ia tertunduk malu saat netra matanyab bertemu dengan Lin dan juga Bryan. Bryan juga masih ingat dengan wajah Rian karena dulu pernah ketemu saat pulang sekolah bersama Janes dan waktu itu ia sangat murka.


Rasa heran dan bingung akhirnya terjawab setelah mereka duduk bersama dan bercerita dari hati ke hati.


"Semua sudah berlalu dan tidak mungkin akan bisa kembali. Semua orang berhak hidup bahagia karena itu marilah kita saling memaafkan dan semua yang sudah terjadi akan jadi pengalaman yang sangat berharga dalam kehidupan kita masing-masing!" kata pak Edi dengan bijak.


Mereka pun menyelesaikan sangkutan yang masih ada lalu pamit untuk melanjutkan perjalanan setelah bersalam-salaman dan meminta maaf.


Berat rasanya bagi pak asep dan ibu Nani untuk melepaskan cucunya tapi Bryan berjanji akan selalu mempertemukan mereka ketika ada kesempatan membuat hati mereka lega.


Lin menitikkan air mata haru ketika mobil yang dikendarai suaminya memasuki pekarangan rumah yang pernah ditinggalinya selama beberapa tahun. Bangunan rumahnya sudah dirobohkan dan sekarang sudah ada rangka bangunan baru yang berdiri dengan kokoh di sana.


***


Keesokan harinya Rian membawa istri dan anak tirinya ke rumah baru. Lin sangat terharu karena rumah tersebut sudah dilengkapi dengan fasilitas yang mewah. Demikian juga dengan Rizha, ia sudah punya kamar sendiri. Ia segera masuk dan melompat-lompat di kasur yang empuk hingga mamanya datang menegur.


Bryan memghampiri istrinya ketika melihat kamar Rizha sudah ditutup. Ia menarik tangan istrinya dengan lembut dan membawanya ke peraduan. Sebuah kamar dengan ukuran yang luas dan mewah yang akan menjadi kamar pribadi mereka.


"Sayang, Mas udah nggak sabar, nih" katanya lalu mencium bibir dan ********** dengan nikmat sambil kedua tangannya membuka kancing baju istrinya dan menyusupkan tangannnya ke dalam untuk mencari sesuatu yang kenyal dan lembut. Benda itu sudah kenyal kembali setelah Lin melakukan perawatan atas anjuran ibu Yanti, mantan majikannya.


Tubuh Lin yang harum dengan bau parfum yang tidak terlalu menyengat membuat gairah Bryan semakin meletup-letup.


Lin yang sudah lama tidak pernah merasakan sentuhan seperti ini menggelinjang ke sana ke mari sambil mendesah nikmat dan Bryan makin gencar karena ini adalah pengalaman pertamanya untuk melakukan hubungan suami-istri.


Secara bergantian keduanya saling memuaskan. Kini tubuh mereka sudah polos tanpa sehelai kain pun yang melekat.


"Kamu masih seperti seorang gadis Sayang?" kata Bryan merayu istrinya.


"Maaf Mas, seandainya sejak kecil saya tahu akan bertemu denganmu, pasti saya tidak akan merawat tubuhku dan malam ini baru saya persembahkan kepadamu, tapi sayang sekali saya sudah ternoda sedangkan Mas masih pejaka!" ucap Lin dengan sedih.


"Nggak usah selalu bahas masa lalu Sayang, yang Mas butuhkan adalah masa sekarang. Ayo kita menikmati malam ini menjadi malam yang panjang!"


"Akkhhhh... akkkhhh... !" Lin terus mendesah ketika dua gunung kembarnya menjadi mainan buat Bryan.


"Ayo keluarkan suara manjamu Sayang, saya suka dengar!" ujar Bryan dengan nafas yang sudah tidak beraturan karena kedua tangan istrinya juga merayapi bagian tubuhnya yang sensitif.


Suara ******* keduanya saling bersahutan seiring jarum jam yang terus berputar hingga tak terdengar lagi.


"Kamu benar-benar telah memuaskan jiwa ragaku, terima kasih Sayang!" ucap Bryan sambil mendaratkan ciumannya sekali lagi di kening sang istri.


"Sama-sama, Mas," sahut Lin dan membalas pelukan suaminya dengan lebih erat lagi.


"I love you!"


Lin tersenyum mendengar ucapan Bryan.

__ADS_1


Malam itu keduanya tidur sambil berpelukan. Wajah mereka teduh, seteduh hati yang sudah mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara, semoga abadi sampai selama-lamanya.


__ADS_2