
Setiap tanggal sepuluh bulan berjalan, ibu-ibu di dusun tempat tinggal Lin selalu mengadakan kegiatan rutin yaitu melakukan arisan dasawisma. Ini adalah adalah satu program yang diwajibkan oleh pemerintah desa setempat untuk mengaktifkan ibu-ibu agar punya kegiatan dan tidak hanya bermalas-malas di rumah.
Hari ini para ibu-ibu yang berdomisilli di dusun tersebut sedang berkumpul di rumah ibu Maya untuk mengadakan arisan. Sambil menunggu teman yang belum hadir mereka menggunakan waktu untuk berbincang-bincang.
"Adik kamu masih di sini yah?" tanya ibu Maya kepada Lin yang dari tadi hanya menghayal saja sementara ibu-ibu yang lain sibuk bercerita.
"Iya," sahut Lin singkat.
"Kirain udah tamat," timpal ibu yang lain.
"Iya sih, tapi dia lebih suka tinggal di sini dibanding mau pulang ke rumah orang tua," ucap Lin.
Ibu Lilis dan ibu Sri tetangga dekat dengan Lin saling berpandangan dan tersenyum sinis. Kedua ibu itu sering bergosip ketika bertemu karena melihat kejanggalan-kejanggalan yang tampak di keluarga tetangganya itu.
Tak lama kemudian seorang ibu yang paling cerewet dan selalu heboh muncul dengan wajah riangnya.
"Tumben ibu Nira terlambat!" kata ibu Lilis.
"Iya nih, soalnya suamiku nggak mau lepas," sahut ibu Nira sambil tertawa.
Semua ibu-ibu yang ada di situ ikut tertawa. Ibu Nira memang suka berkelakar dan sangat cerewet tapi ia punya hati yang baik. Ia tidak pernah membeda-bedakan temannya sehingga disukai banyak orang. Kehadirannya selalu dinanti-nantikan ketika ada pertemuan atau acara.
"Hey, ibu Lin! Kok nggak semangat? Nggak dikasih jatah sama pak suami semalam ya?" kata ibu Nira untuk menggoda Lin yang terlihat kurang bersemangat.
Lin memaksakan diri untuk tersenyum mendengar kelakar ibu Nira.
"Kami udah berbulan-bulan tak pernah lagi melakukan yang gitu-gituan," kata Lin dengan wajah sedih.
"Waduh, sudah berbulan-bulan?" seru ibu Maya dengan mata membulat.
"Kalau ada laki-laki yang tidak pernah lagi menggauli istrinya, itu patut dicurigai loh! Kalau suamiku yang begitu, saya akan memata-matainya, pasti ia punya selingkuhan!" sambung ibu yang lain.
"Suamiku lagi sakit," ucap Lin pelan hampir tak terdengar.
"Sakit apa?" tanya ibu Nira karena penasaran.
"Kalau memang sakit, kok setiap hari tetap kuat kerja?" sambung ibu Lilis yang setiap hari melihat kesibukan tetangganya.
"Tapi kalau seorang pria itu selingkuh berarti ia kurang puas dengan pelayanan istri di rumah," ujar ibu Maya sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah ibu Lilis.
"Iya, makanya saya itu selalu perawatan karena takut jika suamiku terpikat kepada gadis muda,"
"Iya, perawatan itu penting loh, ada pengalaman dengan iparku yang tinggal di kota, suaminya selingkuh dengan tetangganya karena iparku itu sangat malas dan tak mau lagi merawat tubuhnya,"
"Itu lagi, para suami mesti di manjakan matanya dengan penampilan kita, kalau nggak yah... tunggu aja dia akan kecantol sama daun muda!"
__ADS_1
Ibu-ibu yang sudah curiga dengan sepak-terjang suami Lin sengaja ngomong seperti itu dengan harapan Lin akan tersinggung dan introfeksi diri.
Lin termenung mendengar komentar dari teman-temannya. Ia pun mulai membenarkan perkataan teman-temanya karena selama ini ia memang sangat malas apalagi dengan adanya Janes yang ia harap untuk melakukan pekerjaan rumah. "Apa mungkin Rian mengatakan bahwa ia sakit sebagai alasannya saja karena sudah mempunyai pelabuhan lain? Tapi kalau Rian selingkuh, ia selingkuh dengan siapa? Ia tidak pernah keluyuran kalau malam dan siang hari ia kerja. Nggak mungkin... nggak mungkin!" gumannya dalam hati.
Setelah kegiatan mereka selesai, Lin langsung nyelonong keluar dari rumah ibu Maya dan pulang ke rumahnya tanpa basa-basi lagi pada hal teman-temannya masih ingin bersantai karena tuan rumah menjamu mereka dengan gorengan dan minuman teh hangat.
"Teman-teman, mungkin ibu Lin tersinggung sehingga ia cepat pulang!" kata ibu Maya.
"Biarin aja dia tersinggung supaya bisa intropeksi diri. Saya ini tetangga dekatnya jadi tahu sifatnya. Dia itu pemalas, bangunnya selalu kesiangan," ujar ibu Lilis.
"Trus, siapa yang urus sarapan suaminya?" tanya ibu Nira yang selalu ingin tahu dengan berita baru.
"Dia punya adik, namanya Janes. Sudah tamat SMA tapi sampai sekarang masih tinggal di rumah mereka dan itu yang membuat saya curiga soalnya suami Lin sering keluar rumah dan berboncengan dengan adik iparnya itu," ibu Lilis menjelaskan sambil sesekali makan pisang goreng yang masih hangat.
"Ibu-ibu, saya pernah dengar juga, tapi ini berita sudah lama, kalian mau dengar nggak? Tapi kalian harus janji dulu, nggak akan bilang-bilang ke orang lain!" seru ibu Maya.
"Masakan kamu nggak percaya sama kita-kita ini? Rahasia pasti terjaga dengan aman. Ayo cerita dong, bikin penasaran aja!" bujuk salah seorang ibu yang tadinya hanya nyimak.
Ibu-ibu rempong itu memasang pendengarannya dengan baik bahkan ada yang menggeser duduknya untuk lebih mendekat ke ibu Maya agar lebih jelas.
"Katanya, salah seorang guru di sekolah sewaktu adiknya ibu Lin yang bernama Janes itu masih sekolah di SMA MENTARI pernah membaca chat antara suami ibu Lin dengan adik iparnya itu pakai kata sayang-sayang,"
"Itu berarti hubungan mereka sudah berlangsung lama. Pantas aja ibu Lin nggak pernah lagi disentuh ama suaminya lantaran ada gadis muda yang selalu siap untuk dijadikan mangsanya setiap kali ia menginginkan,"
"Sepertinya ia biasa-biasa aja," sahut ibu Lilis.
Mereka sangat seru memperbincangkan kehidupan ibu Lin hingga magrib lalu berpisah satu dengan yang lain.
***
Akhir-akhir ini wajah Lin selalu tampak murung. Ia juga tiba-tiba menjadi seorang yang pendiam membuat suaminya bertanya-tanya dalam hati karena tidak biasanya istrinya bersikap demikian. Mungkinkah ia sudah menyadari kejanggalan yang terjadi dalam rumah tangganya?
Suatu hari saat pulang dari pasar, Lin mencari-cari suaminya karena ia tahu hari ini tidak ada kerjaan. Setelah memeriksa kamar ia pergi ke samping rumah tapi juga tidak menemukan ia di sana.
"Kamu lihat papa, Riz?" tanya Lin kepada Rizha yang sedang duduk manis menyaksikan film kartun kesukaannya.
"Mungkin di kamarnya Kak Janes," sahut Rizha dengan santai tanpa menoleh ke arah mamanya.
"Maksud kamu, Nak?" tanya Lin dengan dada bergetar.
"Iya Ma, papa itu sering bobo di kamarnya Kakak Janes,"
"Yang benar, kamu jangan mengada-ada, deh!"
Rizha diam karena jengkel mendengar ucapan mamanya yang tidak mempercayainya.
__ADS_1
Lin mengetuk pintu kamar adiknya dengan kasar.
"Ada apa, Kak?" tanya Janes sambil mengucek matanya.
Lin tidak menjawab tapi ia nyelonong ke dalam kamar dan memeriksa setiap sudut ruangan tapi tidak menemukan apa yang sedang dicari. Ia pun keluar dengan wajah kesal.
Rian dan Janes yang sedang berada dalam kamar tadi mendengar suara Lin. Keduanya sempat panik tapi kemudian punya ide. Rian keluar melalui jendela dan langsung menuju ke kebun untuk mencabut rumput liar yang tumbuh di antara sayuran.
Sinar matahari yang begitu terik membuat Rian tidak tahan berada lagi di kebun, apa lagi ia tidak mengenakan pakaian lengkap seperti yang biasa dikenakan saat bekerja di kebun. Ia pun masuk ke rumah melalui pintu belakang.
"Udah pulang dari pasar?" tanya Rian berpura-pura tidak tahu.
Lin kaget karena ia sedang duduk melamun di dapur dan tiba-tiba saja suaminya muncul.
"Dari mana aja, Mas?" Lin balik bertanya dengan sikap menyelidik.
"Dari kebun," sahut Rian sambil menyeka keringat yang menetes dari pelipisnya.
Lin semakin penasaran mendengar jawaban suaminya karena tadi ia mencarinya ke kebun tapi tak ada orang di sana. Kemudian Lin memperhatikan pakaian yang melekat di tubuh suaminya dan itu juga bukan pakaian kerja.
"Saya tadi ke sana tapi Mas nggak kelihatan,"
"Ohh, mungkin Mas sedang tunduk di bawah selokan yang ada di ujung kebun sehingga kamu nggak lihat,"
Rian cukup pandai untuk menceri alasan membuat Lin percaya namun ucapan Rizha tadi kini sangat mengganggu pikirannya. "Anak kecil tidak mungkin berbohong, saya harus mencari tahu!" tekadnya dalam hati.
Keesokan harinya Lin sengaja mengajak anaknya ke kebun untuk memetik sayur dan tomat. Sementara itu Janes sedang mengepel lantai rumah dan Rian sudah berangkat kerja pagi tadi. Ia dan temannya punya borongan lagi untuk membangun sebuah gedung puskesmas di desa tempat tinggal mereka.
"Riz, kamu sayang ama Mama 'kan?" tanya Lin setelah jaraknya sudah jauh dari rumah dan yakin bahwa percakapannya saat ini dengan anaknya tidak ada yang dengar.
Rizha menganggukan kepala sambil menatap sang mama.
"Apa benar kamu pernah lihat papa masuk ke kamar kakak Janes? Tolong jawab yang jujur!"
"Iya, Ma. Rizha juga pernah lihat papa sedang mencium kakak janes lalu mengisap buah dadanya seperti anak kecil,"
Deg! Jawaban Rizha membuat Lin shok. Ia berusaha kuat walau kakinya serasa tak bertulang dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia percaya dengan ucapan anaknya. Rizha masih kecil dan pasti ia menyampaikan dengan benar apa yang pernah dilihatnya.
"Kenapa Mama nangis? Apakah Mama tidak senang jika papa sayang ama kakak Janes?" tanya Rizha dengan polosnya.
"Mama terharu, Sayang," sahut Lin sambil terisak.
Cukup lama ia duduk di bedengan kebun untuk menenangkan hati sambil memikirkan langkah apa yang akan ditempuh untuk membongkar perselingkuhan suaminya dengan adik kandungnya sendiri.
Setelah merasa agak tenang ia lalu mengajak Rizha pulang ke rumah tanpa memetik sayur sesuai dengan tujuannya tadi datang ke kebun. Rasa sakit membuatnya tidak fokus lagi. Tiba di rumah ia langsung masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam lalu menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1