Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
33. Acara Perpisahan


__ADS_3

Tidak terasa waktu pelaksanaan perpisahan dengan siswa-siswi kelas XII di SMA MENTARI telah tiba. para siswa tampak dengan wajah berbinar-binar karena semua dinyatakan lulus seratus persen. Berdasarkan kesepakatan para guru dan kepala sekolah maka semua siswa kelas XII datang ke sekolah dengan mengenakan pakaian adat daerah. Hal ini dilakukan untuk menghindari kebiasaan para siswa pada tamatan tahun-tahun sebelumnya yaitu mencoret-coret baju sekolah sebagai bagian dari rasa sukacita karena telah menyelesaikan pendidikan di satu jenjang lagi, pada hal seragam tersebut masih bisa disumbangkan kepada orang-orang yang kurang mampu.


Setelah acara dimulai, tampaklah iring-iringan para siswa kelas XII yang memasuki ruangan yang sudah disiapkan. Acara ini juga dihadiri oleh orang tua/wali siswa.


Dengan bangga ibu Ranti datang ke sekolah karena ia tahu anaknya termasuk salah satu siswa yang cerdas. Kebaya putih dipadukan dengan sarung batik membuat penampilannya sangat anggun. Bryan juga bangga atas kehadiran ibunya dan ia memperkenalkan kepada beberapa temannya.


"Ibu kamu cantik yah?" puji Raya sambil memperhatikan wajah ibu Ranti dengan saksama.


"Nih anaknya juga tampan!" Bryan berkelakar sambil tertawa.


Tak lama, dari kejauhan muncul seorang ibu yang berpenampilan norak. Baju atasan tidak senada dengan warna rok. Beberapa pasang mata sempat menoleh ke arahnya dengan tatapan mengejek tapi yang bersangkutan tak menyadari. Ia terus melangkah dengan percaya diri lalu masuk ke gedung dan duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh panitia bagi para orang tua/wali murid.


Janes menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya ketika melihat kakaknya sudah duduk di kursi. Ia tak menyangkah bahwa Lin, kakaknya itu akan datang dengan pakaian yang senorak itu. Semalam Janes memang sempat mendengar kakaknya mengeluh saat mencoba beberapa baju kebayanya tapi semuanya sudah tidak terkancing dan mungkin itulah yang menyebabkan ia terpaksa memakai baju warna pink yang dipadukan dengan rok warna kuning karena hanya itulah yang pas di badannya.


Seandainya Janes tahu bahwa kakaknya akan datang dengan penampilan seperti itu pasti ia akan mengusulkan agar Rian saja yang ikut untuk jadi walinya.


Tampak juga ibu Irene dan ibu Ida sedang berbisik-bisik ketika tak sengaja melihat ke arah Lin, kakak Janes. Ibu Ida geleng-geleng kepala karena merasa malu melihat seorang ibu yang tidak bisa menyesuaikan pakaiannya, apalagi acara ini adalah acara resmi.


Semua hadirin duduk dengan tenang saat pembawa acara sudah berbicara di atas panggung.


Acara demi acara pun berlangsung dengan baik dan lancar hingga tiba pada pembacaan nama-nama siswa yang lulus dengan nilai yang tinggi.


"Juara pertama diraih oleh... oleh... Krisna!"


Suara sorak-sorai dan tepuk tangan terdengar riuh.


"Juara kedua diraih oleh Bryanto Saputra!"


Kembali suara sorak-sorai terdengar riuh. Ibu Ranti sampai meneteskan air mata karena terharu ketika nama anaknya disebut.


"Juara ketiga diraih oleh Grace Putri!"


"Ketiga para juara yang sudah disebutkan namanya diharapkan naik ke panggung bersama dengan orang tua/wali!"


Ketiga para juara itu pun beserta orang tuanya segera menuju ke panggung.


Bryan tampak berjalan dengan gagah sambil bergandengan tangan dengan ibunya. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya.


Mereka bertiga mendapat penghargaan dan hadiah dari pihak sekolah dan sebelum turun dari panggung, mereka diberi kesempatan untuk berfoto bersama dengan orang tua dan para guru secara bergantian untuk dijadikan kenang-kenangan.


Sebelum acara ditutup, semua tamu undangan dijamu dengan makanan. Mereka pun makan bersama sebelum berpisah satu dengan yang lain.


"Saya mau izin sebentar Bu, mau foto bareng teman-teman!" kata Bryan kepada ibunya.

__ADS_1


"Silahkan Nak, bersenang-senanglah bersama dengan teman-temanmu sebelum kita pulang!" ucap ibu Ranti.


Bryan meninggalkan ibunya dan pergi mencari keberadaan Janes di antara kerumunan teman-temannya. Cukup lama juga ia mencari ke sana ke mari baru menemukan sang pujaan hati.


"Dewi, tolong foto kami berdua dulu!" pinta Bryan kepada siswi kelas XI.


Dewi menerima ponsel dari tangan Bryan dan mengambil gambar keduanya.


Bryan dan Janes mengubah gaya beberapa kali karena gambar tersebut akan dijadikan kenangan.


"Terima kasih, Dek!" ujar Bryan kepada Dewi dengan ramah.


"Sama-sama, Kak," sahut Dewi sambil menyodorkan ponsel milik Bryan lalu kembali bergabung dengan teman-teman yang lain.


Ibu Ranti pamit kepada anaknya untuk pulang duluan karena ada urusan penting. Siang ini ia akan menghadiri arisan dengan sesama penjual di pasar. Ibu Ranti sekaligus menyampaikan bahwa kumungkinan nanti setelah magrib baru kembali ke rumah.


Setelah ibunya berlalu, Bryan mengajak Janes untuk bergabung dengan siswa yang lain. Mereka menghabiskan waktu untuk berfose bersama. Sungguh, perpisahan ini sangat berkesan bagi mereka.


Ada juga beberapa guru-guru mereka yang ikut bergabung untuk mengabadikan momen yang tidak akan terulang lagi, termasuk ibu Irena dan ibu Ida yang merupakan guru yang masih muda dan terbilang akrab dengan para siswa-siswi.


"Lihatlah keakraban antara Janes dan Bryan, mudah-mudahan Janes sudah bisa lepas dari kakak iparnya!" bisik ibu Ida kepada ibu Irene.


"Iya, kalau dilihat dari cara dan gayanya, sepertinya mereka ada hubungan spesial," sahut Ibu Irene dengan suara pelan.


Keduanya terus memperhatiakan Bryan dan Janes yang masih berselfi-selfi ria. Ada juga beberapa siswa kelas X dan kelas XI yang datang menghampiri Bryan untuk mengambil gambar, katanya, biar kepintarannya bisa menurun kepada mereka. Selain itu juga sikap Bryan yang peramah membuat banyak gadis-gadis yang tergoda tapi bagi Bryan, mereka semua adalah teman dan sahabat. Dengan sabar ia meladeni kemauan adik-adik kelasnya yang antri ingin berselfi-selfi dengannya.


Setelah itu keduanya menelusuri jalan aspal yang sudah banyak lubangnya di bawah panas matahari namun dua sejoli ini tak merasakan karena hatinya sedang berbunga-bunga.


Tiba di rumah, Bryan mengajak Janes segera masuk. Janes heran melihat perubahan yang ada di rumah tersebut. Ruangan sudah bersih dan rapi.


"Hey, kenapa bengong di situ?" tanya Bryan yang sudah menaiki tangga sedangkan Janes masih berada di bawah dan sedang memperhatikan foto-foto yang tergantung dengan rapi di dinding.


Mendengar suara Bryan, Janes segera berjalan untuk membuntutinya hingga sampai di lantai dua.


Setelah duduk berapa saat untuk melepas lelah, Janes izin ke dapur untuk mengambil air putih karena ia merasa haus setelah menempuh perjalanan dari sekolah ditambah lagi dengan pakaian adat yang masih melekat di tubuhnya.


Sementara itu Bryan masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Pakaian adat yang dikenakan membuannya sangat gerah. Tak lupa ia juga menyiapkan baju kaos untuk Janes karena ia tahu bahwa pasti Janes tidak nyaman dengan kostum adat yang berbahan kain tebal tersebut.


Tak lama kemudian Janes sudah datang membawa dua gelas air mineral dingin dan menyodorkan kepada Bryan.


"Silahkan di minum, Sayang!"


"Tetima kasih banyak!"

__ADS_1


Setelah meneguk air minum tersebut hingga tak tersisa Bryan kembali ke kamar untuk mengambil baju kaos yang ia sudah siapkan tadi lalu menyodorkan kepadanya.


"Ganti baju dulu biar adem!"


"Terima kasih!"


Baju kaos warna putih itu sangat cocok di tubuh Janes. Bryan senang melihatnya.


"Kalau pulang nanti, bawa aja itu baju biar kamu selalu ingat saya saat memakainya!" kata Bryan sambil tersenyum.


"Tanpa saya bawa baju ini, tetap saja saya akan ingat selalu pria yang sudah berbaik hati kepadaku," ucap Janes ambil memperhatikan bayangan dirinya yang cantik dalam pantulan kaca jendela.


"Kenapa kepala saya agak pusing yah?" tanya Bryan sambil memegangi kepalanya yang nyut-nyut.


"Mungkin karena tadi kita jalan di bawah matahari yang sangat panas," kata Janes. Dalam hati ia tersenyum karena rencananya sudah mulai berproses. Ia mendekati mendekatinya lalu memijit kepalanya dengan lembut.


"Kita ke kamar aja, yuk!" ajak Janes lalu membantu Bryan untuk berdiri dan memapahya ke kamar.


Tiba di kamar, Janes membuka rok panjang yang ia kenakan karena susah bergerak lalu kembali memijit kepala Bryan.


Bryan merasa tubuhnya panas. Ia tampak gelisah dan mulai ngawur. Rupanya ia setengah sadar setelah meminum air putih yang diberikan oleh janes tadi kepadanya.


"Jan, Janes sayang... tolong jangan tinggalkan saya!" ucapnya dengan mata terpejam.


"Iya Sayang, saya di sini, kok," sahut Janes senyum semakin mengembang.


Ia mengambil ponsel milik Bryan lalu menyalahkan aplikasi video dan merekam apa yang hendak ia lakukan sesuai dengan rencananya.


Ia membuka semua pakaian yang masih melekat di tubuhnya dan memulai aksinya. Pertama-tama ia mencium dan menjilati bagian tubuh Bryan.


"Terima kasih Sayang, saya sangat suka. Ayo lanjutkan!" ucap Bryan sambil tersenyum tapi matanya sulit ia buka.


Janes melucuti pakaian yang melekat di tubuh Bryan hingga keduanya sudah polos. Ia meraih tangan Bryan dan memandunya agar meremas gunung kembarnya dan Bryan pun menuruti semua keinginan Janes bahkan ia juga mengulum benda kenyal itu ketika diarahkan ke mulutnya. Bryan benar-benar sudah lupa ingatan, ia mencoba membuka matanya setelah rasa sakit kepalanya sudah agak mendingan dan tertawa melihat Janes dan dirinya yang sudah polos tanpa pakaian.


"Heyy... apa... apa yang kamu lakukan di bawah sana?" suara Bryan terbata karena melihat Janes sedang menikmati sesuatu.


"Hey, kamu dengar nggak? Geli bangat, nih!" ucapnya lagi sambil tertawa.


Janes tidak bersuara. Ia tidak mau menyia-nyiakan waktu yang ada dan tidak lama kemudian ia tampak bergerak-gerak, makin lama makin cepat hingga terdengar erangannya yang kuat.


Ada sesuatu yang sakit yang ia rasakan tapi ia tidak mau berlama-lama hanya untuk mengurusi bagian tubuhnya yang sakit itu karena khawatir dan takut jika Bryan sudah tersadar dari mabuknya. Ia sudah bisa memastikan bagaimana murkanya pria itu ketika tahu apa yang telah terjadi.


Janes mengenakan pakaiannya kembali dan ia juga memakaikan pakaian Bryan di tubuhnya lalu menutup dengan selimut karena pria itu sudah tertidur dengan lelap.

__ADS_1


Tak lupa ia membersihkan noda yang tercecer ke lantai menggunakan tisyu lalu membuangnya ke tempat sampah. Ia juga sudah mematikan rekaman video pada ponsel milik Bryan dan meletakkan di tempat semula.


Setelah semuanya beres, ia keluar dari kamar tersebut lalu menutupnya dengan pelan. Bergegas ia keluar dari rumah itu dengan perasaan was-was dan keringat menetes dari keningnya. Ia mempercepat langkahnya sebelum kedua orang tuanya Bryan pulang.


__ADS_2