Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
6. Ada yang Iri


__ADS_3

Bibir yang belum pernah tersentuh menimbulkan sensasi tersendiri bagi Rian yang sudah melangkah lebih jauh. Lin kesulitan bernafas saat bibirnya sudah dilumat oleh Rian. Sesuatu dalam tubuhnya sedang merontah-rontah sehingga ia sadar dan melepaskan diri.


"Kenapa Sayang?" tanya Rian yang belum puas ******* bibir ranum itu.


"Ngagak ada apa-apa," sahut Lin tersipu malu.


"Kamu jangan takut Sayang, nikmati saja masa muda yang tidak akan pernah terulang lagi!"


Sudah setengah jam keduanya berada dalam kamar tersebut. Sepertinya Rian sudah enggan untuk keluar lagi karena sudah merasa nyaman dan tidak ada yang mengganggu aktifitasnya.


Apa yang diidam-idamkan selama ini sudah ia dapatkan. Untuk apa lagi pergi jauh-jauh, buang waktu dan tenaga aja.


"Tapi saya takut jangan sampai Nyonya kemari dan memergoki kita di sini, bisa-bisa kita dipecat," ujar Lin yang mulai cemas jangan sampai ada yang melihat Rian masuk ke kamarnya dan melaporkan kepada Nyonya.


"Biarin aja, nggak masalah kok, nanti kita sama-sama cari pekerjaan baru lagi. Toh, bukan cuma di sini ada pekerjaan," ucap Rian menimpali.


Akhirnya Lin mengalah. Ia kembali duduk di bibir ranjang dan Rian menatapnya lekat-lekat.


"Sebenarnya kamu ini sangat cantik, tapi kurang perawatan. Jadi mulai sekarang kamu harus banyak-banyak belajar bagaimana merawat tubuh dengan baik agar semakin menarik!" kata Rian yang menyadari bahwa gadis yang ada di hadapannya ini yang sudah berstatus sebagai kekasihnya masih polos.


Berbeda dengan Yuyun, mantan istrinya dulu yang sudah terjamah oleh beberapa laki-laki hingga menjerumuskan dirinya. Wajah Yuyun memang lebih cantik dengan kulit yang bersih dibanding dengan Lin yang kumal, tapi ia yakin Lin bisa lebih cantik nanti kalau sudah rutin melakukan perawatan.


Baru sekali aja ia perawatan, dampaknya sudah nyata membuat Rian tertarik untuk mengencaninya.


Rian juga mengamati pakaian yang dikenakan oleh Lin yang pas dibadannya membentuk lekuk-lekuk tubuhnya. Muncul dalam pikirannya untuk mememani Lin belanja lagi kalau sudah gajian bulan ini.


***

__ADS_1


Tiga bulan telah berlalu, Rian dan Lin semakin akrab bahkan tiada hari tanpa kencan bagi mereka berdua. Setiap ada kesempatan, keduanya tidak pernah menyia-nyiakan. Lin yang baru mengenal cinta merasa sangat bahagia karena ia banyak belajar dari Rian yang sudah berpengalaman.


Rian sudah berani menyentuh bagian tubuh Lin yang lain selain dari hanya sekedar berciuman tapi tetap masih dalam batas yang wajar sebagai pasangan kekasih, bahkan keduanya sudah tidak bisa menahan perasaan rindu jika tidak berkencan dalam waktu sehari saja.


Hubungan keduanya sudah tersiar di kalangan karyawan yang lain hingga masuk juga ke telinga Nyonya, si yang empunya rumah makan.


Mira, salah seorang karyawan yang iri melihat kedekatan Lin dengan Rian telah melaporkan kepada Nyonya bahwa keduanya sering berduaan di kamar.


Ketika Rian baru masuk kerja di rumah makan tersebut, Mira mengaguminya dan selalu cari perhatian saat berada di dekat Rian tapi Rian sama sekali tidak tertarik kepadanya. Itulah yang membuat Mira sakit hati karena Rian lebih memilih Lin yang kumal dan pekerjaannya hanya mencuci dibanding dirinya yang berwajah kinclong dan kerja sebagai pelayan. Mira menganggap derajatnya lebih tinggi ketimbang Lin.


Akhir-akhir ini Mira semakin geregetan melihat penampilan Lin yang telah menyaingi dirinya, baik wajah juga masalah penampilan. Rian juga sering memamerkan kemesraannya dengan Lin sehingga diam-diam ia menaruh dendam kepadanya.


Suatu malam saat jam istirahat, diam-diam Mira mengawasi pergerakan Rian. Ia mengintip dari celah dinding kamarnya yang kebetulan berhadapan dengan kamar Rian bersama pak Mamang.


Benar saja, dugaannya tidak salah bahwa Rian sering menyelinap masuk ke kamar Lin pada malam hari setelah jam istirahat.


Postur tubuh Rian sangat atletis dengan kulit putih dan rambut tebal berwarna hitam legam. Ketika masih duduk di bangku SMA, tiga kali ia terpilih untuk menjadi pasukan delapan pada penaikan sang merah putih setiap perayaan hari kemerdekaan bangsa Indonesia karena postur tubuhnya yang sangat mendukung.


Dengan langkah yang mantap sambil bersiul-siul ia mendekati pintu kamar Lin. Mata Mira selalu mengawasi dari celah dinding kamarnya. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan Lin muncul dengan baju super ketat pada bagian atas dan mengenakan rok kembang sebatas lutut. Ia membawa tas salempang kecil.


Rian langsung menggandeng tangannya lalu pergi entah mau ke mana.


"Sial," umpat Mira dalam hati. Ia sangat kesal karena rencananya malam ini akan menggerebek kamar Lin bersama karyawan lain dan yang lebih fatalnya lagi ia sudah meyakinkan Nyonya bahwa pasti malam ini mereka akan berkencan lagi di kamarnya. Mira ingin menyingkirkan Lin agar ia bisa menggaet Rian.


Ponselnya berdering secara beruntun, ia turun dari tempat mengintip lalu meraih HPnya yang terletak di atas tempat tidur.


(Bagaimana rencana kita malam ini?)

__ADS_1


( Apa buruan sudah masuk perangkap?)


(Saya sudah siap nih!)


(Lama bangat sih, saya udah ngantuk nih!)


Demikianlah sederetan chat di grup karyawan dari teman-temannya yang sudah tidak sabar ingin menangkap basah sepasang kekasih dalam kamarnya.


(Maaf teman-teman rupanya prediksiku salah karena malam ini Rian dan Lin kencan di luar!)


Pesan itu ia kirim membuat teman-temannya sangat kecewa dan mengumpat dalam hati bahkan ada yang langsung mencercanya lewat chat.


Mira pasrah menerima cercaan dari teman-temannya karena mau membela diri juga nggak ada gunanya. Kekesalannya ia tumpahkan kepada Lin dengan segala umpatan. Tapi sayang, Lin tidak mendengarnya.


Saat ini Lin bersama Rian sedang menikmati indahnya pemandangan di pinggir pantai. Kerlap-kerlip cahaya yang berasal dari kapal nelayan yang sedang berjuang untuk menangkap ikan menambah keindahan pantai tersebut. Kedua insan yang saling mencintai sedang bercumbuh mesra diterpa angin malam yang bertiup sepoi-sepoi.


Lin yang hanya mengenakan satu lapis baju mulai menggigil karena kedinginan membuat Rian harus merelahkan jaketnya. Ia memakaikan jaket itu pada tubuh Lin lalu memeluknya dari belakang membuat tubuh Lin jadi hangat sehangat cinta yang sedang bergelora dalam hati.


"Gimana Sayang kalau kita segera menikah?" tanya Rian dengan serius.


"Apa nggak terlalu cepat, Kak? Saya ini masih di bawah umur loh!" sahut Lin dengan manja dan menyandarkan kepalanya di dada sang kekasih.


"Saya udah nggak sabar ingin... ," Rian menjeda perkataannya.


"Sabarlah Sayang, saya akan selalu menjaganya untuk Kakak!" ujar Lin yang mengerti apa yang dimaksud dan sedang dipikirkan oleh Rian. Sudah berapa kali Rian memintanya dengan cara merayu tapi Lin selalu berhasil menolak dengan halus. Ia selalu ingat pesan dari Sita untuk menjaga kehormatannya.


Melihat kedekatan yang terjalin akrab di antara Lin dan Rian membuat Sita khawatir jika terjadi hal yang tidak diinginkan, apalagi Lin masih sangat muda dan baru kenal cinta yang sering diistilahkan dengan cinta monyet. Hal itulah yang membuat Sita selalu menceramai Lin, baik secara langsung juga lewat pesan melalui ponsel. Sita sudah menganggap Lin sabagai adik kandungnya sehingga ia sangat perhatian kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2