Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
24. Suara Desahan


__ADS_3

Seminggu setelah mereka kembali dari desa Harapan, ibunya Rian datang ke kediaman anaknya. Sebenarnya ibu Nani enggan datang tapi tak bisa dipungkiri bahwa ia juga rindu sama anak dan cucunya yang sudah cukup lama tidak pernah berkunjung ke rumah mereka sehingga ketika diajak oleh suaminya, ia pun mengikut di boncengan.


"Tumben rumah ini rapi dan bersih!" ucap ibu Nani ketika melangkah masuk ke rumah anaknya.


Pak Asep menyiku lengan istrinya karena ia kurang suka dengan ucapannya barusan, takutnya bila Lin, anak mantunya tersinggung.


"Oma... Opa...!" seru Rizha dengan riang dan berlari menghambur ke pelukan omanya.


"Ehhhh, cucu oma sudah besar dan semakin cantik aja, harum lagi," puji Ibu Nani sambil memeluk cucunya dengan hangat.


Ibu Nani tahu kalau yang merawat cucunya adalah adik ipar anaknya. Ia sudah hafal tentang anak mantunya yang pemalas.


Rizha baru saja selesai di mandikan oleh Janes ketika opa dan omanya muncul di pintu sehingga ia tampak segar dan harum.


"Silahkan masuk Oma, Opa!" ajak Janes dengan ramah.


"Terima kasih Janes, kamu sudah jadi tante yang baik buat cucu saya!" ucap ibu Nani sambil tersenyum ramah kepada Janes. Janes hanya tersenyum mendapat pujian dari oma.


Tak lama kemudian Lin pun muncul di pintu kamar dengan wajah kusut. Tidurnya belum puas walau sudah beberapa jam berbaring tapi mendengar bahwa mertuanya yang sedang bertamu, terpaksa ia bangun.


"Silahkan masuk, Ma, Pa!" ucap Lin sambil mengikat rambutnya yang terurai berantakan.


"Terima kasih! Mana Rian?" tanya ibu Nani karena ia belum batang hidung anaknya.


Bersamaan dengan itu, Rian muncul di pintu. Ia baru saja pulang dari tempat kerja. Senyum mengembang di bibirnya setelah tahu bahwa kedua orang tuanya yang datang bertamu ke rumahnya.


"Eh, ada Papa, Mama, udah lama?" tanya Rian sambil meraih tangan orang tuanya secara bergantian dan menciumnya.


"Baru aja, kok," sahut pak Asep.


Tanpa menunggu perintah, Janes langsung ke belakang membuat air minum untuk tamunya.


Mereka duduk-duduk dengan santai menikmati teh hangat dan kue yang dibawah oleh oma. Rian datang dab segera bergabung setelah selesai mandi.

__ADS_1


Sesekali ibu Nani melirik anak mantunya yang tidak pernah berubah. Wajah kusut dan penampilannya yang norak membuat ibu Nani tersenyum sinis.


"Saya lihat ini pekarangan rumah kalian tidak digarap pada hal lokasi ini sangat bagus untuk dijadikan kebun sayur," kata pak Asep membuka pembicaraan.


"Iya Pa, tapi saya tidak pernah punya waktu soalnya selalu ada borongan kerja dan hanya pekerjaan itu yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan uang," sahut Rian.


"Tapi bisa 'kan kamu kerja sama dengan istrimu pada saat kamu nggak ada kerjaan lagi?" sambung ibu Nani dengan ketus.


"Iya, Ma, nanti saya coba kalau ada waktu," ujar Rian.


"Saman sekarang itu butuh kerja keras, jangan hanya mau santai-santai saja, mumpung anak kalian belum bersekolah, belum butuh biaya yang banyak. Manfaatkanlah pekarangan ini dengan baik sehingga kalian bisa menabung untuk masa depan." Pak Asep berbicara panjang lebar.


"Saya saja yang sudah tua masih bisa tanam sayur di samping rumah apalagi kalian yang masih muda. Coba kalian hitung-hitung pengeluaran untuk membeli sayur dan bumbu dapur setiap hari, bukan nilai yang sedikit. Jadi mulai sekarang kami sebagai orang tuamu nggak mau lihat kalian hanya malas-malasan dan bersantai saja!" tutur ibu Nani sambil melirik ke arah Lin yang pura-pura tidak dengar.


Lin kurang senang dengan ucapan mertuanya karena ia tahu bahwa dirinyalah yang sedang disindir.


Menjelang malam, pak Asep dan ibu Nani pamit pulang. Rian mengantar mereka ke jalan.


"Sering-seringlah ke rumah kalau kamu nggak kerja!" pinta ibu Nani kepada anaknya.


***


Malam ini Lin sangat gelisah dan tidak bisa tidur. Dari sore tadi ia mulai mempersiapkan diri, mulai dari membersihkan tubuhnya hingga berjam-jam bersolek di depan cermin. Ia teringat dengan nasihat yang pernah diberikan oleh Sita tempo hari.


Sore tadi waktu Rian tiba di rumah, ia juga sempat kaget melihat istrinya yang beda dari biasanya. Tumben?


Tapi rasa kaget itu tak berlangsung lama karena dia lebih tertarik dengan senyum manis yang menggoda dari balik tirai dapur. Di sana ada Janes dengan sebuah gelas di tangannya hendak menyeduh air minum buat kakak ipar yang baru pulang kerja. Seketika itu pula rasa capek setelah seharian bekerja langsung hilang ketika mendengar suara merdu milik Janes mempersilahkan dia untuk minum.


"Mas...!" ucap Lin memberanikan diri. Ia tahu bahwa suaminya juga belum tidur. Baru saja ia mendengar tarikan nafas yang berat dan dihembuskan secara perlahan. Sepertinya ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.


"Ada apa, Dek?" tanya Rian dengan posisi yang tak berubah, tetap memunggungi istrinya. Selama menjalin hungan dengan Janes ia tidak pernah lagi menyapa istrinya dengan sebutan 'sayang', lidahnya sudah terasa kelu jika mau mengucapkan kata tersebut.


"Mas jangan marah yah, kalau saya bertanya tentang sesuatu sehubungan dengan rumah tangga kita?"

__ADS_1


Hati Rian was-was mendengar pertanyaan istrinya. "Apakah Lin sudah mulai curiga tentang hubunganku dengan adiknya?" batinnya dalam hati. Keringat dingin mulai mengucur di tubuhnya dan jantungnya berpacu dengan cepat.


"Maksud kamu?" tanyanya dengan gugup.


"Mas udah lama nggak pernah menyentuhku, atau Mas sudah punya wanita lain?"


"Ahh, kamu ini benar-benar aneh, nggak mungkinlah Mas akan menghianatimu!"


"Iya, tapi... akhir-akhir ini saya merasa kalau Mas nggak cinta lagi sama saya,"


"Itu hanya perasaanmu saja, Dek. Kamu 'kan tahu Mas selalu capek. Harusnya kamu ngerti dong!"


Lin terdiam karena hatinya sedih. Ia teringat akan masa-masa bahagia yang pernah dialami ketika baru berkenalan dengan Rian.


"Dari tadi sore saya sudah bersiap dan berharap bahwa Mas akan tertarik dan mau menjamahku tapi harapanku kini telah sirna setelah tahu bahwa kini tak ada lagi artinya diriku ini bagimu," ucap Lin dengan linangan air mata.


Rian terpaku mendengar kesedihan istrinya. ia pun membalikkan tubuh dan mengahadap ke arah istrinya. Ia baru sadar bahwa ternyata malam ini Lin begitu seksi dengan daster pendek tanpa lengan melekat di tubuhnya. Bau parfum yang harum juga tercium dari tubuhnya saat Rian mendekatinya.


Namun seketika itu juga bayangan Janes menari-nari di pelupuk matanya. Kini ia memeluk istrinya tapi yang ada dalam pikirannya bahwa ia sedang memeluk adik iparnya.


Lin sangat senang karena akhirnya hati suaminya luluh juga. Ia membalas dengan lebih agresif pergerakan suaminya. Nafsu Rian pun mulai menguasai dirinya karena ia sudah lama tidak melakukan hal itu lantaran tidak tahan dengan bau badan istrinya karena malas mandi. Tapi kali ini bau itu hilang karena tadi sore Lin mandi lalu memakai


parfum milik adiknya. Ia tidak pernah lagi membeli parfum selama ini karena pikirnya buat apa beli, toh ia di rumah aja.


Rian semakin bergairah ketika bau parfum itu masuk ke rongga hidungnya. Persis yang ia rasakan ketika memeluk Janes.


"Ahhhhh.... ahhhh....!" desah Lin dengan nikmat.


Suara itu kedengaran ke ruang tengah, di mana Janes sedang sibuk belajar. Ia jadi penasaran mendengar suara kakaknya yang mirip dengan suaranya ketika Rian bercumbuh dengannya.


Ia pun berjalan berjingkrat-jingkrat dan menempelkan telinganya di dinding kamar. Benar, itu adalah suara ******* kakaknya. Rasa cemburu pun mulai menguasai dirinnya. Ia mencari cela untuk mengintip aktifitas yang sedang berlangsung di dalam kamar itu.


Janes mencari cara bagaimana supaya ia dapat mengintip, hatinya lega setelah mendapati sebuah lubang kecil di dinding itu. Ia segera mengintip dan... "astaga, Rian benar-benar sudah gila bukankah ia sudah berjanji bahwa ia tidak akan pernah lagi tertarik sama istrinya yang kumal?" katanya dalam hati.

__ADS_1


Adegan yang ia lihat sungguh di luar dugaannya. Rian begitu menikmati permainan tersebut hingga suara desahannya pun terdengar membuat Janes sulit untuk bergerak.


__ADS_2