Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
39. Sebuah Video


__ADS_3

Hari ini, Bryan telah menyekesaikan pandidikannya. Ia sangat senang karena sudah punya waktu untuk bertemu dengan kedua orang tuanya dan juga ia ingin bertemu dengan Janes, sang pujaan hati.


Tiba di rumah, kedua orang tuanya sudah berkumpul dengan beberapa keluarga dekat untuk menyambut kedatangannya.


"Selamat datang, Pak Polisi!" seru pamannya saat ia memasuki rumah.


Bryan menyunggingkan senyum lalu menjabat tangan para keluarga yang menyambutnya satu per satu.


Mereka sangat bersukacita dengan pertemuan yang terjadi saat ini. Ibu Ranti dan pak Edi telah menyiapkan aneka makanan yang super enak dan keluarga yang datang menikmati makanan tersebut.


Usai menikmati makanan tersebut, mereka duduk bersama untuk berbagi cerita, utamanya keluarga ingin mendengarkan pengalaman yang dialami oleh Bryan selama menjalani pendidikan yang tentunya banyak menemui suka dan duka.


Bryan pamit untuk beristirahat setelah hampir dua jam bercengkrama bersama keluarga.


Ia menaiki tangga dengan perasaan senang karena akhirnya bisa punya kesempatan untuk datang ke rumah yang sangat dirindukan.


Tiba di kamar ia segera berbaring di kasur empuknya. Ibunya sudah membersihkan kamar tersebut setelah dapat informasi bahwa anaknya akan pulang ke rumah.


Setelah beberapa saat berbaring, ia bangkit dan membuka lemari tempat menyimpan iPhone miliknya dan segera mengambilnya. Sambil berbaring ia membukanya setelah memasukkan kartu ke dalamnya.


"Astaga, ini video apaan?" katanya dengan kaget setelah melihat ada video yang belum pernah ia buka.


Karena penasaran ia pun memutarnya. Tampaklah dirinya dan Janes sedang bercinta. Ia melihat dirinya yang pasrah dan senyum-senyum tak jelas sambil menutup mata saat Janes mulai beraksi. "Ya, ampun... apa yang telah Janes lakukan kepadaku?" gumannya.


(Maaf Sayang, saya telah nekat melakukan hal ini dengan memberimu obat sehingga kamu setengah sadar karena saya yakin kamu nggak akan pernah mau melakukannya dalam keadaan sadar. Saya tidak mau jika kesucianku direnggut oleh kakak iparku maka jalan satu-satunya adalah mempersembahkan kepadamu, mempersembahkan kepada seorang pria yang masih pejaka dan juga punya rasa cinta kepadaku, tapi sayangnya saya tidak akan bisa lepas dari kakak iparku. Saya berharap kamu mau mengerti dan setelah ini, tolong jangan cari lagi diriku, lupakanlah kebersamaan kita karena perempuan seperti saya ini tidak pantas untuk menjadi pendampingmu kelak. Sekali lagi maaf!)


Demikianlah kalimat yang dititipkan Janes untuk melengkapi video yang sempat ia rekam.


Hati Bryan hancur berkeping-keping setelah melihat dan membaca pesan tersebut. Ia tidak menyangkah akan seperti ini perjalanan cinta pertamanya.


Ia bangkit dengan gusar dan bersiap-siap keluar rumah. Ia mendatangi rumah Janes namun dari luar tampak rumah itu sangat sepi dan pekarangannya tidak terawat bahkan rumput liar sudah ada yang menjalar ke dinding rumah.

__ADS_1


"Maaf Den, cari siapa?" sapa ibu Lilis dari rumah sebelah.


"Oh, iya, kalau boleh tahu, penghuni rumah ini pada ke mana ya?" tanya Bryan dengan sopan.


"Apakah kamu bukan warga di desa ini sehingga tidak tahu cerita tetang keluarga yang pernah menghuni rumah tetsebut?" ibu Lilis balik bertanya.


"Saya adalah teman Janes yang baru kembali dari luar kota, memangnya ada apa dengan mereka?" tanya Bryan yang penasaran pula.


Ibu Lilis mempersilahkan Bryan masuk ke rumahnya lalu menceritakan semua tentang kehidupan keluarga Rian dan Lin serta masalah yang telah menjadi musibah yang menghancurkan keluarga tersebut. Bryan menjadi pendengar yang setia walau sebenanya hatinya tak sanggup mendengar penjelasan yang benar-benar tidak masuk di akalnya tapi itulah kenyataan yang terjadi.


"Apakah Ibu tahu kemana perginya Janes?"


"Maaf, ibu nggak tahu karena mereka berangkat pada malam hari!"


"Sebenarnya kami ini para tetangganya udah lama tahu tentang perselingkuhan antara Rian dengan adik iparnya tapi kami nggak berani ngomong karena nggak punya bukti,"


"Terima kasih informasinya Bu, saya mau pamit dulu!"


Bryan pun berlalu dengan hati yang pedih. Ia sangat kecewa dan menyesali pertemuannya dengan Janes yang telah menorehkan luka di hati.


***


Hanya tiga hari saja Bryan berada di rumah bersama dengan kedua orang tuanya karena ia sudah harus berangkat ke kota tempat tugas, yaitu kota Makassar.


"Untuk sementara kamu akan tinggal di rumah kenalan Ayah sambil mencari rumah kontrakan!" kata pak Edi ketika anaknya mengemas barang-barangnya.


"Apakah Ayah sudah menghubungi orang tersebut?" tanya Bryan.


"Iya, dan teman Ayah itu nggak keberatan. Nih, nomor ponselnya, tolong kamu simpan!"


Bryan mengetik nomor yang diberikan oleh ayahnya. Setelah mencium tangan dan memeluk kedua orang tuanya ia pun berangkat mengendarai motor trail miliknya.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih enam jam ia pun tiba di kota Makassar. Ia langsung mencari rumah makan terlebih dahulu karena sudah malam dan ia tidak mau merepotkan tuan rumah lalu mencari alamat yang diberikan oleh ayahnya. Setelah setengah jam mencari alamat akhirnya ketemu juga.


Bryan sangat senang karena tuan rumah menyambutnya dengan ramah.


"Aduh, anak pak Edi gagah juga, mirip dengan Ayahnya!" ucap bapak yang membukakan pintu baginya. Rupanya istri dan anaknya sudah tidur.


"Ah, Bapak bisa aja," kata Bryan merendah.


Bapak itu mempersilahkan Bryan duduk di sofa dan ia buru-buru hendak ke dapur untuk mengambil air minum tapi Bryan menolak dengan sopan dan mengatakan bahwa ia sudah makan dan minum kopi di restoran.


"Kalau begitu, silahkan istirahat soalnya kamu pasti capek setelah menempuh perjalanan yang jauh!"


Ia menunjukkan kamar yang sudah dipersiapkan sejak siang tadi kepada Bryan.


"Iya Pak, terima kasih!"


Bryan pun masuk ke kamar tersebut. Sebuah kamar yang fasilitasnya lengkap membuatnya berdecak kagum. Ia membaringkan tubuhnya yang sangat penat setelah mengganti pakaiannya dengan baju tidur dan tak lama kemudian terdengarlah suara dengkurannya pertanda bahwa ia sudah terlelap.


Pagi hari ia kaget saat membuka matanya karena di luar sudah terang oleh cahaya matahari. Rupanya perjalanannya kemarin telah membuat ia sampai ketiduran dan bangunnya kesiangan. Namun hari ini ia masih bisa menikmati waktu istrahatnya karena besok baru masuk kantor.


Ia pun segera beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu ia keluar untuk menyapa tuan rumah.


"Selamat pagi" sapa Bryan dengan ramah kepada seorang perempuan yang sedang mengepel lantai tepat di depan pintu kamar yang dihuninya.


"Selamat pagi," sahut perempuan itu.


"Eh, pak Polisi muda sudah bangun, ayo kita sarapan bersama!" suara tuan rumah mengagetkan Bryan karena tiba-tiba muncul di depannya.


Ia mengikutinya dari belakang menuju ruang makan dengan melewati dua ruangan yang berukuran luas. Timbul dalam pikiran Bryan bahwa teman ayahnya ini adalah seorang sultan.


Sebelum duduk Bryan bersalaman dengan seorang perempuan cantik yang adalah nyonya di rumah itu dan setelah duduk menghadap meja makan Bryan hampir terpekik melihat siapa yang datang membawa makanan ke meja.

__ADS_1


__ADS_2