Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
12. Mimpi Buruk


__ADS_3

Seminggu sebelum Rian berhenti bekerja di tempatnya, ia sudah mendapatkan pekerjaan baru di sebuah minimarket sebagai satpam karena ada seorang teman yang sudah mengurusnya.


Lin ikut bahagia ketika mendengar kabar bahwa kekasihnya sudah punya pekerjaan baru dan hari ini adalah hari pertama masuk kerja.


Lin tertawa mendengar cerita dari Rian tentang pengalamannya di hari pertama. Katanya ia sangat mengantuk karena hanya duduk, berdiri, dan tidak melakukan apa-apa. Tidak seperti dulu bahwa ia harus ke pasar membantu pak Mamang dan tiba di rumah masih harus kerja lagi.


Lin juga menceritakan pengalamannya sambil cekikikan. Katanya ia tidak lagi berkutat di air yang membuat sela-sela jari kakinya gatal, dan tangannya juga sudah tidak berkerut lagi.


Jarak tempat kerja mereka kurang lebih Lima kilo meter dan hal ini memicuh Rian untuk menyicil sepeda motor setelah ia menghitung-hitung gaji yang akan diterima setiap bulan dan yakin akan bisa menyicil barang tersebut.


Kebetulan Rian masih punya uang simpanan hasil kerjanya di rumah makan dulu karena ia selalu menyisihkan sebagian setelah gajian dan sisanya ia kirim ke kampung untuk sekedar meringankan beban orang tua.


Uang tersebut digunakan untuk membayar uang muka sepeda motor yang dibelinya sehingga angsuran yang harus dibayar setiap bulannya selama dua tahun ke depan tidak terlalu banyak.


Malam minggu telah tiba. Kebetulan jadwal kerja malam ini bukan bagian Lin sehingga ia janjian dengan Rian untuk pergi jalan-jalan sambil melepas rasa rindu setelah kurang lebih sepuluh hari tak bertemu.


Ada juga baiknya kalau tidak bertemu setiap hari karena keduanya saling merindukan satu dengan yang lain.


Menjelang malam Rian datang ke tempat kerja Lin untuk menjemputnya.


Teman-teman Lin terpana melihat penampilan pria yang datang dan menanyakan keberadaan Lin. Mereka gugup menjawab karena terpaku oleh ketampanannya.


Rian tampak keren dengan jaket hitam dan celana panjang levis warna navi melekat di tubuhnya. Ditambah lagi dengan mengendarai motor Zuzuki keluaran baru membuat cewek-cewek tertarik.


"Cie, cie..., mau bermalam minggu ama si dia," seru temannya menggoda saat melihat Lin keluar dengan penampilan yang cantik. Wangi parfum tercium dari tubuhnya.


"Dia bukan pacar loh, tapi teman," kilah Lin sambil tersenyum.


"Jangan-jangan teman tapi mesra!" ujar teman yang lain.

__ADS_1


Lin melangkah meninggalkan teman-teman yang terus menggodanya.


Tanpa diminta, tangan Lin dilingkarkan pada pinggang sang kekasih. Ia sangat bangga punya pacar yang sudah bisa menjemputnya menggunakan kendaraan peribadi.


"Yang erat, Sayang!" kata Rian setelah motornya melaju di jalan raya yang mulus.


Lin makin mempererat pelukannya dan menyandarkan dagunya di pundak Rian sehingga pandangannya juga terarah ke depan.


Hampir satu jam mereka berputar-putar mengintari jalanan kota sambil menikmati indahnya kota Beringin dengan kerlap-karlip lampu hias di sepanjang jalan. Setelah puas, Rian membelok motornya ke taman kota.


Di sana ada banyak pengunjung yang juga sedang menikmati malam minggu bersama dengan orang-orang terkasih.


Rian dan Lin berjalan bergandengan tangan menuju tempat orang-orang menjual makanan untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum bersantai-santai di taman kota.


Mereka memesan bakso dua mangkok kepada pelayan yang datang menghampiri. Sambil menunggu makanan yang dipesan keduanya berbagi cerita tentang pengalaman di tempat kerja baru.


Kesempatan ini digunakan juga oleh Rian untuk menceritakan siapa pelaku sebenarnya yang sudah menfitnah dia ketika masih bekerja di rumah makan.


"Tapi syukurlah karena kita sudah dapat pekerjaan yang lebih bagus ketimbang pekerjaan kita dulu, lagian juga si Mira yang jahat dan sombong itu sudah dipecat," ujar Rian.


Tak lama kemudian pelayan datang membawa dua mangkuk berisi bakso dengan kua yang panas. Dari dulu Lin dan Rian sangat doyan makan bakso. Sejak keduanya berkenalan, Rian sering mengajak Lin keluar hanya untuk sekedar makan bakso di warung terdekat yang ada di pinggir jalan.


Usai menikmati makanannya, Rian mengajak Lin masuk ke taman untuk bersantai sambil menikmati angin malam.


Malam itu menjadi malam panjang bagi mereka berdua. Rian tidak menyia-nyiakan waktu untuk bercumbuh mesra dengan kekasih hatinya. Perlahan ia mencium bibir yang tipis milik Lin.


"Eii, jangan lakukan di sini Kak, malu di liat orang banyak!" kata Lin dengan pelan karena ia merasa beberapa pasang mata sedang menoleh ke arah di mana ia dan Rian sedang berada.


Rian sadar lalu menarik lengan Lin untuk meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


Rupanya Rian belum puas, kini ia mengendarai motornya menuju pinggir pantai. Setelah tiba di sana ia memilih tempat yang sunyi.


"Kita mau ngapain ke tempat ini?" tanya Lin mulai bingung.


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Lin tidak mendapat jawaban tapi malah Rian langsung menyerangnya dengan ciuman panas yang menggairahkan.


Belum puas mencium dan ******* bibir saja, Rian semakin ganas, tangannya menyelinap ke dalam kemeja yang dikenakan oleh Lin untuk mencari benda kenyal dan meremasnya. Lin kaget karena Rian sudah terlalu jauh melangkah tapi tanpa sadar suara desah keluar dari mulutnya untuk menikmati sensasi yang begitu nikmat.


Tanpa di pandu, tangan Lin juga mulai meraba-raba dengan lembut dada bidang milik Rian membuat tangan Rian semakin nakal dan bergerilya ke mana-mana tapi terhalang karena Lin mengenakan pakaian rangkap.


"Ada orang dari sana, Kak!" bisik Lin menghentikan aktifitas Rian. Lin mendengar derap kaki yang semakin mendekat.


Ternyata ada sepasang kekasih yang juga baru datang ke tempat itu. Hal ini membuat Lin merasa lega karena ada alasan untuk segera pulang. Kata-kata nasihat Raka terngiang-ngiang di telinganya.


"Kita pulang, yuk!" ajak Lin yang langsung berdiri.


Rian masih enggan bergerak dari tempatnya tapi Lin menarik-narik lengannya akhirnya ia mengalah juga.


Mereka melintasi jalan di malam yang dingin. Lin memeluk kekasihnya dengan erat.


Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB ketika Lin tiba di tempat kerjanya. Ia segera berbaring menatap langit-langit kamar. Senyum mengembang di bibirnya tat kala mengingat perjalanannya hari ini.


Bulu kuduknya masih berdiri saat membayangkan bagimana sensasi nikmat yang ia rasakan ketika tangan Rian meraba bagian-bagian tubuh miliknya yang sensitif. Inikah yang namanya keindahan dalam bercinta?


Berselang beberapa saat, rasa kantuk membuat mata berat hingga Lin tertidur dan terbuai mimpi.


"Jangan Kak! Jangan Kak! Tolong... tolong...!" teriak Lin dengan suara keras.


Zhara, temannya datang menggoyang-goyang tubuhnya yang sudah dibanjiri keringat dingin. Rupanya Lin sedang mimpi buruk.

__ADS_1


Ia bangun dan memeluk Zhara sambil menangis mengingat mimpinya yang begitu menakutkan.


Dalam mimpinya, Rian membawanya ke sebuah gubuk di tengah hutan lalu mulutnya dibekap. Rian melucuti semua pakaiannya dan ingin... Saat itulah Lin berteriak-teriak minta tolong.


__ADS_2