Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
30. Nikahi Saya Dong!


__ADS_3

Janes berbaring di kasur empuk milik Bryan sambil menatap langit-langit kamar yang berwarna putih secara keseluruhan sampai ke dinding. Ia mulai merenungi dirinya yang sudah terjebak dengan cinta terlarang bersama kakak iparnya. Kini ia baru sadar bahwa ternyata di luar sana ada cinta yang lebih indah dan itu bisa dapatkan dari teman sebaya, bukan dari laki-laki tua yang sudah punya istri dengan usia yang jauh berbeda dari usianya. Siapa yang bersalah dalam hubungan terlarang itu?


"Ddrrrt... ddrrrt... !" dering ponsen miliknya berbunyi.


Janes segera bangkit dan duduk di tepi ranjang. Ia mulai memeriksa pesan yang baru saja masuk di ponselnya.


(Apa kamu masih di sekolah? Ini udah jam berapa, kenapa masih belum sampai juga di rumah?) chat dari kakak iparnya.


Janes merenung sejenak sambil memutar otak untuk mencari jawaban pas yang akan dikirim kepada Rian agar kekasih gelapnya itu tidak curiga.


(Oh, iya Kak, maaf... hari ini kami agak telat pulang soalnya banyak penyampaian dari guru tentang acara perpisahan sekolah yang akan digelar dua minggu ke depan!) Janes mengirim balasan kepada Rian.


(Tolong chat Kakak kalau sudah pulang, nanti saya jemput!)


Janes gugup dan gemetar. Mau buat alasan bagaimana lagi agar Rian tidak menjemputnya.


(Kakak mau pakai apa jemput saya? Bukannya motor masih ada di bengkel?)


Janes sengaja membalas chat tersebut untuk mengulur-ulur waktu sambil memikirkan alasan apa lagi yang akan disampaikan kepada Rian. Ia tak dapat membayangkan bagaimana murkanya Rian jika ia sampai memergoki dirinya sedang berada di rumah Bryan.


(Ini kakak udah di bengkel soalnya baru terima THR dari bos di mana kami bekerja selama ini, makanya sudah bisa bayar biaya perbaikan motor. Bagaimana, apa sudah bisa dijemput?)


(Nggak usah Kak, lagian saya udah terlanjur jalan kaki bareng teman-teman, hitung-hitung biar hemat bensin!)


(Yah, udah kalau begitu. Hati-hati Sayang! Sampai jumpa nanti di rumah!)


Janes segera turun dari tempat tidur dan buru-buru mengenakan pakaiannya.


"Sayang, kenapa sudah berpakaian? Permainan kita belum selesai loh!" ucap Bryan dengan nafas yang masih ngos-ngosan setelah berlari dari lantai bawah menaiki anak tangga. Tadi ia sudah hampir sampai di lantai dua tapi turun kembali gara-gara tidak yakin bahwa pintu sudah dikunci atau belum.


"Maaf Sayang, saya harus pulang, kakakku sudah menelepon!" ujarnya sambil meraih tas sekolahnya yang terletak di maja belajar Bryan.


Bryan tampak sangat kecewa tapi ia tidak bisa menahan Janes dengan alasan yang sudah dikemukakan. Ia juga tidak mau jika Janes kena hukuman dari kakaknya karena terlambat pulang. Bryan masih ingat bagiamana wajah sangar yang diperlihatkan kakaknya Janes beberapa waktu yang lalu karena Janes menolak untuk naik ke boncengan motornya.


"Jangan lupa yah, besok kita main lagi!" kata Bryan sambil mengemas sisa camilan yang masih banyak di meja dan memasukkan ke tas sekolah Janes yang sudah berada di punggungnya.


"Ok Sayang, terima kasih, saya pamit dulu!" sahut Janes sambil tersenyum lalu buru-buru menuruni anak tangga dan keluar dari rumah tersebut.


Setelah Janes pergi, Bryan masuk kembali ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia berbaring dengan perasaan yang belum puas. Ada rasa penasaran membuat hatinya sangat gelisah. Bayangan Janes yang sudah lincah bermain layaknya orang dewasa mengundang sejuta pertanyaan dalam benaknya. Apakah Janes yang tampak polos sudah tidak perawan? Siapa gerangan laki-laki yang sudah menjamahnya? Bukankah ia berasal dari desa terpencil? Ataukah Janes juga sudah sering nonton video forno seperti dirinya karena kurang pengawasan dari orang tua?


Bryan bangkit lagi dari tempat tidurnya dan berdiri di depan cermin alu memperhatikan wajahnya dengan saksama. Senyum mengembang di bibirnya mengingat pengalaman pertamanya, bercumbuh mesra dengan seorang perempuan. Rian merasa bangga karena telah berhasil menaklukkan hati Janes sehingga saat ini bisa menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. "Besok saya harus lebih hebat dari Janes," gumannya dalam hati.


Sementara itu Janes menyusuri jalan di bawah terik sinar matahari yang sangat panas. Ia berjalan sambil tertunduk dengan pikiran yang bercabang-cabang.


Tiba di rumah ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan hatinya sangat lega karena tidak menemukan adanya motor di samping rumah. Itu artinya Rian masih berada di luar. Ia pun segera masuk ke kamar dan mengunci diri di dalam karena khawatir dengan pertanyaan-pertanyaan dari kakaknya nanti apabila sudah tiba di rumah.


Ia membuka tasnya dan mengeluarkan camilan pemberian Bryan lalu menikmatinya sambil berkhayal mengingat apa yang sudah lakukan tadi bersama dengan temannya itu. Ia pun bingung dengan dirinya sendiri yang telah menerima cinta dari Bryan. "Nggak apa-apa-lah, toh, kak Rian tak akan pernah tahu bahwa saya pacaran dengan Bryan walau perasaanku ini juga masih bingung, apakah benar ada cinta untuk Bryan atau hanya sebagai hiburan? Entahlah!" pikiran Janes sedang ngawur.


"Kak Janes, kak Janes!" seru Rizha di luar kamar memanggil-manggil namanya.

__ADS_1


"Iya, Dek," sahut Janes lalu membuka pintu dan mempersilahkan adiknya untuk masuk. Di tangannya ada selembar uang berwarna ungu.


"Ayo, temani saya membeli di warung!" ajak Rizha penuh harap. Dari tadi ia sudah mengamuk ingin membeli makanan ringan tapi mamanya nggak bersedia mengantar karena mengantuk dan ingin tidur siang. Sampai sekarang pun ia masih ngorok.


"Siapa yang kasih uang sama Adek?" tanya Janes.


"Tadi papa dapat THR dan Rizha juga punya bagian," jawab Rizha dengan senang.


"Ohh, gitu, bagi dong!


"Kakak juga dapat THR?" tanya Rizha dengan polos. Ia belum tahu apa itu THR.


"Kakak nggak punya THR, Dek,"


"Kalau gitu, ayo pergi beli kue, nanti dibagi dua!"


Janes tertawa mendengar ajakan Rizha. Ia mengambil snack yang masih ada di tas sekolahnya dan memberikan kepadanya.


"Makan ini aja dulu, sebentar sore baru kita pergi beli kue solanya cuaca lagi panas bangat!"


"Kakak dapat dari mana ini?"


"Dari teman,"


"Ooohhh, mungkin teman Kakak itu dapat THR juga yah, seperti papa,"


"Kakak mau bobo dulu, nih!" ujar Janes yang sudah mulai mengantuk.


"Ok Kak, saya mau keluar sekarang, nanti kalau Kakak udah bangun, kita langsung ke warung!" kata Rizha lalu pergi dengan sebungkus roti di tangannya.


Rupanya Lin sudah bangun. Ia heran karena di dapur perabotan masih berantakan, belum dicuci. Tidak biasanya Janes membiarkan perabot seperti itu karena selama ini ia tidak akan bersantai sebelum rumah terlihat rapi.


Ia juga sudah mulai melihat perubahan pada adiknya yang sudah pandai dan rajin bersolek biar pun tak bepergian. Ditambah lagi dengan gaya rambutnya yang baru, ia semakin terlihat manis. Lin semakin heran karena ia tahu kakaknya yang ada di Morowali tidak pernah mengirim uang lebih dari biaya sekolah mereka bertiga tapi kata Janes ia menyisihkan sebagian uang kiriman Raka sehingga bisa beli ini dan beli itu bahkan digunakan untuk mempercantik diri.


Lin membuka tudung saji. Ia melihat nasi masih ada pada hal Hans dan Iwan sudah makan. Akhirnya Lin duduk manis dan makan nasi tersebut hingga tak tersisa.


Menjelang sore hari, Rian tiba di rumah dengan mengendarai motornya yang sudah beberapa lama berada di bengkel lantaran tak punya uang untuk menebus biaya perbaikannya.


Buru-buru ia ke dapur mencari makanan karena perutnya sudah melilit namun tak mememukan sedikit pun makanan di meja.


"Kamu nggak masak tadi?" tanyanya kepada Lin yang masih duduk karena kekenyangan.


"Bukan saya yang masak tapi Janes. Nih, saya juga baru selesai makan untuk kedua kalinya! Saya nggak sisain buat Mas karena pikirku Mas pasti makan di luar soalnya sudah dapat THR!" ucap Lin dengan santainya membuat Rian jadi kesal.


"Pantas aja badanmu tidak bisa dibedakan dengan drum karena hanya makan dan tidur kerjanya!" gerutunya tanpa berpikir bahwa perkataannya itu menyinggung perasaan istrinya.


Ia pun mengeluarkan dompet dari saku celananya dan mencabut selembar uang sepuluh ribu.


"Iwan, tolong beliin dulu mie di warung!"

__ADS_1


Iwan menerima uang tersebut dan bergegas ke warung. Saat itu pula Janes bangun dan segera ke dapur.


"Kamu udah berubah yah, pulang sekolah bukannya beres-beres rumah, malah langsung tidur. Kalau numpang di rumah orang itu harus mengerti!" kata Lin melimpahkan kekesalannya kepada Janes.


Janes yang baru bangun jadi bingung mendengar ucapan kakaknya. Barusan ia tidak cuci piring tadi karena ia memang tidak makan saat pulang dari sekolah dan sekarang ia bangun karena sudah merasa lapar, setelah itu ia akan membereskan pekerjaan di dapur. Namun mendengar kata-kata kakaknya yang cukup menyakitkan ia urungkan niatnya untuk makan walau pun perutnya keroncongan.


Janes mengumpulkan piring kotor dan membawanya ke tempatnya untuk dicuci. Sambil menggosok perabotan ia menghibur diri bahwa tidak lama lagi ia akan segera meninggalkan rumah ini, biar kak Lin tau rasa kalau dia sendiri yang akan memasak, mencuci, dan membersihkan.


Tak lama kemudian, Iwan muncul di pintu membawa kresek berisi tiga bungkus mie instan.


"Tolong, masakin dulu buat Kakak!" kata Bryan kepada Janes dengan suara lembut.


Tanpa bersuara, Janes langsung meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai dan meraih mie di meja lalu memasaknya. Setelah matang, ia menaruh pada sebuah mangkuk dan meletakkan di hadapan Rian yang sudah bersiap untuk menyatap mie tersebut.


"Kamu juga mau makan mie? Ayo kita makan bersama!" ajak Bryan.


Janes melihat ke sekelilingnya karena ia segan untuk makan jika dilihat kak Lin, tapi rupanya kakaknya itu sedang ke kebun. Mungkin tadi ia sangat tersinggung dengan ucapan suaminya.


"Iya deh, saya memang sedang lapar," ucap Janes lalu duduk berhadapan dengan kakak iparnya.


"Jangan diambil hati ucapan kakak kamu tadi yah, anggap saja angin lalu!"


"Nggak apa-apa Kak, lagian juga saya sudah mau keluar dari rumah ini,"


"Jangan gitu dong, kakak akan sangat kehilangan kalau kamu pergi!"


"Kalau Kakak keberatan saya pergi, nikahin saya dong!


Bryan termenung mendengar ucapan kekasihnya ini. Menikah? Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Masalah ini memang sangat sulit untuk dipecahkan.


***


Sore hari Lin pergi ke pasar dengan membawa uang pemberian dari suaminya tadi. Ia ingin membeli ikan kering dan bumbu dapur lainnya mumpung ada uang. Ia juga sudah bosan hanya makan nasi dan sayur saja tanpa lauk.


"Ssttt, sini dekat-dekat!" kata ibu Ida kepada ibu Irene yang kebetulan datang juga ke pasar. Mereka sama-sama karena secara tidak sengaja bertemu di jalan menuju pasar


"Ada apa sih, heboh bangat?" tanya ibu irene


"Coba lihat wanita yang sedang menawar ikan di sana!" kata ibu Ida menunjuk ke arah di mana Lin sedang bebicara dengan si penjual ikan.


"Iya, saya udah liat, wanita dengan postur tubuh tak bermodel dengan wajah yang penuh plek hitam dan tampak dekil. Emangnya dia itu siapa?" tanya ibu Irene penasaran.


"Wanita itu adalah kakak kandung siswa kita, Janes," sahut ibu Ida dengan setengah berbisik.


"Haaahhhh, yang benar? Pantas aja suaminya selingkuh,"


"Itulah, coba lihat, sebenarnya dia juga cantik sama seperti adiknya tapi ia kurang perawatan, bahkan sepertinya memang ia tidak pernah lagi memperhatikan penampilannya,"


Keduanya terus mengikuti dan memperhatikan Lin taoi tetap jaga jarak karena takut jika ketahuan bahwa mereka sedang membuntutinya.

__ADS_1


__ADS_2