Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Instant Noodles


__ADS_3

Agam merentangkan kedua tangannya usai membaca beberapa skripsi mahasiswanya. Matanya cukup lelah membaca jejeran huruf yang tetata di kertas tersebut. Tangannya tergerak memijat pelipis yang terasa pening.


Pria berkulit langsat itu berdiri dan memilih bersantai di balkon seraya menikmati sebatang cerutu yang mampu menenangkan pikirannya.


Diisapnya cerutu tersebut, lantas dihembuskan perlahan hingga asapnya mengepul menutupi wajahnya. Kedua matanya menatap hamparan langit jingga yang begitu luas, tanda pergerakan matahari ke arah barat.


"Non Anye, ngapain di sini, Non?"


Suara Bi Santi membuat fokus Agam terpecah. Ia menatap ke bawah, di mana Anyelir sedang duduk sendirian di teras rumah. Gadis itu nampaknya sedang memikirkan masalah yang membelitnya. Namun, entah alasan apa juga.


Dirinya tak tahu.


"Bi Santi, menurut bibi apa keputusan aku ini sudah benar?"


"Apa Non Anye merasa ragu?"


"Iya. Aku ini masih muda, bibi. Masih terlalu belia jika menikah. Aku bahkan takut jika saja harus dituntut untuk menunaikan tugas seorang istri." Anyelir begidik saat mengatakannya.


Mungkin saja pikirannya berkelana ke arah hubungan panas suami istri.


Mesum!


Agam terus memperhatikan interaksi dua wanita beda generasi itu. Perasaan labil dan bimbang untuk menentukan sebuah keputusan pasti dirasakan gadis itu karena memang usianya yang masih sangat muda.


Antara takut, malu, dan menyesal dalam keputusan yang ia ambil saat ini. Namun, setidaknya setelah menikah tentulah Agam akan memperlakukan Nara layaknya seorang istri. Dan ia akan menuntut haknya sebagai seorang suami.


Pernikahan mereka mungkin saja terjadi karena sebuah perjanjian. Namun, sebagai seorang pria yang memiliki istri, sudah pasti Agam ingin merasakan indahnya malam pertama dengan istrinya.


"Non Anye gimana atuh. Namanya istri ya harus mau menunaikan tugasnya jadi istri pada suami," celetuk Bi Santi seraya menahan senyum.


"Bi Santi, tapi aku takut. Aku tidak pernah dan tidak bisa bayangkan saat...." Anyelir menggigit bibir bawahnya, tak sanggup melanjutkan kalimatnya. la sudah terlalu malu untuk sekadar mengucap sebutan suami-istri.


"Tidak usah dibayangin, Non. Langsung digas saja nanti," sahut Bi Santi seraya tertawa.


Plak!


Refleks saja, Anyelir menepuk lengan Bi Santi. "Bibi ini kok nyebelin, sih!" keluhnya.


Bi Santi hanya terkikik. "Sudah! Ayo masuk, Non. Tidak baik diam di sini surup- surup begini," ujarnya sambil merangkul Anyelir dan mengajak gadis itu masuk.


Agam tanpa sadar mengulum senyum mendengar obrolan Anyelir. Gadis itu memang lucu. la sudah menerima sedikit informasi tentang Anyelir dari Olan— orang suruhannya.


Menurut informasi yang Olan peroleh, Anyelir adalah anak tunggal dari pasangan Elajar dan Alena. la berasal dari keluarga yang cukup kaya. Elajar adalah seorang pengusaha restoran masakan padang.


Namun, saat Anyelir berusia sepuluh tahun ibunya meninggal karena sakit kanker yang diderita. Dan setelah berselang satu tahun, Elajar menikah lagi dengan seorang janda bernama Dewi yang sudah memiliki putri seumuran Anyelir, yaitu Ulayya.


Dan tentang kejadian yang dialami Anyelir beberapa waktu yang lalu, itu memang sudah diatur dan masuk ke dalam skenario Dewi dan Ulayya. Mereka berdua sengaja menyingkirkan Anyelir untuk mengambil alih semua kekayaan yang hendak diwariskan kepada gadis itu.


"Anye yang malang ...," gumam Agam seraya mematikan cerutunya dan membuangnya asal.

__ADS_1


la lantas berganti pakaian dan langsung berjalan ke arah tempat tidur dan mengempaskan tubuhnya di sana dengan posisi tengkurap. Napasnya mulai teratur setelah beberapa detik berlalu.


Malam hari, Agam terbangun saat mendengar suara piring pecah. Suara yang hanya sepintas, namun mampu membangukannya yang masih terbuai dalam mimpi.


"Baru juga jam satu," gumam Agam setelah menatap jam dinding la bangun dan memilih untuk turun.


"Anye?" Agam menggumam lagi saat melihat Anyelir sedang membersihkan sisa pecahan piring. "Apa yang dilakukannya dini hari begini?"


Agam mendekat dan berdiri tepat di belakang Anyelir.


"Anye?"


Anyelir terperanjat dan seketika tangannya menekan pecahan beling hingga terluka. "Aww!" pekiknya.


Agam melotot. la bergegas mengambil kotak obat yang berada di ruang tengah.


"Sini, duduklah!" titah kotak berwarna putih. dan. Ia kembali sambil menenteng


"Tidak usah. Lukanya tak parah, kok," sahut Anyelir.


"Duduk atau lukamu semakin parah, Anyelir!" titah Agam dengan penuh penekanan.


Anyelir menelan ludahnya susah payah. Lantas, ia bangun dan duduk di meja makan berhadapan dengan Agam.


***


"Ulurkan tanganmu yang terluka!"


'Tapi, dapur dan kamarnya, kan cukup jauh? Kenapa dia bisa dengar?' batin Anyelir.


Agam mulai memberikan obat di jari Anyelir yang terluka. Lantas menutupnya dengan plester.


"Nah, sudah." Agam kembali membereskan perlengkapan obatnya tanpa menatap Anyelir sama sekali sejak tadi.


Sementara Anyelir hanya diam menunggu Agam selesai membereskannya.


"Kenapa malam-malam di sini?"


Kedua mata Anyelir melebar seketika saat Agam melempar pertanyaan kepadanya. "Eh, itu ... Aku haus dan mau minum tidak tahunya tanganku menyenggol piring yang ada di wastafel," jawabnya pelan.


"Apa kamu juga merasa lapar?"


"Eh, itu ...." Anyelir seperti maling yang tertangkap basah. Bagaimana Agam bisa tahu, pikirnya.


Sementara Agam hanya tersenyum tipis karena bisa menebak dengan tepat apa yang dilakukan oleh Anyelir di dapur.


"Maafkan aku, Tuan," lirih Anyelir seraya menunduk.


"Tidak perlu minta maaf. Aku malah seperti orang pelit saja kalau kamu berkata begitu. Makan saja kalau kamu lapar. Tapi, jangan lupa nyalakan lampu supaya kamu bisa melihat dengan jelas," sahut Agam yang merasa tak terganggu sama sekali.

__ADS_1


"Anda baik sekali. Terima kasih Tuan," ujar Anyelir.


"Hemm."


Agam merasa salah tingkah saat Anyelir tersenyum lebar menatapnya.


"Kenapa?" tanyanya.


"Tidak apa-apa. Apa Tuan tidak kembali untuk melanjutkan tidur?"


"Tidurku sudah terganggu oleh suara pecahan piring. Jadi, sekarang sekalian buatkan aku makanan kalau kamu mau makan." Jawaban Agam kembali membuat Anyelir terkejut.


"Tuan juga lapar, ya?" Pertanyaan Anyelir yang tak perlu dijawab sebenarnya.


"Ya."


"Tuan mau makan apa? Di kulkas banyak sekali bahan makanan tapi aku tidak tahu mau mengolahnya jadi apa kalau lapar begini. Keburu pingsan," celetuk Anyelir.


Mau tak mau, Agam akhirnya melepas tawanya. Pria itu sedikit terhibur dengan jawaban polos yang dilontarkan oleh Anyelir.


"Sudah, buat mie instan saja. Itu lebih mudah kan kalau lagi lapar?"


Anyelir mengangguk sambil tersenyum. Ia mulai bergerak memasak mie instan untuk Agam dan dirinya di sunyinya malam. Memang suasana rumah itu sudah sunyi walau bukan malam hari.


Sementara Agam, menunggu mie instannya matang seraya memainkan ponselnya. Keningnya berkerut saat ada nomor tak dikenal mengiriminya pesan.


Sebuah foto meja makan dengan latar belakang pemandangan yang indah. Ada rangkaian bentuk love yang menjadi bingkai di belakangnya. Kesan pertama yang dilihat Agam adalah romantis.


"Cih, orang iseng," gumamnya.


Namun, seketika darah Agam seolah mendidih saat melihat foto kedua. Di mana ada sosok Delisa sedang berciuman mesra dengan Bara. Tangannya mencengkeram erat ponsel di genggaman. Matanya terpejam, seolah untuk meredakan gejolak amarah dalam dirinya.


Agam tahu benar bahwa Bara adalah anak pengusaha sukses yang bergerak di bidang impor dan ekspor makanana. Banyak cabang perusahaan yang beroperasi di beberapa tempat. Jadi, mungkin saja itu yang menjadi alasan mengapa Delisa tega mengkhianatinya.


Uang. Meski hanya sebuah kertas, tapi begitu memabukkan. Bahkan, seseorang rela kehilangan kehormatan untuk mendapatkannya.


"Wanita itu memang benar-benar ******. Baru kemarin mengemis cinta padaku. Tapi, sekarang kembali menjadi pelacur," gumam Agam, masih dengan mata terpejam.


"Siapa?"


Kedua mata Agam terbuka. Anyelir menatapnya dengan pandangan heran dan bertanya-tanya.


"Bukan siapa-siapa. Ya sudah, ayo makan," sahut Agam tak acuh pada pertanyaan Anyelir.


Anyelir mengangguk. la duduk di hadapan Agam dan mulai menikmati mie kuah yang asapnya masih mengepul.


"Anye?" panggil Agam di tengah-tengah makan mereka.


"lya?"

__ADS_1


"Aku ingin tahu pendapatmu sebagai seorang wanita."


Anyelir mengangguk. "Tentang apa?"


__ADS_2