Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Mature


__ADS_3

Agam tersenyum tipis mendengar jawaban Anyelir. Rasa kagum yang ia rasakan begitu kentara dalam hatinya. Anyelir memang berbeda. Pemikiran gadis itu ternyata jauh lebih dewasa ketimbang dengan usianya.


Sementara Nadia bergeming sesaat. Lantas mengangguk dan berusaha tersenyum meski sulit. Anyelir memang belia. Namun, setiap jawaban dari pemikirannya bisa mematahkan semua argumennya.


"Maaf, Bu Nad kami pamit dulu untuk menikmati hidangan di sini," ujar Agam, membuyarkan lamunan Nadia.


"Oh, iya, iya. Silakan!" sahut Nadia.


Agam dan Anyelir kembali berjalan bersama seraya saling bergandengan tangan. Mereka seolah tengah menunjukkan pada semua orang bahwa mereka adalah pasangan kekasih yang saling mencintai.


Delisa sengaja duduk di pojok. Hatinya terasa diremas-remas dengan begitu kuat hingga menyisakan rasa sakit yang luar biasa kala melihat bagaimana sikap Agam pada Anyelir. Wanita yang baru dikenal.


Wanita itu menangis pilu dalam hatinya. Ia menjerit dalam hati, menahan air mata agar tak jatuh. Berusaha baik-baik saja walah hati remuk redam.


"Kenyataan yang memilukan!"


Delisa sontak saja menoleh ke sumber suara. Ternyata Nadia menghampirinya dan kini duduk di hadapannya. Ia mendengkus dan bertanya, "Apa kamu mau mengejekku?"


Nadia terkekeh. "Tidak, kok. Aku kasihan tahu lihat kamu dari tadi. Kalau memang mau nangis, nangis saja kali, Del. Tidak apa-apa, kok," celetuknya.


"Sudah lah, tidak usah ba cot!"


Nadia semakin mengeraskan tawanya. "Idih, marah kamu? Salah sendiri selingkuh. Sekarang mantan pacar sudah gandeng cewek lain, kamu malah marah."


Delisa menoleh cepat. "Maksudmu? Siapa yang selingkuh?" sahutnya cepat.


"Kamu lah."


"Aku tidak pernah selingkuh!" sanggah Delisa.


"Ya terserah lah. Soalnya kalau dilihat dari sisi mana pun, tidak mungkin kalau Pak Agam bisa melupakanmu dengan begitu cepat.

__ADS_1


Dia juga bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta. Sekali jatuh cinta, dia hanya berpusat pada satu wanita yang dicintai saja."


Delisa mengepalkan kedua tangannya yang ia letakkan di atas paha. la benar-benar sudah kehilangan sosok Agam dalam hidupnya. Dan dengan mudahnya ia digantikan oleh gadis ingusan seperti Anyelir


Anyelir sialan!


"Dia cantik, bukan? Usianya memang masih sangat muda. Tapi, pemikirannya sangat dewasa loh. Aku saja kagum mendengar jawabannya yang selalu saja mematahkan argumenku!"


Nadia sengaja memanas- manasi Delisa. Semua itu ia lakukan sebagai ajang balas dendam karena Delisa selalu saja memamerkan hubungannya dengan Agam seolah terkesan bahwa ia adalah wanita paling beruntung yang dicintai begitu dalam oleh kekasihnya.


"Cukup! Jangan pernah membahas mereka di depanku!" ujar Delisa. Ia kembali menatap Agam dan Anyelir yang kini duduk seraya menikmati hidangan di acara pesta itu.


Nadia hanya mencebik mendengarnya. Ia pun memilih pergi. Meninggalkan Delisa yang sedang terbakar oleh emosinya sendiri.


Tring!


Tring!


Tiba-tiba, ponsel Delisa berbunyi. Dengan wajah tertekuk, ia mengeluarkan ponselnya dan bergegas menjawab panggilan telepon yang ternyata dari Ulayya, temannya.


"Aku lagi bete, Del. Kita bisa ketemu tidak? Sekalian kita minum-minum. Pusing banget rasanya kepalaku!" keluh Ulayya di seberang sana.


"Memang kamu ada masalah apaan?"


"Masalah besar, Del. Rencana mama dan aku gagal. Masa anak ayah tiriku masih hidup. Padahal, aku sudah susah payah nyingkirin dia!"


Delisa terkekeh. "Strategi kalian masih kurang itu!" sahutnya.


"Hem. Mungkin. Jadi, bagaimana? Mau tidak?"


"Kapan? Aku juga lagi butuh minum. Rasanya hatiku terbakar sekarang."

__ADS_1


Kini, giliran Ulayya yang tertawa terbahak. "Nanti malam jam sembilan saja di tempat biasa."


"Oke!" Delisa menutup teleponnya. Lantas bergegas pergi meninggalkan acara pesta yang malah membuatnya panas.


Sementara itu, Agam menatap Anyelir yang tengah menikmati es krim hingga membuatnya tak menyadari bahwa tingkahnya seperti anak kecil.


"Anye?" panggil Agam, pelan.


Anyelir menoleh. "Iya? Ada apa?"


"Apa kamu sangat menyukai es krim?"


Anyelir tersenyum dan mengangguk. "Sangat suka," sahutnya.


Agam berdecih. "Sesuka apa pun kamu pada sesuatu, jangan sampai membuatmu kehilangan sikap wibawa mu," ucapnya menasihati.


Anyelir bergeming. Ia menarik udara perlahan dan menghembuskannya pelan. Ia lantas meletakkan mangkuk es krimnya dan mengelap bibir dengan tisu yang disiapkan di meja.


"Anye, kenapa ditaruh?" tanya Agam. Ia mendadak merasa bersalah saat melihat raut sedih di wajah Anyelir.


"Kamu pasti malu, ya. Aku memang tidak bisa mengontrol diri kalau ketemu es krim," kata Anyelir.


Agam menggaruk tengkuknya. Ia mengambil kembali es krim yang sudah diletakkan Anyelir. "Makanlah lagi. Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin kamu makan pelan-pelan saja," ucapnya.


"Tidak, Kak. Tidak usah," tolak Anyelir.


Agam mengerutkan alisnya. Ia pun menyendok es krim dan mengulurkannya ke bibir Anyelir, hingga membuat gadis itu terkejut.


"Es krim ini akan terbuang kalau kamu tidak menghabiskannya, An. Aku minta maaf jika sudah menyinggungmu. Sungguh, aku tidak ada maksud untuk meledek atau menghinamu," ujarnya.


Anyelir menatap es krim di hadapannya. Lantas, menoleh ke kanan, di mana Agam tersenyum. Ia mengambil alih mangkuk es krim dan sendok di tangan Agam. Lantas, kembali menikmati olahan susu tersebut.

__ADS_1


Agam terkekeh. Ternyata Anyelir memang masih memiliki sisi kekanakan. Wajar saja karena usianya masih belia, pikirnya.


Anyelir dan Agam ❤️


__ADS_2