
"Kamu cemas?" Agam melempar tanya pada Anyelir. Saat ini mereka berdua berada di dalam mobil menuju kembali ke rumah Agam.
"Bagaimana aku tak cemas kalau ayah sedang tidak baik-baik saja?" sahut Anyelir.
"Apa kamu mau segera melihatnya?"
"Sekarang?" Anyelir menoleh cepat.
"Tapi, aku belum siap bertemu mereka," lirihnya sambil menunduk.
"Memang kapan kamu siap? Jika menunggu kesiapanmu, yang ada dendammu tak akan pernah terbalas sampai kapan pun," ujar Agam tanpa menoleh ke arah Anyelir.
Agam dapat mendengar helaan napas dari wanita di sampingnya.
"Kamu harus bisa melawan dirimu. Lawan rasa takutmu dan lawan rasa tidak enak dalam hatimu. Kamu tidak akan pernah dihargai bila terus mengalah, Anye."
"Jadi, menurutmu aku harus memulai semuanya sekarang?"
"Ya. Jika kamu memang ingin menyelesaikan semuanya dengan segera."
"Baiklah... kalau memang menurut kamu begitu. Kita ke sana sekarang," ujar Anyelir. Ia menatap ke luar jendela. Di mana langit sudah berubah jingga.
"Di sana nanti, cukup fokuskan saja dirimu pada ayahmu. Tidak perlu memedulikan ibu atau kakak tirimu," pesan Agam. "Semua itu akan membuatmu lebih tangguh."
"lya."
Agam membelokkan stir menuju perumahan yang cukup elit. Rumah-rumah berjejer rapi dengan bangunan yang unik dan berbeda-beda.
"Kamu tahu rumahku?" tanya Anyelir saat Agam membelokkan mobilnya ke perumahan tempat tinggalnya.
"Begitulah."
Anyelir manggut- manggut. la sudah menganggap Agam teman. Apalagi sebentar lagi ia akan menikah pria itu. Tentunya sikapnya yang terlalu hormat pada Agam akan membuat kecanggungan di antara mereka akan tetap ada.
"Ini rumahmu. Benar, kan?" tanya Agam setelah memberhentikan mobilnya di depan rumah tingkat bercat putih.
__ADS_1
"Benar. Kamu hebat, Agam," sahut Anyelir penuh kegaguman.
Agam hanya berdecih. "Ayo, masuklah! Aku akan menyusul di belakangmu!" ujarnya.
Anyelir menarik napas panjang sebelum melewati pintu rumah tersebut. Sebelum masuk, ia menoleh ke belakang di mana Agam masih berada di dalam mobil. Pria itu sedang menelpon seseorang.
Dengan niat dan keyakinan penuh, Anyelir membuka pintu, melangkah masuk dengan anggun menuju ke kamar ayahnya. Suasana rumah yang sepi, membuatnya yakin bahwa Dewi dan Ulayya juga sedang di kamar sang ayah.
"Padahal aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka saat tahu aku masuk ke sini," gumam Anyelir.
Di depan pintu kamar ayahnya, Anyelir memicingkan mata saat mendengar sayup-sayup suara Elajar yang menyebut namanya.
"Mas, Anyelir sudah mati. Tubuhnya tidak ditemukan! Mungkin saja dia sudah dimakan binatang buas di hutan!"
"Tidak. Anyelir belum mati. Dia masih hidup. Aku yakin kalau dia akan datang menemui ku," lirih Elajar.
"Tidak mungkin! Anyelir itu sudah mati, Mas. Kamu harus bisa meneima kenyataan ini. Belajarlah untuk menerima fakta ini meski menyakitkan, Mas. Lupakan Anyelir, masih ada Ulayya. Dia juga anak kamu, Mas." Suara Dewi mulai melemah.
Hati Anyelir berdenyut nyeri saat mendengar sang ayah yang masih mengharapkannya untuk kembali. Ia tahu, jika ayahnya sangat merindukannya. Namun, Dewi masih terus berusaha untuk mempengaruhi ayahnya agar melupakannya.
Ceklek!
Anyelir tersenyum sinis saat melihat ekspresi terkejut dari ibu tiri dan kakak tirinya datang. Dua wanita itu mulutnya bahkan menganga lebar saat melihatnya berjalan mendekat.
"A-Anyelir?!" ujar Dewi dan Ulayya bersamaan. Mereka syok melihat orang yang hendak mereka celakai nyatanya masih dalam keadaan sehat dan tidak ada luka sedikit pun. Malahan, Anyelir terlihat begitu cantik dan memesona.
Anyelir hanya tersenyum tipis. Ia ingat pesan Agam bahwa ia hanya harus fokus pada sang ayah dan tidak memedulikan Dewi dan Ulayya. Biarkan saja mereka syok dan bertarung dengan pikirannya sendiri.
Anyelir duduk di tepi ranjang Elajar. Ia meraih tangan ayahnya itu dan menciumnya. "Aku kembali, ayah. Maaf, karena ayah harus menunggu lama sampai harus sakit seperti ini karena menanggung rindu pada putrimu ini," ujarnya dengan sengaja menekan dua kata terakhir untuk menyindir Ulayya.
Elajar yang awalnya kaget pun perlahan menitikkan air mata ia menegakkan punggungnya dan mengusap kepala Anyelir dengan penuh kasih sayang.
"Ke mana saja kamu selama ini, nak? Kenapa tidak sekali pun kamu pulang untuk menjenguk ayah? Maafkan ayah karena sudah menamparmu. Ayah tahu kalau kamu tidak akan pernah melakukan hal serendah itu," kata Elajar dengan berderai air mata.
Kedua mata Anyelir berkaca-kaca. la tersentuh oleh ucapan Elajar. Cinta pertamanya itu akhirnya kembali seperti dulu yang selalu percaya padanya. Namun, percuma saja jika Dewi dan Ulayya masih terus berputar di kehidupan Elajar. Sebab, mereka berdua akan terus meracuni pikiran ayahnya.
__ADS_1
"Apa kamu masih marah sama ayah, nak? Karena itu kamu tidak mau menengok ayah?" tanya Elajar, lagi.
Anyelir menggeleng. "Maafkan aku, ayah. Bukan aku yang tidak mau menengokmu. Tapi, ada orang yang tidak suka jika aku datang lagi ke sini," sahutnya. Pelan namun mampu membuat dua orang di belakangnya bergetar ketakutan.
"Siapa, nak?"
"Ada aja. Jika waktunya tiba, ayah akan tahu semuanya. Di saat itu tiba, ayah akan merasa bahwa sudah pernah membuat keputusan yang salah." Anyelir membuang napas kasar. "Ayah, aku ke sini ingin menyampaikan sesuatu. Aku harap ayah mau menerima keputusanku ini."
"Ada apa? Apa ada yang kamu inginkan?" Elajar tersenyum. Melihat Anyelir, ia seperti melihat pantulan mendiang istrinya. Anyelir memang mewarisi wajah cantik Alena—mendiang Istri dan ibu kandung Anyelir.
"Aku ingin menikah."
Wajah Elajar tak dapat menyembunyikan keterkejutan.
"Menikah? Sama siapa?" tanyanya.
Elajar tak hanya terkejut. Ucapan Anyelir kali ini seperti membuat dirinya syok berat. Putrinya sudah lama tidak pulang. Namun, sekali pulang malah memberi kabar pernikahan.
"Dengan Agam. Dia ada di depan. Sebentar lagi akan menyusul ku ke sini," jawab Anyelir.
"Anye Sayang...." Dewi yang sudah menguasai diri dari keterkejutan melihat Anyelir tadi mulai bicara. Wanita itu mendekat dan hendak menyentuh pundak Anyelir.
Akan tetapi, Anyelir menghindar dengan sedikit menggeser posisi duduknya. Hal itu membuat Dewi merasa sedikit kesal.
"Ada apa? Tidak perlu menyentuhku jika mau bicara," kata Anyelir dengan begitu dingin.
"Anye, kamu!" Ulayya yang tidak terima dengan sikap Anyelir berteriak. Namun, Dewi segera menghentikannya.
"Maafkan mama, Anyelir. Tapi, kenapa mendadak sekali? Apa kamu sudah benar-benar mengenal pria itu?" tanya Dewi dengan senyum palsu yang terukir di bibirnya.
"Tentu saja. Lagi pula waktu saling mengenal itu tidaklah berarti, bukan? Orang yang sudah lama dikenal saja belum tentu kita bisa tahu sifat asliya," jawab Anyelir yang lagi-lagi membuat hati Dewi memanas.
"Anyelir ... kamu banyak berubah. Jangan bicara tidak sopan pada mamamu," tutur Elajar saat melihat wajah istrinya yang masam.
"Begitu pula dengan ayah. Ayah tidak bisa melihat sebuah fakta yang tersembunyi karena tertutup oleh wajah indah dan rayuan yang memabukkan."
__ADS_1
Bukan begitu?