
Agam tersenyum sinis menatap Delisa yang syok mendengar fakta tersebut. Wanita itu lantas menatap gadis yang digandeng Agam dengan tatapan penuh intimidasi dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Bagaimana mungkin?" lirihnya.
"Bagaimana mungkin semudah itu kamu melupakan aku dan mengganti posisiku dengan gadis ini?" tanyanya, menatap Agam dengan pandangan nanar.
Agam mengalihkan pandangannya ke arah podium. Di mana mempelai pengantin tengah memperhatikan mereka. Ternyata dirinya, Anyelir, dan Delisa sedang menjadi pusat perhatian di aula tersebut. Bahkan beberapa orang yang hadir saling berbisik seolah sedang membicarakan mereka.
Sangat memalukan!
"Semudah kamu yang menggantikan posisiku dengan mahasiswamu sendiri," ujar Agam, telak hingga membuat wajah Delisa memerah karena malu.
"Kak, kamu ...." Delisa menatap Agam dengan sedih. Ia lantas menatap Anyelir dengan tatapan penuh kebencian. "Jangan ganggu pacarku!" tandasnya pada Anyelir.
"Cukup, Del! Jangan mempermalukan dirimu sendiri!" bentak Agam.
Agam pun menarik tangan Anyelir agar meninggalkan Delisa yang merasa tertohok akibat jawaban Agam yang justru membuatnya terpojok.
Sementara Anyelir hanya memilih diam. Sebagai sesama wanita, ia merasa iba pada Delisa karena seketika wajahnya memerah setelah mendengar bentakan dari Agam. Ia tak terlalu paham, kesalahan apa yang sudah dilakukan oleh wanita itu sampai Agam bersikap sekasar itu.
Padahal menurut Bi Santi,, Agam adalah sosok pria yang perhatian, lembut dan setia. Bahkan, Agam rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawanya untuk orang yang dicintai.
Mungkin saja kesalahan Delisa terlalu fatal. Bukankah Agam tadi menyebutkan bahwa Delisa menggantikan posisi Agam dengan mahasiswanya sendiri? Ah kisah cinta mereka terlalu rumit, pikir Anyelir.
Agam menyapa beberapa teman sejawatnya ketika berjalan menuju podium di mana sepasang raja dan ratu semalam sedang duduk anteng di sana dengan senyum bulan sabit yang indah merekah.
Eliza dan suaminya—Franki sontak saja berdiri ketika Agam dan Anyelir sudah berada di hadapan mereka.
"Selamat, Bu Eliza dan Pak Franki. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah," kata Agam ketika menyalami Franki.
Begitu pula dengan Anyelir yang mengucap doa yang sama ketika berjabat tangan dengan Eliza.
"Terima kasih, Mbak. Kalau boleh saya tahu, siapa namamu?" tanya Eliza yang merasa sangat penasaran dengan sosok Anyelir yang sejak masuk ke aula menjadi pusat perhatian semua orang termasuk ia dan suaminya.
Eliza bisa memahami mengapa Anyelir menjadi pusat perhatian, mengalahkannya yang kini menjadi seorang pengantin. Alasan utamanya adalah, Anyelir datang dengan Agam. Dosen dingin yang terkenal sangat setia pada sosok wanita yang dicintai, yaitu Delisa.
__ADS_1
Akan tetapi dengan begini, Eliza maupun orang lain bisa menilai dan yakin bahwa memang hubungan Agam dan Delisa sudah berakhir.
"Nama saya Anyelir. Panggil saja saya Anye," sahut Anyelir dengan suara yang begitu lembut.
"Oh, Anye. Iya iya. Anye cantik sekali," puji Eliza.
"Anda jauh lebih cantik," sahut Anyelir.
Eliza tersenyum. la lantas beralih menatap wajah Agam. "Kamu sengaja memperkenalkan dia kepada kami, ya?" tanyanya.
Agam tersenyum. "Iya. Sekaligus untuk menjawab semua rasa penasaran kalian selama ini," sahutnya.
"Ya sudah, sekali lagi selamat, ya. Aku turun dulu untuk menyapa teman-teman yang lain," pamitnya.
Eliza mengangguk. "Iya. Sekali lagi makasih, ya karena sudah datang. Aku doakan hubungan kalian langgeng dan segera menikah," ucapnya, tulus.
"Aamiin, makasih," jawab Agam. Ia pun menarik tangan Anyelir dan menuruni podium tanpa berfoto lebih dulu.
"Pak Agam. Siapa tuh?" tanya Nadia yang menghadang langkah Agam. Tadinya, ia sedang duduk di agak jauh dari podium. Namun, saat tahu Agam turun dan hendak menikmati hidangan ia menghampiri Agam.
"Calon istri saya, Bu Nadia," sahut Agam dengan begitu santai. Sedangkan Anyelir yang disebut sebagai calon istri oleh Agam merasa hatinya berdebar-debar.
"Oh, calon istri Anda ternyata," celetuk Nadia seraya manggut- manggut. Tatapannya mengarah pada Anyelir yang sedang tersenyum ke arahnya.
'Dia cantik dan imut. Manisnya,' batin Nadia, menilai paras mungil Anyelir yang nampak enak dipandang.
"Bu Nadia sama siapa ke sini?" tanya Agam mengalihkan pembicaraan.
"Ah, Anda ini mau niat meledek saya, 'kan? Mentang-mentang udah punya gandengan baru," ujar Nadia seraya mencebik.
Agam terkekeh pelan. "Saya hanya bertanya, Bu," tukasnya.
Nadia mendengkus. la beralih melempar tanya pada Anyelir. "Mbak, kamu cantik. Kok, mau sama kulkas dua pintu?"
"Hah? Kulkas dua pintu?" sahut Anyelir yang tidak mengerti.
__ADS_1
"Iya, tuh," kata Nadia sambil melirik Agam. Namun, yang dilirik hanya acuh tak acuh.
Anyelir lantas mengulum senyum setelah paham bahwa kulkas dua pintu yang dimaksud adalah Agam. "Dia bukan kulkas dua pintu, kok Mbak. Tapi, dia itu selimut yang menghangatkan."
Nadia melongo. "Hah?"
"Hayo, pikiran Anda jangan ke mana-mana!" Agam memberi peringatan dengan menunjuk Nadia.
"Seperti Anda yang memberi perumpamaan bahwa Kak Agam adalah kulkas dua pintu karena dia orang yang dingin, maka aku memberi perumpamaan bahwa Kak Agam adalah selimut karena sebenarnya dia adalah orang yang hangat," jelas Anyelir.
Nadia manggut- manggut. Lantas mengukir lengkungkan senyum di bibir. "Anda menilai Pak Agam dari sisi yang berbeda," ujarnya.
"Tentu saja. Sebab, setiap keburukan dan kebaikan bisa di lihat dari sisi yang berbeda," sahut Anyelir.
"Sangat dewasa. Tapi, aku lihat kalau usia Anda masih sangat muda."
Anyelir mengangguk. "Saya masih dua puluh tahun," ucapnya.
"Are you seriously?!" Nadia mendelik. la sedikit terkejut mendengar fakta baru tentang Anyelir.
"Wah, wah, wah. Pak Agam mencari gercep banget langsung mencari daun muda," cibir Nadia pada Agam.
"Usia tidak menjamin sebuah kedewasaan, Bu Nadia. Seperti halnya orang yang terlihat dewasa namun nyatanya lebih kekanakan," ujar Agam.
Ekhem!
Nadia berdeham. Entah mengapa ia merasa tersindir dengan jawaban Agam. "Emm... kalau boleh tahu, apa kalian sudah lama saling kenal?"
"Belum lama. Cuma hampir sebulan saja kita kenal." Agam menyahut.
"Secepat itu? Wah, ternyata yang sudah lama menemani kalah dengan orang baru," celetuk Nadia.
Anyelir tersenyum, lantas menyahut," Perumpamaan itu memang tidak salah. Tapi, jika di posisi Kak Agam dan saya sekarang perumpamaan itu kurang tepat, Bu Nad."
Kening Nadia bertaut. "Oh, ya? Terus gimana?"
__ADS_1
"Waktu untuk mengenal orang lain itu butuh waktu yang lama. Sebab, meski sudah mengenal orang lain dan membersamainya dalam waktu yang lama, kita belum tentu bisa tahu sifat sebenarnya dari orang tersebut."
"Saya tahu jika Kak Agam dan mantan kekasihnya sudah menjalin hubungan sangat lama. Namun, nyatanya mereka kurang bisa memahami sifat satu sama lain. Dan lamanya sebuah hubungan tidak bisa menjadi sebuah patokan untuk menilai berjodohnya dua orang," imbuh Anyelir.