
"Syukurlah, kalau begitu boleh aku meminta sesuatu padamu, nak?" Jasmine bertanya dengan suara yang lemah lembut.
"Boleh." Anyelir menjawab sambil tersenyum.
"Jangan panggil aku tante. Panggil aku mama. Seperti ketika Agam memanggilku. Bukankah sebentar lagi kamu akan menjadi menantuku?"
Anyelir menatap Jasmine lantas menatap Agam. Rasanya sangat canggung memanggil seseorang dengan sebutan mama baginya. Sebab selama ini pun, ia jarang sekali memanggil Dewi dengan sebutan Ibu.
"Anye ... kenapa cuma diam saja?" tegur Jasmine, heran.
"Ehmm... maaf. Aku hanya merasa canggung jika tiba-tiba memanggil tante dengan panggilan mama. Tapi ... aku akan mencobanya," sahut Anyelir.
Jasmine mengangguk. "Bisa kita bicara berdua di taman? Sepertinya kita bisa menjadi dekat kalau sudah berbicara berdua," ajaknya.
"Iya, bisa kok. Mari," jawab Anyelir. Ia bangkit dan berjalan bersama Jasmine menuju taman belakang. Meninggalkan Agam dan Arsenio berdua di ruang tamu.
Agam bergeming beberapa saat karena bingung hendak mengawali obrolan dari mana. Rasa canggung yang mendadak mendera membuatnya merasa seperti orang bodoh yang tak berkutik di depan sang ayah.
"Kamu hebat, Gam," celetuk Arsenio.
"Hebat? Maksudnya?" tanya Agam yang tidak memahami ucapan sang ayah.
"Kamu bisa bertahan sendiri tanpa ada ayah dan mamamu. Seketika ayah merasa penyesalan yang ayah rasakan sia-sia," tukas Arsenio.
Agam menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Wajahnya datar menatap ayahnya yang menurutnya terlalu mengumbar cerita sedih. Seolah-olah ayahnya adalah korban dari keegoisannya.
"Jadi... Ayah menyesal?"
"Ayah menyesal. Tapi, ayah sadar jika membujukmu untuk kembali adalah hal yang sia-sia," jawab Arsenio.
"Aku kira kehadiranku di rumahmu tidak ada artinya. Apalagi saat kamu sudah memiliki anak dari wanita lain."
Arsenio tersenyum tipis. "Bagaimanapun dia itu adikmu, Agam. Kamu boleh marah dan benci pada ayah. Tapi, Aurel tidak tahu apa-apa tentang kesalahan yang ayah perbuat. Dia bahkan sering menanyakanmu," jelasnya.
"Ya, aku tahu. Dia memang adikku. Tapi, boleh kan jika aku bersikap seperti anak tunggal yang tidak punya saudara?"
Arsenio bergeming. "Ayah tidak akan memaksamu, Gam. Tapi, kamu harus tahu jika kamu tetap yang utama di hati ayah. Ayah juga sangat berharap kamu bisa bergabung dengan perusahaan."
"Ayah masih sehat dan masih bisa memimpin perusahaan dengan baik. Kehadiranku di sana pasti akan menimbulkan keributan nantinya."
"Keributan apa? Kamu adalah penerusku, nak. Kamu adalah pemimpin selanjutnya. Semua orang tahu itu."
"Tidak, ayah. Hanya keluarga kita yang tahu. Orang lain tidak ada yang tahu. Mungkin hanya segelintir orang yang tahu jika ayah memiliki anak laki-laki," sahut Agam.
__ADS_1
Arsenio manggut- manggut. "Ya, itu benar," lirihnya.
Agam menghela napas panjang. "Bersabarlah... aku pasti akan bergabung dengan perusahan jika waktunya sudah tiba," ucapnya ketika melihat wajah ayahnya murung.
"Oh, ya. Aku juga ingin bilang. Jangan terlalu memberi kepercayaan pada orang-orangmu. Apa yang terlihat baik, belum tentu bagus," pesan Agam.
Kening Arsenio berkerut. "Orang- orangku? Siapa?" tanyanya. "Apa kamu mengetahui sesuatu?"
Agam berdeham. "Tidak. Aku hanya berpesan saja," sanggahnya.
Arsenio mengangguk pelan. Ia tersenyum tipis. Ia bahagia karena Agam masih peduli padanya. Atau ... mungkin saja putranya itu selama ini mengikuti perkembangan perusahaan? Tapi, apa pun itu, Agam sudah membuktikan bahwa ia menunjukkan kemampuannya dalam memimpin perusahaan.
"Ya, ya, ayah paham dan akan mengingat semua pesanmu itu."
Setelahnya, hanya keheningan yang terjadi di antara keduanya.
Sementara Anyelir dan Jasmine duduk bersebelahan di kursi taman. Anyelir terus saja menunduk tak berani mengangkat wajahnya. Ia takut jika saja Jasmine mengatakan hal-hal yang mungkin saja menyangkut pautkan tentang keluarganya. Atau mungkin saja, sebenarnya Jasmine tidak merestui hubungannya dengan Agam.
"Anye ...," panggil Jasmine.
"Iya?" Anyelir mendongak, lantas menatap Jasmine yang menatap lurus ke depan.
"Mama serahkan Agam sama kamu, ya. Buat dia bahagia," kata Jasmine. Suaranya pelan namun terdengar begitu berat.
Anyelir dapat merasakan kesedihan dari ucapan yang dilontarkan Jasmine. Mengapa Agam harus diserahkan padanya, dan untuk membuat Agam bahagia mungkin saja ia akan kesulitan karena ada nama lain di hati pria itu.
"Selama ini dia hidup dalam kesendirian, Anye. Keluarga kami bukanlah keluarga yang harmonis seperti yang orang lain lihat. Keluarga Lagathias, selalu diberitakan sebagai keluarga terbaik di seluruh negeri ini. Namun, tidak ada yang tahu jika di balik semua itu, ada seorang anak yang harus terluka karena kehilangan sosok orang tuanya."
Jasmine menatap Anyelir seraya tersenyum. "Kamu masih terlalu dini untuk tahu semuanya. Bahkan, aku juga memahami jika di hati Agam masih terukir nama orang lain di hatinya. Benar, kan?" tanyanya.
Anyelir mengangguk. Pertemuannya dengan Delisa kembali terlintas secara tiba-tiba. "Mantan pacar Kak Agam sangat cantik," tukasnya.
"Oh, ya? Apa kamu pernah bertemu dengan Delisa?" tanya Jasmine.
"Iya. Waktu di resepsi pernikahan teman Kak Agam kemarin," jawab Anyelir.
"Tapi, kamu jauh lebih cantik dari pada Delisa. Sikapmu juga sopan. Pastinya kamu jauh lebih unggul jika dibandingkan dengannya. Mama bersyukur karena Agam berjodoh dengan kamu," ujar Jasmine.
"Aku tidak sebaik itu, Ma. Mama belum mengenalku. Begitu pula dengan Kak Agam. Pertemuan kami yang begitu singkat tentu saja masih sangat kurang untuk saling mengenal."
Jasmine menggeleng. "Tidak, tidak. Itu semua adalah penilaian dari kaca mata mama. Oh, ya. Aku dengar hubunganmu dengan keluargamu tidak baik-baik saja, ya?"
Anyelir tersenyum getir. "Apa Kak Agam yang mengatakannya?" tanyanya.
__ADS_1
Jasmine menepuk bahu Anyelir, seolah menguatkan gadis itu agar tetap merasa kuat. "Apa pun yang dilakukan keluargamu, percayalah bahwa semua yang bersikap buruk akan mendapat balasan yang setimpal nanti," ujarnya.
Anyelir tersenyum. "Mama baik sekali. Padahal aku hanya orang baru di sini," katanya dengan mata berkaca-kaca.
Jasmine merangkul Anyelir dan mengusap bahu gadis itu. "Kamu tidak sendirian. Mulai sekarang ada Agam dan kami yang akan selalu menemanimu. Kamu menganggap kami keluarga, kan?"
Anyelir mengangguk. "Tentu saja, Ma. Sekali lagi terima kasih karena telah menerima gadis sepertiku," ucapnya.
"Besok, persiapkan dirimu, ya. Kita hadapi keluargamu sama-sama," kata Jasmine dan dibalas anggukan oleh Anyelir.
***
Akhirnya waktu yang ditunggu telah tiba. Agam dan Anyelir sudah bersiap untuk bertandang ke rumah orang tua Anyelir. Begitu pula dengan Jasmine dan Arsenio yang juga sudah bersiap untuk berangkat.
Jasmine sudah menyiapkan banyak sekali hantaran yang diberikan kepada keluarga Anyelir. Dan dari sekian banyak hantaran yang dibawa berisi makanan dan kue basah.
Sementara Agam sudah menyiapkan barang bawaan sendiri yang akan ia gunakan sebagai mahar untuk melamar Anyelir.
"Agam, di mana Anyelir?" tanya Jasmine. Penampilan wanita itu nampak begitu memukau meski penampilannya begitu sederhana.
"Anye masih bersiap-siap, Ma."
Arsenio yang baru saja turun dari mobil menjadi pusat perhatian Agam. Menurut Agam, ayahnya itu terlihat begitu tampan dan jika dilihat-lihat ia seperti sedang bercermin. Wajah Agam memang menuruni garis ketampanan sang ayah. Sehingga orang yang melihat mereka bisa menilai jika Agam dan Arsenio adalah ayah dan anak.
"Wah, jika disejajarkan wajah kalian mirip. Hanya usia saja yang membedakannya," celetuk Jasmine.
Agam berdecih dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tepat di mana Anyelir keluar dengan penampilan yang berbeda. Penampilan yang mendadak membuat hati Agam berdebar-debar.
"Anye?!" seru Jasmine dengan mata melebar ketika melihat Anyelir yang berbeda.
Anyelir tersenyum. "Maaf, kalian sudah menunggu lama, ya?" ucapnya merasa sungkan.
"Tidak, kok. Tapi mama sangat pangling melihatmu, nak. Kamu cantik sekali!" ujar Jasmine dengan senyum lebar.
Anyelir tersenyum. Ia menatap Agam dan tak sengaja pandangan mereka bertemu. Sontak saja, Anyelir mengalihkan pandangannya ke arah lain. Begitu pula dengan Agam.
Sedangkan Jasmine yang melihatnya hanya tersenyum simpul. "Ehem, ada yang salah tingkah rupanya."
"Hah? Siapa?" sahut Agam cepat.
"Orang," sahut Jasmine seraya mencebik.
"Sudah, sudah. Ayo, kita berangkat keburu siang ini!" sela Arsenio yang juga ikut tersenyum. la berjalan lebih dulu menuju mobil. Lantas diikuti oleh Jasmine, Agam, dan Anyelir.
__ADS_1