Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Heart


__ADS_3

Anyelir merebahkan diri di samping Agam. Kedua matanya terpejam, namun ia tak bisa terlelap meski matanya terasa begitu berat.


la sudah melangkah sejauh ini. Sekarang, yang harus ia pikirkan adalah membuat mama tiri dan kakak tirinya mengakui perbuatannya.


"Jangan berpikir bahwa masalah yang belum waktunya untuk terjadi. Apa yang telah aku janjikan pasti akan aku tepati," ujar Agam. Tanpa menoleh ke belakang tubuhnya di mana Anyelir berbaring.


"Aku hanya berpikir saja kok, Kak."


"Jangan pikirkan hal yang tidak perlu. Tidurlah!" titah Agam.


"Hem, iya."


***


Pagi ini, Aurel bangun lebih awal dari semua anggota keluarganya. Gadis itu berjalan-jalan di area hotel mewah yang kemarin sempat diadakan pesta pernikahan Agam dan Anyelir.


Aurel beralih menuju ke balkon untuk melihat pemandangan yang bisa dilihat dari tempat itu. Dan pemandangan yang indah tersaji dengan begitu indah di matanya.


"Mbak, ada yang bisa saya bantu?"


Sontak saja, Aurel terlonjak kaget dan menoleh ke belakang. Nampak dua orang pria berkemeja putih dan celana hitam berdiri sambil tersenyum kepadanya. Namun, anehnya senyum mereka sangat mengganjal bagi Aurel.


"Tidak, Mas. Tidak ada," sahut Aurel. Kenapa juga ia butuh bantuan kalau hotel tersebut milik ayahnya? Mungkin saja dua pria itu tidak tahu siapa dirinya.


"Benarkah? Tapi jika bisa anda jangan berdiri di sini sendirian. Takutnya ada orang jahat yang lewat dan punya niat buruk pada anda," kata pria berkulit sawo matang.


Aurel mengangguk. "Saya pergi dulu," ucapnya.


Akan tetapi, baru saja melewati dua orang pria tersebut, tangan Aurel dicekal oleh pria satunya.


"Lepaskan saya jika anda tidak ingin punya masalah," kata Aurel.


Namun bukannya melepaskan, kedua pria itu justru terbahak-bahak.


"Mbak, kami tidak tahu jika ada wanita cantik yang menginap di hotel ini. Tahu begitu kan, kami bisa menemanimu semalam," kata pria bertubuh tinggi.


Aurel mengempaskan tangannya hingga cekalan tangan pria itu terlepas. "Anda sudah bersikap kurang ajar, Mas!" Tegasnya.


"Sudahlah, Mbak. Kamu jangan sok jual mahal. Tamu seperti kamu sudah pasti menginginkan hal yang lebih dari sekadar sentuhan!"

__ADS_1


Plak!


Aurel yang terpancing emosi seketika menampar pria bermulut lamis tersebut.


"Jaga mulutmu! Dasar pria tidak tahu diri!" umpat Aurel. Dadanya kembang kempis menahan amarah yang bergejolak.


"Sudah, ayo, langsung kita bawa saja ke kamar!" ujar pria bertubuh tinggi pada temannya.


Kedua pria itu memegangi masing-masing tangan Aurel. Tawa mereka membahana. Tak ada orang yang berlalu lalang karena hari memang masih terlalu pagi. Apalagi di lantai empat memang diboking untuk acara resepsi.


"Kalau ayah kakakku tahu, kalian pasti tidak akan selamat!" teriak Aurel yang mulai ketakutan karena dua orang pria itu menyeretnya tanpa rasa takut.


Dalam hati, Aurel berpikir apakah karyawan di hotel ini masuk tanpa melalui seleksi terlebih dahulu?


"Lepas!" Aurel terus berteriak seraya menggeliat untuk berusaha melepaskan diri.


Ketika mereka hendak berbelok masuk ke kamar, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menarik krah baju mereka hingga membuat mereka hampir terjengkang.


"Kalian pikir apa yang kalian perbuat ini bagus?"


Aurel melotot saat melihat orang yang menolongnya adalah Agam. Pria itu memegangi dua pria tersebut tanpa terlihat kesusahan.


"Kalian tahu siapa gadis yang kalian akan kalian lecehkan itu?" tanya Agam dengan aura dingin yang mencekam.


"Lepas! Lepaskan kami!" ucap salah satu pria yang hendak melecehkan Aurel.


"Aku akan melepaskan kalian setelah kalian kehilangan tangan kalian," sahut Agam. Dengan satu gerakan, Agam membenturkan kepala dua pria itu. Lantas, ia memukuli dua pria tersebut tanpa ampun.


Aurel yang melihatnya hanya bisa begidik ketakutan. Ia tak menyangka bahwa Agam bisa bersikap mengerikan seperti itu. Air yang nampak tenang, memang belum tentu aman. Bisa jadi, air tersebut malah menghanyutkan dan lebih mengerikan.


Agam mencengkeram lengan kedua pria tersebut sampai keduanya meringis kesakitan. "Tangan kalian terlalu kotor untuk menyentuh adikku! Siapa nama kalian?!" sentaknya.


"A- ampun, Pak. Kami ... kami tadi hanya bercanda," ujar salah satunya.


"Tidak ada yang namanya pelecehan berkedok candaan. Aku akan pastikan hidup kalian tidak akan tenang setelah ini!"


Bugh!


Sentuhan terakhir, Agam melayangkan tinju ke wajah kedua pria itu.

__ADS_1


"Pergi dari sini! Aku akan kembali ke ke kamarku!" ujar Agam pada Aurel. la lantas, meninggalkan Aurel yang terdiam seraya menatapnya dengan penuh syukur.


Aurel yakin, bahwa Agam memang pria yang bertanggung jawab. Agam, meski terlihat dingin dan tak tersentuh tapi, ia memiliki hati yang lembut. Ia sangat bersyukur karena Tuhan memilih Agam sebagai kakaknya. Meski ia tahu jika Agam tidak pernah menganggapnya sebagai saudara.


***


"Bryan, pecat dua orang karyawan di sini dan pastikan mereka tidak akan mendapat pekerjaan di mana pun!"


Agam berucap seraya menatap keluar jendela yang langsung memperlihatkan pemandangan hijau yang menyegarkan mata. Usai kejadian barusan, ia bergegas menghubungi Bryan untuk segera bertindak.


"Maaf, Tuan Muda. Jika saya boleh tahu, apa masalahnya?" tanya Bryan. Ia adalah pria yang penuh dengan perhitungan. Ia tak akan bertindak gegabah tanpa tahu permasalahannya terlebih dahulu.


"Mereka berdua sudah mengganggu Aurel. Mereka bahkan mau melecehkannya. Sangat memalukan! Bisa-bisanya ada karyawan tidak beradab di hotel ini? Apa saja yang dilakuan manager di sini?" cecar Agam dengan suara tinggi. Emosinya masih belum stabil sehingga ia belum bisa mengendalikan diri.


Bryan yang mendengar omelan Agam tersenyum tipis. la senang karena Tuan mudanya itu peduli pada adiknya. Hati Agam, memang lembut meski covernya terlihat kasar dan dingin.


"Saya akan menyelesaikannya dengan cepat, Tuan. Jika dimungkinkan, manager hotel ini akan segera diganti," sahut Bryan dengan tegas dan tanpa keraguan.


"Ya, memang sudah seharusnya seperti itu."


Bryan mengangguk. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan," pamitnya, meninggalkan ruangan Agam.


***


Dalam waktu singkat, dua orang pria yang telah mengganggu Aurel dipecat dengan tidak hormat. Bahkan sudah dipastikan mereka tak akan mendapatkan pekerjaan di mana pun.


Begitu pula dengan manager hotel yang ternyata baru saja diganti tanpa persetujuan dari Arsenio. Manager tersebut ikut dipecat karena ternyata dari awal memiliki maksud tertentu.


"Kalian tahu siapa gadis yang kalian lecehkan itu?" todong Bryan pada dua pelaku.


"Tidak, Pak." Dua pria yang tadi terlihat begitu gagah, kini terlihat lemah dan lesu.


"Dia adalah Aurel Putri Lagathias. Putri dari Arsenio Lagathias, pengusaha sukses yang juga merupakan pemilik hotel mewah ini."


Jawaban Bryan, seketika membuat dua pria di depannya seolah tak bertulang.


"Kalian telah salah orang. Dan memang seharusnya, kalian tidak melakukan hal itu di sini. Dan satu lagi, pria yang tadi menghajar kalian adalah putra tunggal Arsenio Lagathias, Agam Lagathias, kakak Aurel Lagathias dan juga pewaris Lagathias Group!" jelas Bryan sedetil mungkin.


Deg!

__ADS_1


Dan penjelasan tersebut kian membuat dua pria itu pucat pasi. Mereka dapat menebak bahwa hidup mereka ke depannya tak akan mudah.


__ADS_2