
Delisa berteriak sekencang-kencangnya setelah berada jauh dari tempat resepsi Agam dan Anyelir berlangsung. Ia berada di jembatan, yang langsung memperlihatkan sungai dengan aliran yang begitu deras.
Rasa sesak dalam dadanya tak berkurang sama sekali meskipun ia berteriak dan mengumpat Agam. Pria yang ia kira lugu dan tak tega menyakiti seorang wanita, nyatanya lebih parah dan lebih kejam. Pria itu bahkan tidak berpikir dua kali untuk mempermalukan dirinya.
Apa arti dari semua kenangan yang telah mereka lalui selama ini? Apakah Agam tak pernah berpikir bahwa perpisahan ini sangatlah menyakitkan?
"Anda sudah salah mengambil jalan, Nona. Tidak seharusnya anda berbuat hal memalukan di pesta bos saya tadi."
Delisa sontak saja membalikkan badan dan terkejut saat melihat pria yang merupakan orang yang memutar rekamannya di depan banyak orang tadi. Dia adalah Bryan, kaki tangan Agam sekaligus orang yang paling dekat dengan Agam.
"Kamu! Dasar pria brengsek!" Delisa melayangkan tangannya ke udara dan hendak mendaratkannya ke pipi Bryan. Namun, dengan sigap Bryan mencekal tangan Delisa.
"Kamu hanya membuang-buang waktumu saja Nona Delisa."
Delisa menarik udara sebanyak mungkin, lantas mengembuskannya perlahan. "Untuk apa kamu membuntutiku? Belum puas kamu mempermalukan aku tadi?" tanyanya dengan tatapan penuh kebencian.
Bryan tersenyum miring. "Seharusnya saya yang bertanya seperti itu, Nona. Apa Nona belum puas mempermalukan Tuan Agam di depan umum tadi?" balasnya.
Delisa mendengkus dan membuang muka. "Cih, kamu tidak akan memahami apa maksudku!" decihnya.
"Paham. Saya sangat paham atas apa yang ingin anda lakukan. Anda ingin menghancurkan pernikahan Tuan Agam dan Nona Anyelir. Anda hamil dan malah ingin agar Tuan Muda saya bertanggung jawab atas perbuatan anda dengan selingkuhan anda. Benar begitu, kan?"
"Dan yang paling utama adalah ... anda tidak rela jika Tuan Agam menikahi wanita lain," imbuh Bryan seraya mengukir senyum sinis.
Jantung Delisa berdegup kencang. Namun, rasanya ia begitu penasaran. Mengapa pria di hadapannya itu memanggil Agam dengan begitu hormat. Siapa Agam sebenarnya? pikirnya.
"Sebenarnya siapa kamu? Kenapa kamu sangat menghormati Agam?" Terucap sudah pertanyaan yang sejak tadi terus mengganjal di hatinya.
"Tuan Agam adalah orang baik yang menjadi panutan saya. Dan sekali lagi jika anda kembali berulah, saya pastikan bui akan menjadi tempat tinggal anda selanjutnya," tegas Bryan.
Delisa menelan ludahnya susah payah. Apalagi ketika menatap mata Bryan yang berkilat. Ucapan pria itu nampaknya tidak main-main.
"Dan satu lagi. Saya hanya akan memberi anda peringatan karena saya masih peduli," kata Bryan. "Sekali lagi anda mengganggu Tuan Agam atau pun Nona Anyelir, maka anda akan berurusan dengan saya," ancamnya.
__ADS_1
Bryan melangkahkan kaki meninggalkan Delisa yang merasa tertekan.
"Kenapa semua jadi begini?" lirih Delisa, bersamaan dengan air mata yang berjatuhan.
***
Acara resepsi akhirnya selesai. Agam dan Anyelir sudah berada di dalam kamar dengan kecanggungan yang menyelimuti mereka.
Anyelir duduk di depan meja rias dengan gaun yang masih melekat di tubuhnya dan riasan yang masih menempel wajahnya.
Kejadian tadi masih terbayang-bayang dalam benaknya. Hal yang sangat merendahkan harga diri seorang wanita. Delisa memang salah. Tapi, apa harus adegan zina itu dipertontonkan di depan banyak orang?
"Tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan, Anye. Aku tahu kalau kamu merasa tidak nyaman sekarang. Ucapkan saja apa yang sedang menganggu hatimu. Aku akan mendengarkannya," celetuk Agam yang baru saja keluar dari kamar mandi. Kini ia duduk di tepi ranjang sambil menatap Anyelir yang nampak tertekan.
"Kak ... Aku tahu jika Kak Delisa salah karena sudah merusak acara tadi. Tapi, apakah dia harus dipermalukan seperti itu? Bagaimana dia akan menjalani hidupnya nanti?" Anyelir menatap Agam dari pantulan cermin.
Ditanya seperti itu, Agam menjawab dengan tenang. "Sudah menjadi resiko Delisa, Anye. Delisa yang memulai semuanya. Bahkan, dia memfitnahku telah menghamilinya dan membuatmu ragu padaku."
Anyelir terhenyak. Ia memutar badannya dan menatap Agam yang nampak lebih segar karena baru saja membersihkan diri. "Kenapa Kak Agam harus peduli padaku jika aku ragu pada kakak atau tidak?" sahutnya.
"Sejak tadi pagi, setelah aku mengucap ijab atas namamu, dan tak hanya disaksikan orang tua kita, melainkan Allah dan semua malaikatnya, aku sudah bertanggung jawab atas dirimu. Sudah tugasku untuk menjaga rumah tangga kita agar tidak ada gangguan dari yang lain!"
Kedua mata Anyelir berkaca-kaca. Entahlah, ada sesuatu dalam hatinya yang membuatnya terenyuh usai mendengar kalimat yang Agam ucapkan.
Haru. Ya, mungkin saja Anyelir terharu karena ucapan Agam yang mampu membuat hatinya berdebar.
"Sekarang, hidup kita sudah menjadi satu meski tak ada cinta di antara kita. Aku harap, kamu bisa menjaga diri sebagai seorang istri. Jangan pernah keluar tanpa izin dariku. Apa pun alasannya," tegas Agam.
Anyelir mengangguk tanpa suara.
"Sekarang, bersihkan dirimu. Orang tuaku menunggu kita untuk makan bersama," titah Agam.
"lya...."
__ADS_1
"Ya sudah, aku akan menunggumu di ruang sebelah." Agam berdiri dan berjalan melewati Anyelir.
"Kak ...." Anyelir mencekal tangan Agam. Ia menghentikan langkah kaki pria itu meski ada rasa sungkan yang dirasa dalam hatinya.
"Ada apa?" Tanya Agam dengan satu alis terangkat.
"Bagaimana aku bisa melepas semua riasan ini?" tanya Anyelir seraya memegang hiasan hijab yang dipenuhi jarum. "Tolong bantu aku melepaskannya...," pinta Anyelir dengan tatapan penuh permohonan.
MUA yang tadi meriasnya tak boleh memasuki kamar pengantin. Tentu saja, Anyelir tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa.
Agam mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menyembunyikan senyumnya. Ia berdeham. Lantas berkata," Bagaimana aku bisa membantumu kalau tanganku kamu pegangi terus?"
"Hah?" Refleks, Anyelir melepas pegangan tangannya dan tertunduk malu.
"Hadap ke cermin!" titah Agam.
Anyelir menurut dan segera menatap ke cermin. Ia tersenyum tipis saat melihat Agam dengan sabar dan telaten melepas satu per satu jarum pentul hingga akhirnya mahkota dan kain yang menghias kepalanya bisa dilepas.
"Aku heran, kenapa mereka harus memasang jarum sebanyak ini? Apa saat mereka memasangnya, kepalamu tidak tertusuk?" Agam melempar tanya setelah rambut Anyelir sudah terbebas.
Anyelir seketika merasa ringan karena terbebas dari beban di kepala yang sejak tadi membuatnya merasa pusing.
"He... he, tidak kak. Kan MUA-nya sudah berpengalaman. Jadi, tidak mungkin ketusuk," jawab Anyelir.
"Ya sudah, mandi sana!"
Anyelir tersenyum dan kemudian berdiri. Namun, saat hendak melangkah kakinya menginjak gaun sehingga ia hampir saja terjatuh. Untung saja Agam refleks memeganginya.
"Hati-hati. Sini, aku bantu lepaskan gaun yang menghabiskan tempat ini! Sangat merepotkan!"
"Hah? Tidak usah. Biar aku saja. Aku bisa kok melepas sendiri," tolak Anyelir. Apa jadinya kalau Agam melihat tubuhnya nanti.
"Cih, aku tidak akan tertarik pada tubuh anak kecil! Sudah merasa kayak gadis paling seksi saja," ejek Agam.
__ADS_1
Mata Anyelir melotot. "Cih, meski aku anak kecil bagi kamu, tapi aku yakin kalau dirimu sudah melihat tubuh ini ... Ini... Kamu tidak akan bisa lupa dan terus terbayang-bayang!" balasnya tak kalah sengit. Ia menghentakkan kaki, meninggalkan Agam ke ruang ganti untuk melepas gaun yang merepotkan itu.
Sementara Agam melebarkan mata mendengar ocehan Anyelir yang semakin berani itu. "Dasar anak kecil!" gumamnya.