
Agam meletakkan sendok dan garpunya. Kedua tangannya disatukan di atas meja. "Menurutmu, antara cinta dan uang mana yang lebih penting?"
Anyelir mengangguk paham. Ia menelan makanan dalam mulutnya lebih dulu sebelum menjawab. "Cinta dan uang itu tidak bisa dibedakan, Tuan. Semua wanita pastilah menginginkan keduanya," jawabnya.
"Begitukah?"
"Iya. Sekarang begini, wanita butuh dicintai, tapi juga butuh uang untuk belanja. Kan banyak tuh sekarang kasus suami tidak mau nafkahi istri. Kan yang kayak begitu tidak boleh. Masa nikah cuma modal cinta saja," ujar Anyelir panjang lebar.
Agam terkekeh. Jawaban yang diberikan Nara memang benar. Tapi, sebenarnya konteks pertanyaan yang dia berikan bukan soal suami istri.
"Kamu sedang berbicara tentang keinginanmu saat menjadi istriku nanti? Tenang saja, aku akan memberikan kamu nafkah sesuai ajaran agama kita." Agam mengulum senyum saat melihat Anyelir yang tersedak.
"Tuan, bukan begitu maksudku. Aku tidak menyinggung tentang pernikahan kita. Tapi, aku hanya menjawab apa yang Tuan tanyakan," sanggah Anyelir sambil mengusap dadanya untuk meredakan batuk.
"Tapi, kan sekalian berbicara tentang pernikahan kita tidak ada masalah, bukan?"
Anyelir bergeming. Ia memberanikan menatap Agam dan memperhatikan wajah pria itu.
"Tuan menikahi ku pasti karena patah hati, ya?" tebak Anyelir.
"Menurutmu begitu?"
"Iya. Apa pacar Tuan lebih memilih pria yang lebih kaya?" tebak Anyelir lagi.
"Apa kamu seorang paranormal yang bisa melihat apa yang terjadi padaku?" Satu alis Agam terangkat saat menanyakannya.
"Bukan. Aku hanya menebak saja," sahut Anyelir pelan. la kembali melanjutkan makannya. Begitu pula dengan Agam.
Usai acara makan usai, Anyelir membereskan mangkuk kotor dan mencucinya.
__ADS_1
"Anye, kita harus bicara," ujar Agam setelah Anyelir selesai mencuci mangkok.
"Ada apa, Tuan?" Anyelir bertanya dan kembali duduk di depan Agam.
"Bisa tidak jangan memanggilku dengan embel-embel Tuan, aku sebentar lagi akan menjadi calon suamimu." Pinta Agam.
"Lalu, aku harus panggil dengan apa?"
"Senyaman dirimu saja"
"Kita harus mempercepat pertunangan kita. Secepatnya aku akan melamarmu pada kedua orang tuamu," lanjutnya.
Hati Anyelir berdebar-debar. "Kenapa harus terburu-buru? Aku belum siap untuk bertemu keluarga ku," sahutnya.
"Memang kapan kamu akan siap? Bukankah kamu harus segera membalas perbuatan ibu tiri dan kakak tirimu? Buat mereka terkejut dengan kedatanganmu nanti. Aku yakin, mereka akan membuat rencana baru nantinya setelah tahu kamu masih hidup."
"Mereka memang sangat jahat. Kami sama- sama wanita. Tapi, kenapa mereka tega menyuruh orang untuk melecehkan ku?" Bibir Anyelir bergetar saat bicara.
"Aku bersyukur karena Tuhan masih sayang padaku. Dia melindungiku dari tangan-tangan kotor yang hendak merampas kehormatannku," lirihnya. Air matanya kembali menetes. Namun, segera ia seka agar tak terlalu larut dalam kesedihan.
Agam berdecak. Ia mengisi air dalam gelas lantas meneguknya perlahan.
"Mulai sekarang, jangan pernah menangis lagi, Anye. Air matamu terlalu berharga untuk menangisi kejahatan mereka. Cukup balas mereka dengan cara yang cantik nanti," ujar Agam.
Anyelir mengangguk. "Iya. Kamu benar. Aku tidak pantas menangisi nasib. Aku tidak akan pernah rela menerima perbuatan mereka!" tandasnya.
"Baiklah, kalau begitu langkah awal yang harus kita lakukan adalah menemui orang tuaku. Bersiaplah besok setelah aku pulang dari mengajar. Dan satu lagi, jangan bertanya apa pun tentang keluargaku," pesan Agam.
Anyelir mengangguk setuju. Ia memang tak peduli dengan keluarga Agam. Menurutnya itu tidaklah penting. Yang terpenting, ia bisa membalas Dewi dan Aurel nanti. Biarlah dia berkorban menjadi istri dari pria yang sama sekali tak dia cintai.
__ADS_1
Begitu pula dengan Agam yang harus berkorban dengan perasaannya. Menikahi Anyelir yang sama sekali tak memiliki tempat di hatinya. Jujur saja, ia masih belum bisa melupakan kenangan Delisa dalam hatinya.
"Sudahlah, sekarang kembalilah beristirahat. Aku akan di sini beberapa menit lagi!" ujar Agam.
Anyelir mengangguk. Ia berdiri dan berjalan meninggakan Agam. Namun, baru beberapa langkah berjalan Anyelir berhenti dan memutar badannya.
"Agam?" panggilnya.
Agam menoleh dan menyahut, "Ya?"
Anyelir tersenyum dan berkata, "Jangan terpuruk karena cinta, ya. Karena Tuhan masih sayang padamu karena membuka kedok wanita yang kamu cintai itu. Tuhan tidak ingin melihat kamu terus dimanfaatkan."
Agam tersenyum. Lantas tertawa pelan mendengar ucapan Anyelir. "Iya, terima kasih, An. Tidurlah... sebentar lagi pagi menjelang," sahutnya.
"Iya. Kamu juga, ya. Selamat malam." Anyelir berlalu meninggalkan Agam yang termenung sendiri di meja makan.
Pria itu masih memikirkan tentang Delisa dan Bara. Jika memang Delisa tidak mencintainya, mengapa tidak mengatakannya saja? la bukan malaikat yang tak akan merasa marah jika disakiti.
Jika saja Agam mau, ia bisa saja membuat Delisa malu karena telah menyakitinya. Jika ia mau, ia akan membuka jati dirinya yang sebenarnya.
Siapa yang tidak mengenal keluarga Lagathias? Keluarga yang terkenal kaya raya yang kekayaannya tak akan habis sampai tujuh turunan sekalipun.
Sayangnya, Agam ingin waktu yang membalas semuanya. la akan membiarkan alam yang menghukum Delisa dan Bara nantinya.
Setelah sepuluh menit merenung, Agam berdiri dan kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya yang tadi sempat terganggu.
Besok, ia harus kembali menekuni dunia pendidikan. Di mana harus menjadi dosen untuk identitasnya sementara sampai waktunya kembali pada marga Lagathias tiba.
Agam Lagathias.
__ADS_1