Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Candidate Spouse


__ADS_3

"Ya ampun, Non Anyelir cantik sekali!" seru Bi Santi memuji Anyelir yang menurutnya sangat cantik sore ini.


"Ini kan juga karena hasil karya jari jemari saya, Bi Santi," sela Amber yang segera menimpali ucapan wanita paruh baya itu.


Anyelir terkekeh melihat perdebatan di antara Amber dan Bi Santi. Namun, kekehannya tak berlangsung lama karena Agam menglakson mobil beberapa kali.


"Non, sepertinya calon suamimu itu keburu-buru sekali. Sudah cepat masuk mobil biar dia tidak marah," kata Bi Santi. la menarik tangan Anyelir dan mengajaknya mendekati mobil. Dibukakan pintu mobil depan dan disuruhnya Anyelir masuk.


"Hati-hati, Tuan Agam. Jaga Nona Anyelir dengan baik, ya," pesan Bi Santi. "Nona Anyelir sangat cantik. Di pesta nanti pasti dia akan menjadi mangsa tatapan pria di sana," imbuhnya.


Agam hanya berdecih. Ia lantas melajukan mobilnya, meninggalkan pelataran rumahnya. 'Tatapan? Mangsa?' batinnya.


"Bi Santi, si jutek itu nemu cewek imut kek begitu di mana, sih?" Amber melempar tanya pada Bi Santi usai mobil yang dikendarai Agam sudah berbelok dan tak terlihat.


Bi Santi menatap Amber sambil menaikkan sebelah alisnya. "Kamu nanya?"


Amber mendelik. "Bukan. Aku lagi nyanyi. Nyebelin banget, Bi Santi ini," kesalnya seraya menghentakkan kaki.


Bi Santi terkekeh. la berjalan meninggalkan Amber seraya


Amber mendengus. Ia mengekori Bi Santi berjalan masuk ke dalam rumah. Ia sebenarnya sudah tahu jika menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan Agam bukanlah hal yang benar.


"Aku penasaran, Bi," rengek Amber.


"Ya di mana saja mereka bertemu, doakan saja mereka berjodoh. Biar si Delisa indri itu tidak terus-terusan mengganggu Tuan Agam," celetuk Bi Santi.

__ADS_1


Amber mengangguk. "Iya, Bi. Kasihan Agam kalau jadi sama si Delisa. Wanita itu jika tahu siapa Agam sebenarnya pasti tidak akan melakukan hal menjijikkan!" sahutnya seraya begidik.


Kabar tentang patah hatinya Agam sudah bukan rahasia umum di lingkaran rumahnya. Dan bukan hal sulit bagi Amber untuk mencari tahu tentang penyebab patah hatinya sahabat sekaligus majikannya. Ia juga cepat tahu tentang apa yang dilakukan oleh Delisa.


Dan betapa kecewanya Amber saat tahu bahwa wanita yang selama ini dicintai oleh Agam malah bercinta penuh gairah dengan pria lain. Dan Agam, menyaksikan secara langsung kejadian menjijikkan itu.


Bi Santi mengangguk. "Sudahlah, Mbak Amber. Ayo, kita makan dulu. Aku tahu kalau Mbak Amber pasti lapar setelah merias Non Anyelir tadi."


Amber nyengir. Ia lantas berlalu ke dapur, mendahului Bi Santi.


***


Sementara itu, Agam merasa mendadak suhu tubuhnya meningkat. Saat memeriksa AC, benda tersebut menyala. Namun, mengapa tubuhnya mendadak gerah?


Terus diam tanpa bicara ternyata membuat Anyelir merasa bosan. Ia menoleh ke kanan dan melempar tanya kepada sosok pria dingin yang sedang mengemudi di sampingnya.


"Apa kamu tidak ingin memutar lagu? Bukankah bosan rasanya hanya duduk diam di sini?" ujar Anyelir.


"Benarkah begitu? Aku tidak merasa begitu," sahut Agam tanpa menoleh.


Anyelir bergeming sesaat, lantas menjawab, "Ya sudahlah kalau begitu."


Sudut bibir Agam berkedut. Tangan kirinya lantas menyalakan radio dan mencari channel musik pop yang menenangkan hati. Seketika wajah Anyelir yang tadinya murung berubah berbinar saat mendengar lantunan lagu akhirnya ku menemukanmu, milik seventeen.


Gadis itu memejamkan mata seraya menarik sudut bibirnya ke atas. la menikmati lagu tersebut, yang seolah mampu menembus relung hatinya.

__ADS_1


"Kamu suka lagu ini?"


Anyelir membuka mata, menoleh ke arah Agam dan mengangguk pelan. "Iya."


"Anyelir?" panggil Agam.


"Iya?"


"Pernikahan kita nanti memang berawal dari paksaan, kontrak, dan tertulis di atas kertas. Tapi, kamu harus ingat satu hal bahwa aku akan tetap melakukan tugasku sebagai suamimu." Agam melontarkan setiap kata yang mungkin saja membuat Anyelir tidak nyaman. Namun, meski bagaimanapun ia harus menyampaikannya.


"Tugas sebagai suami itu ...." Anyelir menggantung ucapannya.


"Memberimu nafkah dan memperlakukanmu dengan baik. Kamu jangan khawatir tentang urusan ranjang. Aku tidak akan memaksamu melakukan itu jika kamu tidak mau," sahut Agam.


"Tapi, meski begitu kamu harus mengingat satu hal. Yaitu, meski pernikahan kita hanya sebatas kerjasama, namun pernikahan kita itu sah di mata hukum dan agama. Pernikahan kita halal dan sah di mata Allah. Maka jangan pernah berpikir bahwa pernikahan ini adalah permainan belaka," imbuh Agam seraya menjelaskan.


Anyelir menelan salivanya susah payah. Ia tak memahami maksud dari apa yang Agam ucapkan. Menurut apa yang ia tangkap adalah pria disampingnya itu ingin ia juga melakukan tugasnya sebagai seorang istri.


"Bertanya saja apa yang ingin kamu tanyakan," ucap Agam saat melihat Anyelir yang ragu untuk berucap.


Anyelir menarik napas dalam. Lantas mengembuskannya perlahan. "Maaf sebelumnya. Apakah Anda ingin agar saya menjalankan tugas sebagai seorang istri?" tanyanya.


"Iya. Tapi, aku tidak akan memaksa. Aku paham bahwa tidak mudah untuk melakukan tugasmu sebagai istri. Begitu pula denganku. Tapi, aku takut jika saja Allah murka sama kita karena mempermainkan pernikahan."


"Meskipun tidak ada cinta di antara kita?" tanya Anyelir dengan alis yang saling bertaut.

__ADS_1


__ADS_2