
Acara sarapan pun selesai. Aurel berpamitan pada Bella, Arsenio, dan Jasmine. Gadis itu tak pernah bersikap buruk pada Jasmine. la selalu menghormatinya selayaknya orang tua sendiri. Sebab, ia tahu bahwa Jasmine adalah istri pertama ayahnya. Sangat kurang ajar jika ia bersikap tidak sopan pada wanita berjilbab itu.
Apalagi, selama ini Jasmine selalu bersikap baik padanya selama ia tinggal di sana. Jika dulu, ia tak memahami arti dari rumah tangga dan poligami, namun kini ia sudah dewasa dan tahu tentang hal itu.
Mencoba memposisikan diri sebagai Jasmine, Aurel merasa tak sanggup. Berbagi suami dengan wanita lain bahkan tinggal satu atap. Tentu hati Jasmine tidak pernah baik-baik saja.
"Hati-hati, Rel," ujar Jasmine.
"Iya, Mama Jas. Aku pergi dulu," sahut Aurel seraya tersenyum.
"Mas, aku nanti ingin berkunjung ke rumah Agam. Aku ingin memastikan kapan pernikahannya dengan Anyelir akan dilangsungkan," ujar Jasmine meminta izin.
Arsenio menatap Jasmine. "Jam berapa kamu ke sana?"
"Mungkin pagi ini."
"Tunggu aku pulang dari kantor. Aku akan ikut," titah Arsenio.
Mata Jasmine membelalak. Begitu pula dengan Bella yang terkejut. Namun, Bella tak bisa melarang karena ia tak punya hak untuk melarang Arsenio bertemu putranya.
"Kamu mau ikut?" tanya Jasmine memastikan.
"lya."
Arsenio mengangguk.
"Baiklah, aku akan menunggumu," ucapnya.
Arsenio berdiri dan berlalu meninggalkan kedua istrinya di meja makan.
"Mbak, apa yang sudah kamu bicarakan sama Mas Nio sampai dia berubah sikap sama aku?" tanya Bella setelah mendengar suara mobil Arsenio yang menjauh. Pertanda pria itu sudah pergi menuju kantor.
Jasmine menatap Bella dengan kening berkerut. "Memang kamu pikir Mas Nio punya cukup banyak waktu untukku?" tanyanya.
__ADS_1
"Maksudnya?" sahut Bella yang tak memahami maksud Jasmine.
"Bukankah setiap kali Mas Nio ingin menikmati waktu bersamaku, kamu selalu menganggu kami?"
Wajah Bella berubah masam. Ia tak menjawab iya atau membantah ucapan Jasmine karena hal itu memang benar adanya.
"Lalu, bagaimana kamu bisa berpikir kalau aku mempengaruhi Mas Nio sampai sikapnya padamu berubah?"
Bella menghela napas. "Lagi pula tumben sekali Mas Nio mau ketemu Agam? Aku kira dia tidak akan pernah peduli lagi pada putramu Mbak," tukasnya.
Ucapan yang begitu sederhana. Namun, sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang Ibu. Bagaimana bisa Bella mengatakan hal semenyakitkan itu? Apa ia lupa siapa ia di rumah itu?
Jasmine tertawa pelan seraya menggelengkan kepalanya. "Bella, kenapa cara berpikirmu picik sekali? Kamu lupa kalau hubungan Agam dan Mas Nio itu sangat dekat? Mereka adalah ayah dan anak kandung.
Tentu saja Mas Nio masih peduli pada Agam. Sebab, bagaimanapun Agam adalah penerus Lagathias Group yang sah," sahutnya, santai namun mampu membuat hati Bella bergejolak.
Bella tersenyum paksa. "Iya, aku tahu. Tapi, meski Agam adalah penerus sah Lagathias Group, Aurel pun juga punya hak di sana!" tegasnya.
Jasmine mengangguk. "Tentu saja, Bella. Aku tahu itu. Aurel adalah putri kandung Mas Nio. Tentu saja dia punya hak atas kekayaan Mas Nio. Kamu tidak perlu mencemaskan hal itu karena aku tidak akan menghalangi Mas Nio untuk bertanggung jawab pada semua keluarganya," jelasnya.
Jasmine memasuki ruangan pribadi yang terletak di sudut rumah. Tak ada yang tahu ruangan tersebut selain rinya dan asisten pribadinya karena ia meminta membangun ruangan itu ketika Nio sedang tidak ada.
Di tempat itu, Jasmine sering menghabiskan waktu sendiri semenjak Arsenio membawa wanita lain ke rumah yang telah mereka bangun bersama dengan segala doa harapan yang mereka panjatkan.
Di ruangan itu, Jasmine sengaja menyimpan semua kenangannya bersama Arsenio sejak masih pacaran hingga momen saat melahirkan Agam.
Jasmine...
Jasmine duduk di sofa merah yang disiapkan ruangan itu. Lantas menatap satu per satu foto yang ada di album yang ia letakkan di pangkuannya.
"Seharusnya foto-foto ini terus bertambah hingga Agam dewasa. Tapi, nyatanya hanya sampai di sini saja," gumam Jasmine sambil mengukir senyum.
[Sebenarnya aku tuh sedih kalau harus ada poligami begini reader's, cuma aku mau nambah chemistry aja di kisah rumah tangga ornag tuanya Agam. Tapi jujur aja kalau buat cerita yang seputar istri lebih dari satu itu kaya langsung jleb gitu gak sih ke hati tuh. Sakit hati banget!!!😢]
__ADS_1
"Jika saja, aku memang sudah menarik di matamu, apa harus kamu memilih jalan pengkhianatan ini, Mas? Kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu, Mas. Tapi ...." Jasmine memejamkan mata ketika pelupuk matanya terasa panas.
Namun, tiba-tiba sebuah sentuhan di pundaknya terasa. la membuka mata dan sontak saja menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Arsenio berdiri dengan mata berkaca-kaca.
Deg!
Deg!
Deg!
"Maafkan aku, Jasmine. Aku minta maaf," lirih pria yang kini melepas kaca matanya.
Jasmine menelan ludahnya. Ia lantas berdiri dan menatap Arsenio dengan pandangan tak percaya. Ia heran sekaligus bertanya-tanya. Dari mana sang suami tahu ruangan rahasia miliknya?
"M- mas? Bukannya kamu tadi sudah berangkat? Ke- kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Jasmine dengan degup jantung yang berdentum hebat.
Apakah Arsenio mendengar semua ucapannya tadi?
Arsenio menggeleng. "Aku belum berangkat. Aku sengaja bersembunyi untuk mengikutimu, Jasmine. Aku ingin bicara berdua denganmu untuk menjelaskan semua kesalah pahaman yang sudah terjadi di antara kita ini!" ujarnya.
"Tidak ada yang namanya kesalah pahaman, Mas. Bukankah hidup kita sudah berjalan sesuai dengan keinginanmu?" Jasmine membalikkan badannya. Ia kembali duduk di sofa dan kembali bertanya," Dari mana kamu tahu ruangan ini?"
"Dari mengikutimu barusan." Arsenio mengambil posisi duduk di samping Jasmine. Ditatapnya wanita yang telah melahirkan satu putra untuknya itu. Rasanya sudah lama sekali ia tak menatap wajah cantik Jasmine semenjak kehadiran Bella.
"Jadi, sekarang ruangan ini sudah bukan tempatku lagi," celetuk Jasmine.
"Jasmine ... please, tatap aku. Aku ingin menjelaskan semuanya padamu dan Agam. Tapi, kalian berdua selalu saja menghindar."
"Memangnya apa lagi alasan berpoligami begitu lama sampai memiliki anak kecuali rasa bosan pada istri pertama?"
Mulut Arsenio seketika terkunci. Ia dapat melihat dan merasakan kekecewaan di kedua mata Jasmine padanya hingga detik ini. Begitu besarnya luka yang telah ia torehkan.
"Aku tidak pernah bosan padamu, Jasmine. Aku mencintaimu. Sangat. Bahkan sampai detik ini."
__ADS_1
Jasmine terkekeh. "Bella akan marah jika mendengarnya, Mas! Sudahlah, jangan mencoba merayuku. Lebih baik kita langsung ke rumah Agam. Bukankah kamu merindukannya?" la bangkit lantas berjalan cepat meninggalkan Arsenio yang menghela napas berat.
"Maafkan aku, Jasmine ... Agam...," gumamnya seraya menatap punggung Jasmine yang semakin menjauh.