Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Agam Advice's


__ADS_3

"Tidak, Mas. Mungkin saja Anyelir bicara begitu tidak untuk maksud yang lain." Dewi tersenyum. Ia bermaksud menunjukkan bahwa ia adalah istri yang baik yang tidak merasa marah oleh ucapan Anyelir, meski dalam hati ingin sekali merobek mulut anak tirinya itu.


Anyelir tersenyum tipis. "Ayah, Agam sudah ada di sini," ucapnya saat melihat Agam dari ekor matanya.


Semua orang menoleh ke arah pintu masuk. Di sana Agam berdiri dengan wajah datar. Pria itu tersenyum samar saat melihat Ulayya ternganga kala melihatnya tadi.


"Agam, silakan masuk. Sini, aku perkenalkan dengan keluargaku," ujar Anyelir dengan senyum lebar.


Namun, Anyelir heran sekaligus bertanya-tanya, mengapa pakaian Agam berubah? Bukankah dia tadi mengenakan setelan jas mahal? Tapi sekarang, pria itu malah mengenakan setelan sederhana. Anyelir sungguh tidak bisa mengerti.


Agam mengangguk dan berjalan maju. Ia berhenti tepat di sisi kanan ranjang Elajar dan menundukkan kepala sebentar sebagai tanda hormat.


Elajar manggut- manggut. Ia memperhatikan Agam dari atas hingga bawah. Mencoba menelisik dan menilai Agam dari sudut pandangnya.


"Kamu Agam? Pria yang akan menikah dengan anak saya?" tanya Elajar. Kedua matanya nampak kecewa saat melihat penampilan Agam.


Pria yang akan menjadi menantunya itu terlihat sangat sederhana. Tak ada hal yang mencolok karena semua yang dipakai adalah pakaian murahan. Tak ada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, bahkan Agam datang hanya mengenakan sendal.


"Iya, Tuan. Nama saya Agam. Dan saya datang ke sini untuk meminta restu anda. Saya dan Anyelir juga sudah mengantongi restu dari orang tua saya. Sebelum ke sini tadi, kami sempat mampir sebentar ke rumah ayah saya," jelas Agam.


Elajar manggut- manggut. "Aku dengar kamu yang telah menyelamatkan putriku?" tanyanya langsung pada Agam meski Anyelir sudah memberi tahu.


"Apa putri anda yang mengatakannya?"


"lya."

__ADS_1


Elajar menghela napas panjang. "Sebenarnya, putri saya masih terlalu belia untuk menikah. Tapi, kamu sudah sudah menolongnya dari bahaya. Apa kamu ingin menikahi Anyelir sebagai balas budi karena kamu telah menyelamatkannya?"


Agam bergeming. Namun, sudut bibirnya tertarik ke atas mendengar pendapat Agam yang sangat menggelikan di telinganya. Apakah karena mungkin Elajar melihat dirinya dari penampilan sehingga mengatakan hal seperti itu? Seolah-olah pernikahan adalah ajang balaa budi.


Sementara itu, di belakang mereka, Dewi dan Ulayya yang mendengar obrolan mereka hanya saling melempar senyum. Mereka kira yang akan menikahi Anyelir adalah orang kaya. Nyatanya hanya pria biasa dan dari golongan orang yang sederhana.


"Apa menurut anda saya seperti pengemis yang mengharapkan balas budi?"


Elajar terhenyak. Ia menggeleng pelan. "Bukan, saya tidak bermaksud menghinamu seperti itu. Maaf, saya hanya bertanya tadi. Lagi pula apa yang membuatmu ingin menikahi Anyelir? Usia kalian sepertinya selisih jauh," tukasnya.


"Sederhana. Cinta."


Anyelir menunduk. 'Cinta apanya? Bukankah ini memang murni untuk saling bantu dan balas budi? Tapi, aku akui aktingnya lumayan keren, sih,' batinnya.


"Aku mencintai putri Anda sejak pertama kali bertemu. Gadis manis dan mungil itu datang dengan tubuh yang penuh luka. Dia tampak lemah, namun, sorot matanya mengisyaratkan semangat untuk tetap hidup. Padahal aku tahu, bahwa rasanya pasti sangat menyakitkan." Agam tersenyum saat Anyelir menatapnya.


"Apa sebenarnya yang terjadi malam itu? Katakanlah, nak... apa setelah pergi dari sini, kamu dicelakai?" Elajar bertanya pada Anyelir. Wajahnya berubah sendu dengan kedua mata berkaca-kaca saat menatap Anyelir.


Sementara itu Dewi yang sedikit ketakutan mendekat dan duduk di samping Elajar. "Apa benar cerita yang kalian ucapkan itu? Jangan pernah mengatakan hal yang tidak ada bukti nya. Lagian mana ada orang yang berani melukai Anyelir. Semua orang tahu siapa Anyelir. Ada-ada saja kalau mengarang," timpalnya.


Anyelir menelengkan kepalanya. "Dari sini, saya tahu kalau Anda lebih hebat dari yang ada di pikiran saya. Anda bisa mendongeng, menceritakan hal yang berputar balik dengan fakta yang ada," ujarnya seraya tersenyum sinis.


Dewi menarik napas panjang dan mengembuskan napas perlahan.


Usai mengatakan hal tersebut, Anyelir menegakkan kepalanya. Ia menatap sang ayah dan berkata, "Aku datang dengan tujuan yang baik. Aku dan Agam akan menikah. Jadi, aku harap ayah akan datang nanti untuk menjadi waliku."

__ADS_1


Elajar hanya bisa menunduk. "Nak, tidak bisakah kalau kamu dan dia tidak menikah? Ayah takut kalau kalian nanti kesulitan ekonomi. Sebab, menikah itu tidak seindah yang kalian pikirkan. Banyak sekali hal yang akan terjadi tanpa bisa kita sadari," jelasnya mencoba mengubah pendirian Anyelir.


"Begitu pula dengan ayah," sahut Anyelir yang membuat Elajar kembali terhenyak. "Bukankah ayah tidak berpikir matang sebelum menikah lagi? Ayah tahu, kan, jika menikah bukan hanya untuk bisa melepas syahwat? Untuk apa menikah jika harus ada perasaan yang dikorbankan, ayah?"


Wajah Elajar memerah. Ia tak percaya jika Anyelir bisa mengucapkan hal seperti itu. Ia tak menyangka bahwa mulutnya bisa terbungkam dengan kalimat putrinya yang seperti sedang menelanjangi dirinya.


"Maaf, aku harus segera pergi. Banyak sekali yang harus kami urus. Agam sendiri juga harus menyelesaikan urusannya di kampus," pamit Anyelir. "Setidaknya, saat aku datang ke sini, kalian bisa merasa lega karena putri yang kalian anggap sudah mati ternyata masih hidup dan dalam keadaan sehat."


Anyelir bergumam, "Kampus?"


"Agam seorang dosen. Tapi, bukan dosen tetap," sahut Anyelir saat mendengar suara gumaman sang Ayah. "Aku pergi. Jaga diri ayah," pamit Anyelir.


Tanpa menegur Dewi dan Ulayya, Anyelir melangkah pergi. Diekori oleh Agam yang juga pamit hanya pada Elajar.


***


"Kamu sudah melakukan hal hebat," puji Agam saat mereka sudah berada di dalam mobil dan melaju meninggalkan kediaman Elajar.


Saat masuk ke mobil tadi, Anyelir tak dapat lagi menahan air mata yang berdesakan ingin keluar. Air matanya mengalir deras bersama dengan suara isak tangis yang keras.


"Apa aku tadi tidak keterlaluan?" Anyelir bertanya dengan suara terputus putus.


"Kenapa baru memedulikannya sekarang?" sahut Agam.


"Aku tadi menjaga diri agar tidak terlihat lemah di depan Dewi dan Ulayya. Kamu lihat tadi, mereka terkejut saat melihatku? Mereka juga berusaha sekali ingin merusak nama baikku di depan ayah."

__ADS_1


Agam bergeming. "Sudahlah, hentikan tangismu dan hapus air matamu. Bukankah aku sudah bilang agar kamu tidak menangisi mereka? Kalau kamu ingin maju dan menang, maka jangan tunjukkan sisi lemah mu," tegasnya.


Sebab, orang lemah bagi Agam hanyalah orang yang harga dirinya akan diinjak-injak nantinya.


__ADS_2