Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Delisa And Ulayya


__ADS_3

Di tempat lain, suara musik berdentum keras dan saling bersahutan. Banyak pria dan wanita yang meliuk- liukkan badan mengikuti irama alunan lagu yang tak jelas karena hanya terdengar suara bass yang menggema.


Delisa baru saja sampai di tempat yang sering disebut orang sebagai diskotik. Tempat di mana sebagian orang menilai bawah di sana hanya ada orang-orang nakal yang tak punya tujuan. Padahal, terkadang ada segelintir orang yang memilih tempat itu sebagai tempat pelarian dari masalah yang tengah membelit.


Wanita itu sudah berganti pakaian dari yang tadinya memakai gaun sekarang hanya memakai rok pendek dan kaus putih ketat. Tak akan terlihat bahwa ia adalah seorang dosen yang bertugas untuk menyalurkan ilmu yang dimiliki.


Wanita itu berjalan seraya memicingkan mata agar pandangannya tampak jelas. Rambut kuncir kudanya melambai ke kanan dan ke kiri seiring dengan langkah kakinya.


"Ulayya?" Akhirnya, yang dicari telah ditemukan. Wanita yang umurnya tak jauh beda dengannya tengah menikmati minuman bening. Namun, ia tau minuman itu memiliki efek yang begitu kuat.


Ulayya tersenyum. "Lama banget, sih? Masa jam segini baru datang?" keluhnya dengan memasang wajah masam.


Delisa mengambil posisi duduk di samping Ulayya. Ditelakkan tasnya di atas meja hingga menimbulkan suara. "Sorry, aku tadi masih ada di acara resepsi pernikahan temenku," sahutnya.


"Bagi, dong!" ujarnya saat Ulayya kembali menuang air dari botol ke dalam gelas.


"Ambil saja!"


Tanpa menunggu lama, Delisa meneguk minuman tersebut. Rasanya sedikit pahit, namun seketika rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Kepalanya mulai terasa pening, namun tak membuatnya kehilangan kesadaran.


"Ada masalah apa kamu, Del?" Ulayya melempar tanya ketika Delisa bersandar dengan mata terpejam.


"Aku tak sangka, Agam yang selama ini bucin sama aku dengan gampangnya lupa dan mau gantiin posisiku dengan gadis kemarin sore!" jelas Delisa, dengan mata yang masih terpejam.


Ulayya terkekeh. "Sebucin- bucinnya pria kalau sudah diselingkuhi tentu saja akan sakit hati. Dasar be go!" umpatnya.


Delisa mendengkus. "Kamu tahu tidak. Ada sedikit rasa sesal dalam hatiku sekarang karena sosok Agam sudah tidak ada lagi. Sementara si Bara, dia cuma mau nikmati tubuhku saja," katanya seraya berdecih. Ia kembali menuang arak dalam gelas kecil dan meneguknya.


Gluk!


Gluk!


"Memang Bara tidak pernah begitu bilang cinta sama kamu?"


"Pernah. Tapi, aku merasa ungkapan cinta itu cuma di bibir saja, Ul. Beda ketika Agam yang bicara."


Ulayya menghela napas panjang. "Ya sudah, mau bagaimana lagi? Sudah kejadian ya ikhlasin saja Agam sama gadis itu," tukasnya.


Ulayya tak pernah tahu bagaimana rupa Agam yang selama ini menjadi kekasih Delisa. Ia tipe wanita yang tak acuh pada urusan orang lain. Bahkan, ia tak pernah ingat bahwa ada pria bernama Agam yang pernah datang ke rumahnya bersama adik tiri yang ia kira telah mati.


"Aku butuh Agam, Ul. Kamu tahu tidak sih, rasanya kehilangan orang yang dicintai? Sakit," lirih Delisa. Kedua matanya memerah. Seolah hendak menangis, mengeluarkan sesak dalam hatinya.


"Kalau sudah tahu, kenapa kamu selingkuh sama si Bara? Bodohnya kamu sampai bisa ketahuan lagi enak-enakan di kasur!" decih Ulayya. Ia tak membela Delisa karena memang sahabatnya itu salah.

__ADS_1


"Ya bagaimana lagi. Aku butuh kemewahan. Sedangkan Agam tidak bisa beri itu. Dia cuma kasih hal-hal yang aku butuhkan saja," sahut Delisa.


Ampun Delisa ini ya guys!


"Kalau Bara?" tanya Ulayya.


"Ya, dia kasih apa pun yang aku inginkan. Tanpa diminta pula." Delisa menjawab pelan. Mulai ragu dengan ucapannya sendiri.


"Cih, dasar cewek! Bilang saja kamu matre. Sudah, tidak usah balik sama Agam. Toh, banyak cowok lain di luar sana yang lebih baik!" hibur Ulayya.


"Tidak ada yang sebaik Agam."


Kenangan-kenangan indah ketika Delisa masih bersama Agam seringkali terlintas dalam benaknya. Ketika ia marah, Agam selalu membujuknya dengan segala cara tanpa kenal yang namanya lelah dan menyerah. Ketika ia sakit, Agam selalu menjenguk dan merawatnya hingga tak tidur.


Mengingat semua kebaikan Agam, Delisa merasa penyesalannya tiada berarti. Semua pengorbanan yang dilakukan Agam dibalas dengan sangat kejam olehnya. Namun, melihat Agam akan menikahi wanita lain, tentu saja itu bukan hal yang pernah ia pikirkan.


"Ya sudah, rebut saja Agam kembali. Nanti juga bakalan ketemu solusinya," tukas Ulayya.


"Hemm ... iya. Tapi, entah kapan itu terjadi. Lagi pula aku heran, di mana Agam ketemu sama gadis itu. Menyebalkan sekali!"


Ulayya tertawa. "Kamu pasti minder sama gadis itu, kan? Dia masih perawan dan tentu lebih muda dan lebih cantik dari kamu," ejeknya.


"Idih. Mana ada aku iri sama dia? Dia memang lebih muda. Tapi, dia masih kalah cantik sama aku," sahut Delisa tak terima.


Ulayya mengerutkan keningnya saat mendengar nama yang tak asing disebut oleh Delisa.


Anyelir?


"Wait... wait. Kamu tadi bilang Anyelir, kan? Apa gadis yang akan dinikahi Agam namanya Anyelir?" tanya Ulayya memastikan. Takutnya ia salah dengar karena nama Anyelir sangat mengganggunya akhir-akhir ini.


"Iya. Tadi aku dengar kalau nama gadis itu Anyelir. Kenapa?" tanya Ulayya seraya menyipitkan kedua matanya.


"Bagaimana orangnya? Kamu bisa jelaskan?"


"Tubuhnya mungil. Kulitnya putih bersih dan wajahnya memang cukup manis dan enak dilihat," jawab Delisa.


Ulayya bergeming. Seketika ingatannya tentang kejadian di mana Agam dan Anyelir datang kembali terlintas. "Ini bukan suatu kebetulan, kan?" gumamnya.


"Kebetulan apa?"


Ulayya menoleh, menatap Delisa yang menunggu penjelasan darinya.


"Anyelir, apa kamu tahu nama lengkap gadis itu?"

__ADS_1


Delisa menggeleng. "Aku cuma tahu kalau namanya Anyelir. Memang kenapa, sih?!" tanyanya heran.


"Dunia ini memang sempit. Mungkin saja semesta sedang berpihak pada kita agar kita bisa berkerja sama," cetus Ulayya. Bibirnya mengukir senyum penuh arti dengan tatapan mata yang tajam menghujam.


Delisa mencoba mencerna kalimat Ulayya yang membingungkan. Hingga, akhirnya kepingan- kepingan puzzel di otaknya mulai tersusun.


"Jangan bilang kalau Anyelir itu adik tirimu!" ucap Delisa.


"Aku belum bisa memastikan karena aku tidak pernah tahu bagaimana wajah Agam. Beberapa waktu yang lalu Anyelir pulang dengan pria bernama Agam dan mengabarkan kalau mereka akan menikah. Bukankah ini bukan kebetulan?"


Delisa ternganga. Ia lantas meraih tasnya dan mengambil ponsel yang berada di dalamnya. Ia mengotak- atik ponsel tersebut, lantas mengulurkannya pada Ulayya.


"Coba perhatikan! Apa pria ini yang datang ke rumahmu waktu itu?" tanya Delisa, seraya menunjukkan foto Agam.


Ulayya memperhatikan potret Agam di ponsel Delisa. Ia pun lantas beralih menatap sahabatnya itu seraya mengangkat sebelah alisnya.


"Betul," sahutnya singkat.


Delisa terkekeh pelan. "Jadi ... Anyelir adalah adik tirimu. Adik yang ingin kamu singkirkan itu?" tanyanya seraya kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Ya, begitulah. Aku saja lihat dia datang ke rumah kaget. Aku kira yang datang itu arwahnya. Ternyata, dia masih hidup," jawab Ulayya.


Delisa tersenyum mengejek. "Aku yakin jika yang menyelamatkan Anyelir adalah Agam."


"Mungkin. Tapi, Agam sepertinya bukan pria kaya. Dia tidak punya apa-apa untuk dibanggakan! Penampilannya saja sangat sederhana. Cuma modal tampang doang yang oke!" celetuk Ulayya.


"lya. Dia memang selalu berpenampilan sederhana. Tapi, dari segi wajah, belum ada yang bisa menandingi ketampanannya," sahut Delisa seraya menghela napas.


"Bucin banget!" ejek Ulayya.


"Iya, aku memang bucin. Bagaimana aku tidak bucin kalau aku dan Agam sudah menjalin hubungan sejak lulus SMA?"


Ulayya tersenyum. "Bagaimana kalau kita kerja sama?" tawarnya.


"Kerja sama apa??"


"Pokoknya kita buat mereka pisah. Kalau perlu kita singkirkan juga si Anyelir itu!" sahut Ulayya sambil menaik turunkan alisnya.


"Kamu serem, Ul. Kenapa harus pakai acara begitu pada Anyelir? Kamu bahkan punya rencana untuk membunuhnya. Apa itu tidak keterlaluan?"


"Agar keinginan dan ambisi kita tercapai, sudah seharusnya kita menyingkirkan batu kerikil yang menghalangi jalan kita. Dan batu kerikil itu adalah Anyelir. Anyelir yang membuatmu kehilangan Agam, bukan? Jadi, kita bisa bekerja sama untuk menyingkirkan Anyelir."


Ulayya berusaha membuat Delisa terpengaruh. Dan ternyata usahanya berhasil. Sahabatnya itu mengangguk dan setuju untuk bekerja sama menyingkirkan Anyelir.

__ADS_1


Ulay sama Del beraksi ya guys, jangan lupa like dan fav. WAJIB.


__ADS_2