Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Delisa's Humiliating


__ADS_3

Agam melangkah percaya diri dengan memakai kemeja putih dan celana hitam. Tangannya menenteng tas hitam berisi setumpuk materi yang akan ia ajarkan pada mahasiswanya.


Dari kejauhan, Delisa menatap Agam yang seolah-olah telah move-on darinya. Ia mendekat, berlari menghampiri sang mantan.


Betulkan?


Agam dan Delisa sudah jadi mantan?


"Kak Agam!" panggilnya sedikit berteriak.


Agam tidak menggubris. la terus melangkah tanpa peduli saat namanya dipanggil.


"Kak!" Delisa menarik lengan Agam hingga menghentikan langkah pria tersebut.


"Ada apa?" Dingin, Agam bertanya.


"Kak, tolong maafkan aku ... dengarkan penjelasan ku. Semua itu gara-gara Bara. Dia paksa aku!" kata Delisa menggebu-nggebu.


"Aku tidak peduli. Sudah bukan urusanku lagi. Kamu mau melakukannya dengan siapa pun aku tidak peduli. Aku sudah melepaskanmu." Tatapan Agam tajam menghujam, hingga membuat nyali Delisa menciut.


"Aku yakin, kakak masih cinta sama aku," tukas wanita itu.


Agam terkekeh. "Kamu salah besar, Delisa. Rasaku padamu telah pudar setelah melihat adegan panasmu waktu itu! Rasa itu sudah terbakar bersama dengan amarah dalam hatiku waktu itu. Jadi, jangan berharap lagi dan jangan temui aku!" tegasnya.


"Kau bohong!" Tidak peduli di mana mereka berada, Delisa berteriak sehingga membuat orang-orang yang melintas menatap mereka berdua.


"Aku berkata benar! Dan jangan lagi temui aku, karena aku sudah memiliki gadis lain yang akan menjadi tunanganku!"


Mata Delisa membola. Semudah itukah Agam menggantikan posisinya dengan wanita lain?


"Aku tidak percaya. Itu hanya alasanmu saja!"


"Terserah padamu." Agama beranjak meninggalkan Delisa yang masih tertegun.


"Gadis? Tunangan?" Delisa menggumam.


***


Anyelir merasakan pegal di sekujur tubuhnya. Ia menggeliat, merasakan betapa nyamannya posisinya saat ini. Akan tetapi, tiba-tiba ia tersadar dan langsung membuka mata ketika mengingat bahwa ia berada di tempat pria itu. Pria dingin yang semalam mengajaknya melakukan perjanjian pernikahan di atas kertas.

__ADS_1


Anyelir bangkit, berjalan keluar dengan penampilannya yang semrawut khas orang baru bangun tidur.


"Ya Tuhan, rumah ini sepi sekali. Kenapa Tuan Agam cuma tinggal sama Bi Santi?" gumam Anyelir. Kedua matanya terus memindai seluruh sudut rumah yang menurutnya begitu memukau.


"Nona?"


Anyelir berjingkrak saat Bi Santi tiba-tiba memanggilnya dari belakang. 'Ya Tuhan, kenapa dia seperti hantu?'


"Sedang apa Nona di sini?" Bi Santi mendekat dengan senyum teduh yang menghangatkan. Anyelir yang menatapnya menjadi rindu dengan kehadiran sosok seorang Ibu yang telah lama pergi.


"A-anu, bibi. Maaf, aku lancang telah berkeliling rumah ini." Anyelir menunduk, merasa bersalah.


Namun, jeda berikutnya gadis muda itu mendongak saat mendengar wanita paruh baya itu tertawa.


"Ya Tuhan, Nona. Kenapa harus minta maaf? Lagian Nona boleh kok, berkeliling rumah ini. Tuan Agam mengizinkannya," ujar Bi Santi.


"Oh ... tapi, orangnya ke mana, bibi?"


"Ya, mengajar kalau jam segini. Nanti jam sepuluhan dia pulang. Kenapa, Non? Kangen, ya?" Bi Santi menggoda Anyelir seraya cengengesan.


"Idih, mana ada aku kangen sama pria sedingin itu? Sudah, ah. Aku mau mandi dulu, Bi Santi!" Anyelir berlalu meninggalkan Bi Santi yang terus menatapnya dengan seulas senyum.


la duduk termangu. Melihat pantulan dirinya di cermin, seolah melihat kembali ke masa lalu. Di mana semua keluarganya mengusirnya dengan cara yang kejam.


"Kamu harus kuat, Anye."


Anyelir menyemangati dirinya sendiri. Kedua jarinya menarik kedua sudut bibir agar menciptakan senyuman meski dengan keterpaksaan. Bahkan, situasinya sekarang membuatnya harus menikah dengan dosen dingin itu.


Di tempat lain, Agam baru saja selesai mengajar. Jam sudah menunjukkan angka 10. la pun bersiap untuk pulang.


"Kak?"


Agam menghela napas panjang. Ia menoleh ke samping. Dan ternyata Delisa sudah berdiri di samping meja dengan tatapan sendu.


Agam segera berjalan meninggalkan Delisa tanpa berniat acuh pada wanita itu. Namun, Delisa malah mengejar dan berdiri di hadapan Agam dan menghalangi pria itu agar berhenti.


"Berhentilah, Kak! Aku ingin bicara!" Delisa merentangkan kedua tangannya. Membuat Agam merasa kesal.


"Minggir!" Agam menatap Delisa tajam. "Minggirlah dari hadapanku!"

__ADS_1


Delisa menggeleng. Wajahnya memelas dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Kak, kamu bohong, kan? Kamu hanya mengarang soal tunanganmu supaya aku cemburu. Iya, kan?"


"Hentikan jika kamu tidak ingin terlihat seperti wanita murahan, Delisa!" bentak Agam. Ia mendorong Delisa sedikit kasar hingga wanita itu menepi. Lantas, ia kembali berjalan tanpa memikirkan sekelilingnya.


Dada Delisa kembang kempis mendapat perlakuan seperti itu. Kedua tangannya mengepal menahan amarah yang bergejolak dalam dadanya.


Sial!


***


Agam turun dari mobil dan berjalan masuk. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Anyelir tengah berada di taman menyirami tamanan di sana. Rambutnya digelung asal, sehingga memperlihatkan leher jenjang yang membuatnya tak bisa berpaling.


Saat Anyelir menoleh, sontak saja Agam tersadar dan melangkah masuk dengan perasaan yang entah ia tak dapat menjelaskan.


"Eh, dia sudah pulang?" Anyelir menggumam. Ia segera menyelesaikan tugasnya dan masuk menyusul Agam ke dalam.


"Bi, Bi Santi ... Tuan Agam tadi ke mana?" tanya Anyelir saat melihat Bi Santi lewat.


"Tuan ada di kamarnya, Non. Mungkin lagi ganti baju. Tunggu aja kalau mau ngomong sama orangnya," sahut Bi Santi.


Anyelir tersenyum. Ia hendak menunggu di depan kamar Agam. Namun, langkahnya terhenti ketika suara deru mobil terdengar di pelantaran rumah. Gadis muda itu mengintip dari balik pintu.


Seorang wanita paruh baya berwajah teduh dan memakai hijab baru saja turun dari mobil.


Anyelir merasa takut, tetapi kakinya seolah-olah tak bisa melangkah.


"Assalamu'alaikum," salam wanita paruh baya itu.


"Wa'alaikum salam," sahut Anyelir.


"Eh?" Raut wajah wanita paruh baya itu terkejut ketika melihat Anyelir. "Kamu siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya dengan begitu lembut.


Lidah Anyelir mendadak kelu. la menunduk tak berani menatap wajah lawan bicaranya. "A-aku ...."


"Dia calon istriku, Ma. Maaf, aku belum memberitahu Mama." Agam menyahut dari arah dalam.


Cie, Kang Agam dan Neng Anye!

__ADS_1


__ADS_2