Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Accepted


__ADS_3

"Aku belum memberi tahu mereka tentang kedatangan kita. Apa mereka ada di rumah?" Di dalam mobil, Anyelir mengutarkan kegelisahannya.


Bagaimana bisa datang ke rumah orang tanpa memberi kabar? Bagaimana jika orang yang didatangi tidak ada di rumah?


"Jangan mengkhawatirkan masalah sepele seperti itu. Semua sudah aku atur. Keluargamu ada di rumah dan sudah menunggu kedatangan kita," jawab Agam.


"Apa kamu yang mengabari mereka?"


"lya"


Anyelir tersenyum. "Baiklah, terima kasih ya," ucapnya.


"Hemm."


Hening terjadi beberapa saat di antara mereka. Hingga pada akhirnya Agam melontarkan tanya yang membuat Anyelir merasa geli sendiri.


"Anye, kenapa tiba-tiba kamu memilih berpenampilan seperti ini?"


"Kenapa? Apa aku terlihat aneh?" sahut Anyelir. la menurunkan kaca di atasnya dan becermin. "Tidak ada yang aneh kok," gumamnya.


"Penampilanmu tidak aneh. Tapi, aku hanya penasaran kenapa kamu memilih pakaian tertutup seperti ini?"


"Untuk perubahan." Anyelir menoleh sambil melempar senyum ke arah Agam.


"Aku ingin mengubah diri ini menjadi yang lebih baik, kak." Anyelir menghela napas berat. "Mungkin, dengan begini hatiku akan lebih tenang," imbuhnya.


Kening Agam berkerut. "Jadi, kamu memutuskan untuk selalu berpenampilan seperti ini?" tanyanya.


Anyelir mengangguk. "Apa kamu keberatan? Tapi, setiap di rumah aku akan berpenampilan biasa kok. Aku memakainya kalau hanya sedang keluar saja," jelasnya.


"Kenapa? Kenapa kalau di rumah tidak kamu pakai?"


Anyelir terkekeh. "Bukannya di rumah nanti cuma ada Bi Santi dan kakak? Kakak 'kan akan jadi suamiku. Tentu saja, tidak masalah kalau melepas kain ini," tunjuknya pada hijab yang menutupi rambutnya.


Agam tersenyum tipis. "Apa yang membuatmu berubah secepat ini? Apa ada sesuatu?"

__ADS_1


Anyelir menatap jalanan yang cukup ramai kendaraan di depannya. Mobil yang dikendarai Arsenio dan Jasmine nampak berjalan di depannya. Obrolannya dengan Jasmine kemarin, membuatnya berpikir keras untuk menemukan alasan di balik kuatnya hati seorang Jasmine saat sang suami memilih mendua.


Anyelir sedikit terkejut saat mengetahui fakta tentang keluarga Agam kemarin. Ia begitu bangga dan kagum pada sosok Jasmine dan juga Agam. Mereka berdua memiliki cara untuk menguatkan hati ketika tengah terluka.


"Mamamu." Setelah sekian detik diam, Anyelir akhirnya menjawab


"Mamaku?" tanya Agam.


"Mama Jasmine sudah mengajarkanku tentang arti dari sebuah luka yang sesungguhnya. Di mana, mungkin saja, apa yang aku alami tidak sebanding dengan yang kalian alami."


Terdengar helaan napas dari mulut Agam. Ia lantas bertanya, "Apa mama menceritakan semuanya padamu tentang kami?"


"Tidak semua, kok. Kamu tenang saja. Mama Jasmine hanya mengatakan kalau kamu itu hebat."


Agam berdecih. "Sudah lah. Apa pun itu, jangan pernah peduli padaku," ucapnya.


"Iya, aku tahu. Kamu tenang saja karena aku akan bersikap sepeti biasa. Aku tidak akan peduli padamu karena masalah aku pun juga berat. Dari pada memedulikan orang lain, aku akan memikirkan diriku sendiri," jawab Anyelir dengan tegas.


Ada sedikit rasa jengkel dalam hati Anyelir. Pria yang akan menjadi suaminya itu sangat menyebalkan. Bahkan, ucapannya tidak ada lembutnya sama sekali. Apakah ketika bersama Delisa, sikap Agam tidak sedingin ini?


"Bagus kalau kamu mengerti," kata Agam.


Agam dan Anyelir keluar dari mobil. Mereka berjalan lebih dulu, barulah Arsenio dan Jasmine mengekori di belakangnya.


"Assalamu'alaikum," salam Anyelir ketika memasuki rumahnya.


"Wa'alaikum salam." Elajar dan Dewi yang sudah siap menyambut kedatangan Anyelir sontak saja menghampiri.


Anyelir mencium tangan Elajar dan memeluk pria paruh baya yang merupakan cinta pertamanya itu. "Ayah apa kabar?" tanyanya.


"Ayah sehat, nak. Semua berkat kamu." Elajar membingkai wajah putrinya dengan kedua tangan. Senyumnya terukir bersamaan dengan pancaran tulusnya kasih sayang dari kedua matanya.


"Oh, ya. Mari silakan duduk," ujar Elajar yang lupa mempersilakan tamunya untuk masuk.


"Reno, bawa semua bawaannya ke sini, ya!" titah Jasmine pada anak buahnya.

__ADS_1


"Iya, Bu." Reno, pria berpakaian kemeja putih itu bergegas keluar menuju mobil dan mengambil satu per satu bawaan sang majikan.


Agam, Arsenio, dan Jasmine duduk di sofa ruang tamu di rumah Anyelir. Mereka memang berpenampilan sederhana. Akan tetapi, jika orang yang bisa memahami, pasti akan tahu jika mereka berasal dari golongan orang berada.


Seperti halnya Elajar. Ia memang pertama kali menilai Agam sebagai orang biasa. Namun, aura yang dipancarkan pria itu sangat berbeda. Apalagi sekarang saat melihat langsung kedua orang tua Agam yang auranya lebih tajam.


Dewi memutar bola matanya malas karena harus menyambut tamu yang tak diharapkan sama sekali. Anak tiri dan calon suaminya yang menurutnya sangat kampungan.


'Setidaknya, suaminya berasal dari golongan bawah. Mobil yang mereka pakai itu pasti mobil sewaan supaya terlihat mewah,' batin Dewi.


"Ayah, Mama Dewi, beliau berdua ini orang tuanya Kak Agam. Mereka bertiga datang dengan membawa niat yang baik," lontar Anyelir membuka obrolan.


Elajar menghela napas. Ia menoleh ke samping, di mana putrinya menatapnya dengan senyum yang meneduhkan.


"Ayah mau tanya sekali lagi, nak. Apa hatimu benar-benar sudah mantap ingin menikah?" tanya Elajar.


Anyelir mengangguk. "Iya, ayah. Aku sudah yakin dan siap menikah."


"Tapi, usiamu masih sangat belia, nak. Apa kamu tidak ingin meneruskan kuliahmu?"


Anyelir menautkan kedua alisnya. "Aku tidak salah dengar?" tanyanya.


Elajar bergeming sesaat. Tertunduk dalam karena merasa sesak secara tiba-tiba dalam hatinya. Wajar saja jika Anyelir bertanya seperti itu. Apalagi ia sudah sangat terlambat ketika menawari sang putri untuk melanjutkan kuliahnya.


"Mas, pernikahan ini kan sudah atas kehendak Anyelir sendiri. Jadi, kamu jangan merasa bersalah seperti itu. Sepertinya laki-laki ini bisa menjaga Anyelir. Toh, Anyelir sudah cocok menjadi ibu rumah tangga," sela Dewi. Ia berusaha untuk terus mempengaruhi Elajar agar melupakan kewajiban seorang ayah pada putrinya.


"Tapi, Ma ...."


"Pak, maaf jika saya lancang karena menyela ucapan anda. Tapi, saya ingin menegaskan pada anda bahwa Anyelir akan baik-baik saja. Saya pasti menjaganya dengan baik," tegas Agam dengan keyakinan penuh.


Arsenio dan Jasmine tersenyum tipis mendengar putra mereka bicara selantang itu. Sangat terlihat keren dan hebat di mata mereka.


Elajar tersenyum. "Saya bisa melihat kesungguhan mu, nak. Tapi, walau begitu sebagai seorang ayah saya tidak bisa begitu saja mempercayakan anak saya pada orang yang baru saya kenal," jelasnya.


Agam menunduk, menyembunyikan senyumnya. Entah lugu ataukah bodoh sebutan yang pantas untuk Elajar. Pria paruh baya itu benar-benar telah dikendalikan oleh istrinya.

__ADS_1


"Jadi, anda hanya percaya pada orang yang telah lama anda kenal?" tanya Agam sambil mengangkat satu sudut bibirnya.


Like guys!!


__ADS_2