Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Eliza's Wedding Invitation


__ADS_3

"Kamu? Maksud kamu apa?" Delisa melotot. Ia memang tipe orang yang tidak suka jika miliknya diganggu atau bahkan hendak direbut orang lain.


"Delisa ... semua orang di kampus ini sudah tahu tentang bagaimana hubunganmu dengan Pak Agam sekarang. Pak Agam saja sudah tidak peduli lagi sama kamu. Kenapa tidak jujur saja kalau emang kamu itu sudah putus sama Pak Agam?" Nadia tersenyum miring.


Tanpa menunggu balasan dari Delisa, Nadia berlalu meninggalkan wanita cantik itu yang menatapnya dengan tajam.


Napas Delisa memburu. la benar-benar tak menyangka jika putusnya hubungan dengan Agam bisa menyebar begitu cepat. Ia berusaha tenang. Lantas kembali melangkah mengisi kelas pagi ini.


"Setidaknya, aku tidak mengisi kelas Bara untuk ini" gumamnya.


Setiap kali mengisi kelas Bara, Delisa selalu saja dibuat salah tingkah oleh pria itu. Bara tak pernah memedulikan tempat dan situasi ketika menggodanya. Alhasil, ia dan Bara selalu menjadi bahan perbincangan di kelas.


Sementara itu, Agam seperti biasa mengajar dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya ketika sedang memberi penjelasan. Setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya tak pernah ada yang ia abaikan, meskipun itu tentang kehidupan pribadinya.


"Jika ada yang belum paham, silakan bertanya," ujar Agam seraya menyatukan kedua tangan.


"Pak!" Mahasiswi bermata sipit mengangkat tangan.


"Pak, menurut Anda jodoh itu apa?" tanyanya.


"Jodoh itu takdir yang tidak bisa diubah. Dengan siapa nama kita kelak akan bersanding itu adalah rahasia yang tak kan bisa kita jawab di masa sekarang," jelas Agam.


"Jadi, Anda dan Bu Delisa belum tentu berjodoh dong?"


"Benar," sahut Agam, singkat. Namun, mampu membuat seluruh ruangan menjadi ricuh.


"Woooaaah! Pak Agam, apa Anda dan Bu Delisa sudah putus kok sampai ngomongnya begitu?" Kali ini yang bertanya adalah mahasiswi yang memang sudah mengagumi sosok Agam.


"Apanya yang putus, Arsha?" sahut Agam.


"Hubungan kalian itu."


"Menurutmu?" Bukannya menjawab dengan cepat, Agam sengaja menjawabnya dengan jawaban berputar-putar


"Aih, Pak Agam ini nyebelin deh. Aku mau marah tapi yang ada malah tambah gemes," celetuk Arsha seraya mengerucutkan bibir.


"Sudah, sudah. Bagaimana hubungan saya dengan Delisa, akan ada masanya kalian tahu. Sekarang, saya minta semua fokus pada pelajaran yang saya terangkan sekarang. Silakan bertanya seputar pelajaran tanpa harus bertanya masalah pribadi," tukas Agam. Ia berjalan ke arah bangku di sudut ruangan dan mengempaskan bokongnya di sana. Sontak saja semua mahasiswa dan mahasiswa mulai mengeluh.


"Pak, kenapa harus fokus pada pelajaran, sih? Kenapa tidak bahas tentang Pak Agam saja?" protes Arsha lagi.


"Karena kalian di sini untuk belajar ilmu pengetahuan. Bukan untuk belajar tentang kehidupan saya," sahut Agam. "Tidak usah menjawab dan langsung kerjakan soal halaman delapan!" titahnya kala Arsha hendak membalas ucapannya.


Agam sudah dalam mode serius sehingga semua mahasiswanya mau tak mau menurut. Meski Agam yang paling ganteng di antara dosen lain, namun Agam juga dikenal sebagai dosen killer di kampus mereka.


Jam mengajar akhirnya selesai juga. Agam mulai berkemas dan langsung berpamitan pada semua orang. Seperti biasa, ia tak mampir ke ruang dosen dan bergegas memilih pulang.


"Pak Agam, tunggu!"

__ADS_1


Agam yang berjalan menuju ke tempat parkir berhenti dan langsung memutar badan. "Ada apa, Bu Eliza?" tanyanya pada dosen wanita yang tak terlalu dekat dengannya selama ini.


"Maaf, Pak Agam. Sejak beberapa hari ini saya selalu mencari Anda. Tapi selalu saja tidak bertemu," ujar Eliza dengan napas terengah- engah karena habis berlari.


"Maaf, Bu Eliza. Saya memang selalu langsung pulang setelah selesai mengajar," sahut Agam.


Eliza mengangguk. "Begitu rupanya. Oh, ya ini ... datanglah ke acara saya, Pak Agam. Saya mengundang semua dosen di sini," ujarnya seraya mengulurkan sebuah kertas undangan pernikahan.


Agam tersenyum dan menerimanya. "Menikah?" tanyanya.


Eliza mengangguk. "Datang, ya, Pak. Sama calon istri Anda," ucapnya.


"Hemm, baiklah. Terima kasih, ya, Bu Eliza. Dan selamat atas pernikahannya," sahut Agam.


Eliza mengangguk. Ia pun pamit pergi usai memberikan undangannya kepada Agam.


Sementara itu Agam berpikir untuk mengajak Anyelir datang ke pesta pernikahan tersebut.


"Sepertinya memang sudah waktunya Anyelir untuk keluar," gumam Agam.


***


Sementara itu, Anyelir berusaha untuk belajar menjadi calon istri yang baik. Ia menghampiri Bi Santi di dapur.


"Bi Santi ...," panggilnya.


"Bi, apa Agam waktunya pulang kan, ya?"


"Iya, Non. Biasanya sebentar lagi Tuan Agam datang. Kenapa memangnya, Non?" tanya Bi Santi yang heran dan bertanya-tanya dalam hati karena sikap Anyelir yang aneh.


"Bi, boleh tidak kalau aku yang buatin kopinya?" Anyelir menatap wajah Bi Santi degan mata berbinar penuh harap.


Bi Santi melebarkan mata. Namun, beberapa detik kemudian bibirnya mengukir senyum teduh. "Kenapa tiba-tiba begini, Nona?"


"Aku sebentar lagi kan akan menjadi istrinya. Jadi, aku ingin belajar bagaimana cara menjadi istri yang baik, Bi. Bukankah lebih baik jika dimulai dari hal sederhana?"


Bi Santi mengangguk. "Tentu saja. Senang sekali saya jika Non Anyelir peduli sama Tuan Agam. Dia pasti senang jika diperhatikan oleh calon istrinya," tukasnya.


"Ya udah, biar aku buatin, ya, Bi. Biasanya, dulu aku yang selalu buatin kopi untuk ayah. Jadi, aku sudah terlatih jika hanya membuat kopi saja," ujar Anyelir. la mulai meracik kopi dan gula.


"Agam suka kopi yang manis tidak, Bi?" Anyelir baru ingat sesuatu. Bahwa, tak semua orang suka kopi yang manis.


"Kalau pagi Tuan Agam memilih kopi tanpa gula, Non. Tapi, kalau sudah sore begini Tuan Agam lebih memilih kopi yang manis," jawab Bi Santi.


"Oh, begitu. Baiklah, aku akan mulai membuatnya. Kopi spesial untuk Agam," tukas Anyelir dengan senyum mengembang.


Bi Santi hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Anyelir. 'Sepertinya gadis ini sudah mulai bisa menerima Agam sebagai calon suaminya,' batinnya.

__ADS_1


"Bi Santi?" panggil Anyelir seraya tangannya mengaduk-aduk kopi dalam cangkir.


"Ya, Non?"


"Bi Santi pasti tahu tentang keluarga Agam 'kan?" tanya Anyelir seraya menatap Bi Santi.


"Memangnya kenapa Non Anye tanya itu?"


"Aku penasaran saja, Bi. Kemarin kan aku sempat ke rumahnya. Ada wanita paruh baya yang wajahnya lumayan cantik dan gadis muda seumuranku. Tapi, kenapa Agam tak menegur mereka sama sekali? Bukankah mereka juga keluarganya?" tanya Anyelir seraya duduk di kursi dan menatap kopi buatannya yang asapnya masih mengepul.


Bi Santi menghela napas panjang. "Yang saya tahu, mereka itu Ibu tiri sama adik tiri Tuan Agam, Non. Ya cuma sebatas itu yang saya tahu, Non. Soalnya mereka pernah sekali datang ke sini tapi Tuan Agam malah pergi dan menyuruh saya untuk mengusir mereka," sahutnya.


"Sepertinya mereka tidak akur, ya, Bi," celetuk Anyelir.


"Iya sepertinya begitu. Nanti, kalau Non Anyelir sudah jadi istrinya Tuan Agam, Non Anyelir harus menghiburnya, ya. Selama ini Tuan Agam itu selalu menutupi kesedihannya seorang diri. Saya berharap agar Non Anye menjadi teman hidup untuk Tuan Agam," ujar Bi Santi penuh harap.


Anyelir bergeming. la menatap lurus ke arah taman sebelah dapur. "Tapi, saya dilarang untuk bertanya tentang keluarganya, Bi. Sepertinya Agam tidak suka jika ada orang yang ingin tahu tentang keluarganya," ucapnya.


"Tuan Agam hanya belum terbiasa sama Non Anye. Tapi, nanti lambat laun Tuan Agam pasti bisa menerima," kata Bi Santi.


Anyelir mengangguk. Ia hendak kembali bicara, namun suara langkah kaki Agam terdengar mendekat ke arah dapur.


"Eh, Tuan sudah datang. Silakan duduk, Tuan. Minumlah kopi itu biar lelah Anda bisa berkurang," celetuk Bi Santi.


Agam berdeham. Ia duduk berhadapan dengan Anyelir sambil menarik cangkir di tengah meja dan mulai menyesapnya. Keningnya berkerut saat lidahnya merasakan rasa yang berbeda dengan rasa yang biasanya ia rasakan.


"Rasanya berbeda," gumam Agam.


Bi Santi dan Anyelir sontak bungkam dan takut dengan sendirinya.


"Tapi, rasa yang ini lebih enak. Pertahankan, Bi Santi," tukas Agam.


Anyelir mengulum senyum mendengarnya. Meski dikira Bi Santi yang membuatnya, setidaknya Agam meminum dan memuji kopi buatannya.


"Anye ...," panggil Agam. Kedua matanya menatap Anyelir hingga membuat gadis itu gugup.


"Iya, Agam?"


Agam mengeluarkan undangan dari Eliza dan menunjukkannya pada Anyelir. "Nanti, datanglah bersamaku ke pernikahan temanku!" ajaknya.


"Pernikahan? Kenapa sama saya?" sahut Anyelir.


"Bukankah kamu calon istriku?" sahut Agam seraya mengangkat sebelah alisnya.


Anyelir terhenyak. "I- iya. Baiklah, saya akan ikut," sahutnya.


Kok gugup ya Anye?

__ADS_1


__ADS_2