
Tepat dua belas tahun yang lalu, ketika Agam baru saja menginjak usia delapan belas tahun, dan tepat di hari ulang tahunnya sang ayah datang membawa kado yang tak pernah terlupakan hingga saat ini.
Berharap agar menerima kado yang mengesankan nyatanya kado yang didapat lebih dari itu, yaitu ibu kedua dan juga adik baru. Saat itu adiknya—Aurel, masih berusia dua sebelas tahun. Mereka berdua dibawa Arsenio agar tinggal bersama dalam atap yang sama.
"Mas, siapa mereka?" Jasmine yang sedang menemani Agam bermain game bertanya. Suaranya terdengar lembut dengan wajah yang terkesan menenangkan.
"Jasmine, Agam, kenalkan ini Bella dan Aurel. Bella akan menjadi ibumu juga mulai sekarang. Dan Aurel akan menjadi adikmu mulai sekarang." Ucapan Arsenio seketika mampu menciptakan pertanyaan dalam benak Agam dan Jasmine.
"Maksudmu apa, Mas? Kenapa kamu bicara seperti itu? Siapa mereka sebenarnya?" tanya Jasmine, sedikit emosi. Hatinya mendadak gelisah, namun ia tetap mencoba tenang.
"Jasmine, mereka adalah keluarga baru kita. Posisi Bella dan kamu sama di rumah ini. Kalian berdua adalah istriku. Dan aku harap kalian bisa akur dan tidak saling bermusuhan."
Jasmine melebarkan mata mendengar penjelasan Arsenio. Apa katanya, sama-sama istri?
Bagaimana bisa?
Pikiran Jasmine berkecamuk. Ia menatap wanita yang berdiri di samping suaminya. Wanita itu berpenampilan sederhana. Wajahnya manis dengan rambut panjang legam yang indah. Saat wanita itu tersenyum, tercipta lesung pipit di kedua pipinya.
Pesona yang dimiliki wanita itu memang kuat. Apa itu yang membuat suaminya berbalik hati?
Pandangan Jasmine beralih pada gadis kecil yang sekilas wajahnya mirip dengan Arsenio, sang suami. Hatinya seketika terasa sakit seperti diremas-remas. Jika gadis kecil itu mirip dengan Arsenio, sudah pasti itu adalah anak suaminya.
Jadi, suaminya itu sudah mengkhianatinya sekian tahun lamanya?
Tapi kenapa?
__ADS_1
Apa kurangnya dia selama menjadi istri selama ini?
"Mas ... kenapa?" Air mata Jasmine berjatuhan bersamaan dengan duri- duri yang menantap di hatinya.
"Aku mencintai Bella, Jasmine! Karena itulah aku menikahinya sepuluh tahun yang lalu!" terang Arsenio yang tak memedulikan apakah ucapannya menyakiti Jasmine atau tidak.
"Cinta?" Jasmine tertawa pelan. "Kalau kamu cinta sama dia kenapa masih bertahan denganku, hah!"
"Karena aku juga mencintai kamu!"
Jasmine semakin mengeraskan tawanya untuk menutupi hatinya yang luka. Selama ini, ia tak pernah mencium keanehan dari diri suaminya.
Namun, nyatanya selama sepuluh tahun terakhir, suaminya telah membagi raganya dengan wanita lain sampai menciptakan benih yang sudah tumbuh dengan cantik dan sehat.
Agam yang menyaksikan pertengkaran di antara orang tuanya hanya diam. la sudah cukup dewasa untuk mengerti apa yang terjadi pada orang tuanya. Seketika kebencian pun mulai tumbuh dalam hatinya. la sedih melihat ibunya menangis. la bahkan marah pada ayahnya yang sudah tega menyakiti mamanya.
"Di mana hati nurani mu, hah?! Kamu tahu kalau Mas Nio ini sudah punya istri dan anak! Kenapa kamu mau dijadikan istrinya? Dasar wanita murahan!" umpat Jasmine pada Bella yang hanya menunduk.
"Cukup, Jasmine! Jangan kamu limpahkan kemarahanmu pada Bella! Sebesar apa pun keinginanmu untuk menolak kehadirannya, sebesar itu pula aku akan mempertahankan dia!" bela Arsenio dengan mata berapi-api.
Jasmine menatap sang suami dengan pandangan nanar. "Apa kesalahanku sama kamu, Mas??"
"Tidak ada. Jangan membuatku marah, Jasmine. Semua ini sudah menjadi keputusanku! Bella dan Aurel tetap akan tinggal di sini! Dan aku tidak akan menceraikanmu!" Arsenio sudah membuat keputusan yang tidak bisa dibantah oleh Jasmine.
Jika Arsenio sudah membuat keputusan, maka tak ada yang bisa Jasmine lakukan selain menerima. Sebab, pengaruh Arsenio begitu besar pada keluarganya.
__ADS_1
"AYAH EGOIS! AYAH KEJAM!"
Agam berteriak dengan dada kembang kempis. Matanya memerah dan melotot menatap ayahnya penuh amarah.
"Ayah jahat! Kenapa ayah tega menyakiti Mama! Apa bagusnya wanita itu! Dia hanya wanita tak ubahnya seperti pelacur!"
"AGAAM!"
Plak!
Tamparan keras mendarat sempurna di wajah Agam. Pria remaja itu jatuh tersungkur dengan darah yang keluar dari hidungnya.
"Agam!" teriak Jasmine yang refleks bersimpuh menolong putranya.
"Mas, kenapa kamu memukulnya? Lebih baik aku dan Aurel yang pergi saja. Kami akan kembali ke rumah kami saja, Mas dari pada kalian bertengkar seperti ini." Setelah sejak tadi diam, Bella akhirnya bersuara.
"Tidak perlu. Anak ini memang harus diberi pelajaran karena ucapannya sangat tidak pantas!" kata Arsenio sambil menunjuk-nunjuk pada Agam.
Agam bangkit dan menyeka darah di hidungnya. "Oke, sekarang biar aku yang pergi dari rumah ini. Dari pada aku harus tinggal bersama wanita murahan itu!"
"AGAAM!"
"Mas, cukup!" teriak Bella seraya memeluk Arsenio.
Jasmine yang melihatnya hanya bisa merasakan pilu di hatinya. Apalagi putranya berlalu pergi tanpa membawa apa pun.
__ADS_1
Sakit atas pengkhianatan bertahun-tahun ini!