
"Calon istri?" Jasmine, wanita berusia lebih dari satu abad itu menatap Agam dengan pandangan menuntut penjelasan.
"Maaf, Ma. Aku belum sempat mengatakannya pada Mama. Masuklah dulu, kita ngobrol di dalam. Sekalian aku akan menceritakan tentang Anyelir," kata Agam.
Jasmine mengangguk pelan. Ia berjalan melewati Anyelir yang sejak tadi hanya menunduk. Apakah mungkin gadis itu takut padanya?
Anyelir menghela napas panjang. Ia melangkah pelan menuju kamarnya. Mungkin, untuk sementara waktu ia akan menunggu di kamar saja sampai Jasmine pulang.
Sementara itu di ruang kerja, Agam dan Jasmine—sang mama duduk berhadapan dengan meja yang memisahkan mereka di tengahnya.
"Jadi, jelaskan sama mama bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa tiba-tiba bilang kalau gadis itu calon istrimu, Agam?" cecar Jasmine.
Agam membuang napas kasar seraya memijit pelipisnya yang mendadak terasa pening.
"Maaf, Ma. Tapi, semua itu sudah menjadi keputusanku. Bukankah itu kabar bagus untuk kita semua?" Agam melipat kedua tangan di depan dada. "Aku lelah dengan semua ini. Ada baiknya kalau aku menikah secepatnya," tandasnya.
Jasmine menggelengkan kepalanya, pelan. "Lalu, sebenarnya gadis itu siapa? Selama ini mama hanya mengenal Delisa sebagai pacarmu, Gam," tanyanya.
"Hubunganku dengan Delisa sudah berakhir, Ma. Dan sekarang masa depanku ada bersama Anyelir."
"Mama tidak lihat kalau kamu serius dengan Anyelir. Mama juga tahu kalau Delisa yang selama ini menemanimu," ujar Jasmine.
"Lagi pula selama ini, mama lihat hubunganmu dengan Delisa baik-baik saja. Memang apa yang menjadi penyebab hubungan kalian kandas?" tanyanya.
"Simpel. Karena kami tidak berjodoh."
Jasmine membuang napas kasar. "Oke, baiklah. Kamu belum menjawab pertanyaan mama tentang Anyelir. Siapa dia dan dari mana asalnya?" la mengulangi pertanyaan yang sama.
__ADS_1
"Dia gadis yang sedang dalam kesulitan dan membutuhkan tempat untuk berlindung. Aku ingin membantunya sebisaku," jawab Agam.
"Jadi, kamu belum tahu tentang asal-usul gadis itu?"
Satu sudut bibir Agam terangkat. Ia menatap wajah wanita yang telah melahirkannya itu dengan tajam. "Apa mama tahu dari mana asal-usul ku?" balasnya.
"Tentu saja dari keluarga Lagathias. Kamu Agam Lagathias. Kamu keturunan kita dan kamu terlahir dari rahim mama!" jawab Jasmine.
"Begitu pula dengan Anyelir! Dia terlahir dari rahim seorang ibu yang menyayanginya. Dia gadis baik-baik yang memang pantas menjadi pendampingku!" tandas Agam dengan penuh penekanan.
"Dan apa lagi tadi? Keluarga Lagathias? Cih! Jika saja bisa memilih, lebih baik aku terlahir dari keluarga lain yang lebih sederhana. Tak banyak drama apalagi acara berebut kekuasaan!"
Wajah Jasmine menegang. Ia membuang napas pelan. Ia sudah memahami bagaimana sikap Agam. Dan tentunya bukan hal mudah bagi pria itu untuk menerima kenyataan yang ada di depannya.
"Agam, bagaimanapun juga kelak seluruh perusahaan akan jatuh ke tanganmu. Kamu adalah pewaris satu-satunya keluarga Lagathias," lirih Jasmine. Wanita itu menatap ke arah lain karena mendadak dadanya terasa sesak.
"Mama saja belum bisa melupakan rasa sakit itu, bukan?" Agam bertanyan tanpa ekspresi. Semua yang terjadi tentang keluarganya sangat membuatnya kesal.
Sang ayah, Arsenio Lagathias pulang dengan membawa wanita lain dan juga seorang gadis yang usianya masih belia. Dan fakta yang mengejutkan!
Wanita itu adalah istri kedua ayahnya. Mereka sudah menikah puluhan tahun lebih dan sampai memiliki seorang putri. Sungguh, kelakuan ayahnya sangatlah menjijikkan.
Jijik sekali Agam saat mengingatnya!
Agam tak menyangka bahwa ia bertemu dengan Anyelir. Mungkin saja usia Anyelir tak jauh beda dengan usia anak perempuan ayahnya.
"Mama berusaha untuk memaafkan mereka, nak. Mungkin saja ayahmu menikah lagi karena membutuhkan kasih sayang yang lebih. Bella bisa ikut ke mana saja saat ayahmu ke luar kota. Sedangkan mama tidak bisa," jawab Jasmine dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Mungkin saja ayahmu juga butuh kehangatan seorang wanita saat berkunjung ke luar kota di mana mama tidak bisa memberikannya. Makanya dia bertemu Bella dan menikahinya dulu ...," imbuh Jasmine.
Agam bergeming menatap wajah Jasmine yang mulai mendung. Wajah yang mulai ditumbuhi gurat-gurat penuaan itu masih tetap cantik di mata Agam. Wanita itu membuatnya bangga sekaligus kesal karena bisa menerima adik madunya tinggal dalam satu rumah.
Entahlah bagaimana kehidupan orang tuan di rumah ayahnya. Sebab, sejak kejadian itu Agam lebih memilih hidup mandiri dan akhirnya dipertemukan dengan Bi Santi.
"Aku heran sama mama. Kenapa mama masih mau tinggal sama ayah? Mama bisa tinggal di sini sama aku dan Bi Santi dari pada harus terluka secara batin," kata Agam yang tak sanggup melihat ibunya bersedih.
"Bagaimana bisa mama meninggalkan ayahmu sendirian, nak?" Kedua mata Jasmine berkaca-kaca menatap Agam yang wajahnya datar- datar saja.
"Dia sudah ada Bella dan putri kesayangannya. Tidak ada gunanya mama ada di sana. Aku yakin, kalau mama selalu diasingkan di sana." Agam menarik kedua sudut bibir usai mengatakannya.
"Tidak begitu juga, nak. Apa pun yang terjadi, mama tidak bisa meninggalkan ayahmu. Dia adalah imam mama. Mama mencintainya," ujar Jasmine.
"Sudahlah, jangan membahas masalah ayahmu. Dan apa pun yang terjadi, jangan katakan pada siapa pun tentang jati dirimu. Mama tidak ingin ada hal buruk terjadi nanti," pesan Jasmine. "Tetaplah menjadi dosen sampai tiba waktunya kamu menjadi Presdir Lagathias Group," imbuhnya.
"Sudahlah ... Mama jangan terlalu berharap jika aku bisa menjadi seorang presdir. Bisa saja ayah memberikan jabatan itu pada putri kesayangannya," tukas Agam.
Jasmine menggeleng pelan. "Tidak anakku, sekejam apa pun sikap dan perkataan ayahmu, dia tetap akan memberikan semuanya padamu,"jawabnya.
"Dia hanya sedang marah waktu itu. Tak ada niat dalam dirinya untuk mengatakan hal menyakitkan itu. Dan ... ayahmu sangatlah menyayangimu." Jasmine tersenyum usai mengatakannya.
Namun, Agam hanya berdecih karena perkataan Jasmine sama sekali tidak membuat hatinya terketuk.
"Sudahlah, mama akan pulang. Kalau kamu memang mau menikahi Anyelir, datanglah ke rumah dan temui ayahmu. Mintalah restunya agar semua langkahmu dilancarkan." Jasmine berdiri dan menghampiri putranya yang masih bergeming.
"Mama pulang. Assalamu'alaikum," salam Jasmine.
__ADS_1
"Hem, wa'alaikum salam," sahut Agam.
Agam menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ingatannya tentang kenangan masa silam itu selalu saja kembali hadir, melintas dalam benak dan berakhir menyisakan luka.