Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Eating Together


__ADS_3

"Anye mana, Gam?" Jasmine bertanya saat mendapati Agam keluar sendiri.


"Sedang ganti baju. Bentaran lagi juga keluar," sahut Agam seraya mendudukkan diri di kursi.


Di sana meja itu dikelilingi oleh keluarga inti dari Agam. Termasuk Bella dan Aurel. Aurel tersenyum saat Agam melihat ke arahnya. Namun, sayangnya Agam tak acuh dan hanya fokus pada Jasmine saja.


"Kak?" panggil Aurel. Gadis itu baru pertama kalinya memanggil Agam sejak insiden yang lebih dari dua belas tahun yang lalu.


Namun, bukannya menjawab, Agam malah berdecih. Dan hal itu membuat Bella terpancing emosi.


"Aku tahu kalau kamu membenciku. Tapi, Aurel tidak salah dalam hal ini. Putriku ini sangat peduli dan sangat menyayangimu, Agam. Tidakkah sekali saja kamu mau peduli padanya?" sela Bella.


"Hentikan. Jangan membuat onar di sini," tekan Arsenio dengan tatapan tajam.


"Mama apaan, sih! Bikin malu saja! Kak Agam itu bukannya tidak peduli sama aku. Tapi, Kak Agam hanya sedang butuh waktu buat menerimaku sebagai adiknya," omel Aurel pada sang mama.


Agam yang mendengarnya hanya tersenyum. Sampai pada akhirnya, Anyelir datang dan ikut bergabung bersama mereka.


"Anye duduk di sini, nak," kata Jasmine sambil menunjuk kursi kosong di samping Agam.


"Iya, Ma. Terima kasih." Anyelir memosisikan diri di antara keluarga besar Lagathias. la yang baru tahu informasi tentang siapa Lagathias Group dari Bryan itu sangat terkejut dan hampir saja pingsan.


Ya, usai dari berganti baju tadi, ia sempat bertemu dengan Bryan dan sempat menanyakan tentang kabar Delisa. Dan sayangnya, Bryan hanya mengatakan bahwa ia tak perlu mencemaskan tentang Delisa dan meyakinkan jika wanita itu tak akan lagi mengganggunya.


"Nona Delisa tidak akan berani mengganggu anda dan Tuan Muda. Jadi, anda tidak perlu cemas. Keluarga Lagathias akan selalu berdiri di depan anda dan Tuan Muda," ujar Bryan.


"Keluarga Lagathias itu sebenarnya keluarga yang bagaimana?"


Bryan tersenyum. la lantas menjelaskan secara detil tentang perusahaan Lagathias yang tersebar di beberapa tempat. Tak hanya itu, Bryan juga menjelaskan tentang berapa banyak karyawan dan berapa gaji yang harus dikeluarkan setiap bulannya.


Anyelir yang mendengarnya lantas merasa merinding. Ternyata, ia telah menikah dengan pria kaya raya yang sedang menutupi jati dirinya. Tapi, kenapa? Kenapa Agam harus menutupi jati dirinya? Toh, nanti Agam yang akan menjadi penerus Lagathias Group.

__ADS_1


"Jika anda menanyakan alasannya, saya yakin jika Tuan Muda sendiri yang nanti akan menjelaskannya, Nona," kata Bryan seolah mengerti apa yang dirisaukan oleh nona mudanya.


"Ah, iya. Tapi, bagaimana mungkin dia mau bercerita padaku. Dia itu cuek sekali," celetuk Anyelir.


Bryan terkekeh. "Nanti. Jika sudah waktunya. Saya yakin, hati Tuan Muda terpaut pada anda. Hanya saja, sekarang, beliau masih dihantui oleh masa lalu yang menyakitkan," sahutnya.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas informasinya," kata Anyelir.


Bryan mengangguk. "Jaga diri anda, Nona. Tuan Agam adalah orang yang baik. Dia tidak akan membiarkan anda terluka meski cinta itu belum hadir di antara kalian. Saya permisi." Ia berlalu meninggalkan Anyelir dengan segala perasaan yang campur aduk.


Ucapan Bryan seketika terus saja berputar-putar di kepala Anyelir. Agam adalah satu-satunya pewaris Lagathias Group. Tentu saja tanggung jawabnya begitu besar. Namun, Anyelir merasa iba saat melihat Agam yang terkadang sering menyendiri. Mungkinkah ia merasa terbebani karena terlahir dari keluarga yang penuh kuasa?


"Anye?" Panggilan Jasmine yang disertai tepukan di bahu sontak saja membuat Anyelir kaget.


"l- iya, Ma?" sahut Anyelir dengan wajah kakunya.


"Kenapa? Apa kamu sakit? Pasti kamu kelelahan, ya." Dengan wajah cemas, Jasmine mengecek suhu badan Anyelir menggunakan punggung tangan.


Jasmine menelengkan kepalanya sambil mengulas senyum. "Jika kamu merasa tidak enak karena kejadian tadi, jangan pernah berpikir bahwa Agam sehina itu, ya. Aku kenal siapa putraku. Dia tidak akan merendahkan kehormatan seorang wanita karena dia sangat menghormati aku," katanya.


Anyelir mengangguk. "Iya, Ma. Aku tahu. Kak Agam sangat menghormati mama. Dan pastinya dia menghormati setiap wanita yang dekat dengannya."


"Ya sudah, kita makan saja sekarang. Setelah itu kita bisa beristirahat di sini dulu," sela Arsenio. Pria itu merasa sangat lapar karena sejak tadi ia menyambut para tamu yang hadir.


Usai makan bersama, Arsenio memperkenalkan Aurel dan Bella pada Anyelir.


"Anye, mulai sekarang, kamu adalah bagian dari keluarga kami. Jadi, kamu harus mengenal satu per satu orang yang ada di keluarga Agam. Aku yakin, kamu sudah tahu siapa mereka berdua," ujar Arsenio pada Anyelir yang menatap Bella dan Aurel.


"Dia Bella, mertuamu juga," kata Arsenio sambil menunjuk Bella.


"Dan yang itu, Aurel. Dia putriku, adik Agam dan kini dia sudah menjadi adik iparmu," kata Arsenio lagi.

__ADS_1


Agam tak mengacuhkan ucapan sang ayah yang menurutnya tidak penting. Sementara Jasmine hanya diam dan mendengarnya saja. Setiap kali Arsenio memperkenalkan Bella dan Aurel, hatinya yang kuat kembali rapuh.


"Aurel dan kamu sepertinya usianya tidak jauh berbeda. Jadi, aku rasa kalian sangat cocok," tukas Arsenio dengan sangat bangga.


Anyelir mengangguk dan melempar senyum pada Aurel yang mengulurkan tangan padanya.


"Selamat bergabung bersama kami, kakak ipar," ujar Aurel sambil tersenyum lebar.


"Iya, terima kasih Aurel," sahut Anyelir sambil menerima uluran tangan Aurel.


"Aku harap kakak ipar betah bersama kami. Kita berteman ya, mulai sekarang," seloroh Aurel.


"Iya, Rel." Anyelir tersenyum. Ketika ia menoleh ke arah Agam, pria itu hanya diam membisu.


"Ya sudah, lebih baik sekarang kalian berdua istirahat, ya. Kalian pasti sudah sangat lelah," ujar Jasmine yang tahu bahwa putranya merasa tidak nyaman dengan obrolan keluarga ini.


"Oke, aku dan Anyelir akan ke atas dulu. Kami sangat lelah," ujar Agam. Ia berdiri dan berlalu. Anyelir pun bergegas mengikuti Agam usai berpamitan pada semua orang.


Setibanya di kamar, Agam langsung mengempaskan tubuhnya di ranjang dengan posisi tengkurap. Pria itu merasa sumpek karena sang ayah terus saja memperkenalkan wanita yang paling ia benci dengan penuh bahagia.


"Kak ... apa kamu merasa tidak enak badan?" Anyelir memberanikan diri untuk bertanya.


Agam membalikkan tubuh dan menggeser tubuhnya ke tepi. "Tidurlah di samping sini kalau kau ingin istirahat, aku tidak akan menyentuhmu," ucapnya tanpa menjawab pertanyaan yang Anyelir lontarkan.


"Di ranjang yang sama?" tanya Anyelir memastikan.


"Memangnya kamu melihat di sini ada ranjang lagi?"


Anyelir diam. Lantas, melepas hijabnya dan berjalan ke arah ranjang. Ia merebahkan diri di sisi kanan Agam dengan posisi miring membelakangi pria yang sudah menjadi suaminya.


"Kita sudah menjadi suami istri, Anyelir. Aku hanya mau menekankan hal itu," kata Agam yang lagi-lagi membuat Anyelir bingung mengartikan ucapan Agam.

__ADS_1


Apakah pria itu menginginkan haknya sebagai suami?


__ADS_2