
Anyelir merengut saat Agam duduk di hadapannya. Mereka berdua hendak menikmati sarapan yang telah disajikan oleh Bi Santi.
"Kenapa bibirmu dimajukan seperti itu? Apa kamu ingin aku menggigitnya?" Pertanyaan Agam seketika membuat bibir Anyelir ternganga.
Hah?
Gadis itu tak pernah percaya bahwa Agam bisa mengatakan hal seperti itu.
"Aku tidak sangka kalau dosen sepertimu bisa semesum itu!" cibir Anyelir.
"Mesum kepada istri sendiri itu pahalanya besar. Apalagi jika istri mau memberikan dirinya tanpa paksaan pada suaminya," balas Agam.
Anyelir terdiam.
"Anye ... pagi ini kita harus bersiap ke rumah orang tuamu. Bryan sudah menyiapkan bukti-bukti yang nantinya akan menjerat ibu tiri dan kakak tirimu," ujar Agam.
"Secepat itu?"
"Hem ... bukankah itu yang kamu inginkan?" tanya Agam.
"Iya, benar. Tapi ... aku takut jika ayah akan terluka nantinya." Wajah Anyelir mendadak murung. Rasa cemasnya tentang perasaan sang ayah sangatlah besar. Ia tahu, bahwa Dewi adalah wanita yang dicintai ayahnya.
Entah bagaimana perasaan sang ayah jika tahu istri yang dicintai berani melalukan tindakan kriminal kepada putri kesayangannya.
"Terluka, sakit, dan kecewa adalah hal yang wajar, Anye. Semua itu akan dirasakan oleh ayahmu sebagai balasan atas ketidak adilan yang ia lalukan padamu," ujar Agam.
Anyelir mengangguk. "Terima kasih ya, Kak. Entah kebaikan apa yang sudah aku lakukan sampai Tuhan mempertemukan aku denganmu," sahutnya dengan tulus.
"Setidaknya mulai saat ini jangan panggil aku kakak. Aku merasa seperti berhadapan dengan Aurel," keluh Agam. la memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya, lantas mengunyahnya.
"Aurel? Aku rasa dia gadis yang baik. Dia pun sepertinya ingin kau meluangkan waktu untuknya agar bisa bicara berdua denganmu." Anyelir mengingat bagaimana ekspresi Aurel saat menatap Agam. Ada rasa bersalah dan rasa sayang sebagai saudara di kedua mata Aurel.
Andai saja orang tua mereka tak berselisih paham, mungkin hubungan mereka akan lancar selayaknya saudara pada umumnya.
"Dia memang gadis yang baik. Kamu bisa berteman dengannya," sahut Agam.
Anyelir mengangguk. "Iya. Sepertinya kami memang cocok. Tapi, kami butuh waktu untuk bisa dekat," jawabnya.
__ADS_1
Acara sarapan telah usai. Agam dan Anyelir berpamitan pada Bi Santi untuk berkunjung ke rumah Elajar.
Bi Santi tersenyum dan mengantar kedua majikannya sampai ke depan pintu. "Hati-hati, ya, Tuan dan Nona," ujarnya.
Agam hanya berdehem sebagai jawaban. Sementara Anyelir memeluk wanita paruh baya itu sebentar. Lalu, masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pelataran rumah menuju rumah ayahnya.
"Kak, menurutmu apa mama dan kakak tiriku akan mengakui kesalahan yang mereka perbuat padaku?" Anyelir mendadak melempar tanya di tengah perjalanannya.
"Awalnya tidak akan. Tapi, pada akhirnya mereka pasti akan mengaku juga," sahut Agam.
"Begitu, ya ...." Anyelir tersenyum tipis karena merasa lega telah membalas segala penderitaannya selama ini dengan mempertemukannya dengan orang sebaik Agam.
"Jangan cemas, ya. Aku akan menunaikan janjiku padamu untuk membantumu. Sudah aku pastikan kalau mereka yang melukaimu akan mendapat balasannya."
Anyelir dapat melihat kesungguhan dalam ucapan Agam. "Aku percaya padamu, Kak. Terima kasih," sahutnya.
"Berterima kasihlah dengan cara yang benar."
Anyelir menoleh. "Hah? Bagaimana?" tanyanya.
"Berikan ayahmu cucu yang lucu."
Refleks, Anyelir tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan frontal dari suaminya.
"Memangnya kamu mau mempunyai anak dari wanita yang tidak kamu cintai? Bagaimana bisa kamu berkata begitu sementara hatimu masih menjadi milik wanita lain?" cibir Anyelir.
"Kata siapa?" sahut Agam cepat.
"Kataku, barusan."
Agam tertawa. "Siapa wanita yang kamu maksud?" tanyanya.
"Ya siapa lagi kalau bukan Kak Delisa," sahutnya dengan begitu santai.
"Hatiku sudah terpaut pada wanita lain. Mana bisa aku membiarkan hatiku memendam rasa pada wanita seperti Delisa."
Kedua mata Anyelir melebar. "Ternyata kamu ini playboy juga, ya. Padahal Kak Delisa sudah lama hidup bersamamu. Tapi, dengan mudahnya kamu menyukai wanita lain secepat ini," gerutunya.
__ADS_1
"Memang, kamu mau bertahan dengan pria yang suka selingkuh sampai menghamili wanita lain?" skakmat Agam yang membuat Anyelir bungkam.
"Ya tidak mau ...," cicit Anyelir.
Agam berdecih. "Rasaku pada Delisa sudah padam sejak aku melihat peristiwa menjijikkan itu. Dan di saat yang bersamaan Tuhan mengirimkan aku seorang wanita yang ternyata mampu menyembuhkan lukaku," ujarnya seraya menahan senyum saat melirik Anyelir yang seperti kaget.
'Ya Tuhan, aku ini bukannya percaya diri tingkat dewi. Tapi, kenapa ucapan pria ini mengarah kepadaku?' batin Anyelir.
Perjalanan mereka akhirnya diisi hanya dengan keheningan hingga akhirnya sampai di rumah Elajar.
"Loh, bukannya itu mobil ajudanmu, ya?" tunjuk Anyelir pada sedan hitam yang terparkir di depannya.
"Iya. Dia memang selalu mengerjakan tugasnya dengan baik. Dia datang tepat di waktu yang telah ditentukan," kata Agam bangga.
Anyelir dan Agam turun dari mobil secara bersamaan. Namun, saat hendak melangkah masuk, terdengar suara teriakan dari dalam. Anyelir pun bergegas masuk dan seketika matanya melotot saat melihat pemandangan langka di depannya.
"KAMU BERANI BERENCANA MEMBUNUH PUTRIKU, HAH?!!"
Elajar berteriak dan mendorong Dewi hingga wanita paruh baya yang sok itu jatuh tersungkur. Ulayya yang tak terima mamanya diperlakukan seperti itu memukuli Elajar dengan sekuat tenaga.
"Ayah, cukup! Kau terlalu sayang pada putrimu sampai kau lupa jika punya putri yang lain!"
Elajar menoleh ke arah Ulayya dengan mata memerah karena menahan amarah. "Lupa katamu? Lupa yang bagaimana maksudmu? Apa aku menelantarkan kamu? Apa aku tidak menyekolahkanmu? Aku bahkan memberikan fasilitas yang sama padamu seperti saat aku memberikannya pada Anyelir!" sahutnya.
"Aku bahkan rela tidak mempercayai putriku dan lebih percaya pada ucapan mamamu ini!" imbuhnya dengan dada kembang kempis.
"Ayah ..."
Elajar menoleh ke sumber suara. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya tumpah saat melihat sang putri datang dan mendekat ke arahnya.
"Ayah... tenangkan dirimu. Jangan ikuti nafsu dan amarahmu. Biarkan hukum saja yang memproses mereka," kata Anyelir seraya mengusap lengan Elajar untuk menenangkan ayahnya itu.
"Anye...." Elajar memeluk Anyelir seraya mengucapkan maaf berulang kali.
"Maafkan ayah, nak. Seharusnya ayah percaya padamu. Mamamu pasti sedih karena aku telah membuatmu menderita." Elajar melerai pelukannya. Lantas, membingkai wajah Anyelir dengan kedua tangannya.
"Maafkan ayahmu yang tidak berguna ini. Di hari itu, kamu pasti sangat marah padaku karena tidak mempercayaimu. Padahal, kamu sangat butuh perlindungan," sesal Elajar.
__ADS_1
Anyelir terharu. Bulir-bulir bening merembes dari kedua matanya. Akhirnya, ayahnya tahu tentang kebenaran dari apa yang terjadi saat malam itu. Di mana Dewi dan Ulayya bersekongkol menyuruh beberapa penjahat untuk melecehkannya.
"Aku sudah memaafkan ayah. Sudahlah, jangan terlalu memikirkan hal itu. Lagi pula, saat itu aku telah dipertemukan dengan pria yang sekarang sudah menjadi suamiku," sahut Anyelir sambil menatap Agam yang mengangguk sopan pada Elajar.