
Hati Anyelir mendadak cemas. Pikirannya melayang memikirkan sang ayah yang mendadak sakit. Padahal, sewaktu tragedi pengusiran dirinya, ayahnya masih sehat-sehat saja.
"Tenanglah, bersikap sewajarnya. Aku akan membantu mencari informasi tentang ayahmu," bisik Agam di telinga Anyelir.
Kedua mata Anyelir memandang sendu Agam yang justru menatapnya penuh yakin.
"Ayah, dia adalah putri Elajar yang dikabarkan hilang itu," ungkap Agam yang membuat semua orang terkejut.
"Apa? Bagaimana mungkin? Tapi yang aku dengar putrinya itu sudah mati. Dan itu yang membuat Elajar jatuh sakit," sahut Arsenio apa adanya.
"Mas Nio, lebih baik kita suruh Agam dan Anyelir duduk dulu. Masa kita biarkan mereka dari tadi berdiri saja?" Bella, istri kedua Arsenio menyela. Wanita itu tersenyum ke arah Anyelir.
Anyelir pun ikut tersenyum, membalas Bella. Lantas, pandangannya beralih pada seorang gadis muda yang kemungkinan usianya sama dengan dirinya. Gadis itu tampak tak ramah padanya. Wajahnya judes, bahkan ketika Anyelir tersenyum, gadis itu malah melengos.
Anyelir ingin tahu siapa mereka berdua. Namun, seketika ucapan Agam kembali terngiang. Ucapan yang menyuruhnya untuk tetap diam dan tidak bertanya apa pun tentang keluarganya.
"Ayo, kita duduk Anyelir," ajak Agam. Anyelir mengangguk. la duduk bersebelahan dengan Agam dan berhadapan dengan Arsenio.
Arsenio menarik udara untuk pasokan paru-parunya. Lantas menghembuskan perlahan-lahan. Dipandanginya Agam dan Anyelir secara bergantian. Ia sadar, telah menorehkan luka yang begitu dalam pada Agam. Namun, ia bisa apa jika takdir memaksanya harus melakukan poligami?
"Jadi, kalian mau menikah?" tanya Arsenio pada putra dan gadis pilihannya.
"Iya. Karena itulah kami datang ke mari," sahut Agam.
Arsenio manggut- manggut. "Sebelum aku memberimu restu, apa kamu mau bicara dengan ayahmu ini berdua saja?" pintanya.
Agam menghela napas kasar. "Kita bisa bicara di sini," sahutnya, menolak ajakan ayahnya.
"Ayah mohon. Jika kamu masih menggapku sebagai ayahmu." Arsenio menatap Agam dengan mata penuh harap.
Agam menghela napas, lantas menjawab, "Baiklah...."
Arsenio tersenyum tipis. Ia bangun dan berjalan ke ruang kerjanya. Ia menyuruh Agam mengikutinya melalui lirikan
"Tunggu di sini sebentar, ya. Aku mau ngobrol dulu sama ayah," pamit Agam pada Anyelir.
"lya." Anyelir menjawab seraya mengukir senyum.
Sepeninggal Agam, Jasmine menghampiri Anyelir dan duduk di samping gadis yang akan segera menjadi menantunya. Wanita paruh baya itu mengusap lengan Anyelir seraya mengatakan, "Titip Agam, ya...."
Anyelir menoleh menatap Jasmine dengan pandangan heran. Sebagai jawaban, Anyelir hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Mbak Jasmine. Jadi, kamu sudah memberikan restu pada Agam?" Bella tiba-tiba menimpali.
"Iya. Jika Agam bisa bahagia bersama Anyelir, tentu saja aku akan memberikan putraku restu," jawab Jasmine tanpa menatap adik madunya.
"Tapi, bagaimana kalau Mas Nio tidak merestui mereka? Bukankah, Mas Nio sudah tahu semua tentang keluarganya?" sahut Bella seraya menunjuk Anyelir dengan dagunya. "Dia berasal dari keluarga yang berantakan," celetuknya.
Anyelir menahan diri untuk tidak terpancing emosi. Siapa wanita itu sampai berani bicara seperti itu? Apa dia adiknya Tante Jasmine? pikirnya menebak- nebak.
"Jika Anyelir berasal dari keluarga yang berantakan, begitu pula dengan Agam. Lalu, apa bedanya mereka?" Skakmat Jasmine yang sontak saja membuat Bella bungkam.
Wanita itu memang usianya jauh lebih muda dibandingkan dengan Jasmine. Mungkin saja, Bella merasa bahwa ia lebih unggul jika dibandingkan dengan Jasmine yang notabennya adalah nyonya sekaligus istri pertama dari Arsenio, pengusaha sukses yang tak diragukan lagi namanya di dunia bisnis.
"Mbak Jasmine, apa kamu belum bisa menerima semua takdir ini? Lagi pula, aku datang baik-baik bersama Mas Nio dulu. Bagaimana bisa kamu menilai kalau keluarga kita ini berantakan?" tukas Bella. Suaranya pelan dan lembut. Akan tetapi entah mengapa terdengar sangat menjengkelkan.
"Aku kira kamu tak membutuhkan penjelasan karena kamu sudah tahu secara detail apa yang terjadi di rumah ini beberapa tahun yang lalu." Jasmine nampak tenang meski hatinya tercabik karena ucapan Bella yang mengesalkan.
"Mbak Jasmine ...."
"Hentikan, Bella. Ada Anyelir yang tidak pantas mendengar perdebatan antara kita." Jasmine memotong ucapan Bella.
Bella hanya menghela napas. Ia kemudian beralih menatap putrinya yang sejak tadi hanya diam bermain ponsel.
"Aurel, apa kamu tidak ada acara hari ini?" tanyanya.
"Sabar, sayang. Kamu harus nurut sama ayahmu agar semua lancar. Lagi pula mereka tidak akan lama di sini," ujar Bella seraya mengusap rambut panjang Aurel yang tergerai.
Sementara Jasmine berusaha tenang tanpa memedulikan ibu dan anak yang duduk berseberangan dengannya.
Agam duduk di hadapan Arsenio. la diam, menunggu sang ayah melontarkan kalimat demi kalimat yang entah apa sampai membuatnya harus berada di ruangan itu hanya berdua saja.
"Anakku...." Arsenio memanggil lirih dengan mata berkaca-kaca. "Apa kamu membenci ayahmu ini?" tanyanya.
Agam mendesah kasar. "Apa perlu menanyakan hal itu? Kita fokus saja pada tujuan awalku datang ke sini," sahutnya.
Agam merasa tidak nyaman jika harus membicarakan tentang urusan keluarga. Sebab, sama saja dengan Arsenio membuka luka lamanya yang masih belum benar-benar sembuh.
Arsenio mendesah, merasa kecewa dengan jawaban Agam. Jika sudah begitu, pasti putranya itu memang belum bisa memaafkannya.
***
"Maafkan ayah, nak. Kalau begitu kita bahas ini lain kali saja. Asal kamu tahu, saat mendengar kabar dari mamamu bahwa kamu akan datang ke sini, ayah merasa sangat bahagia, nak," ungkap Arsenio seraya tersenyum tulus.
__ADS_1
Hati Agam mulai terusik, apalagi tatapan itu sangat membuatnya tidak nyaman. Tatapan yang sangat berbeda dari dua belas tahun yang lalu ketika sang ayah mengusirnya dari rumah itu.
"Kenapa kamu tidak pernah pulang sama sekali untuk menjenguk ayahmu ini." Ingin sekali Arsenio memeluk Agam yang sudah tumbuh dewasa. Agam tumbuh dengan paras tampan yang mirip sekali dengannya saat masih muda.
Namun, itu hanya keinginan dalam angannya saja. Sebab, Arsenio yakin jika Agam tak akan mau disentuh olehnya.
"Apa kau menyesal?" Akhirnya, Agam mengikuti alur pembicaraan yang berkutat dengan luka dan hubungan kekeluargaan.
"Iya, nak... ayah sangat menyesal. Kembalilah tinggal di sini bersama ayah," pinta Arsenio.
"Tidak mungkin aku kembali ke sini jika istri muda dan putri kesayanganmu masih tinggal di sini," tegas Agam.
Arsenio hanya diam seraya tertunduk.
Agam berdecak. "Bahkan kau tidak bisa berada jauh dari mereka berdua," ujarnya saat sang ayah hanya diam. "Sudahlah, kita bahas tentang pernikahanku saja. Aku akan segera menikahi Anyelir dalam bulan ini," putusnya.
"Anyelir ... apakah dia benar-benar putri Elajar yang dikabarkan hilang dan mati itu?" tanya Arsenio yang mulai fokus membahas masalah putranya.
"Begitulah... aku juga akan membantu Anyelir untuk menangkap orang-orang yang sudah mencelakainya," sahut Agam.
Arsenio manggut- manggut. "Kamu bisa dengan cepat membasmi mereka dengan mengatakan siapa kamu sebenarnya, nak. Kamu adalah pewaris dari keluarga Lagathias," tukasnya.
"Tidak perlu. Aku tidak perlu menggunakan nama itu untuk memberi orang- orang jahat itu pelajaran," tolak Agam. "Meski tanpa nama Lagathias, aku yakin bisa membuat mereka takluk."
Arsenio tersenyum tipis. "Baiklah kalau begitu. Ayah memberikanmu restu untuk menikahi Anyelir," ucapnya.
Agam tersenyum. "Terima kasih. Kalau begitu, aku akan langsung pulang bersama Anyelir. Jaga dirimu baik- baik," ucapnya.
Arsenio tersenyum tipis mendengar Agam yang masih peduli padanya. Ditatapnya sang putra yang semakin menjauh dengan perasaan haru. Sayangnya, ia tak bisa membuat putranya itu kembali tinggal bersamanya.
***
"Anye, ayo, kita pulang!" ajak Agam saat sudah berada di ruang tengah.
"Kenapa buru-buru? Bagaimana jawaban ayahmu? Apa ayahmu setuju?" sahut Jasmine.
"Iya. Ayah sudah setuju. Aku harus segera pulang, Ma. Banyak urusan yang harus aku selesaikan," tukas Agam.
Anyelir mengangguk saat Agam menatapnya. Ia berdiri dan hendak salim pada Jasmine.
"Setidaknya makanlah dulu di sini sebelum pulang," ujar Jasmine.
__ADS_1
"Sebelum ke sini kami sudah makan, Ma. Aku pergi dulu." Agam memeluk sang mama, lantas berlalu pergi diikuti oleh Anyelir yang baru saja selesai salim pada Jasmine.
Anyelir bertanya-tanya. Mengapa Agam tidak memedulikan Bella dan Aurel?