Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Pretend


__ADS_3

Anyelir merenungkan kembali tawaran Agam. Ia harus berpikir masak-masak sebelum mengambil keputusan. Agam bilang, ini hanya pura-pura. Jadi, bukan masalah untuk dia menjalaninya. Dan Bi Santi sendiri bilang, bahwa ini adalah jalan yang harus dipilihnya.


Di ruang lain, Agam tengah mengobrol dengan seseorang di telepon. Obrolan yang serius sampai otot-otot lehernya terlihat jelas.


"Cari tahu tentang keluarganya, dan laporkan padaku semuanya!" tegas Agam. Ia mematikan teleponnya. Kemudian berjalan ke jendela dan menatap ke bawah. Di mana Anyelir sedang merenung sendirian setelah Bi Santi pergi.


Agam akan mencari tahu sendiri tentang Anyelir dan keluarganya. Menanyakan langsung kepada Anyelir, tentu gadis itu tidak akan memberinya informasi secara detil.


Ponsel Agam berdering, tertera nama Delisa di layarnya.


Cih!


Pria itu hanya berdecih. Jika dulu, ia sangat senang saat wanita itu mengabarinya, kini rasa senang itu telah berganti menjadi rasa muak. Ia lebih memilih mengabaikan telepon Delisa dan memilih keluar kamar.


"Tuan Agam? Mau makan?" tawar Bi Santi saat Agam lewat.


"Tidak, terima kasih." Agam duduk di kursi meja makan. Ia menatap Bi Santi, ingin menanyakan sesuatu.


"Bi Santi?" panggilnya.


"Iya, Tuan. Ada apa?" sahut Bi Santi.


Bi Santi adalah orang terdekat Agam selama ini. Selalu menemaninya sejak sepuluh tahun terakhir. Namun selama itu, Agam tidak pernah tahu tentang asal usul Bi Santi. Yang ia tahu, Bi Santi hanyalah wanita yang hidup sendiri dan mempunyai hati yang lembut.


"Bagaimana pendapat Bi Santi tentang Anyelir?" tanya Agam.


Bi Santi tersenyum. la berhenti mencuci piring dan membasuh tangannya. Lantas, duduk berhadapan dengan Agam.


"Pendapat tentang apa?" tanya Bi Santi sambil menahan senyum.


"Apa gadis itu bukan penipu?"


Bi Santi menggeleng. "Bagaimana ada gadis menipu dengan membahayakan nyawanya, Tuan Agam? Kalau menurut bibi, Non Anye itu gadis baik-baik. Dia bicaranya jujur. Hanya saja, dia belum siap jika harus membuka semua tentang kehidupannya," papar Bi Santi.


Agam mengangguk. "Iya, sepertinya begitu. Dia masih belum benar-benar percaya sama kita."

__ADS_1


"Pelan-pelan. Dia pasti bisa terbuka. Bibi yakin," tukas Bi Santi.


***


Suasana malam di rumah Agam semakin sunyi. Anyelir berencana menemui Agam dan membahas tawaran pria tersebut.


"Apa dia sudah tidur?"


Ceklek!


Di depan kamar Agam, Anyelir mengetuk pintu. Belum ada jawaban dari dalam.


Anyelir pun berbalik, karena Agam tak kunjung keluar. Mungkin memang dia sudah tidur karena malam sudah larut.


Anyelir berhenti.


"Ada apa?" Agam bertanya. Anyelir pun menoleh, tapi masih dengan wajah tertunduk.


"Aku mau bicara tentang tawaran Tuan tadi," sahut Anyelir.


"Kau sudah buat keputusan?" Anyelir mengangguk.


Di ruang tengah, Anyelir dan Agam duduk berhadapan dengan dipisahkan oleh meja. Hening menyelimuti mereka berdua untuk beberapa saat.


"Jadi, apa jawabanmu?" Agam memulai obrolan.


"Sebelum aku menjawab, aku mau bertanya dulu."


Agam mengangguk. "Katakan!"


"Apa Tuan orangnya terkenal?"


Agam menaikkan satu alisnya. Pertanyaan tersebut sungguh di luar dugaannya. Terdengar aneh dan lucu di telinganya. "Memang kenapa kau tanya begitu?"


"Soalnya, kalau Tuan itu dikenal banyak orang. Status pertunangan ini juga akan mencuat. Dan hal itu pasti akan terdengar oleh keluargaku," papar Anyelir.

__ADS_1


"Apa kau takut mereka tahu?"


"Bu-bukan begitu. Hanya saja, aku khawatir Tuan akan dijadikan sasaran berikutnya oleh orang-orang jahat itu!"


"Jadi ... intinya, kau khawatir padaku?" cetus Agam, membuat Anyelir mencebik.


"Maksud aku bukan begitu. Aku hanya tidak ingin ada orang yang celaka gara-gara berhubungan denganku," lirih Anyelir.


"Tidak perlu mengkhawatirkan aku. Kita akan menjalaninya meski hanya pura-pura. Dan jika sampai terjadi pernikahan, kita pun harus melakukannya."


Anyelir sontak melotot. Ia tak menyangka pria di hadapannya sampai mempunyai ide seaneh itu.


Menikah? Yang benar saja!


"Tuan, jangan bicara hal mustahil begitu! Bukannya kita hanya membahas tentang pertunangan? Kenapa malah merembet ke pernikahan?" protes Anyelir.


Agam menahan senyum, saat melihat ekspresi di wajah Anyelir. Matanya yang pada dasarnya lebar semakin lebar saat melotot. Dan itu membuat Agam sedikit gemas.


"Anyelir? Apa kau menganggap kalau ini sungguhan? Pertunangan ini hanya ada di atas kertas. Jika ada pernikahan, itu juga hanya tertulis di atas kertas. Aku tidak akan menikahimu secara serius, karena aku hanya akan menikah dengan wanita yang benar-benar aku cintai. Jadi jangan berpikir terlalu serius!" papar Agam, seketika membuat Anyelir lega sekaligus malu.


"Jadi, intinya hanya dilandaskan karena untuk saling menolong?" tandas Anyelir.


"Ya. Kau harus pura-pura menjadi tunanganku. Calon istriku! Agar seseorang tidak lagi mendekatiku!" kata Agam.


"Dan sebagai gantinya, aku akan membantumu membersihkan namamu dan membuat orang-orang yang jahat padamu bisa dihukum. Bukankah itu yang kau mau?"


Anyelir mengangguk mantap. la sudah memikirkannya seharian. Jika memang ia harus membalaskan rasa sakitnya, maka ia pun harus berkorban. Lagi pula, Agam sudah berkata bahwa jika ada pernikahan, maka pernikahan itu hanya ada di atas kertas.


"lya. Itu memang yang aku mau." Anyelir menarik napas panjang.


Lalu menghembuskan.


"Aku setuju dengan tawaran ini."


Agam tersenyum samar. "Baik. Tugasmu tidak harus secepatnya. Kau harus menyembuhkan luka-lukamu dulu. Setelah itu, permainan akan kita mulai. Tunggu saja!"

__ADS_1


Anyelir mengangguk. Ia pun tidak sabar untuk membalaskan la penghinaan dan rasa sakit yang ditorehkan mama tiri dan adik tirinya.


Betul apa betul?


__ADS_2