Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Disappointed


__ADS_3

Agam dan Anyelir sudah sampai di rumah. Gadis itu turun dari mobil, disusul oleh Agam di belakangnya. Suasana rumah sudah sepi dan lengang. Mungkin saja Bi Santi sudah beristirahat.


"Kak?" panggil Anyelir kala Agam mendahului langkahnya.


"Ya, kenapa?" sahut Agam seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Itu ... kapan rencana pernikahan kita?" Anyelir menggigit bibir bawahnya usai mengatakan hal itu. Entahlah, ia merasa malu sendiri.


Astaganaga Anye!


"Kenapa? Kamu buru-buru sekali? Apa karena baru saja menghadiri acara pernikahan kamu jadi ingin disegerakan?" tanya Agam.


"Hah, apa? Bukan, bukan begitu maksudku. Aku hanya merasa tidak nyaman jika tinggal bersama pria asing tanpa status yang jelas," ungkap Anyelir seraya menundukkan kepala.


"Aku tahu, kamu berniat membantuku dan mengizinkan untuk tinggal di sini. Namun, bukankah tidak baik tinggal satu atap tanpa ada sebuah hubungan di antara kita?" imbuhnya.


Agam bergeming sesaat. "Jika sudah waktunya, pernikahan itu akan terjadi. Jadi, tidak usah cemas. Sekarang tidur lah!" titahnya. Ia pun kembali melangkah, menuju kamarnya.


Huh!


Anyelir mengembuskan napas pelan. Ia berjalan ke kamarnya untuk melepas penat. Setibanya di kamar, Anyelir bergegas membersihkan diri, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk hingga tak menunggu lama, kesadarannya mulai hilang dan ia pun terlelap.


Sementara itu, Agam memilih duduk menghadap laptop untuk mengecek perkembangan perusahaan Lagathias. la memiliki akses untuk membuka data-data perusahaan dari pembobolan yang dilakukannya.


Bukan untuk bermaksud buruk. Agam hanya tidak ingin jika ayahnya terkena pengaruh ucapan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, di mana hal itu bisa menghancurkan perusahaan

__ADS_1


Agam mengakui jika ia masih marah pada sang ayah. Alasan Arsenio, sang ayah untuk berpoligami pun sampai sekarang tak diketahui karena ia selalu menghindar ketika ayahnya hendak memberi penjelasan.


Namun, bukan berarti rasa kepeduliannya hilang begitu saja terhadap ayahnya. Agam yakin, bahwa ada beberapa orang yang bekerja di perusahaan sedang berusaha menyingkirkan sang ayah.


"Sejauh ini masih aman," gumam Agam. Ibu jari dan telunjuknya mengusap-usap dagu seraya matanya fokus pada layar laptop.


Agam meraih ponselnya. Ia menghubungi seseorang yang merupakan koneksi antara ia dengan Lagathias Group. Tentu saja, setiap ada hal yang mengganjal, orang itu akan melaporkan semuanya pada Agam.


"Halo, Tuan Muda?" Suara pria di seberang telepon terdengar jernih.


"Kamu belum istirahat?" tanya Agam seraya melirik jam di sudut layar laptopnya.


"Belum, Tuan. Sebenarnya saya baru saja akan menghubungi anda. Tapi, saya ragu. Takutnya anda sudah tidur. Eh, ternyata anda yang menelpon saya duluan. Syukurlah... memang kalau ada chemistry pasti akan disambungkan secara batin."


Agam tersenyum tipis. "Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" tanyanya.


"Lanjutkan!" titah Agam saat lawan bicaranya berhenti bicara. Mungkin sedang menunggunya untuk memberi respons.


"Tapi, saya melihat ada beberapa orang yang wajahnya berubah masam ketika mendengar niat Tuan Nio. Mungkin, mereka akan berusaha untuk menghentikan Tuan Nio melaksanakan rencananya," jelasnya.


"Wajahnya sudah kamu tandai, bukan?"


"Tentu saja, Tuan Muda. Semua wajah mereka sudah saya simpan baik-baik di memori otak saya."


"Baiklah, terima kasih. Jika ada waktu luang datang lah ke rumah," kata Agam.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Saya harap anda bisa segera bergabung dengan Lagathias Group. Sebab, saya yakin jika anda adalah orang yang paling tepat menggantikan posisi Tuan Nio. Terlepas anda adalah anak kandung Tuan Nio sendiri."


"Do'akan saja. Aku pasti akan datang ke Lagathias Group jika sudah waktunya. Sekarang istirahatlah!"


"Baik, Tuan Muda. Selamat malam."


Agam mematikan laptopnya. Lantas berjalan ke ranjang dan mengempaskan tubuhnya di sana.


"Lagathias ... memikirkannya saja kepalaku terasa berat," gumamnya. Setelah itu, ia pun terlelap menuju alam mimpi.


***


Pagi ini, keluarga Lagathias sedang berkumpul di ruang makan sembari menikmati sarapan dengan beberapa menu pilihan yang tersaji di atas meja.


Arsenio Lagathias duduk di ujung meja. Di sisi kanannya ada Jasmine yang duduk sendiri. Sedangkan di sisi kiri, ada Bella dan Aurel yang duduk berdampingan.


"Aurel, apa hari ini kami ada jadwal kuliah?" tanya Arsenio di sela-sela makan mereka.


"Ada, Yah," jawab Aurel.


"Baiklah kalau begitu." Arsenio kembali melanjutkan sarapannya.


Sementara Bella merasa penasaran karena suaminya mendadak melempar tanya pada Aurel. Hal tersebut adalah hal yang sangat langka terjadi.


"Mas, tumben sekali kamu bertanya pada putri kita? Apa ada yang ingin kamu inginkan dari Aurel?" Bella bertanya dengan suara yang begitu lembut. Tangan kanannya menyentuh tangan kiri Arsenio yang berada di atas meja.

__ADS_1


"Habiskan dulu makanannya," sahut Arsenio. Bella berusaha melempar senyum meski merasa hatinya sedikit tersinggung.


Arsenio menolak menjawab pertanyaannya di depan Jasmine. Hal ini tak pernah terjadi sebelumnya. Sebab, Arsenio selalu menjawab semua pertanyaannya dan selalu memprioritaskan dirinya ketimbang Jasmine. Tangannya ditarik lagi dan ia pun melanjutkan sarapannya.


__ADS_2