
"Iya begitulah, nak jika dengan orang lama, sudah pasti saya mengenal sifatnya." Jawaban Elajar yang begitu sederhana namun terlalu sempit jika dijabarkan.
"Pak Elajar, pikiran anda kurang jauh ternyata. Tidak seharusnya anda menilai seseorang dari lama atau barunya saling kenal. Orang yang sudah lama anda kenal, belum tentu dia baik. Bisa saja kebaikannya hanya sebuah topeng yang digunakan untuk menutupi wajah aslinya."
Ucapan Agam barusan seketika mampu membuat Dewi tersindir. Wanita dengan tatanan rambut panjang bergelombang itu hanya mencebik mendengar penuturan Agam.
Wajah Elajar sedikit murung. Namun, hanya beberapa detik saja. Setelahnya ia berusaha menguasai diri meski pikiran buruknya mengarah kepada Dewi.
"Pak Elajar, maafkan kami. Tidak ada maksud putra saya untuk menyinggung siapa pun. Yang dia sampaikan adalah pengalaman pribadinya. Dia bicara begitu agar anda tidak melihat sesuatu dari satu sisi saja," sela Arsenio yang ikut bicara.
Elajar mengangguk. Ia mengernyit kala mendengar suara Arsenio yang menurutnya tidak asing. Wajah Arsenio pun tidak asing di benaknya. Seolah ia pernah bertemu dengan pria berkaca mata itu.
"Oh, tidak apa-apa, Pak. Tidak masalah. Saya paham, kok." Elajar mengangguk sambil tersenyum hingga memperlihatkan deretan giginya.
"Ya sudah. Kalau begitu kita lupakan saja masalah ini. Kita fokuskan saja acara ini ke tujuan awal," tegas Arsenio.
Elajar mengangguk. "Ya, Pak. Silakan, anda bisa mengutarakan niat anda sekeluarga datang ke sini," sahutnya.
Arsenio menarik udara dan mengembuskannya perlahan.
"Jadi, kedatangan saya ke sini, adalah untuk melamar putri anda Anyelir Argasana untuk putra saya, Agam Lag-- ...."
Arsenio berdeham. "Maaf saya ulangi. Kedatangan kami kemari adalah untuk melamar putri anda Anyelir Argasana untuk putra saya, Agam," ujarnya sambil menunjuk Agam dengan tangan terbuka.
Elajar menatap Anyelir kembali. Sementara Dewi yang sudah merasa gerah membisikkan sesuatu di telinga sang suami. "Sudah, terima aja! Dari pada putrimu nanti buat ulah lagi!"
Elajar bergeming dan berpikir keras.
Sementara Anyelir mencoba bersikap tenang meski mendengar bisikan Agam yang masih menjelekkan dirinya. Siapa yang membuat ulah dan siapa pula yang disalahkan?
"Jangan ragu. Ayah bisa menerima ucapan Mama Dewi tanpa harus berpikir, kan? Seperti saat itu ...."
__ADS_1
"Anye ...," lirih Elajar. Namun, Anyelir hanya tersenyum sebagai balasan.
"Apa yang anda ragukan, Pak Elajar?" tanya Jasmine yang melihat kegelisahan dalam gerak tubuh calon besannya.
"Maaf, sebelumnya. Saya hanya cemas jika kebutuhan Anyelir nanti tidak tercukupi. Sebab, selama ini saya berusaha untuk mewujudkan apa yang diinginkan Anyelir," jawab Elajar.
"Termasuk kebebasan dan haknya?" sahut Agam cepat.
"Apakah selama ini anda benar-benar telah menunaikan tugas dan kewajiban anda sebagai seorang ayah?" tanya Agam lagi.
"Maksud kamu apa?" tanya Elajar yang sedikit terpancing emosi.
"Maaf, jika saya kurang ajar. Tapi, putri anda pernah berada di masa terberatnya karena kurangnya ketegasan anda sebagai kepala keluarga," ungkap Agam.
"Dan sekarang, anda bersikap seperti ayah yang sangat peduli pada putrinya. Anda bahkan takut jika Anyelir tidak bisa saya nafkahi. Apakah saya terlihat begitu rendah di mata anda?" imbuh Agam. Suaranya terdengar pelan. Akan tetapi, begitu tegas dan tidak bertele- tele.
"Nak, tenanglah ...," ujar Jasmine seraya mengusap lengan Agam.
"Ehm, bukan begitu maksud saya, nak. Tidak ada niat saya untuk merendahkan kamu," sanggah Elajar.
Elajar menghela napas panjang. "Iya, baiklah kalau memang itu yang kamu inginkan, nak. Ayah merestui kalian. Ayah menerima lamaran ini agar kamu bahagia," putusnya.
Arsenio dan Jasmine tersenyum karena akhirnya dari pertemuan tersebut sudah memiliki kesimpulan dan jawaban.
"Alhamdulillah," gumam Agam.
'Huft, tidak dari tadi aja keputusannya. Pakai acara basa-basi segala,' batin Dewi.
"Jadi, kapan rencana pernikahannya? Apa ada pesta resepsi juga?" tanya Dewi pada Agam dan kedua orang tuanya.
"Rencana kami pernikahannya akan berlangsung akhir bulan ini. Dan tidak ada acara pesta. Kami hanya akan mengundang anak-anak yatim dan dhuafa saja," sahut Agam. "Benar begitu, kan?" tanyanya pada Anyelir.
__ADS_1
Anyelir mengangguk. "Iya. Konsep yang kami buat memang seperti itu," sahutnya.
"Tapi, kenapa tidak ada pesta? Pernikahan ini seharusnya digelar dengan megah" protes Elajar.
"Kami tidak membutuhkan kemegahan, Yah. Kami ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim saja." Anyelir menyahut.
Elajar menatap Arsenio dan Jasmine seolah meminta penjelasan. Namun, mereka berdua hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
Arsenio dan Jasmine tahu jika Agam sengaja membuat pernikahan yang sederhana agar tidak ada yang tahu tentang jati dirinya.
"Pak Elajar. Ini semua murni keputusan anak-anak kita. Alangkah baiknya jika kita mendukung apa yang mereka inginkan," ujar Arsenio menasehati.
"Iya, Mas. Mereka benar. Lagi pula niat mereka kan baik," imbuh Dewi.
Elajar akhirnya setuju dengan keputusan yang dibuat oleh Agam dan Anyelir. "Baiklah kalau begitu. Tapi, aku punya syarat yang harus kalian penuhi," ucapnya.
"Silakan, katakan!" Agam menjawab dengan raut wajah setenang mungkin.
"Biarkan Anyelir tinggal di sini lebih dulu sebelum pernikahan digelar. Lagi pula, bukan kah tidak baik membiarkan pria dan wanita tinggal satu atap?"
Semua orang bergeming. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Elajar.
"Ya, memang benar apa yang anda ucapkan, Pak Elajar," sahut Arsenio. Ia lantas menoleh ke arah Anyelir dan melempar pertanyaan pada gadis itu. "Jadi, bagaimana, nak? Apa kamu mau tinggal di sini dulu? Lagi pula rumah ini adalah rumahmu."
Anyelir nampak keberatan dengan usulan itu. Ia tak akan keberatan jika hanya ada ayahnya saja. Namun, ada Dewi dan Ulayya nanti yang tentu akan mengganggunya lagi. Ia menatap Agam, mencoba meminta pertolongan melalui sorot matanya.
Agam menghela napas. "Tidak usah memberi syarat yang akan membuat putrimu tertekan, Pak. Meskipun kami tinggal satu atap, tapi kami bisa menjaga diri karena saya dan Anyelir jarang sekali bertemu atau bertatap muka," ucapnya, menolak persyaratan yang diajukan oleh Elajar.
"Tapi, kalian ...."
"Ayah, percayalah kalau aku baik-baik saja. Bukankah aku bisa bertahan dan selamat dari kematian yang sudah tersebar beritanya?" Anyelir menyela ucapan sang ayah.
__ADS_1
Elajar mendesah pelan. Sebenarnya niatnya ingin Anyelir tinggal adalah agar ia bisa menghabiskan waktu dengan putrinya itu. Namun, sepertinya Anyelir sudah tidak ingin menemaninya lagi.
"Jika memang itu sudah menjadi keputusanmu, ayah akan menerimanya. Tapi jangan lupa tinggalkan jejak like, fav, vote, hadiah, rating dan follow juga akun penulis ini ya, nak." Ucap Elajar pada akhirnya.