Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Bella's Aware


__ADS_3

"Aurel, apa kamu baik-baik saja?" Bella bergegas menemui sang putri saat kabar mengerikan tadi terdengar oleh telinganya.


Wanita berambut panjang itu menangkup wajah Aurel dengan raut wajah khawatir. Saat kejadian yang menimpa Aurel terjadi, ia masih terlelap dan bangun ketika Arsenio membangunkannya dan memberi tahu bahwa Aurel hampir saja dilecehkan.


"Aku baik-baik saja, Ma. Semua berkat Kak Agam yang bergerak cepat menolongku," sahut Aurel. Tangannya menyentuh tangan Bella yang menyentuh pipinya.


Kening Bella berkerut. "Agam?" gumamnya bertanya.


Aurel mengangguk. Ia melepas tangan Bella dan berjalan ke arah jendela seraya melipat tangannya di depan dada.


"Sudah kubilang kalau Kak Agam itu adalah orang yang baik, Ma. Dia tidak akan diam saja melihat keluarganya terluka."


Bella terdiam. Ia terduduk di sofa dengan kepala menunduk. Rasa malunya seketika membesar saat tahu bahwa anak dari kakak madunya ternyata masih memiliki rasa simpati. Padahal selama ini, ia tak pernah memperlakukan Agam dengan baik. Ia selalu berusaha untuk merebut apa yang sudah menjadi hak Agam.


"Mama, aku tahu jika mama berusaha memberikan aku kehidupan yang layak. Tapi, aku tidak akan bahagia jika mama mencoba mengambil apa yang sudah seharusnya menjadi milik Kak Agam," ujar Aurel, dengan tegas. "Jika sampai itu terjadi, mama akan berhadapan langsung dengan putrimu ini!" ancamnya.


Bella menghela napas panjang. "Apa yang kamu inginkan, nak?" tanyanya.


"Kita pergi dari rumah besar itu. Bilang sama ayah jika kita akan menempati rumah kita sendiri. Rumah besar itu milik Mama Jasmine dan Kak Agam sejak awal. Tidak seharusnya kita ada di sana." Aurel menatap wajah sang mama yang nampak ragu.


Gadis muda itu melangkah mendekati Bella dan menggenggam tangannya. "Ma, ayah sudah cukup baik karena mau mengurus kita. Seandainya saja, Kak Agam dan Mama Jasmine tahu alasan ayah menikahi mama, pasti Kak Agam akan kembali ke rumah," tuturnya.


"Bagaimana mereka mau tahu, Rel? Kamu sendiri tahu jika setiap kali ayahmu mau menjelaskan, mereka selalu menghindar," sahut Bella.


"Aku yang akan bicara sama Kak Agam. Semua ini harus segera diselesaikan karena aku sudah lelah. Aku lelah mempunyai keluarga utuh tapi keluarga itu begitu dingin. Tak sehangat keluarga yang lain. Apalagi saat aku melihat Mama Jasmine. Setiap kali aku menatap matanya, hanya ada luka yang berusaha dikubur olehnya." Aurel berucap dengan kedua matanya yang menatap lurus ke depan.


"Jasmine?" gumam Bella.


Aurel mengangguk. "Jika aku dulu hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa, sekarang aku tahu bagaimana perasaan Mama Jasmine." la menjeda ucapannya seraya menarik napas sejenak.


"Tidak ada wanita yang mau berbagi suami, Ma. Sekalipun ada, pastilah mereka akan tersiksa secara batin. Setiap hari, selalu dihantui oleh rasa cemburu dan rasa sedih karena pikiran tertuju pada satu pertanyaan yang tak kunjung. mendapat jawaban," ujarnya. "Mama tahu apa pertanyaan itu?" tanyanya pada Bella.


Bella yang mendapat pertanyaan itu hanya menggeleng. Selama ini, ia selalu bersikap cuek pada Jasmine. Sejak beberapa tahun lalu ia masuk dan menjadi keluarga Lagathias, ia selalu melihat Jasmine sebagai wanita yang berwibawa dan anggun. Bahkan, meski suaminya menikah lagi, wanita itu tetap bersedia mendampingi Arsenio. Suami mereka bersama.

__ADS_1


"Pertanyaan itu tak akan mama temukan karena mama adalah orang ketiga. Aku harap, nanti aku tak akan pernah memetik apa yang telah mama lakukan pada Mama Jasmine." Aurel berdiri dan hendak berlalu.


Namun, dengan cepat Bella menarik tangan putrinya seraya berkata," Obrolan kita belum selesai, Rel. Katakan pada mama pertanyaan apa yang selalu dipikirkan oleh Jasmine!"


"Mama sungguh ingin tahu, ya?" tanya Aurel sambil mengukir senyum tipis.


Aurel menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Bella. la menarik napas panjang. Lantas menatap wajah Bella dengan tatapan dalam.


"Apa kurangnya aku sehingga suamiku menikah lagi?"


Deg!


Satu kalimat pertanyaan yang Aurel lontarkan membuat seluruh tubuh Bella membeku.


"Mama pasti tak pernah berpikir sejauh itu, kan? Kita tahu kalau Mama Jasmine adalah wanita yang sempurna. Cantik, kaya, dan baik hati. Tapi, di balik kesempurnaannya itu, suaminya menikah lagi dan aku adalah hasil dari pengkhianatan itu." Aurel berucap lirih di akhir kalimatnya.


"Nak, mama dan ayahmu tidak berkhianat. Kami--"


"Mama yang menggoda ayah duluan. Mama bahkan menjebak ayah agar kalian bisa menikah."


"Aku malu sama Kak Agam dan Mama Jasmine. Mereka adalah orang-orang baik." Aurel menyeka sudut matanya. Lantas melangkah meninggalkan Bella yang termangu sendiri.


***


Agam dan Anyelir sudah kembali ke mansion mereka. Tak ada hal yang mereka lewati selayaknya pasangan suami istri pada umumnya. Meski Agam memiliki hasrat saat semalam tidur seranjang dengan Anyelir. Namun, pria itu masih berusaha menahan sampai istrinya itu benar-benar menerimanya.


"Anyelir, besok persiapkan dirimu untuk datang ke rumah ayahmu. Kita akan segera menyelesaikan semuanya," kata Agam seraya melepas kemeja yang ia kenakan.


Anyelir yang duduk di tepi ranjang mengangguk. "Apa kakak sudah punya rencana?"


"Hemm."


Anyelir manggut- manggut. "Emm ... Kak Agam?" panggilnya.

__ADS_1


Agam yang hendak masuk ke ruang ganti menoleh. Satu alisnya terangkat, lantas ia bertanya, "Apa?"


"Terima kasih."


Agam tersenyum tipis. Ia kembali melangkah ke ruang ganti.


Sementara Anyelir, memilih ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Perjalanan dari hotel ke rumah, membuatnya lelah. Mungkin, berendam air hangat akan membuatnya merasa tenang.


Agam mengernyit saat tak melihat Nara di kamarnya. Cepat sekali gadis itu pergi, pikirnya.


Pria itu memakai jubah handuk dan berjalan ke kamar mandi seraya menelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri karena merasa pegal.


Saat tangan Agam menyentuh handel pintu dan menggesernya, mendadak seluruh indra di tubuhnya berhenti berfungsi saat melihat sesuatu yang membuat tubuhnya memanas.


"Aaaaaa!!"


Byur!!


Anyelir berteriak dan sontak menyiram Agam dengan seember air. Setelah itu ia pun masuk ke dalam bathup yang penuh busa untuk menyembunyikan tubuh polosnya.


Anyelir baru saja melepas semua pakaiannya usai menyiapkan air untuk berendam. Namun, ketika bathup sudah siap, dan ia hendak masuk tiba-tiba pintu dibuka. Dan hal itu membuatnya syok.


"Cih!" Agam yang basah kuyup lantas masuk ke kamar mandi tanpa memedulikan teriakan Anyelir.


"Kak, kenapa kamu masuk? Aku kan sedang mandi!" protes Anyelir.


Agam membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya di wajah Anyelir hingga gadis itu memundurkan wajahnya.


"Apa kamu tidak lihat kalau aku juga mau mandi?" sahut Agam, membuat Anyelir kesulitan menelan ludahnya.


"Dasar cabul!" kata Anyelir yang membuat Agam tertawa geli.


"Mana ada suami cabul sama istrinya?" Agam menjawab sambil berjalan ke arah shower. Tanpa basa-basi ia melepas jubah handuknya yang basah kuyup lantas mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air shower.

__ADS_1


Anyelir yang sempat melihatnya hanya memekik dan menutup wajah dengan kedua tangan.


"Ada apa dengan pria ini?!" teriak Anyelir dalam hati.


__ADS_2