
Pagi ini, Agam sudah kembali beraktivitas di kampus. Dengan mengendarai motor standar, ia mengemudikannya melewati gerbang seraya tersenyum tipis kepada beberapa mahasiswa yang menyapanya.
Agam memarkir motor dan melepas helmnya. Baru saja memutar badan, ia dikejutkan oleh Delisa yang berdiri menatapnya.
"Kak...," panggil wanita berkulit putih itu. Ia menatap Agam dengan pandangan berkaca-kaca.
"Jangan bicara denganku kecuali masalah yang berhubungan dengan kampus," kata Agam dengan sikapnya yang begitu dingin.
"Tapi, aku ingin bicara sama kamu. Kamu harus dengerin penjelasanku, kak!"
"Tidak usah!" Agam melesat pergi meninggalkan Agam yang tengah menahan kesal.
"Kamu harus tahu alasan kenapa aku melakukan ini! Aku butuh perhatian. Sedangkan kakak hanya sibuk dengan dengan dunia kakak sendiri!" teriak Delisa yang seketika membuat langkah kaki Agam terhenti.
Pria itu berbalik arah dan menatap mantan kekasihnya tanpa ekspresi. "Perhatian? Perhatian seperti apa yang kamu maksud itu? Apa tidur dengan seorang pria? Bermesraan, berbagi keringat dan berebut *******, begitu yang kamu inginkan?" tanyanya.
Agam menarik sudut bibirnya saat melihat wajah memerah Delisa. Wanita itu sepertinya sangat malu dengan ucapan Agam yang seolah merendahkannya. Padahal, bukankah yang diucapakan adalah fakta?
"Kak ...."
"Kembalilah pada aktivitasmu. Jangan banyak drama saat bersama denganku. Karena hanya akan berakhir sia-sia. Aku tidak akan terpengaruh dengan semua itu. Lebih baik ikut saja audisi untuk jadi artis. Siapa tahu kamu lolos karena aktingmu sangat memukau," tukas Agam.
Kedua tangan Delisa mengepal kuat. Ia menatap kepergian Agam dengan mata memanas karena air mata yang sudah mendesak ingin keluar.
Wanita itu memilih menuju ke taman untuk menenangkan pikirannya. Ia benar-benar bingung dengan kondisi yang ia alami sekarang. Sejujurnya, ia masih mencintai Agam dan tidak ingin hubungan ini berakhir.
Sedangkan hubungannya dengan Bara hanyalah sebatas teman. Ya, teman tapi mesra. Berawal dari iseng menerima tawaran persahabatan dari Bara, lamban laun persahabatan itu merambat menjadi hubungan yang tidak sehat.
Secara materi Bara memiliki banyak uang dan bisa memanjakan Delisa. Sedangkan Agam tidak bisa. Pria itu hanya memanjakannya dengan cinta dan hanya sesekali membelikannya barang atau mengajaknya keluar. Secara wajah, tentu Agam lebih tampan jika dibanding Bara.
'Seandainya saja, Kak Agam itu sekaya Bara. Tentu aku tidak akan berbuat senekat ini,' batin Delisa.
Ponsel Delisa berbunyi, tanda pesan masuk. Saat dibuka, ternyata Bara.
__ADS_1
📱Bara
Online
Del, bisa kita ketemu nanti siang? Ada yang ingin aku bicarakan.
Maaf, aku tidak bisa, Bar. Aku ada urusan di kampus sampai sore.
Acara apa? Apa kamu mau merayu Pak Agam agar mau kembali padamu? Tidak mungkin bisa, Del!
Delisa berdecak sebal. la tak berniat membalas pesan tersebut dan memilih menyimpan ponselnya di dalam tas.
"Brengsek!" Delisa menyugar rambut panjangnya yang tergerai. "Aku harus mendapatkan hati Kak Agam lagi bagaimanapun caranya," gumamnya.
Kata seandainya terus saja terngiang di benaknya. Seandainya, ia tidak menerima Bara waktu itu. Seandainya, ia tidak bermain bersama Bara di tempat kosnya. Seandainya dan seandainya.
Sayang, kata itu buka mantra yang bisa mengubah keadaan. Semua sudah terjadi dan tak bisa diulang kembali.
Agam mulai menjelaskan tema pembahasan pagi ini. Para mahasiswi lebih senang memperhatikan wajah Agam ketimbang meperhatikan pelajaran yang diterangkan oleh dosen mereka.
Pesona Agam memang tiada tanding di kampus itu. Banyak sekali mahasiswi atau pun sesama dosen yang menaruh hati padanya. Sayang, Agam seperti pria yang tak tersentuh sama sekali.
"Semua sudah paham dengan penjelasan saya?" tanya Agam.
"Paham, Pak!" sahut beberapa mahasiswanya.
"Yang paham tidak ada setengah dari mahasiswa di ruangan ini! Yang lain bagaimana?"
"Kami juga sudah paham, Pak!" sahut mahasiswi Agam. Ada yang seraya mengedipkan mata, ada juga yang ternganga karena terhipnotis dengan ketampanan Agam.
Beda ya sama Pak Arya, suaminya Inggit guys!!
"Kalau begitu, coba jelaskan lagi apa yang saya terangkan tadi! Kamu Riana!" tunjuk Agam pada gadis yang selalu menggodanya. Ia tak masalah dengan godaan dan candaan dari para gadis di kampusnya karena memang itu hak mereka untuk mengagumi seseorang.
__ADS_1
"Apa? Saya? Kenapa harus saya, Pak Agam?" sahut Riana sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Bukankah kamu mengatakan kalau kamu sudah paham? Jadi, jelaskan lagi apa itu hak dan sebutkan hak kamu di kampus ini!"
"Hak saya adalah mendapat balasan cinta dari Anda, Pak Agam ...."
"Huuuuu!!!"
Sontak saja ruangan menjadi gaduh karena teriakan semua orang. Sementara Riana hanya menjulurkan lidah membalas ejekan mereka.
Agam hanya tersenyum tipis. Sudah menjadi rahasia umum ia dikenal sebagai dosen tertampan di kampus itu. Hanya saja, ia dikenal sebagai dosen yang tidak memiliki kekayaan yang terlihat menonjol karena kesehariannya hanyalah lebih sering mengendarai motor.
Agam memakai mobil hanya saat jalanan sedang lengang saja. Bahkan, saat berpacaran dengan Delisa pun jarang sekali ia mengajak wanitanya kencan dengan menaiki mobil. Oleh karena itu banyak yang mengira bahwa mobil yang ia punya adalah mobil sewaan.
Mungkin saja hal itu yang membuat Delisa berpaling.
Miris sekali!
"Pasal satu, setiap orang berhak untuk mencintai!" celetuk Agam seraya menatap ke seluruh mahasiswanya.
"Pasal dua, mereka tidak berhak memaksa orang untuk membalas cintanya!" ucapnya penuh ketegasan.
"Kenapa, Pak?" sahut Riana dengan begitu lesu.
"Kembali ke pasal satu!" sahut Agam yang seketika membuat bibir Riana cemberut.
Sontak, semua orang di ruangan itu tertawa.
"Dan karena kamu tidak memperhatikan saya, maka kamu harus menyalin bab tentang hak-hak warga negara yang diatur oleh undang-undang. Tulis semuanya tiga kali agar kamu hafal! Dan kumpulkan besok di jam pelajaran saya!" tandas Agam dengan tegas.
Riana menelan ludahnya dengan susah payah. Dosennya itu tiba-tiba tampak menyeramkan, tapi tetap terlihat keren.
"Baik, Pak...," sahut Riana pasrah.
__ADS_1