Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Agam's House


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju rumah Agam, Jasmine terlebih dulu menelpon putranya agar tetap berada di rumah.


"Mama ke sini sepagi ini?" tanya Agam di seberang telepon.


Dari suaranya, terdengar bahwa Agam sedikit heran dengan kedatangan Jasmine yang lebih dulu menelponnya. Padahal, biasanya mamanya itu tak pernah menelpon jika akan bertandang.


"Iya, Nak. Mama ingin memastikan sesuatu di rumahmu," sahut Jasmine.


"Apa?" tanya Agam, penasaran.


"Ada deh. Ya sudah. Kamu di rumah saja, ya. Kalau ada jadwal mengajar, bilang saja sama temanmu suruh gantikan untuk hari ini saja," ujar Jasmine.


"Iya, Ma." Agam menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Lantas, kembali melanjutkan aktivitasnya yaitu berolahraga di treadmill.


Jasmine menutup ponselnya dan menyimpannya ke dalam tas.


"Apa Agam tidak menanyakan diriku?" Arsenio melempar tanya di tengah perjalanan mereka. Saat ini, ia sedang menyetir. Sengaja ia tidak menggunakan jasa sopir agar bisa leluasa mengobrol dengan sang istri.


"Dia tidak pernah menanyakanmu padaku, Mas. Meskipun aku tahu jika dia sangat merindukanmu."


"Menurutmu begitu?"


"Hemm, iya ... tidak ada anak yang tidak rindu pada sosok ayahnya, Mas. Begitu pula dengan Agam. Dia pasti memiliki rasa iri pada putrimu," tukas Jasmine.


"Aku berusaha bersikap adil, Jasmine. Apa yang aku lakukan kepada Agam, tak akan terlihat oleh kedua matamu," sahut Arsenio.


Jasmine menghela napas panjang. "Apa kamu pernah menghitung berapa lama kalian berpisah?" tanyanya.


"Setiap hari."


Jasmine menoleh, menatap Arsenio dengan pandangan berkerut. "Setiap hari?" sahutnya.


"Iya. Dua belas tahun lebih dua bulan dia pergi dari rumah dan tak pernah berniat untuk kembal. Dia bahkan tidak akan pernah mau datang jika tidak akan menikah," jelas Arsenio dengan pandangan yang tetap fokus pada jalanan.


Jasmine menghela napas pelan. Ia telah salah menilai suaminya sendiri. Ia kira Arsenio tak pernah memedulikan masalah Agam. Akan tetapi, nyatanya suaminya itu setiap hari menghitung kepergian putranya tanpa terlewat. Itu artinya, Arsenio selalu merindukan sosok putranya.


"Meski aku terlihat tidak peduli. Tapi, aku tetap menyayanginya, Jasmine. Agam adalah sumber kekuatan pertamaku. Dia yang membuatku mendapatkan gelar 'ayah' untuk yang pertama kalinya. Jadi, bagaimana bisa aku melepas tanggung jawabku padanya?"

__ADS_1


Jasmine mengangguk pelan seiring dengan senyum yang terukir perlahan. "Terima kasih," ucapnya.


"Untuk?"


"Untuk semuanya. Kamu tidak melupakan kami ataupun melepas tanggung jawabmu pada kami berdua."


Arsenio menghela napas panjang. "Itu sudah tugasku. Tapi, kamu harus ingat kalau aku hanya manusia biasa yang memiliki titik terlemah dalam hidupku. Aku pernah tidak berdaya. Bahkan, di saat itu terjadi bayangan wajahmu dan Agam terus saja terlintas dalam benakku."


"Meski aku membuat kesalahan besar dengan cara melukaimu dan Agam dengan sangat kejam, tapi rasa sayang dan cintaku pada kalian tetap menjadi yang utama," imbuh Arsenio.


Jasmine hanya berdeham. Tidaklah mudah menerima seorang adik madu dalam hidup berumah tangga, apa pun alasannya. Dan tentu saja, luka yang telah ditorehkan oleh Arsenio mungkin saja akan membekas selamanya.


Arsenio memilih diam ketika Jasmine hanya merespons penjelasannya dengan dehaman. Untungnya, mereka telah sampai di tempat tinggal Agam. Dan ini adalah kali pertama bagi Arsenio menginjakkan kaki di rumah putranya.


"Ayo, Mas. Agam dan Anyelir pasti sedang menunggu kita," ajak Jasmine yang lebih dulu memasuki rumah berlantai dua tersebut.


Arsenio memindai setiap sisi halaman dan rumah yang ada di hadapannya. Hatinya tersenyuh. Pelupuk matanya pun memanas dengan sendirinya. Ia berpikir bahwa Agam selama ini menjalani hidup sendirian dengan sangat berat. Apalagi ia memutuskan menanggalkan identitas keluarga Lagathias saat ini.


Namun di sisi lain, Arsenio merasa bangga karena Agam bisa bertahan dalam kesendirian. Tumbuh menjadi seorang dosen tanpa didampingi oleh orang tuanya.


Puas memandangi rumah Agam dan memikirkan nasib putranya itu, Arsenio melangkah masuk menyusul Jasmine yang sudah lebih dulu menemui Agam.


Agam mencium tangan sang mama, lantas memeluknya beberapa detik saat wanita mulianya itu menghampirinya.


"Mama sehat?" tanyanya.


"Alhamdulillah, mama sehat." Pandangan Jasmine beralih pada Anyelir yang tersenyum padanya. "Anye, kamu sehat?" tanyanya.


"Alhamdulillah, aku sehat," jawab Anyelir. Ia membalas pelukan Jasmine dan membiarkan wanita paruh baya itu mengusap punggungnya.


Agam tersenyum tipis melihatnya. Namun, tiba-tiba senyumnya menghilang kala menoleh ke arah pintu. "Ayah ...," gumamnya.


Agam lantas menatap sang mama. Tatapannya menyiratkan sebuah pertanyaan tentang keberadaan sang ayah di rumahnya.


"Ayahmu ingin berkunjung ke sini, nak. Sekaligus membicarakan masalah pernikahan kalian," jelas Jasmine, menjawab apa yang ada di pikiran putranya.


"Oh. Ya sudah, ayo, silakan duduk dulu!" tawar Agam. "Anye, tolong katakan sama Bi Santi untuk membuatkan minum dan membawa camilan," pintanya pada Anyelir.

__ADS_1


"Iya, Kak." Anyelir berdiri. Namun, saat hendak melangkah, Jasmine menghentikan langkahnya.


"Sudah, Anyelir. Kamu duduk saja. Tidak perlu repot-repot."


"Tidak apa-apa, Tante. Aku cuma memberi pesan ke Bi Santi saja kok."


Anyelir meninggalkan Agam dan kedua orang tuanya di ruang tamu. Sebenarnya ia sudah tahu, jika Agam membutuhkan privasi untuk bicara dengan Arsenio dan Jasmine. Menyuruhnya untuk memberi pesan pada Bi Santi hanyalah sebuah alasan agar ia tak mendengar obroan keluarga itu.


Sepeninggal Anyelir, Agam berkata, "Maafkan aku. Seharusnya aku segera memberi kalian kabar. Tapi, beberapa hari ini sibuk karena ada urusan di kampus."


"Iya, nak kami bisa memakluminya, kok. Namanya bekerja dengan orang banyak tentu saja juga harus bisa menjaga hubungan agar tetap baik," jawab Jasmine. "Jadi, kapan rencananya kamu akan melamar Anyelir secara resmi? Mama dan ayahmu akan ikut," ujarnya.


"Mama dan .... Ayah?" Agam memastikan langsung. Apakah telinganya salah tangkap ataukah tidak.


"Iya. Ayah ingin melihat prosesi lamaran putra ayah satu-satunya." sahut Arsenio. Kedua matanya menatap Agam, sendu.


Agam tersenyum tipis. Entahlah, ia tak menyangkal bahwa ada rasa bahagia yang dirasakan dalam hatinya. Rasanya sangat hangat saat ayahnya menatapnya dengan tatapan kasih sayang.


"Menurut kalian, kapan waktu yang tepat untuk melamar Anyelir? Dia sendiri sudah tidak ingin berlama-lama tinggal di sini tanpa status yang jelas." Agam mencoba meminta usul pada orang tuanya. Mencoba menunjukkan bahwa ia masih membutuhkan seseorang untuk diajak diskusi.


"Menurut ayah, besok saja. Lebih cepat itu lebih baik, nak," jawab Arsenio.


Agam bergeming sesaat. "Kalau menurut mama?"


"Mama manut saja. Toh, semua demi kebaikan, nak."


Agam akhirnya mengangguk. "Baiklah, kita akan datang ke rumah Anyelir besok," putusnya.


Anyelir yang mendengar di balik tembok tersenyum. Jika sudah melangkah maju. Maka tujuannya akan segera tercapai.


la memutuskan keluar, seraya membawa nampan berisi secangkir kopi dan secangkir teh. Sementara Bi Santi mengikuti di belakangnya seraya membawa beberapa camilan.


"Anyelir duduk, nak! Ada yang ingin kami katakan," pinta Jasmine.


Anyelir mengangguk. la duduk di samping Agam namun dengan jarak yang memisahkan.


"Anye sayang. Kami akan datang ke rumahmu besok untuk melamar mu. Bagaimana? Apa kamu siap?"

__ADS_1


Anyelir tersenyum. Lantas mengangguk sebagai jawaban.


Jangan lupa datang ke acaranya ya guys, bawa vote, like, fav, hadiah, dan rating.


__ADS_2