Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - House Lizard


__ADS_3

Kabar pernikahan Agam dan Anyelir beredar begitu cepat di area kampus. Baik dosen maupun mahasiswi saling menjadikan kabar tersebut sebagai trending topik. Mereka yang belum tahu siapa calon mempelai wanitanya hanya menebak-nebak.


Siapakah wanita hebat yang bisa menggantikan posisi Delisa dengan begitu cepat?


"Eh, beneran kabar itu? Kalau Pak Agam akan nikah bentar lagi, kenapa dia masih mengajar?" celetuk Nadia yang masih belum bisa menerima kabar tersebut.


"Setahuku, Pak Agam orangnya tidak pernah bercanda kalau masalah serius kayak gini. Mungkin saja, dia masih mengajar karena waktu pernikahan masih beberapa hari lagi. Dan mungkin juga, Pak Agam masih ngajar sekalian mau memberikan kita undangan," sahut Gamal.


"Ah, meski itu benar kok, aku tidak ikhlas, ya?" sahut Nadia dengan wajah cemberut.


"Lah kenapa tidak ikhlas? Pak Agam saja cuek sama kamu," sahut Eliza yang sudah kembali beraktivitas setelah pernikahannya.


"Tapi, aku kan pernah bermimpi kalau aku bersanding bersama Pak Agam. Wah, indahnya," seloroh Nadia sambil memegang kedua pipinya dan mulai mengkhayal.


Eliza dan Gamal tersenyum geli melihatnya.


"Eh, calon istrinya Pak Agam imut lho. Orangnya mungil dan cakep banget menurutku," ujar Eliza.


"Iya. Masih ABG kayaknya," timpal Gamal.


"Pak Agam itu." Nadia berdecak sebal. "Sudah ada yang matang malah milih yang mentah," tukasnya.


"Kamu itu bukannya sudah matang. Tapi kematangan, jadinya pilih daun muda," Eliza menjawab.


Orang yang mereka bicarakan baru saja masuk ke ruangan dosen. Membuat ketiga orang yang bergosip itu segera bubar dan mencari posisi masing-masing.


Eliza berpura-pura membaca laporan di mejanya. Sedangkan Nadia dan Gamal memilih bermain ponsel.


Agam menatap ketiga orang itu dengan senyum tipis. Pria itu berjalan menuju mejanya. Lantas mendudukkan diri di kursi kerjanya dan mulai mengerjakan tugasnya. Yaitu mengecek tugas mahasiswanya satu per satu.


"Emm ... Pak Agam, kenapa masih mengajar?" Nadia yang tidak bisa diam melempar pertanyaan pada Agam.


"Apa alasan saya untuk berhenti mengajar, Bu Nadia?" Jawaban yang selalu diberikan Agam selalu saja sebuah pertanyaan. Pria itu bahkan tidak menatap Nadia saat bicara.


"Eh, bukan begitu, Pak Agam. Saya dengar anda akan menikah sekitar dua harian lagi. Tapi, kenapa anda masih berkutat dengan kertas dan laptop itu?"


Agam terkekeh pelan. "Pernikahan itu masih akan berlangsung beberapa hari lagi. Jadi, tidak ada alasan untuk saya libur mengajar, Bu Nadia," sahutnya.


"Tapi, kan ... apa anda tidak mempersiapkan acaranya agar berjalan dengan baik."


"Bukan tugas saya itu, Bu. Tugas saya hanya menjadi mempelai pengantin pria saja. Urusan tentang penyelenggaraan sudah ada orang yang akan menghandle nya," jawab Agam seraya menoleh menatap Nadia yang tersenyum masam.


"Anda cinta tidak sih, sama calon istri anda itu?"

__ADS_1


Nadia sedikit kesal pada sikap Agam yang terlalu meremehkan sebuah acara pernikahan. Meski tidak ada hubungannya dengan dirinya, tapi Nadia merasa bahwa Agam seolah tak acuh dan tidak peduli pada Anyelir. Dan hal itu membuatnya berkesimpulan jika Zidan tidak mencintai Anyelir.


Sementara Agam yang mendapat pertanyaan seperti itu mencoba tenang. Pernikahannya memang tanpa dilandaskan oleh cinta. Namun, bukan berarti orang lain bisa bicara seperti itu.


"Cinta saya pada calon istri saya, itu sama sekali tidak ada urusannya dengan anda. Apakah jika saya mencintai seseorang, saya harus melaporkannya pada anda?" skakmat Agam yang sontak saja membuat Nadia bungkam.


"Maaf, Pak Agam. Saya tidak bermaksud untuk begitu. Niat saya tadi cuma bercanda, kok." Nadia merasa tak enak hati pada Agam. Sebab, baru pertama kali ia melihat Agam marah seperti itu.


Bukan tentang intonasi suara Agam yang tinggi. Namun, pilihan kata yang diucapkan pria itu terdengar sangat menyakitkan.


Agam tersenyum. "Saya juga bercanda, Bu Nadia. Jangan tersinggung dengan ucapan saya," sahutnya.


Nadia mengangguk. Ia berlalu meninggalkan Agam menuju mejanya. Ia menoleh ke arah Eliza yang tersenyum seolah berkata agar dia sabar.


Delisa baru saja memasuki ruang dosen. Wanita itu berusaha bersikap cuek pada Agam dengan tidak menoleh sama sekali. Hal itu membuat semua dosen di ruangan itu saling pandang dan saling bergosip melalui tatapan mata.


Delisa yang sudah mendengar kabar tentang pernikahan Agam dan Anyelir berusaha bersikap tenang. Ia tak ingin menunjukkan rasa sakitnya kepada semua orang yang ada di kampus.


Rasa malu dirasakan oleh Delisa saat ini. Pasangan fenomenal di kampus, yaitu ia dan Agam telah tiada. Semua orang sekarang sudah tahu bahwa Delisa dan Agam sudah menjadi mantan yang tak akan pernah bisa kembali bersatu.


'Jika aku dan kamu tidak bisa kembali lagi, maka gadis itu juga tidak boleh bersama kamu, Kak Agam.' Delisa berucap dalam hati dengan tatapan mengarah tajam ke arah Agam.


***


Namun, fokus Agam bukan pada perutnya melainkan pada sosok gadis yang sedang berkutat dengan penggorengan itu.


Dengan rambut digelung asal, celemek yang menjadi pelindung pakaiannya, membuat Agam betah untuk menatap Anyelir yang tampak berbeda di matanya. Gadis itu tak lagi seperti anak kecil. Anyelir malah tampak sangat dewasa di matanya saat ini.


"Tuan." Panggilan yang disertai tepukan di bahu, membuat Agam berjingkat. Ia menghela napas saat Bi Santi berdiri di sampingnya dengan wajah heran.


Agam menghela napas dan segera berlalu. Ia tak ingin jika Anyelir menyadari keberadaannya.


"Tuan Muda kenapa, ya?" gumam Bi Santi sambil menelengkan kepalanya menatap Agam yang semakin menjauh. Lantas, pandangannya beralih kepada Anyelir yang sedang fokus memasak.


Diperhatikannya dengan saksama gadis muda yang fokus mengolah bahan makanan menjadi sebuah masakan. Hingga akhirnya, senyumnya terbit usai menemukan alasan keanehan yang terjadi pada Tuan Mudanya.


"Wah, Non Anye bersemangat sekali masaknya. Aromanya juga sangat enak. Masakan saya pasti kalah ini," seloroh Bi Santi.


Anyelir menoleh dan terkekeh pelan. "Ah tidak, Bi. Masakan Bi Santi masih yang paling enak, kok," sahutnya.


Anyelir mematikan kompor, lalu menyajikan masakannya di piring saji yang sudah ia siapkan sebelumnya. Dua menu lainnya sudah siap dan tertata di meja. Anyelir memang sengaja memasak untuk makan malam hari ini.


"Bi, apa Kak Agam mau makan masakan saya, ya?" Anyelir mendadak cemas jika saja calon suaminya itu tidak mau makan jika tahu ia yang memasaknya.

__ADS_1


"Pasti mau," jawab Bi Santi sambil mengulum senyum. la tak mau mengatakan jika Agam sejak tadi memperhatikan Anyelir yang sedang memasak.


Anyelir tersenyum. "Ya sudah, kalau begitu aku mau bersih-bersih badan, ya Bi. Sekalian tunggu Kak Agam pulang," ujarnya.


"Iya, Non Anye." Bi Santi tersenyum. la pun menata piring yang akan digunakan untuk makan malam nanti.


Agam menyugar rambutnya yang basah. Pikirannya jadi tak karuan karena bayang-bayang Anyelir yang sedang memasak tadi terus saja berkelebat dalam benaknya. Bisa-bisanya gadis muda itu membuatnya seperti ini!


la pun memilih keluar kamar untuk makan. Akan tetapi, ketika membuka pintu, Anyelir tengah berdiri tepat di depan pintu kamarnya.


"Hah?!"


Baik Agam dan Anyelir sama-sama terkejutnya saat kedua mata mereka saling tatap.


"Lho anda sudah pulang?" tanya Anyelir dengan mata melebar yang terlihat menggemaskan.


Agam berdeham untuk menetralkan degup jantungnya. "Ya. Sedang apa kamu di depan kamarku?" tanyanya.


"Eeee... Aku kebetulan mau ke kamar. Terus ... terus aku lihat ada cicak di dinding itu!" sahut Anyelir sambil menunjuk dinding dengan dagunya.


Kening Agam saling bertaut mendengar alasan konyol yang Anyelir lontarkan. "Cicak di dinding?" tanyanya.


"Kamu mau nyanyi?"


"Hah, tidak! Sudah, aku mau mandi dulu! Itu makanannya sudah siap. Selamat makan!" sahut Anyelir. la bergegas meninggalkan Agam yang tersenyum geli.


"Cicak di dinding." Agam berjalan seraya tertawa dan menggelengkan kepalanya.


Cicak-cicak di dinding ...


Diam-diam merayap ...


Datang seekor nyamuk ...


Like!


Comment!


Vote!


Fav!


Lalu di tangkap ...

__ADS_1


__ADS_2