Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Delisa's Pregnancy


__ADS_3

Undangan pernikahan Agam dan Anyelir sudah tersebar ke seluruh kampus. Semua orang baik dosen maupun mahasiswa saling bicara untuk membahas perihal undangan pernikahan yang seketika menjadi viral tersebut.


Termasuk Delisa yang berusaha tegar ketika beberapa orang melempar pertanyaan kepadanya. Ia memperlihatkan kepada orang-orang bahwa ia seperti korban kepada beberapa orang yang tidak mengetahui masalah yang menimpa ia dan Agam.


"Del, tidak sangka ya kalau pada akhirnya kamu dan Pak Agam tidak sampai ke pelaminan," celetuk seorang teman sejawatnya, Dara.


"Ya mau bagaimana lagi. Mungkin jodohku dan Kak Agam cuma sampai di sini aja. Selama ini, aku pun juga sudah berusaha menjadi wanita yang baik. Tapi, tetap saja Kak Agam memilih wanita lain," sahut Delisa seraya memasang wajah memelas.


"Wah, yang sabar ya. Setiap pria memang bisa berbuat apa saja tanpa memikirkan perasaan wanitanya. Pasti rasanya berat. Tapi, nanti kamu pasti akan mendapatkan pria yang lebih baik dari pada dia," hibur Dara.


Delisa mengangguk seraya mengukir senyum. "Terima kasih ya," ucapnya.


"Iya, sama-sama. Ya sudah, aku pulang dulu ya. Kamu besok datang ke pernikahan mantan?" tanya Dara dengan nada menggoda.


"Tentu saja. Aku pasti datang. Kita akan bertemu di sana nanti," sahut Delisa.


Dara mengangguk. Lantas, berlalu meninggalkan Delisa yang masih duduk sendiri di ruang dosen.


Delisa menatap undangan berwarna emas yang bertuliskan nama 'A² — Agam dan Anyelir'. Cukup keren nama mereka berdua, pikirnya.


Delisa memasukkan undangan tersebut ke dalam tasnya. Lantas, ia pun pergi meninggalkan area kampus menuju suatu tempat di mana ia sudah mengatur janji bertemu dengan Bara untuk membahas sesuatu.


***


Kafe Greenzo menjadi pilihan Delisa dan Bara. Suasana sejuk yang disertai angin sepoi-sepoi membuat Indri tetap tak bisa merasakan ketenangan karena rasa tertekan yang ada dalam hatinya.


Delisa berkali-kali menatap arloji di pergelangan tangannya. Kesal ia rasakan karena Bara tak kunjung datang. Ia pun merogoh ponsel di dalam tasnya dan menghubungi pria itu untuk menanyakan keberadaannya.


"Halo, sayang?" Bara bertanya saat teleponnya sudah terhubung.


"Bara, kamu di mana? Aku dari tadi nunggu kamu lho!" sahut Delisa dengan suara yang terdengar begitu kesal bercampur lelah.


"lya. Aku ini mau berangkat. Sabar, ya. Aku sudah on the way, tunggu sebentar lagi!"


Delisa menghela napas. "Oke, aku tunggu. Jangan lama-lama!"


Tut!


Telepon terputus. Delisa melambaikan tangan pada seorang pramusaji yang jaraknya tidak terlalu jauh.


"Ya, ada yang bisa saya bantu, Mbak?"


"Mbak, saya pesan es jeruk, ya. Nanti saya nambah pesanan lagi kalau teman saya sudah datang," jawab Delisa.


Pramusaji itu mengangguk. "Baik, Mbak. Silakan ditunggu ya," sahutnya dan dijawab anggukan oleh Delisa.

__ADS_1


Akhirnya orang yang sejak tadi ditunggu oleh Delisa datang juga, bersamaan dengan pesanan es-nya yang baru saja diantar.


"Sudah lama, Bu Dosen?" Bara melempar tanya sambil tersenyum miring.


Delisa memutar bola matanya malas. "Tidak usah sok kecakepan di depanku, Bar!" ketusnya.


Bara terbahak mendengar kekesalan dari teman tidurnya. la pun mengalah dan mengubah mode candanya ke mode serius.


"Oke. Sekarang katakan. Ada apa? Apa hal yang membuatmu sekesal itu? Apa karena mendapatkan undangan pernikahan dari Agam?"


"Tidak usah bahas masalah Agam. Ada yang lebih penting dan lebih mendesak ketimbang masalah itu." Delisa menatap Bara dengan pandangan tajam. Ia menghela napas dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Ini, bacalah!" pinta Delisa seraya menyodorkan amplop berukuran sedang.


Alis Bara saling bertaut. Ia mengambil amplop tersebut dan membuka isinya. Matanya menyipit saat membaca setiap kata yang berjejer di kertas tersebut. Lantas, ia kembali mengeluarkan sebuah kertas kecil. Yaitu sebuah foto berlatar belakang hitam. Di tengahnya ada bulatan kecil beserta detail keterangan di sisinya.


"Delapan minggu." Bara menggumam. Lantas ia kembali memasukkan kertas-kertas tersebut ke dalam amplop.


"Kenapa kamu menunjukkan semua ini padaku?" Bara bertanya seraya menatap Delisa dengan wajah datar.


Delisa melebarkan matanya mendengar pertanyaan tersebut. Pria di hadapannya itu seolah-olah tak ingin mengakui hasil dari perbuatannya.


"Kenapa? Kenapa kamu bilang?" Delisa tersenyum miris. "Ini hasil perbuatanmu, Bar! Kamu harus bertanggung jawab dan menikahiku!" tuntutnya.


"Bara!" bentak Delisa.


"Del, kenapa kamu membentakku?"


"Karena kamu tidak mau denger ucapanku! Aku hamil dan kamu harus tanggung jawab, Bar! Ini anak kamu. Anak kita," lirih Delisa, penuh penekanan di setiap kata yang ia ucapkan.


"Apa kamu yakin kalau itu anakku?" Bara menatap Delisa dengan tajam. Namun, hal itu mampu membuat hati wanita calon ibu itu tersayat.


"Bara ... tega kamu bicara begitu sama aku? Ini anak kamu. Kamu pasti tahu itu karena aku selalu lakuin hal itu sama kamu!" Air mata Delisa akhirnya luruh juga. la tak dapat lagi membendung air mata yang malah membuat hatinya semakin sesak.


"Kamu ternyata jahat banget. Bisa-bisanya kamu tidak mau mengakui anak kamu sendiri." Delisa terisak. Namun, ia mencoba tenang dan menarik napas panjang agar dadanya tak terasa sesak.


"Ya, siapa tahu kamu cuma menjebak aku saja, kan? Lagi pula kamu melakukan itu dalam keadaan sadar. Kamu bahkan sangat menikmati permainan panas itu. Tapi, sekarang kenapa seolah-olah aku yang telah memperkosamu, Del? Dan tentang anak itu, aku tidak yakin kalau dia memang anakku. Karena kamu pasti juga tidak hanya tidur denganku saja."


Deg!


Hati Delisa terasa bagai diremas-remas.


Sakit.


Begitu rendahnya ia di mata Bara? Pria yang selalu memujanya dan selalu memberikan semua yang ia inginkan.

__ADS_1


"Aku tidak pernah melakukan itu selain denganmu," tegas Delisa.


"Del, kamu tidak usah berlagak seperti korban perkosaan. Kamu pikir aku akan percaya dan menikahimu? Sudahlah, cari pria lain saja. Kamu tahu kan kalau aku ini pria yang masih suka kebebasan? Aku tidak akan menikah denganmu. Meski jika benar kalau kamu hamil anak ku!" tegas Bara.


Delisa tertunduk seraya menggigit bibir bawahnya. Kehamilan yang tak pernah ia inginkan ini pasti akan membuatnya kehilangan semuanya.


Bara mengembuskan napas berat. "Del, aku akan memberikan uang sebagai kompensasi untukmu. Jika kamu menginginkan pertanggung jawaban dariku, jelas kamu tak akan mendapatkannya. Tapi, aku akan memberimu uang dan pergunakan uang itu dengan baik. Setelah itu jangan ganggu aku lagi!"


Bara mengotak atik ponselnya dan tak berselang lama, ponsel Delisa bergetar. "Uangnya sudah masuk, Del. Gunakan uang itu sebaik mungkin untuk mencari sosok suami bagi anakmu!"


Usai mengatakan hal tersebut. Bara bergegas pergi meninggalkan Delisa yang termenung. Ia memejamkan mata dan air matanya pun menetes membasahi pipinya.


Seketika penyesalannya semakin dalam ia rasakan karena telah mengkhianati Agam dan memilih Bara yang nyatanya hanya ingin bersenang-senang saja dengannya.


Dan sekarang, Delisa tidak tahu harus bagaimana. Bagaimana nasib ke depannya? la hamil dan pastinya perutnya akan semakin membesar. Apa kata orang tuanya nanti?


Delisa mengusap kedua matanya yang berair. Ia kemudian menghubungi Ulayya dan menyuruh sahabatnya itu untuk datang.


"Kenapa, sih? Kamu nangis?" Ulayya bertanya saat mendengar suara serak Delisa.


"Aku ada masalah, Ul. Tolong bantu aku. Otakku sudah buntu rasanya," kata Delisa putus asa.


"Hem, oke. Aku ke sana sekarang!" kata Ulayya.


"Terima kasih, Ul."


***


"Kamu hamil?" Ulayya melotot tak percaya saat melihat sahabatnya mengangguk seraya memegangi perutnya yang masih rata.


"Bagaimana ini, Ul? Bara tidak mau menikahiku. Dia cuma memberiku uang sebagai bayaran karena selama ini aku mau ditiduri olehnya. Aku takut kalau orang tuaku tahu. Mereka pasti kecewa padaku." Delisa menatap Ulayya dengan binar penuh harap. Berharap agar sahabatnya bisa membantunya.


"Kamu memang bodoh, Del! Kalau sudah tahu sering tidur bareng kenapa tidak pernah pakai pengaman?" decih Ulayya.


Delisa terdiam. Ia hanya menatap foto USG yang menampakkan sebuah kehidupan baru di perutnya.


"Kamu tidak ada niat buat menggugurkan anak itu?" celetuk Ulayya.


Sontak saja Delisa mendongak dan menggeleng. "Aku tidak akan tega membunuhnya, Ul. Bagaimanapun dia anakku. Tapi, aku juga bingung harus bagaimana."


Ulayya menatap Delisa dengan iba. Lantas, tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya.


"Del, kamu bisa meminta tanggung jawab pada Agam," ucap Ulayya sambil tersenyum penuh arti.


Bagaimana reader's?

__ADS_1


__ADS_2