Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Sick Anyelir Father's


__ADS_3

Agam kembali melanjutkan menerangkan pelajaran mata kuliah hingga waktunya selesai. la bergegas mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan ruangan usai mengucap salam.


"Riana, kasihan banget kamu. Bab tentang hak itu kan ada banyak sekali. Berlembar-lembar loh. Kamu malah harus menulisnya lagi sampai tiga kali."


"Kamu, sih! Kenapa harus melamun di jam pelajaran Pak Agam? Memang, sih, Pak Agam ganteng. Tapi, kan dia dikenal sebagai dosen kalau yang beri hukuman tidak main-main."


"Ya mau gimana lagi. Dia ganteng banget soalnya. Andai saja aku jadi Kak Delisa. Bahagia sekali pasti," kata Riana seraya menyentuh kedua pipinya seraya membayangkan bahwa ia adalah Delisa.


"Eh, tapi denger- denger Pak Agam sama Kak Delisa sudah putus loh!" celetuk salah satu pria yang sejak tadi tidak ikut ngobrol namun langsung menyela.


"APAAA? KENAPAA?" sahut para gadis yang syok dan terkejut dengan berita yang mereka dengar.


Pria bernama Samuel itu mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu persis alasannya apa. Tapi, aku dengarnya sih gitu. Kayaknya Kak Delisa selingkuh dari Pak Agam," sahutnya.


"What the hell? Pak Agam diselingkuhi? Kok bisa, sih? Kurang apa coba? Dasar wanita tidak tahu diri!" Riana berdecih dan mengumpat Delisa.


"Hei, kita tidak tahu alasan sebenarnya. Sudahlah, selebihnya kalian cari tahu saja sendiri," kata Samuel.


"Memang kamu denger dari mana?" tanya Riana dengan mata memicing.


"Berita itu sudah tersebar. Hanya saja belum tahu kebenarannya. Banyak orang yang lihat Kak Delisa memohon-mohon pada Pak Agam. Dan itu tidak cuma sekali," sahut Samuel.


Meskipun pria, Samuel juga suka bergosip.


"Wah, kalau memang benar seperti itu, aku punya kesempatan untum mendekati Pak Agam!" seru Riana.


"Jangan terlalu berharap, Ri! Takutnya kamu malah kecewa!"


Riana hanya mencebik.


***


Agam berjalan menuju tempat parkir. Namun, dadanya kembali kesal saat melihat Delisa sedang menduduki motornya. Wanita itu benar-benar tidak putus asa untuk terus mengejarnya.


"Turun!" titah Agam.


"Kak ... please, aku ingin kita bicara dari hati ke hati. Aku yakin kalau kamu masih cinta sama aku," kata Delisa, memelas.


"Cukup! Turun!" Agam menarik tangan wanita itu agar turun dari jok motornya.


"Kenapa kamu terus mengganggu, Del! Aku lelah! Kita sudah putus dan aku sudah ikhlas kalau kamu mau pacaran sama Bara! Dia memang kaya dan punya segalanya dibanding denganku!" bentak Agam.


"Tapi, dia ...."


"Dia kenapa? Apa kamu sudah dicampakkan setelah ditiduri olehnya?" Agam tersenyum miring saat melihat wajah kesal Delisa. "Jangan ganggu aku, karena aku akan segera menikah!" tandasnya.


Delisa mendengus. Lagi-lagi ancaman Agam adalah tentang pernikahan.

__ADS_1


'Lihat saja, pasti kamu menikah untuk pelarian saja,' batinnya.


Delisa menelpon Bara. Pria itu adalah mahasiswanya. Ya, Delisa juga merupakan dosen di kampus tersebut. la dan Agam adalah teman sejak di bangku kuliah hingga akhirnya berhasil menjadi dosen bersama-sama.


Sementara hubungannya dengan Bara memang bukan karena khilaf, tapi juga karena ia tergiur oleh iming-iming Bara yang memberinya banyak sekali uang. Dan hal itu membuatnya berakhir di ranjang dengan Bara sampai beberapa kali.


"Bara, di mana kamu?"


"Aku ada di kantin. Kenapa, sudah rindu?"


"Temui aku di tempat parkir! Sekalian antar aku pulang!" titah Delisa dengan suara yang keras karena kesal.


"Kenapa, sayang? Ada masalah lagi sama Agam?" sahut Bara seraya terkekeh.


"Sudah diam. Jangan banyak tanya. Aku pusing dengernya!"


"Iya iya. Sabar, sayangku. Aku ke sana sekarang."


Delisa mematikan sambungan teleponnya. Lantas memasukkan ponselnya ke dalam tas. la berjalan ke arah bangku yang berada di sisi jalan.


"Sayangku kenapa cemberut saja?" Bara datang seraya mengulurkan es teh dalam gelas. "Minumlah agar kamu dingin," ucapnya.


"Bara, apa kamu akan tetap bersamaku sampai seterusnya?" tanya Delisa dengan tatapan sendu.


Wajah Bara sedikit terkejut. Namun, seketika ia tersenyum dan membelai kepala Delisa dengan lembut. "Tentu saja. Bukankah kamu sudah menjadi milikku, Del? Jangan pikirkan apa pun, nikmati saja hidup ini. Apa ada yang kamu inginkan?" tanyanya.


"Ya sudah, kalau gitu ayo kita ke mobil!" ajak Bara dan dibalas anggukan oleh Delisa.


Setelah di dalam mobil, Delisa meminum es teh yang belum sempat diminum. Seketika tenggorokannya terasa dingin. "Segar sekali," gumamnya.


"Iya, tentu saja, sayang." Bara mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran kampus.


"Bara, kenapa rasanya tubuhku panas sekali?" Delisa mengibas-ngibaskan kemeja yang ia pakai.


"Lepas saja bajunya kalau panas," celetuk Bara.


"Jangan ngaco!"


"Kenapa? Aku 'kan sudah sering melihatnya," sahut Bara.


"Aah, aku tidak tahan. Pasti kamu beri obat di minumanku, ya!" tuduh Delisa yang wajahnya mulai memerah.


"Pintar sekali kamu. Jadi, sekarang kita mampir dulu ke hotel untuk menuntaskannya ya," kata Bara seraya mengedipkan sebelah mata.


Delisa hanya pasrah. Ia tak bisa menolak karena pengaruh obat perangsang yang membuatnya juga menginginkan hal itu.


***

__ADS_1


Agam tersenyum menatap Anyelir yang nampak manis dengan dandanan sederhana. Gaun berwarna merah sebatas lutut tanpa lengan itu melekat indah di tubuh Anyelir yang semampai.


"Sudah siap?" tanya Agam pada Anyelir.


Anyelir mengangguk seraya tersenyum. "Apa aku tidak terlihat aneh?" tanyanya.


"Tidak. Kamu cantik," sahut Agam apa adanya. Sengaja, ia memanggil jasa salon ke rumahnya untuk sekadar merias Anyelir. la ingin Anyelir tidak dipandang sebelah mata oleh keluarganya nanti.


Agam melepas jasnya. Kemudian memakaikannya di tubuh Anyelir, hingga membuat gadis itu merinding dengan perlakuannya. "Kita berangkat sekarang!" ujar Agam, melangkah lebih dulu.


Satu jam lebih menempuh perjalanan, akhirnya mereka berdua tiba di rumah mewah nan megah bak istana. Anyelir ternganga melihat halaman luas seperti lapangan golf dan ditumbuhi oleh pepohonan di sekelilingnya.


Jarak rumah dari gerbang utama pun cukup jauh. Sebenarnya, siapa Agam? pikir Anyelir.


"Ingat pesanku. Jangan bicara saat tidak ditanya. Kamu hanya boleh menjawab pertanyaan siapa pun jika itu berhubungan dengan pernikahan kita. Selebihnya, biar jadi urusanku!" kata Agam.


"lya. Aku tahu," jawab Anyelir.


Agam turun terlebih dahulu. Kemudian membukakan pintu untuk Anyelir. Lantas, ia memberikan lengannya agar Anyelir mau menggapitnya. Sungguh drama yang sangat indah.


Anyelir menurut. Ia memasang senyum terbaiknya, apalagi saat Jasmine menyambutnya di depan pintu dengan banyaknya pelayan yang berjejer.


"Selamat sore, putraku. Selamat sore, cantik!" sapa Jasmine dengan sangat ramah. "Ayo, masuklah! Ayahmu ada di dalam sedang menunggumu!" ajaknya.


Agam mengangguk. Ia menoleh ke arah Anyelir yang tersenyum padanya. Mereka berdua melangkah bersama, menuju ruang tengah di mana Arsenio Lagathias sedang menunggu.


Ternyata ada Bella dan Aurel juga di ruangan itu. Ibu dan anak itu tersenyum padanya. Namun, Agam tak memedulikannya.


"Ayah, aku datang bersama Anyelir. Dia calon istriku." Agam berkata pada ayahnya yang kini tampak sekali perubahannya. Wajahnya sudah menua dimakan usia.


Rambutnya pun telah memutih. Namun, jejak ketampanan masih tampak jelas di diri pria berusia enam puluhan itu.


"Ya ... duduklah!" sahut Arsenio.


"Mamamu sudah mengatakannya padaku. Jadi, dia calon istrimu? Siapa namanya? Dan dari mana asalnya?" tanya Arsenio pada putranya.


"Namanya Anyelir Argasana. Putra dari keluarga Elajar Argasana."


Arsenio manggut- manggut. "Jadi, kamu anak Elajar?" tanyanya pada Anyelir.


"Iya, Tuan," sahut Anyelir yang bingung hendak memanggil Arsenio dengan sebutan apa.


"Aku dengar Elajar baru saja kehilangan putrinya? Aku dengar juga kesehatannya sedang memburuk," kata Arsenio.


Hati Anyelir seketika tersentak. "Ayah sakit?"


Dia harus bagaimana?

__ADS_1


__ADS_2