Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Challenge


__ADS_3

Agam mengulas senyum saat melihat aneka hidangan yang tersaji di meja makan. Makanan tersebut nampak menggiurkan di matanya. Mungkin saja karena memang perutnya merasa lapar.


"Tuan Muda semua ini yang masak adalah Non Anye. Jadi, mungkin saja rasanya akan berbeda," ujar Bi Santi. Wanita paruh baya itu melaporkan apa saja yang terjadi di rumah itu. Agam hanya mendengarnya seraya mulai menyendok lauk dan sayuran yang ada di meja.


"Kenapa tiba-tiba Anyelir memasak hari ini?" tanya Agam. la menyendokkan sesendok sayuran ke mulutnya dan mulai menikmatinya.


'Enak,' gumam Agam dalam hati.


"Non Anyelir mau menunjukkan sama Tuan Muda jika dia bisa melakukan sesuatu. Entahlah, kenapa tiba-tiba Non Anyelir bicara begitu. Saya lihat tadi matanya seperti habis menangis," sahut Bi Santi.


Agam mengangguk. "Ya sudah, kalau Bi Santi tidak sibuk panggilkan Anyelir, ya!" titahnya. Bi Santi menjawab dengan anggukan.


Agam menghela napas berat. Kejadian semalam mungkin saja membuat gadis itu merasa sakit hati. Padahal, bukan maksudnya untuk menyakiti Anyelir. Hanya saja, ia tersulut emosi karena Anyelir terus saja menyebut nama Delisa.


***


"Kak, kenapa belum tidur?" Anyelir turun dari kamarnya menuju dapur dan mendapati Agam tengah melamun di meja makan.


Agam yang ditanya hanya diam. la malas menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh Anyelir. Sebab, niat untuk mencari ketenangan malah harus ada gangguan kecil.


Anyelir memperhatikan Agam dengan saksama usai meneguk segelas air. Ia bahkan berani mendekatkan wajahnya agar dapat melihat Agam dengan jelas.


"Apa yang kamu lakukan?!" bentak Agam yang seketika membuat Anyelir berjingkat saking kagetnya.


"A-aku hanya sedang memperhatikan kamu. Aku kira ini hantu. Biasanya kan kalau hantu ditanya cuma diam saja," sahut Anyelir, sedikit takut.


"Ya Tuhan...." Agam mengusap wajahnya. Begitu polosnya wanita yang ada di hadapannya itu, pikirnya.


"Sudahlah, jangan ganggu aku! Kembali saja ke kamarmu!" Agam yang sudah merasa kesal mengusir Anyelir. Ia tidak ingin ada orang lain yang menemaninya.


Anyelir menghela napas. "Kak Agam, kalau kamu ada masalah, kamu bisa menceritakan semuanya padaku. Aku pasti bisa memberimu solusi. Tidak enak rasanya memendam masalah seorang diri. Rasanya pasti akan sakit di sini," tuturnya seraya menunjuk dadanya.


"Cih! Kamu itu cuma anak kecil yang tidak tahu apa-apa! Kamu tidak akan bisa memahami masalah orang dewasa sepertiku, Anyelir! Tidak usahlah peduli padaku!" Jawaban Agam yang seolah meremehkan Anyelir, membuat gadis itu tersinggung.

__ADS_1


"Saya memang anak kecil. Tapi, faktanya sebentar lagi kamu akan menikahi anak kecil ini! Apa kamu tidak malu mengatakan hal seperti itu?!" skakmat Anyelir. la tersenyum mengejek Agam.


Agam memejamkan mata. "Pergilah! Jangan menggangguku!" usirnya.


"Apa tidak ada kesempatan untukku agar bisa mencoba dekat denganmu kak? Anggap saja aku ini temanmu," lirih Anyelir. Ia hanya merasa kasihan melihat Agam yang selalu sendirian. Pasti pria itu selalu memendam semua masalahnya sendiri.


"Tidak ada yang bisa dekat denganku, Anyelir. Dan kamu harus ingat bahwa nanti pernikahan kita hanyalah ada di atas kertas. Kamu jangan terlalu berharap untuk bisa mendapatkan yang lebih dari ragaku! Karena hatiku tak akan pernah bisa kamu dapatkan!" tegas Agam.


Anyelir tersenyum getir. "Ya, aku tahu. Aku tidak akan pernah mendapatkan hati kamu karena hati kamu tuh masih terikat pada Delisa. Iya, kan?!" todongnya.


"Tidak ada urusannya dengan Delisa! Hatiku sudah mati untuk wanita itu!"


"Tidak mungkin. Kamu pasti sedang memikirkan wanita itu!" tuduh Anyelir.


Brak!


Agam menggebrak meja hingga membuat Anyelir terlonjak kaget.


"Kamu jangan sok tahu! Aku mungkin bersikap terlalu baik padamu sampai kamu bisa bersikap kurang ajar seperti ini!" bentak Agam. Ia berdiri dan menatap tajam ke arah Anyelir dan kembali berkata, "Jangan pernah menyebut nama wanita itu di rumah ini! Dan jangan pernah mencoba untuk merayuku! Aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu! Sekarang pergi ke kamarmu!"


Anyelir pun berlalu meninggalkan Agam dengan air mata tertahan.


Agam mengusap wajahnya dan kembali duduk. Niat hati ingin mencari ketenangan malah yang didapatkan adalah keributan.


***


Agam kembali menghela napas saat mengingat kejadian semalam. Rasa sesalnya terasa begitu besar pada Anyelir. Apalagi ia sempat melihat Anyelir menahan air mata semalam. Padahal, pantang baginya untuk membuat seorang gadis menangis.


Akhirnya, orang yang ditunggu datang juga. Anyelir menghampirinya dengan pandangan tertunduk. Mungkin saja gadis itu masih takut dengannya atas kejadian semalam dan juga merasa malu atas kejadian tadi di depan kamarnya.


Kali ini penampilan Anyelir sudah lebih segar. Dan gadis itu kembali mengenakan hijab seperti kemarin- kemarin. Mungkin, gadis itu sedang tahap belajar mengerjakan kewajiban yang satu itu.


"Duduklah dan makan! Aku dengar kamu belum makan dari tadi!" kata Agam.

__ADS_1


Anyelir menelengkan kepalanya. Mungkin ia heran karena suasana hati Agam berubah begitu cepat. Ia tak banyak bertanya dan segera duduk di hadapan Agam.


"Kamu yang masak semua ini?"


"Iya," sahut Anyelir seraya mengangguk.


"Kenapa? Bahkan, kamu tidak membiarkan Bi Santi membantumu."


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin menyajikan sesuatu untukmu sebagai permintaan maaf," jawab Anyelir dengan suara pelan.


Agam tersenyum tipis. "Angkat wajahmu dan katakan padaku, apa alasanmu membuat permintaan maaf ini?"


Anyelir mendongak. Ia menelan ludahnya susah payah. Dihelanya napas panjang. Lantas menjawab, "Aku melupakan sesuatu di sini. Aku lupa bahwa diriku hanyalah orang asing yang seharusnya tahu diri. Tidak sepantasnya aku berusaha menjadi temanmu. Aku lupa bahwa hubungan kita hanya sebatas saling balas budi."


la tersenyum pada Agam. Senyum tulus yang mampu membuat fokus Agam terpecah belah.


"Maafkan sikap kurang ajarku semalam, Kak Agam. Aku lupa menempatkan diri di rumah ini. Mulai sekarang, aku akan berusaha menjaga jarak denganmu. Meskipun nanti, setelah kita menikah," imbuh Anyelir.


Agam menaikkan satu alisnya. "Ya, baiklah. Bagus kalau kamu paham tentang itu!" sahutnya. Namun, ia merasa bahwa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.


"Tapi, tentang ucapanku semalam, aku serius," kata Anyelir.


Agam yang baru saja menyendok makanan ke mulutnya menatap Anyelir dengan alis bertaut. Dikunyah dan ditelan dulu makanan dalam mulutnya, barulah ia menyahut ucapan Anyelir.


"Yang mana?"


"Tentang kamu yang akan jatuh cinta padaku. Aku memang tidak bisa mengetahui tentang hati manusia. Tapi, tidak dengan Tuhan kita. Siapa tahu, kelak Dia akan membuatmu jatuh cinta setengah mati padaku," ujar Anyelir sambil tersenyum miring.


"Kamu menantangku?" tanya Agam. Ia tersenyum miring saat bertanya.


"Iya. Aku yakin kalau kamu pasti jatuh cinta padaku. Dan saat itu tiba, mungkin saja kerja sama di antara kita sudah berakhir."


Agam mengendikkan bahu. "Aku menerima tantanganmu ini. Jika benar aku akan jatuh cinta padamu! Aku akan mengumumkannya pada seluruh dunia kalau aku mencintaimu!" sahutnya seraya tersenyum manis.

__ADS_1


Hati-hati lho Agam!


__ADS_2