
A² — Agam dan Anyelir
Hari pernikahan akhirnya tiba. Pasangan mempelai kini sudah duduk di pelaminan usai Agam mengucap ijab qobul atas nama Anyelir di depan banyak orang. Keduanya nampak sangat serasi dengan gaun dan jas berwarna putih yang anggun dan elegan.
Agam tersenyum dan merasa bahwa ia seperti bermimpi karena sekarang sudah menjadi seorang suami dari wanita yang baru saja memasuki kehidupannya. Banyak dan sedikit waktu yang ia habiskan bersama Anyelir, mampu membuatnya mengambil keputusan berat ini.
"Anye?" panggil Agam pada istrinya.
"Iya?" sahut Anyelir. Gadis itu terlihat sangat cantik hari ini. Kecantikan sang ratu sehari semalam yang tak akan bisa ditandingi oleh siapa pun.
Elajar bahkan sampai menitikkan air mata kala pertama kali melihat Anyelir keluar usai dirias. Lagi-lagi wajah Anyelir mengingatkannya pada sosok mendiang sang istri.
"Mulai sekarang, kamu adalah istriku. Jangan pernah merasa sendiri karena ada aku yang kini bersamamu," ujar Agam. Ditatapnya wajah Anyelir yang bersemu merah.
"Iya. Terima kasih ya," sahut Anyelir.
Beberapa teman sejawat Agam maju dan memberikan selamat kepadanya dan juga Anyelir. Mereka ikut berbahagia atas pernikahan Agam dan mendoakan kebaikan untuk pernikahan kedua mempelai.
"Semoga secepatnya diberi momongan, ya. Supaya hidupmu tidak datar- datar saja," celetuk Gamal.
"Thanks," jawab Agam.
"Sudah punya bini, aku jadi tidak punya celah untuk dekat denganmu lagi, Pak Agam. Tapi, apa pun itu ... aku ucapkan selamat untuk pernikahan kalian ya." Nadia berujar seraya mengulurkan tangannya pada Agam.
Namun tak disangka, Agam malah menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Hal itu membuat Nadia merasa canggung dan malu.
"Terima kasih, Bu Nadia. Anda bisa bersalaman dengan istri saya," ujar Agam.
Nadia tersenyum. Lantas mengangguk. Ia bergeser selangkah dan kini berhadapan dengan Nara. Kedua matanya menatap kagum pada istri Zidan itu.
"Selamat, ya, Mbak. Semoga menjadi keluarga samawa," kata Nadia sambil mengulurkan tangannya.
Anyelir mengangguk dan segera menyambut uluran tangan Nadia. "Aamiin. Terima kasih," sahutnya.
"Waw, selamat ya Gam, Anyelir atas pernikahannya ini " ucap Alister sembari menggendong sosok anak kecil perempuan, Alison. Ditemani oleh Azza di sampingnya.
Tak lupa juga Langit, Faiz, dan Diana yang bukan lalu bertunangan dengan kakak tirinya bernama Samuel. Sosok pria yang posesif kepada Diana dari dia kecil.
__ADS_1
Usai acara salam- salaman, suasana di aula mulai sedikit lengang. Elajar, Dewi, dan Ulayya pun berdiri dan menghampiri Agam dan Anyelir yang sudah bersiap menyambut mereka.
Elajar memeluk Agam seraya menepuk- nepuk punggungnya. "Tolong jaga dia untukku, nak. Aku sudah gagal menjadi seorang ayah. Tolong jangan biarkan dia menangis dan tolong jangan sakiti hatinya," lirihnya dengan suara bergetar.
Agam mengangguk. "Ayah bisa percaya padaku. Akan aku jaga putri ayah dengan baik. Aku berani mempertaruhkan nyawaku untuk melindungi Anyelir," tegasnya.
Elajar melepas pelukannya. Disekanya kedua sudut mata, lantas beralih menatap sang putri yang tersenyum begitu manis.
"Anakku, selamat atas pernikahanmu. Ayah sangat bahagia atas kebahagiaanmu ini." Elajar mengusap pipi Anyelir dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan ayah, nak. Sikap ayah yang tidak tegas membuatmu menderita," imbuhnya.
Dewi dan Ulayya yang mendengarnya hanya mendesah dan memutar malas bola matanya. Terlalu banyak drama, pikir mereka berdua.
"Tidak apa-apa, ayah. Aku yakin, kalau nanti orang-orang yang jahat padaku dan ayah akan mendapatkan balasan secepatnya. Hidup mereka tidak akan tenang dan akan selalu terbayang-bayang oleh rasa bersalah," sahut Anyelir.
"Ayah tidak usah cemas. Aku di sini akan baik-baik saja. Tugas ayah sekarang adalah menjaga diri. Jangan lengah dan tetaplah teguh pada pendirian yang berasal dari hati," pesan Anyelir yang dijawab anggukan oleh Elajar.
Elajar sontak memeluk Anyelir. "Iya, nak. Kalau begitu ayah pulang dulu. Jaga dirimu." Usai mengatakan hal itu, Elajar berlalu menuruni podium dan meninggalkan tempat acara.
Dewi dan Ulayya bergegas mengikuti tanpa berniat menyalami Anyelir terlebih dahulu. Mereka hanya mengucapkan selamat tanpa menoleh ke arah Anyelir.
"Cih, dasar!" decih Agam saat melihat sikap ibu dan anak yang kekanakan itu.
Agam dan Anyelir kembali duduk di singgasana. Mereka mengernyit saat seorang wanita berteriak sambil berlari.
"Delisa?" gumam Agam. Ia syok melihat mantan kekasihnya membuat onar di acara sakralnya
"Agaam! Kamu tidak boleh menikahi wanita itu! Kamu harus menikah denganku!" Teriakan Delisa seketika mengundang fokus semua orang ke arahnya.
Arsenio dan Jasmine saling pandang. Lantas, mereka menyuruh pada ajudan untuk membawa gadis itu keluar.
"Tidak! Lepaskan aku! Aku mau meminta pertanggung jawaban dari Agam. Dia harus menikahiku dan bertanggung jawab atas bayi yang ada di kandunganku!"
Hah?
Sontak saja, bisik- bisik terdengar dari mulut ke mulut. Semua undangan yang hadir menatap Agam dengan tatapan hina dan menatap Delisa dengan tatapan iba.
Agam terkekeh. Rupanya ia dijadikan kambing hitam atas perbuatan yang tidak ia lakukan. Sementara Anyelir, ia syok dan tak tau harus bagaimana. Di sisi lain, ia tak percaya jika Agam melakukan hal itu. Namun, di sisi lain ia percaya jika cinta bisa membuat seseorang lupa segalanya.
__ADS_1
Agam menatap Bryan, bawahannya yang sejak tadi sudah bersiap untuk beraksi. Namun, ia hanya akan beraksi ketika Agam sudah memberinya perintah.
Agam meminta mic pada Bryan dan dengan sigap sang bawahannya itu mengambil mic dan mengulurkannya pada Agam.
"Delisa?" panggil Agam.
Delisa yang seketika tersenyum karena mendapat perhatian dari semua orang seketika mendongak ke arah Agam.
"Jadi, kedatanganmu ke sini mau meminta tanggung jawab padaku atas perbuatan orang lain?"
Kedua mata Delisa melebar. Ia memindai ruangan dan seketika tatapan semua orang kembali mengarah padanya.
"Agam, aku hamil anakmu! Apa kamu lupa atas apa yang kamu lakukan padaku, hah?!"
Agam berdecih. "Ternyata aku memang beruntung bisa melepaskan diri dari wanita sepertimu," ujarnya. "Karena kamu sudah merusak suasana kebahagiaan di acaraku dan membuat istriku ragu padaku ...." Agam menoleh ke samping, di mana Anyelir menatapnya dengan wajah tegang.
"Maka jangan salahkan aku jika aku membeberkan bukti atas perbuatanmu yang menjijikkan!"
Sontak saja lampu aula mati dan berganti dengan pemutaran sebuah video asusila yang terjadi antara Bara dan Delisa. Dalam video tersebut, nampak jelas wajah dua pemain yang terekam di sana.
Beberapa detik berlalu, akhirnya video tersebut mati, bersamaan dengan terangnya aula.
"Kamu harus tahu, Delisa. Dulu, aku memang mencintaimu. Tapi, kamu membalas semua cintaku dengan pengkhianatan. Dan tidak sampai di situ, kamu malah memintaku bertanggung jawab atas apa yang diperbuat oleh selingkuhan mu!" tandas Agam.
Kepala Delisa tertunduk dalam. Kedua tangannya terkepal kuat. Sorakan, umpatan, dan hinaan seketika terucap dari semua mulut untuk dirinya.
"Dasar tidak tahu malu!"
"Pelacur!"
"Lont*!"
"Pergi sana! Dasar wanita gila!"
Delisa berbalik badan dan berlari meninggalkan aula seraya membawa rasa malu yang teramat besar. Aibnya sudah disebar luaskan oleh Agam. Ia benar-benar sudah hancur sekarang.
Bruk!
__ADS_1
Delisa jatuh terbaring di atas lantai karena pijakan kaki yang salah. Sontak hal itu membuatnya malu berkali-kali lipat. Sudah di permalukan oleh kelakuannya, sekarang di tambah oleh kakinya sehingga terbaring menungging di tengah-tengah acara.
Astaganaga Delisa, malu kali tuh!