Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Awkward


__ADS_3

Agam baru saja selesai mengajar. Ia berniat untuk mampir dulu ke ruang dosen, menyapa beberapa dosen sebelum pulang. Sekaligus untuk menanyakan kabar resepsi pernikahan Eliza yang akan berlangsung hari ini.


"Selamat siang," sapa Agam. Seketika suasana di ruangan tersebut berubah sunyi. Beberapa dosen di sana terheran-heran melihat Agam yang melangkah masuk ke ruangan dengan senyum mengembang.


"Oh, Pak Agam. Selamat siang. Tumben sekali Anda masuk ke ruangan ini," celetuk Nadia yang memang sudah biasa menyapa semua dosen di kampus. la tak seperti dosen lain yang merasa segan untuk menyapa Agam.


"Iya. Sudah lama sekali, ya. Oh, ya. Apa kalian nanti datang ke pernikahan Bu Eliza?" balas Agam.


"Tentu saja, Pak Agam," jawab Gamal, dosen pembimbing mata kuliah matematika. "Anda dan Bu Delisa juga datang, bukan?" tanyanya.


"Saya sudah pasti akan datang. Kalau Bu Delisa, saya tidak tahu. Kalian berangkat jam berapa?"


Gamal dan Nadia saling pandang. Nadia mengendikkan bahu ketika tatapan Gamal seolah menuntut penjelasan kepadanya.


"Kalau saya berangkatnya tidak pasti, Pak Agam. Anda tahu bukan kalau kaum wanita membutuhkan waktu yang lama untuk membuat alis?" seloroh Gamal seraya terkekeh.


Agam ikut tertawa sambil menganggukkan kepalanya. "Benar juga, ya," timpalnya.


"Eh, kalian para cowok mana mengerti bagaimana rasanya jika gambar alis tapi tidak sama? Terus kalian tidak akan tahu gimana kesalnya hati saat alisnya yang susah payah dibuat malah luntur!" Nadia memprotes dua pria yang terangterangan membicarakan aib wanita.


"Ya, ya, saya paham, kok, Bu Nadia. Slow, slow ...." Gamal menggerakkan tangannya naik turun. Sementara Nadia hanya mendengus.


"Ya sudah saya pamit dulu Mungkin saja saya akan datang sedikit terlambat nanti. Permisi," pamit Agam sambil mengulum senyum.


Gamal dan Nadia mengangguk seraya tersenyum.


Sepeninggal Agam, Nadia melirik Gamal dan bertanya, "Eh, kamu tahu tidak kalau Pak Agam dan Bu Delisa udah putus?"


Gamal dan Nadia adalah teman dekat. Mereka seringkali bercanda dan saling curhat satu sama lain. Namun, Nadia tetap menjaga jarak karena Gamal sudah beristri. Ia tak ingin kedekatannya dengan pria itu menjadi bumerang untuk dirinya. Ia tak ingin jika merasakan sebuah arti dari rasa nyaman yang diberikan oleh pria beristri.


"Aku cuma dengar saja, Nad. Tapi, masalah benar atau tidaknya aku tidak tahu. Mungkin saja, nanti saat resepsi pernikahannya Eliza, Agam akan datang dengan wanita pilihannya," sahut Gamal.


Nadia berdecak. "Kalau memang tidak ditakdirkan untuk jodoh, pasti akan berpisah. Padahal, siapa pun yang melihatnya pasti tidak akan percaya kalau Agam dan Delisa putus. Sangat disayangkan," celetuknya.


Gamal mengendikkan bahu. "Biarkan saja lah. Itu urusan mereka. Urusin saja tuh hidupmu yang tak kunjung memiliki pasangan," ejeknya.


Nadia mencebik. "Aku bermimpi bisa menikah sama Pak Agam. He he he," ucapnya.


Gamal memutar bola matanya malas. "Yang ada Agam ogah sama lu!" cibirnya.


Nadia mendelik. Ketika ia hendak memukul Gamal, pria itu malah ngacir pergi meninggalkannya.


"Nyebelin lu!"


Agam baru saja sampai di rumah. Ia melangkah masuk dengan suara ketukan sepatu yang membuat Bi Santi bergegas menghampirinya. Wanita paruh baya itu menyambut Agam dengan senyum meneduhkan seperti biasanya.


"Di mana Anyelir?" Agam melempar tanya seraya tetap berjalan.


"Non Anyelir masih dirias, Tuan. Apa Anda mau masuk ke ruangan Non Anye?" Bi Santi menjawab sambil terus mengekori langkah Agam.


"Tidak usah. Aku juga mau bersiap. Panggil aku jika Anyelir sudah siap!" titah Agam.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Apa Anda mau dibuatkan kopi?"


Agam berhenti melangkah sejenak. Lantas menggelengkan kepala seraya menjawab, "Tidak usah, Bi." la lantas kembali melangkah menuju kamarnya.


Sementara itu di ruangan yang lain, Anyelir sedang dirias dengan begitu cermat oleh seorang MUA yang handal. MUA tersebut adalah orang yang bekerja di bawah perintah keluarga Lagathias Group sehingga dengan sigap dan tanpa penolakan team MUA bergegas datang ketika Agam memberikan perintah.


"Saya tidak menyangka kalau Agam bisa secepat itu move on," celetuk Amber. Tangannya bergerak lincah menggambar alis di wajah Anyelir.


Anyelir hanya tersenyum mendengar ucapan Amber. Orang yang tidak tahu menahu tentang masalah Agam pasti akan berpikir bahwa pria itu tipe orang yang cepat melupakan sebuah kenangan. Namun, Anyelir yang tahu tentang sisi lain Agam menilainya dengan pandangan yang berbeda.


Agam belum bisa move on. Pria itu memanfaatkan Anyelir dan membuat Anyelir seolah adalah sebuah pelarian. Menyedihkan memang. Namun, bukankah semua ini demi keuntungan masing-masing pihak?


"Tapi, aku senang kalau Agam bisa lepas dari wanita bernama Delisa itu," ujar Amber lagi. "Dari segi wajah, Delisa itu memang cantik dan rupawan. Tapi sayangnya dia itu murahan," cibirnya.


Mata Anyelir membulat mendengar ucapan Amber.


"Wah, matamu indah sekali, Anyelir. Pas sekali karena aku memang akan memasang bulu mata ini!" seru Amber.


"Maaf... boleh saya menanyakan sesuatu?" tanya Anyelir, pelan.


Amber tersenyum geli. la ternyata berhadapan dengan gadis yang polos.


"Tanyakan saja, Anye," jawab Amber seraya terkekeh.


"Nama pacar Agam sebelumnya itu Delisa, ya?"


Amber mengangguk. "Iya, Anyelir."


Amber nampak mengerutkan dahinya. Mungkin sedang mengingat-ingat hal yang ditanyakan Anyelir. "Sejak kapan, ya ... seingatku udah lama banget. Mungkin saja saat mereka baru masuk kuliah, An. Setahuku, mereka juga sekolah di SMA yang sama. Tapi, Delisa itu adik kelas Agam," sahutnya, menjelaskan.


Anyelir termenung. Hubungan yang cukup lama, pikirnya. Tentu saja bukan hal yang mudah bagi Agam atau pun Delisa melupakan semua kenangan yang pernah mereka buat selama beberapa tahun itu.


Dan Agam ... pria itu pasti tidak akan pernah bisa memberikan seluruh cinta untuk dirinya yang hanya orang asing di kehidupannya.


"An, kok, malah melamun?" Amber menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri di hadapan wajah Anyelir.


Anyelir tersentak. Ia lantas tersenyum. "Mbak Amber, kenapa mereka bisa putus?" tanyanya.


Amber mengembuskan napas berat. "Aku tuh emang dari awal tidak pernah setuju kalau Agam jadian sama Delisa. Soalnya aku tahu kalau wanita itu tidak pernah tulus sama Agam," sahutnya. Tangannya terhenti sejenak dari aktivitasnya.


Amber lantas menatap Anyelir. Dalam dan tajam, hingga membuat yang ditatap merasa tak enak hati.


"Kenapa Mbak Amber ngelihatin saya sampai seperti itu?" tanya Anyelir seraya menyentuh kedua pipinya.


Amber tertawa pelan. "Aku belum pernah mengenalmu, Anyelir. Tapi, aku tahu kalau kamu tidak ada niat buruk sama Agam. Aku juga tidak tahu apa alasan kalian menikah dalam waktu dekat. Tapi, aku merasa kalau kalian ini berjodoh," celetuknya.


Anyelir sontak saja mendelik. "Mbak Amber sama Bi Santi ini kok sama saja. Mbak Amber tidak tahu alasan kenapa saya dan Agam menikah. Semua itu terjadi bukan tanpa alasan. Tapi ... ya sudahlah, tidak perlu dibahas," sahutnya.


Amber tertawa. "Oalah, Anye ... Anye. Ternyata kamu ini lucu juga, ya," selorohnya seraya tangannya kembali menari di wajah Anyelir.


"Anye, kamu udah pernah diajak ke rumah orang tua Agam, belum?"

__ADS_1


Anyelir mengangguk. "Sudah, Mbak."


Amber tersenyum. "Ternyata kamu memang spesial. Delisa saja yang sudah lama bersama Agam belum pernah menginjakkan kaki di rumah mewah itu."


Anyelir bergeming. la bingung hendak menjawab apa.


"Jadi, kamu sudah kenal sama semua keluarga Agam, kan? Kamu juga sudah tahu tentang asal keluarga Agam, kan?"


Amber kembali melempar tanya.


"Iya, Mbak. Saya baru tahu kalau Agam berasal dari keluarga yang kaya raya. Aku kira dia hanya sebatas dosen saja. Tapi, rasanya itu tidak mungkin karena rumah orang tuanya sangat tidak biasa."


Anyelir kembali mengingat momen ketika ia datang ke rumah orang tua Agam. Rasa kagumnya masih terbawa hingga sekarang.


"Jadi kamu belum tahu tentang siapa itu keluarga Lagathias?" tanya Amber dengan mata menyelidik.


"Iya, Mbak. Agam menyuruh saya untuk tidak bertanya apa pun tentang keluarganya. Dan itu tidak masalah bagi saya. Soalnya siapa keluarganya bagi saya tidak begitu penting," jelas Anyelir.


Amber manggut- manggut. "Dia hanya tidak ingin mengingat masa lalunya yang buruk, An. Nanti, jika sudah waktunya dia akan menceritakan tentang keluarganya tanpa harus ditanya."


Anyelir mengerutkan keningnya. "Apa iya? Kok, kayak tidak mungkin, Mbak," sahutnya.


"Bukannya tidak mungkin, Anye. Dia sekarang masih bisa menyembunyikannya. Nanti, jika rasa sesak dalam dadanya sudah mencapai klimaksnya, pasti perasaannya akan meledak. Dan saat itulah ... kamu yang akan menjadi tempatnya untuk mengadu."


Anyelir bergeming. Ia lantas menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak mungkin, batinnya.


"Nah, sudah selesai. Kamu cantik sekali, Anyelir. Malah lebih cantikan kamu sama si Delisa itu," ujar Amber yang kagum dengan hasil riasannya sendiri.


Anyelir tersenyum. la sendiri juga pangling dengan penampilannya kali ini. Hasil karya tangan Amber memang patut diacungi jempol. Gaun berwarna merah muda yang melekat di tubuhnya pun sangat indah. Sederhana namun elegan.


"Ah, tidak juga. Ini semua kan karena jasa Mbak Amber," sahut Anyelir.


Amber tersenyum. "Bentar aku panggil Agam dulu ke mari. Kalian harus segera berangkat, kan? Ayo, kita keluar dan memberikan pria dingin itu kejutan," selorohnya.


Anyelir hanya tersenyum menanggapi. Ia berdiri dan berjalan mengekori Amber. Tepat saat mereka berada di depan pintu Agam lewat. Pria itu pun sudah siap dengan setelan jas yang melekat dengan sempurna di tubuh atletis itu.


"Woy, Agam! Kamu ini, calon istri ada di sini malah tidak dilirik!" tegur Amber.


Agam sontak saja berhenti. Sejenak tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Anyelir. Namun, hal itu hanya berlangsung beberapa detik saja karena tiba-tiba rasa gugup menyerang keduanya.


Amber mengulum senyum melihat Agam dan Anyelir yang mendadak salah tingkah.


"Ehem!" la berdeham.


"Sudah selesai? Ya udah, ayo kita langsung berangkat!" ujar Agam tanpa menatap Anyelir. Ia pun kembali melangkah meninggalkan Anyelir yang menatapnya dengan kecewa.


"Sudah, tidak usah sedih. Dia tuh, cuma lagi salah tingkah doang karena lihat wanita cantik," ujar Amber sambil mengusap lengan Anyelir. "Ya sudah, ayo kita keluar!" ajaknya seraya menggandeng Anyelir, seolah Anyelir adalah seorang pengantin.


Anyelir mengangguk seraya tersenyum. Ia menerima tangan Amber dan berjalan bersama.


Agam perlu di sleding ga guys?

__ADS_1


__ADS_2