
Pagi ini, seperti biasa Agam mengawali hari dengan meminum secangkir kopi tanpa gula sebelum memulai aktifitas. Sudah menjadi kebiasaan pria itu melakukan hal tersebut. Kopi pahit yang tersebut mampu membuat dirinya lebih fokus untuk bekerja nantinya.
Ponsel Agam yang tergeletak di meja depannya mendadak berdering. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal. Tak ada, nama maka tak perlu diangkat.
Namun, panggilan tersebut terus-menerus masuk ke ponselnya, membuat Agam mau tak mau mengangkatnya.
"Halo?"
"Halo, kak ... tolong aku!" kening Agam berkerut.
Sial, suara itu adalah suara Delisa. Dia mengganti nomor teleponnya dan kembali menghubunginya dengan nomor baru setelah nomor lamanya diblokir Agam.
"Maaf, salah sambung."
"Tunggu! Tolong jangan dimatikan. Aku ingin bicara denganmu, kak. Tolong," lirih Delisa. Wanita itu terisak, entah untuk memancing kepedulian Agam ataukah memang ia sedang tidak baik-baik saja.
"Aku bingung mau ngadu ke siapa. Tolong aku, kak. Aku dijebak sama Bara. Lagi-lagi dia mengajakku ke hotel dengan mencampurkan obat ke dalam minumanku," adu Delisa.
Agam memutar bola matanya malas. la melirik jam yang sudah menunjukkan angka tujuh. Tak mau membuang waktu, ia mengatakan sesuatu pada Delisa.
"Silakan pergi ke kantor polisi jika memang merasa dijebak. Di sana kau akan mendapatkan hal yang kamu cari."
Usai mengatakan hal itu, Agam menutup teleponnya dan bergegas bersiap untuk berangkat ke kampus.
Langkah kakinya terdengar keras karena suasana rumah yang senyap. Agam berpikir bahwa mungkin saja Anyelir masih bergulung dalam selimut. Gadis itu mungkin saja masih syok dengan kejadian kemarin sore di rumahnya.
Agam sudah menaiki motornya. Ia memanasi mesinnya lebih dulu selama beberapa menit sebelum mengendarainya. Usai dirasa cukup, barulah ia mulai mengendarai motornya meninggalkan rumah menuju kampus.
Sementara itu, Anyelir yang masih betah berada di dalam kamar menoleh ke arah jendela. Ia menatap kepergian Agam dari kamarnya dengan pikiran yang berkecamuk.
Agam menikahinya bukan karena cinta. Namun, apakah ia bisa menjalani pernikahan ini nantinya? Membangun rumah tangga tanpa cinta tentu akan membuat hati terasa hampa.
Huh!
__ADS_1
Anyelir menghela napas panjang. Jika memang ia harus melakukan pernikahan ini untuk ajang balas dendam, ia harap sampai balas dendamnya selesai, tak akan ada rasa cinta yang tumbuh di hatinya untuk Agam nanti.
Agam memarkir motornya di area kampus. Saat hendak melangkah masuk ke dalam kelas, ia lebih dulu menghubungi seseorang untuk menanyakan tentang perkembangan informasi tentang keluarga Anyelir.
"Apa ada informasi lain mengenai istri keduanya itu?"
"Istri Tuan Elajar memiliki anak berusia 21 tahun, Tuan. Informasi yang saya dapatkan saat ini adalah tentang mereka yang akan merencanakan sesuatu untuk Nona Anyelir, Tuan."
Kening Agam berkerut. "Tentang Anyelir? Kenapa dengannya?" tanyanya.
"Mereka berusaha untuk kembali mencelakai Nona Anyelir, Tuan. Tapi, saya belum tahu pasti rencana mereka."
Agam berdeham. "Oke, aku paham. Tetap awasi mereka dan laporkan kepadaku!" titahnya.
"Baik, Tuan."
Agam memasukkan ponsel ke dalam tasnya. Ia lantas berjalan ke arah kelasnya mengajar. Saat berjalan di pertigaan, ia berpapasan dengan dosen wanita yang tersenyum menyapanya. Ia adalah Nadia, teman Delisa di kampus tersebut.
"Selamat pagi, Pak Agam," sapa Nadia dengan begitu ramah.
"Anda mau langsung ke kelas? Saya jarang sekali melihat Anda di ruang dosen," ujar Nadia.
Agam tersenyum simpul. "Iya. Saya memang jarang masuk ke ruang dosen. Soalnya setelah mengajar saya memilih untuk langsung pulang," sahutnya. "Mari, kita jalan bareng. Bukannya Bu Nadia mengajar di ruangan kelas yang bersebelahan dengan kelas saya?" tawarnya.
Agam lantas berjalan usai melihat wanita di hadapannya mengangguk. Mereka berjalan beriringan seraya bertukar cerita tentang pengalaman mengajar mahasiswa. Tentunya setiap dosen memiliki sisi lelahnya sendiri ketika menghadapi mahasiswa yang tidak bisa diatur.
"Mereka yang tidak bisa diatur itu bukan berarti tidak bisa diatur. Tapi, mereka tidak suka dikekang dengan nasihat yang berisi sebuah aturan. Sebab, aturan bagi mereka sama saja dengan tali yang mengikat sehingga membuat mereka tidak bisa bebas," jelas Agam.
Nadia yang mendengarnya mengangguk anggu "Lalu, bagaimana cara Anda menyikapi sikap mereka yang bandel seperti itu?"
"Ya gimana, ya. Kalau saya sih, berusaha untuk bisa berada di posisi mereka. Saya mencoba menyelami keinginan mereka dan barulah saya bisa berteman dengan mereka. Lebih enak mengajar itu jika mereka menganggap kita teman, bukan dosen yang suka memerintah."
Agam menjelaskan dengan rinci. Tangannya terus bergerak ketika bibirnya berucap. Saat ia menjelaskan, pikiran dan hatinya saling bertaut karena memang salah satu yang membangkitkan sisi kharismatiknya adalah saat kecerdasannya keluar seperti saat ini.
__ADS_1
Nadia mengangguk-angguk. "Saya mengerti sekarang. Pantas saja Anda dijuluki dosen yang penuh kharisma. Memang Anda sangat berkharisma. Mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini pastilah sangat senang jika Anda yang mengajar," ujarnya.
Agam tertawa. "Tidak juga, Bu. Semua dosen memiliki kharisma tersendiri yang dapat menarik ketertarikan mahasiswanya."
Nadia tertawa pelan. Merendah sekali, pikirnya.
Ketika mereka hampir tiba di kelas masing-masing. Tiba-tiba Delisa mendekati mereka dan berhenti tepat di hadapan Agam. Ia menatap Agam dan Nadia secara bergantian.
"Kenapa kalian jalan bareng?" todongnya seolah tengah memergoki kekasihnya selingkuh.
"Bukan urusanmu." Agam menyahut ketus. Sementara Nadia hanya bengong melihat respons Agam yang mengejutkan. Tidak biasanya pria itu menjawab seketus itu pada Delisa, pikirnya.
Nadia belum mengetahui tentang kabar yang beredar tentang putusnya hubungan antara Agam dan Delisa. Sehingga wajar saja ia terkejut melihat pasangan fenomenal itu bertengkar seperti ini. Apalagi Delisa yang notabennya adalah temannya, tak pernah menceritakan apa pun tentang masalah percintaan.
"Kak...." Suara Delisa melemah. Ia menatap Agam dengan mata berkaca-kaca.
"Del, please... biarkan aku tenang dengan hidupku. Aku tidak ingin kamu terus saja menggangguku," pinta Agam. la pun berjalan meninggalkan Delisa yang menangis dan Nadia yang terbengong- bengong.
"Delisa ... apa yang sebenarnya terjadi?" Nadia menepuk pelan bahu Delisa. Ia turut prihatin jika memang benar hubungan Agam dan Delisa hancur.
Delisa menghapus segera air mata yang membasahi pipinya.
"Kenapa kalian tadi bisa jalan berduaan?" tanya Delisa, mengulang pertanyaan yang sama.
"Kenapa? Ya tidak apa-apa, Del. Tadi kebetulan kami barengan datang saat di parkiran. Ya sudah, kami jalan bareng ke kelas. Gitu," jelas Nadia.
"Sama kamu saja dia mau jalan bareng. Tapi, sama aku kenapa tidak mau," keluh Delisa.
"Apa kalian sudah putus?" tanya Nadia, pelan.
Delisa menatap Nadia tajam. Lantas menjawab, "Tentu saja tidak. Mana mungkin aku dan Agam putus? Kami hanya bertengkar biasa. Bentar lagi juga baikan," sanggahnya.
Nadia manggut- manggut. "Oh, ya udah kalau gitu. Sebab, jika saja para dosen wanita dan mahasiswi di sini tahu kalau kalian putus, mereka akan berlomba-lomba mendekati Pak Agam. Termasuk aku," ucapnya yang mampu membuat Delisa terhenyak.
__ADS_1
Savage banget ya Bu Nadia ini guys!