
Di tengah-tengah acara makan bersama usai menentukan tanggal pernikahan dan rasa bahagia yang dirasakan oleh dua keluarga itu, Ulayya datang setelah semalam tidak pulang. Langkah wanita itu terhenti di ambang pintu saat melihat Anyelir yang duduk berdekatan dengan Elajar.
Dewi yang melihat putrinya datang, seketika berdiri dan menyambutnya dengan pelukan. "Anak mama sudah pulang. Bagaimana tugas kuliahmu? Apa semua sudah beres?" tanyanya dengan bangga seolah memperlihatkan pada keluarga Agam bahwa putrinya hebat karena masih memikirkan kuliahnya.
Ulayya tersenyum dan mengangguk. Pandangannya beralih menatap Anyelir yang tersenyum sinis padanya. Namun, baginya itu tak masalah karena menurutnya menyingkirkan Anyelir bukanlah hal yang sulit.
"Apa dia putri anda?" Jasmine melempar tanya pada Dewi yang tampak sumringah saat menuntun Ulayya duduk di sampingnya.
"Iya, Bu. Dia putri saya. Dia ini seorang mahasiswi yang paling cerdas di kampusnya. Dia juga dikenal para dosen sebagai mahasiswi yang cantik," sahut Dewi yang terus menerus memuji Ulayya.
"Ma, sudah hentikan," tegur Elajar yang merasa tak enak hati mendengarnya. Rasanya ia sungkan pada calon besannya.
"Oh, benarkah? Pasti anda sebagai mamanya bangga sekali mempunyai anak yang cerdas seperti ini, ya?" Jasmine sengaja mengikuti alur permainan yang dibuat oleh Dewi.
"Tentu saja. Anak saya ini sangat bisa dibanggakan," sahut Dewi.
Jasmine tersenyum. "Siapa namamu, nak?"
"Ulayya, tante," jawab Ulayya. la berusaha tersenyum manis walaupun merasa sangat malas.
"Kuliah di mana?" tanya Jasmine lagi.
"Di Universitas Atlanta."
"Oh, iya iya. Semoga kamu sukses ya," kata Jasmine.
"Anak saya sudah pasti sukses, Bu," sahut Dewi dengan kepercayaan diri yang begitu besar.
"Terus, kenapa Anyelir tidak dikuliahkan juga?"
"Oh, Anyelir itu lebih suka mengerjakan pekerjaan rumah dari pada harus kuliah dan memikirkan pelajaran yang tidak ada habisnya. Mungkin saja, Anyelir nanti akan membuka usaha sendiri seperti ayahnya," jawab Dewi.
"Kenapa harus membuka usaha sendiri jika usaha di sini adalah milik Anyelir?" skakmat Agam. Ia benar-benar tak habis pikir dengan semua perkataan Dewi. Dan yang paling parah, Elajar hanya diam seolah tak ingin membantah dan membela putrinya.
Dewi dan Ulayya tersentak mendengar ucapan Agam. Mereka menilai bahwa Agam terlalu berani dan terlalu ikut campur urusan mereka.
"Iya benar. Usaha di sini adalah milik Anyelir juga. Tapi, maksud saya itu siapa tahu nanti Anyelir kan membuka usaha lagi," ujar Dewi, seraya tersenyum lebar.
"Sudah, sudah. Hentikan. Kita nikmati saja acara makan-makan ini tanpa harus membicarakan hal di luar pernikahan Agam dan Anye!" tegas Elajar yang merasa pening karena mendengar obrolan yang menurutnya tidak sopan.
__ADS_1
Semua orang akhirnya diam dan menikmati kembali hidangan yang telah disajikan oleh keluarga Elajar.
Setelah puas menikmati hidangan, Agam dan orang tuanya, termasuk Anyelir pamit pulang.
"Anye, apa kamu benar-benar tidak ingin tinggal di sini dulu? Ini rumahmu, nak," ujar Elajar dengan kedua mata yang berbinar penuh harap.
"Tidak, Yah. Nanti jika aku sudah menikah aku akan sering datang ke sini," jawab Anyelir menolak permintaan sang ayah.
Elajar menghela napas. "Ayah tidak bisa mengubah keputusanmu. Jika sudah begitu, ayah harap kamu bisa menjaga dirimu dengan baik." Ia mengusap kepala Anyelir dengan penuh kasih.
Anyelir mengangguk. "Ayah juga harus menjaga kesehatan, ya. Ayah harus sehat dan kuat karena nanti sebuah kebenaran akan terungkap," jawabnya.
Elajar mengangguk. Ia memang merasa bahwa ada yang tidak beres dalam keluarganya. Namun, ia yang merasa tidak berdaya untuk sekadar melawan Dewi.
"Kami pamit pulang, Pak," ujar Agam pada Elajar.
"Iya, nak. Tolong jaga Anyelir, ya. Aku titipkan Anyelir padamu," pesan Elajar.
"Iya, Pak. Anda tenang saja karena saya akan menjaga putri anda dengan baik."
Agam berjalan di belakang Anyelir. Arsenio dan Jasmine yang baru saja berpamitan pun mengekori di belakang Agam dan Anyelir.
"Diam kamu!" sentak Elajar yang seketika mampu membungkam mulut Dewi. Baru kali ini suaminya itu membentaknya.
"Mas, kenapa kamu malah bentak aku?!" protes Dewi.
"Aku capek! Aku capek sama semuanya!" Elajar berlalu meninggalkan ruang keluarga dengan rasa marah yang menyerang hatinya.
Ulayya berdecih. "Kenapa ayah jadi begitu sih, Ma? Aneh banget. Cuma karena Anyelir ayah jadi berani membentak mama," ucapnya.
Dewi hanya bergeming. Namun, kedua matanya tajam menatap langkah Elajar yang kian menjauh dari jangkauannya.
"Apa kamu punya rencana bagus, nak?" tanya Dewi dengan rahang mengeras. Jelas sekali rasa marahnya tergambar di wajahnya.
"Belum. Tapi, aku punya fakta menarik tentang calon suami Anyelir." Ulayya berjalan santai ke arah sofa dan kembali menghempaskan tubuhnya di sana.
"Agam?" tanya Dewi dengan mata menyipit.
"Memang siapa lagi calon suami Anyelir kalau bukan Agam?" sahut Ulayya, sedikit jengkel.
__ADS_1
Dewi mengambil posisi duduk di samping Ulayya. "Fakta apa itu, nak?"
"Agam itu cuma dosen kere, Ma. Dia cuma menang di fisik saja. Dan lagi, Agam itu mantan pacar temenku. Si Delisa," jelas Ulayya.
"Delisa yang juga dosen itu?"
Ulayya mengangguk.
Mulut Dewi menganga. "Jadi, Delisa baru putus dari pacarnya, ya?"
"Begitulah. Si Delisa itu memang rasa bodoh, Ma. Dia ketahuan selingkuh oleh Agam dan pas lagi enak-enakan sama mahasiswanya. Eh, sekarang Delisa malah nyesel setelah tahu kalau Agam mau nikah sama Anyelir. Jadinya, kami bersepakat untuk kerja sama menyingkirkan si Anyelir itu."
Dewi tersenyum licik. "Mama akan mendukung kalian. Si Anyelir itu lagian kenapa bisa selamat coba!" omelnya.
"Dan itu lagi. Si Delisa kenapa harus mikirin laki-laki kere kayak dia? Kaya tidak ada cowok lain saja," imbuhnya.
Ulayya mengendikkan bahu dan berkata, "Namanya juga bucin."
"Kapan kalian akan mulai beraksi?" tanya Dewi.
Mereka berdua ngobrol dengan saling berbisik agar tak ada yang mendengar percakapan mereka yang membahayakan.
"Nanti, Ma. Setelah mereka menikah. Biarkan saja mereka bahagia dulu untuk sementara," jawab Ulayya sambil tersenyum penuh arti.
Agam dan Anyelir baru saja sampai di rumah. Arsenio dan Jasmine pun langsung memilih pulang karena masih ada pekerjaan yang harus Arsenio selesaikan.
"Kak Agam?" panggil Anyelir saat Agam buru-buru melangkah.
"Kenapa?" tanyanya. la berhenti dan menatap ke sampingnya, di mana Anyelir berdiri dengan jarak yang cukup dekat.
"Terima kasih, ya. Maaf jika aku selalu merepotkan mu."
"Kenapa tiba-tiba bicara begitu? Apa ada hal yang membuatmu tidak nyaman?"
"Tidak ada."
"Ya sudah, aku mau istirahat. Pergilah ke kamarmu!" titah Agam.
Anyelir mengangguk. Ia menatap pria yang dalam dua minggu ini akan menjadi suaminya dengan tatapan sendu.
__ADS_1
Agam...