Istri Pilihan Agam

Istri Pilihan Agam
I P A - Defend


__ADS_3

"Untuk sekarang, memang belum ada rasa cinta untukmu. Tentu kamu juga tahu apa alasannya. Tapi, aku yakin jika lamban laun cinta itu akan datang dengan sendirinya, Anye. Bukankah Tuhan kita Maha membolak-balikkan hati hambanya?"


Anyelir bergeming. Antara kagum dan heran yang beradu dalam benak tentang setiap ucapan Agam yang sangat hebat menurutnya. Ternyata, Agam sangat dewasa, pikirnya.


"Kenapa hanya diam? Pasti sulit, ya, membuka hati untuk orang asing?"


Anyelir menggeleng. "Tidak. Bukan begitu. Aku cuma merasa bahwa semua ini terlalu mendadak. Tapi, aku bisa mempertimbangkannya lagi nanti," sahutnya.


"Apa kamu punya pacar?" Agam lupa belum menanyakan hal penting itu. Bukan karena apa. Ia hanya takut jika saja nanti akan ada pria yang datang dan mengaku- aku sebagai pacar Anyelir ketika nanti pernikahan berlangsung.


"Tidak ada. Aku tidak punya waktu jika hanya untuk memikirkan masalah pria."


Agam bergeming melihat wajah Anyelir yang mendadak murung. Ia dapat menebak bahwa apa yang dirasakan gadis di sampingnya itu berhubungan dengan keluarganya.


"Apa selama ini kehidupanmu selalu sibuk dengan urusan keluarga?"


Anyelir menghela napas berat. "Ya begitulah. Rasanya aku sudah lelah duluan sebelum menceritakannya."


"Kelak ayahmu akan sadar bahwa ia telah menyia-nyiakan putri berharganya," tukas Agam. "Ayahmu sangat menyayangimu. Tapi, dia masih terpengaruh oleh racun yang disebar oleh setiap kata yang dilontarkan oleh ibu tirimu," imbuhnya.


Kedua sudut bibir Anyelir tertarik ke atas dan menciptakan sebuah lengkungan senyum yang indah. Agam yang notabennya adalah orang baru, memahami tentang kehidupannya.


"Kamu sudah menjadi bagian dari hidupku. Jadi, sama artinya bahwa kamu adalah tanggung jawabku," tegas Agam.


Hati Anyelir mendadak senang saat mendengar kalimat penuh ketegasan dari Agam


"Dan nanti ... tetap berdiri dan berjalan bersamaku saat di pesta. Aku akan memperkenalkan kamu sebagai calon istriku kepada semua temanku," tambah Agam lagi.


Mata Anyelir seketika melebar. "Apa harus begitu?" tanyanya.


"Iya. Biar semua orang tahu jika kita adalah calon pengantin selanjutnya," sahut Agam.


Anyelir diam tak menjawab. Dalam pikirannya, biarkan saja Agam yang mengatur semuanya dan ia hanya menurut saja karena menyadari bahwa ia sudah banyak berhutang budi pada Agam.

__ADS_1


"Nanti, bagaimana aku bersikap di depan teman-temanmu Agam?" tanya Anyelir.


"Pertama, jangan memanggil aku dengan sebutan nama saja, Anye'! Itu kurang sopan. Akan sangat aneh jika orang lain mendengarnya," sahut Agam.


"Lalu, aku harus manggil apa lagi?"


"Panggil saja aku 'Kakak' untuk sementara ini. Nanti setelah menikah, panggil aku 'Mas'! Itu akan lebih enak didengar."


Anyelir mengulum senyum. Terdengar sangat menggelikan di telinganya.


"Kamu harus terbiasa karena itu perintah dariku!" tegas Agam.


Anyelir mencebik. "Iya, iya," sahutnya.


"Coba!"


"Hah? Apanya?"


"Panggil aku kakak!"


"Jika kamu tidak dilatih sejak sekarang, nanti kamu tidak akan bisa memanggilnya!"


Anyelir memejamkan mata seraya menghela napas panjang. "Iya, Kak. Makasih ya, karena kamu sudah mau memahami ku," ucapnya seraya tersenyum.


Agam mengalihkan pandangannya ke arah lain seraya mengulum senyum. 'Dia memang gadis yang lugu,' batinnya.


Akhirnya setelah menempuh hampir satu jam perjalanan, Agam dan Anyelir sudah tiba di tempat resepsi.


Gedung Antariksa yang bertempat di tengah kota itu nampak berbeda. Sebab di kedua sisi gerbang masuk terdapat janur kuning yang melengkung indah.


Agam dan Anyelir turun dari mobil. Agam mengulurkan lengannya pada Anyelir. Gadis itu menatap Agam sekilas. Lantas, menautkan lengannya ke siku Agam. Mereka pun berjalan bersama menuju aula resepsi.


Mereka disambut oleh dua orang pria di pintu masuk. Mereka tersenyum seraya menganggukkan kepala.

__ADS_1


Baru saja masuk ke tempat resepsi, Agam dan Anyelir menjadi pusat perhatian para undangan di sana. Hal itu membuat Anyelir seketika merasa gugup dan canggung.


"Kenapa mereka melihat kita seperti itu?" keluh Anyelir, pelan.


"Jangan dipedulikan. Bersikap biasa saja. Jika mereka bertanya padamu tentang siapa kamu, jawab saja kalau kamu adalah kekasihku," sahut Agam dengan begitu santainya.


Anyelir mengangguk.


Dan tak berselang lama, Nadia menghampiri mereka berdua dengan tatapan penuh tanya.


"Pak Agam, selamat datang," sapanya. Lantas, ia menoleh ke arah Anyelir.


"Wah, siapa dia?" tanyanya.


"Calon istriku!"


Mulut Nadia sontak saja menganga lebar. "Ca- calon istri?" sahutnya.


"Iya, Bu Nadia. Maaf, saya harus menemui pengantinnya," pamit Agam dan langsung dibalas anggukan oleh Nadia.


Setelah separuh perjalanan menuju podium, tiba-tiba Delisa menghampiri mereka dan berhenti tepat di hadapan Agam dan Anyelir.


"Kak, siapa dia? Kenapa kamu tidak mengajak aku?"


Anyelir menatap Delisa beberapa detik. Lantas, beralih menatap Agam yang nampak menghela napas.


"Kapan kamu bisa mengerti kalau hubungan kita sudah selesai, Del? Jangan ganggu aku, minggir!" usir Agam, tegas.


Wajah Delisa mengeras. "Memangnya siapa dia sampai kamu bersikap sekasar ini?! Dia tidak pantas bersanding dengan kamu!" ujarnya seraya menatap Anyelir dengan tatapan mengejek.


"Jaga bicaramu! Tidakkah kamu sadar bahwa calon istriku ini lebih baik darimu?" sahut Agam.


"Apa katamu? Calon istri?"

__ADS_1


Kaget gak tuh Del?


__ADS_2