Istri Rahasia Sang Mafia

Istri Rahasia Sang Mafia
Bab 10. Jangan Berpikir yang Tidak-tidak!


__ADS_3

Zarin dengan reflek langsung beranjak dari tempatnya dan sedikit menghindar dari pria yang menurutnya kini mulai hampir bersikap kurang ajar alias mesuum padanya.


"Aku memang istrimu! Tapi aku tidak mau melakukannya denganmu! Jangan paksa aku!!" Pekik Zarin dengan kedua netra yang semakin membola.


Sumpah demi apa ia sungguh tidak bisa menerima sikap Andreas yang hampir berusaha melecehkannya itu, dari pada ia harus melakukan hal itu dan memberikan kesuciaannya pada Andreas--pria yang telah bersikap kasar padanya, lebih baik ia dipukuli lagi.


"Dasar kamu ini benar-benar pria brengs*k! Aku tidak akan sudi memberikan kesucianku dan daraah perawaan ku untukmu!! Sampai kapan pun aku tidak mau!" Cecar Zarin sekali lagi dan semakin menjauh dari sisi Andreas.


Pria itu hanya tertegun sejenak sambil mengernyitkan dahinya, sungguh ia memaksa Zarin membuka pakaiannya bukan bermaksud untuk mengajaknya berciintaa, melainkan untuk mengompres luka yang ada di punggungnya, itu saja.


Hingga detik selanjutnya, Andreas terkekeh geli karena Zarin telah salah paham padanya.


"Dasar iblis! Sekarang kamu malah tertawa! Benar-benar pria brengs*k!" Ucap Zarin dengan menjelek-jelekkan Andreas untuk kesekian kalinya


Andreas hanya tertegun mendengar sambil geleng-geleng kepala. Ia sungguh tidak habis pikir dengan wanita yang kini telah menjadi istrinya itu selalu berpikiran jika dirinya adalah pria brengs*k.


Padahal melecehkan Zarin atau merenggut kesuciaannya secara paksa saja dia tidak pernah. Meskipun tadi ia memang sempat bersikap kasar padanya.


"Sudah mengomelnya? Jangan terlalu percaya diri, Nona! Aku hanya ingin mengompres luka di punggung mu saja, tidak lebih!" Sahut Andreas dengan entengnya.


"Hah.. a-apa?? Ja-jadi kamu..."


"Kamu pikir aku ini pria macam apa, hm! Pria mesuum yang suka memperk*sa wanita? Ha...ha...ha... Aku memang brengs*k tapi aku tidak sehina itu!" Sahut Andreas sekali lagi yang ingin berusaha menyadarkan Zarin bahwa ia tidak seperti yang wanita itu pikirkan.


Zarin lantas terdiam sambil meneguk salivanya dengan susah payah. Sungguh ia sedikit merasa malu karena telah dengan percaya diri beranggapan jika Andreas akan melecehkannya, dan ternyata ia salah besar.


Wanita itu hanya tersipu malu dengan rona wajah yang kini semakin memerah bak cherry.


"Tapi aku tetap tidak mau melepaskan pakaianku! Enak saja kamu bisa melihatnya! Tidak mau! Sudah pergi sana aku bisa melakukannya sendiri!" Cetus Zarin.


Bugh!


Tanpa ba bi bu, Andreas yang merasa kesal karena niat baiknya kini malah di sepelekan dan wanita itu malah berusaha mengusirnya, ia memilih untuk melemparkan handuk basah itu tepat ke tubuh Zarin dan segera beranjak pergi dari tempatnya.

__ADS_1


Hanya saja kali ini ia tidak mengunci Zarin dari luar lagi, entah ia lupa atau memang sengaja sebenarnya.


"Auw! Dasar sialan!" Umpat Zarin kesal.


Sesaat setelah kepergian Andreas, Zarin terus melihat ke arah pintu itu. Entah kenapa ia seperti berharap jika pria itu masuk lagi dan menemaninya saat ini.


Ia juga mulai merasa jika sepertinya Andreas bukanlah pria yang seperti ia bayangkan, ia sepertinya adalah pria yang tidak terlalu kejam. Hanya saja kejadian tadi siang memang kesalahannya, dan jika ia menjadi Andreas mungkin ia akan melakukan hal yang sama karena pasti ia merasa malu setengah mati.


Namun yang ia masih tidak mengerti, kenapa pria itu tiba-tiba memaksanya untuk menikah dan memperlakukannya seperti ini. Rasanya memang aneh baginya, seperti ada tujuan lain dan sesuatu yang disembunyikan oleh pria itu.


Tidak mau hanyut dalam pikirannya yang semakin kesana kemari, akhirnya Zarin memilih untuk membuyarkan lamunannya dan kembali melanjutkan mengompres luka memar di lengannya itu.


Sedangkan di sisi lain, pria tampan satu itu terus mengumpat kesal sepanjang langkahnya menuju kamar pribadinya.


"Sial! Dasar wanita siaalan! Tidak tahu diri! Masih untuk aku tidak melecehkannya! Masih untung aku tidak... Ah tunggu-tunggu, dia bilang kesuciaanya? Apa dia itu masih...."


Sejenak Andreas menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamarnya dan menoleh ke arah kamar yang dihuni oleh Zarin.


"Ah masa bodoh! Mau dia masih perawaan atau tidak aku tidak peduli dengannya!!" Sahutnya sekali lagi pada dirinya sendiri dan kemudian segera masuk ke dalam kamar.


Beberapa kali pria itu mengubah posisi tidurnya, dari terlentang, miring hingga tengkurap. Bahkan beberapa kali juga ia menutupi kepala dengan bantal tapi tetap saja bayang-bayang wajah Zarin terus menghantuinya, hingga tidak terasa waktu berlalu begitu cepat dan menunjukkan pukul 3 pagi.


"Sial bahkan hingga hampir pagi aku belum bisa tidur karena wanita sialaan itu terus menghantui pikiranku! Apa dia ini benar-benar menggunakan dukun atau apa!" Gerutunya dengan kesal.


Hingga akhirnya, karena tidak kunjung bisa tidur Andreas kini memutuskan untuk beranjak pergi ke ruang kerjanya, seperti kebiasaannya jika ia merasa suntuk atau tidak bisa tidur, ia akan masuk ke dalam ruang kerjanya dan memutar beberapa video lama kenangannya bersama kedua orangtuanya untuk mengobati rasa rindunya terhadap mereka dan mengisi hidupnya yang sudah beberapa tahun terasa kosong.


***


"Silahkan Tuan, sarapannya." Ucap salah seorang asisten rumah tangga yang baru saja menghidangkan beberapa sarapan di atas meja makan yang cukup besar itu.


Andreas hanya diam dan mulai menyesap secangkir kopi panas kesukaannya.


"Pagi Bos. Lapor, saya sudah berhasil menyelesaikan tugas saya. Semua masalah sudah beres!" Ucap Ricard yang baru saja datang dengan pakaian formal seperti biasanya.

__ADS_1


Seperti biasanya juga, Ricard selalu datang disaat bosnya itu melakukan sarapan. Karena selain tugasnya untuk membantu sang bos menyelesaikan semua pekerjaaan dan masalahnya, ia juga setiap pagi harus menemani bosnya itu untuk melakukan sarapan pagi.


"Bagus! Hari ini sebelum kita ke pelabuhan, aku ingin ke mall terlebih dulu." Sahut Andreas. "Duduklah dan segera santap sarapanmu." Imbuhnya.


"Mall? Ah maksud saya, bukan kah hari ini kita tidak memiliki jadwal bertemu dengan rekan bisnis di mall, Tuan? Atau ada..."


"Ikuti saja!" Sahut Andreas dengan tegas.


Patuh, Ricard hanya bisa mengangguk sambil mengiyakan ucapan bosnya yang kini menurutnya sedikit aneh.


Namun hanya berselang beberapa menit, rasa aneh dan penasaran Ricard seolah terjawab dengan kedatangan Zarin yang mulai menuruni anak tangga dengan masih mengenakan pakaian Andreas yang cukup longgar membalut tubuh wanita itu.


Apa jangan-jangan mereka semalam melakukan....


Plak!


"Jangan berpikir yang tidak-tidak! Aku tidak mungkin bernaapsu untuk berciinta dengan wanita macam dia!" Sahut Andreas sambil menimpuk kepala Ricard.


Sumpah demi apa Ricard hanya bisa terdiam kikuk sambil mengelus kepalanya yang terasa cukup sakit karena ulah bosnya itu, sungguh ia tak paham bagaimana bisa bosnya itu tahu apa yang ia pikirkan saat itu. Apalagi ia tidak mengatakan sepatah kata pun dan hanya melihat ke arah Zarin dengan tatapan aneh.


Apa dia sekarang memiliki ilmu telepati, hm? Bagaimana dia bisa tahu pikiran ku? Aku yakin semalam dia sudah melakukan unboxing...


Plak!


"Aduh..."


Sekali lagi, kepala Ricard menjadi sasaran empuk Andreas hingga membuat sang empu mengaduh kesakitan.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak!"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2