
Wanita itu hanya terdiam sambil mengulas senyuman dan kemudian melanjutkan langkahnya ke arah ranjang Andreas.
Tentu saja wanita itu adalah Zarin, siapa lagi jika bukan dia yang berani-beraninya masuk ke dalam kamar pribadi tuan dingin dan kejam itu.
"And, sarapan untukmu meskipun ini sudah jam sepuluh pagi." Tutur Zarin sambil meletakan nampan yang dibawanya ke atas nakas yang ada di samping ranjang.
Andreas terdiam sejenak memandangi wajah Zarin yang terlihat begitu sumringah pagi ini, apalagi tutur kata wanita itu begitu lembut sekali dan berbeda dari biasanya.
"Letakan saja di sana, nanti akan aku makan." Ucap Andreas sambil memalingkan pandangannya dan kemudian meraih dan mengusap layar ponselnya.
Namun sikap Andreas yang sangat berbeda dari semalam itu dan bahkan jauh lebih dingin tidak membuat wanita itu putus asa untuk bersikap baik pada Andreas.
Ia bahkan yakin jika setelah kejadian semalam pasti akan mudah baginya untuk mendapatkan hati Andreas dan membuat pria itu melupakan balas dendamnya nantinya. Apalagi semalam pria itu terlihat begitu menginginkannya, itulah salah satu alasan ia semakin yakin dan percaya diri, dan akhirnya pagi ini ia memutuskan untuk sedikit merendahkan dirinya melayani sarapan suaminya.
"Makanlah dulu And, nanti makanannya dingin." Sahut Zarin sambil meraih sebuah piring yang berisikan makanan dan hendak memberikannya pada Andreas.
"Letakan saja di sana, aku kan sudah mengatakannya! Nanti akan aku makan! Bawel sekali!" Balas Andreas dengan ketus.
Zarin hanya menghela nafas kasar sambil meletakan kembali piringnya, dan kemudian berniat untuk pergi. Karena sepertinya tidak mungkin jika ia harus menunggu pria itu sampai mau menyantap makanannya, malah yang ada nantinya pria itu akan kesal padanya.
"Baiklah, terserah kamu saja. Aku kembali ke kamar." Ucap Zarin sambil beranjak dari tempatnya duduk.
Andreas hanya melirik sekilas dan kemudian fokus kembali ke layar ponselnya, ia memilih bersikap dingin pada wanita itu daripada nantinya ia malah akan hanyut dalam perasaaan yang sudah pasti tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata lagi, apalagi semalam ia telah melakukan hal itu dengan Zarin, bahkan dengan perasaan dan hasraat yang menggebu-gebu.
"Ah iya, And... Mau kah kamu menemani aku jalan-jalan hari ini? Aku sangat bosan di rumah, ingin sekali jalan-jalan. Apalagi aku sudah lama sekali tidak pergi ke pusat perbelanjaan." Sahut Zarin yang tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik badan untuk mengutarakan keinginannya pada sang suaminya.
"Tidak bisa. Aku sibuk!" Balas Andreas, suara itu terdengar semakin ketus dan sangat tidak enak untuk didengar di telinga Zarin sebenarnya.
"Apa itu artinya aku boleh pergi sendiri? Yes, akhirnya!" Sahut Zarin dengan mimik wajah yang cukup senang karena akhirnya ia bisa keluar dari tempat itu setelah beberapa hari hanya berdiam diri saja di rumah.
__ADS_1
Namun bukannya mengiyakan jawaban Zarin karena ia sendiri tidak bisa atau bahkan tidak mau menemani istrinya pergi, pria itu malah membanting ponselnya ke atas ranjang sambil menatap tajam ke arah Zarin.
"Tidak! Kamu tidak boleh kemana-mana! Tidak ada mall, tidak ada jalan-jalan!" Balas Andreas yang semakin meninggi kan intonasinya.
Sumpah demi apa jawaban Andreas cukup membuat Zarin kesal setengah mati, bahkan seumur hidupnya ia tidak pernah bertemu dan mengenal dengan pria yang sangat egois seperti Andreas, dan yang lebih gilanya lagi pria itu sekarang malah menjadi suaminya yang semalam sudah berhasil menembus nirwananya.
"Hah! Dasar pria egois! Kamu pikir aku tidak suntuk di rumah terus, hah! Ya sudah kalau begitu aku mau berjemur dan berenang saja!"
Deg!
"A-pa! Tidak! Tidak ada berjemur dan berenang! Apa kamu ini sudah tidak waras, lihat di sekitarmu! Semua anak buah ku adalah pria! Yang benar saja jika tubuhmu di lihat mereka dengan cuma-cuma!" Pekik Andreas sambil bangkit dari sandarannya.
Mimik wajah pria itu terlihat begitu serius melarang Zarin agar tidak melakukan hal yang bodoh dimansionnya, apalagi mengingat kejadian kemarin saat Marco--adiknya yang secara tidak sengaja hampir menodai istrinya sendiri karena tergiur oleh kemolekan tubuh Zarin yang di ekspos karena hanya mengenakan dress tidur yang cukup terbuka.
Mendengar jawaban Andreas yang malah menggebu-gebu tidak mengizinkannya untuk berjemur atau berenang di kawasan mansion, kedua alis Zarin tentu saja langsung saling bertautan, sungguh ia tidak mengerti dengan jalan pikiran pria itu, benar-benar egois!
"Apa pedulimu, hah! Terserah aku, ini tubuhku mau dinikmati siapa saja ya terserah aku!" Desis Zarin sambil melipat dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Wanita itu lantas tersenyum sekilas dan kemudian segera beranjak dari tempatnya untuk bersiap-siap sebelum Andreas nantinya akan berubah pikiran.
"Huh, kenapa semakin lama otak, perasaan dan bibir ini rasanya tidak sinkron!" Gerutu Andreas sambil beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan dirinya dan bersiap-siap.
Bahkan pria itu beberapa kali memukul-mukul kepalanya sambil menggerutu kesal dengan sikapnya yang semakin aneh itu.
*
Kini pasangan suami istri rahasia itu sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan tersebar yang ada di kota Milan. Keduanya berjalan sejajar tanpa bergandengan tangan sedikitpun, bahkan sesekali Andreas berjalan sedikit melambat agar tidak bebarengan dengan istrinya itu.
Sungguh ia tidak mau jika semua orang mengetahui jika Zarin adalah istrinya, bahkan jika boleh sebenarnya ia ingin menunggu wanita itu di mobil saja atau di suatu tempat. Apalagi khusus hari ini Andreas yang menjadi pengawal sekaligus sopir pribadi istrinya, ia sama sekali tidak menggunakan jasa anak buahnya untuk mengemudi dan bahkan mengawal kepergian mereka.
__ADS_1
"And kenapa jauh-jauh, mendekatlah!" Sahut Zarin sambil meraih lengan suaminya dan berusaha untuk merangkulnya, namun dengan sigap pria itu beberapa kali menghindar hingga akhirnya ia memberikan sebuah tatapan serius ke arah Zarin dan membuat wanita itu akhirnya mengurungkan niatnya untuk bersikap manis pada suaminya.
"Jaga sikapmu! Aku tidak ingin ada orang yang tahu jika kamu adalah istriku!" Balas Andreas dengan ketus.
Zarin hanya mendengus, ia tidak mau berdebat dengan Andreas kali ini dan memilih untuk mengalah saja dan mengiyakan permintaan suaminya yang memang aneh itu.
Wanita itu lantas melangkah terlebih dulu dan bahkan semakin mempercepat langkahnya hingga jarak keduanya kini terpaut cukup jauh, namun Andreas juga tidak peduli dengan hal itu, yang jelas ia tidak ingin ada oranglain yang tahu tentang hubungannya dengan Zarin, apalagi kejadian semalam jangan sampai ada seorangpun yang tahu termasuk Marco atau Ricard sekalipun.
Setelah beberapa saat berjalan mengitari pusat perbelanjaan itu, akhirnya perhatian Zarin tertuju pada sebuah gerai pakaian pria dan wanita dengan merk yang cukup terkenal, ia kemudian melangkah masuk ke dalam gerai itu, apalagi itu adalah gerai pakaian yang biasanya ia kunjungi dengan Chris--kekasihnya.
Andreas yang sejak tadi hanya melangkah mengekor dibelakang Zarin pun hanya bisa patuh saja mengikuti kemana langkah wanita itu termasuk masuk ke dalam gerai pakaian itu.
"Maaf Tuan, bodyguard bisa menunggu di sini saja." Sahut seorang karyawan gerai tersebut yang seolah mencegah Andreas masuk ke dalam gerai itu mengikuti langkah Zarin, bahkan pria yang merupakan karyawan gerai itu mengira jika Andreas yang memang mengenakan pakaian jas dan celana serba hitam itu adalah bodyguard Zarin.
"Brengs*k! Kamu pikir aku ini apa! Bodyguard, hah! Buka matamu! Bahkan aku bisa membeli dan menghabisi mu sialaan!" Pekik Andreas sambil menarik kerah baju pria dihadapannya, bahkan dengan tatapan yang sangat mengerikan saat ini.
Andreas benar-benar tidak terima jika dirinya disangka bodyguard Zarin, dan bahkan seolah ia begitu direndahkan dan tidak diizinkan untuk masuk.
"Ma-af Tu-an, sa-ya pikir anda...."
Bugh!!
"Brengs*k!"
"And! Apa yang kamu lakukan!" Teriak Zarin yang tiba-tiba saja membuat kedua pria yang sedang bersitegang itu menjadi pusat perhatian di dalam gerai pakaian itu.
*
*
__ADS_1
*