
Kini sepasang suami istri yang tidak ada kejelasan tentang perasaan mereka satu sama lain itu telah sampai di acara yang dituju.
Sesuai dengan perjanjian awal, Zarin memilih untuk menjaga jarak antara dirinya dan juga Andreas, sedangkan pria itu, jangan ditanya lagi, ia yang memang memiliki sikap dingin itu berusaha menghindari Zarin agar tidak terlalu dekat yang bisa mengakibatkan wanita itu nantinya akan bersikap berlebihan padanya di depan umum.
Keduanya kini sedang melangkah masuk ke dalam sebuah gedung mewah yang sudah di hias sedemikian rupa sebagai tempat pernikahan yang super mewah. Namun baru beberapa langkah saja tiba-tiba tangan Zarin dengan cepat diraih oleh seseorang dari belakang yang tentu saja membuatnya menghentikan langkahnya seketika dan dengan reflek menoleh ke belakang.
"Jim-my?" Ucap Zarin.
"Hei, Zarin. Sepertinya kita memang berjodoh ya? Buktinya kita saat ini dipertemukan ditempat ini." Ujar Jimmy sambil mengembangkan senyum sumringahnya.
Ya, pria itu adalah Jimmy yang memang sengaja datang ke acara pernikahan itu meskipun sebenarnya ia tidak di undang dalam acara tersebut.
Namun karena ia mendapatkan informasi bahwa Andreas mendapat undangan dan mendatangi acara pernikahan rekannya itu, ia pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan berbagai cara agar bisa masuk ke dalam gedung tempat acara pernikahan itu berlangsung dengan menggunakan undangan palsu yang dibuatnya secara kilat beberapa saat sebelum ia menuju tempat itu.
Tentu saja tujuannya adalah Zarin, dan ternyata dugaannya memang benar jika wanita itu ikut kemana pun Andreas pergi.
Zarin hanya terdiam sambil tersenyum kikuk karena sikap Jimmy yang begitu manis padanya, bahkan pria satu itu terlihat seperti pria idaman menurutnya, padahal wanita itu tidak tahu saja akal busuk Jimmy yang sebenarnya seperti apa, apalagi semalam pria itu hampir saja menodainya tanpa sepengetahuan dirinya.
Sedangkan Andreas yang sudah melangkah terlebih dulu, kini sedang berada dalam satu obrolan dengan beberapa rekannya sehingga tidak mengetahui jika Zarin kini sedang bersama Jimmy di sisi lain di dalam gedung itu.
"Cantik, kamu terlihat sangat cantik sekali hari ini Zarin." Puji Jimmy sambil mengecuup punggung tangan Zarin dengan lembut.
Sungguh, sikap pria satu ini benar-benar terlihat manis, apalagi rayuan mautnya itu, wanita mana yang tidak luluh dibuatnya.
Zarin tentu saja cukup tersentuh dengan sikap manis Jimmy untuk kesekian kalinya itu padanya, sumpah demi apa rasanya ia ingin sekali jika pria yang bersikap semanis ini adalah Andreas, bukan orang lain meskipun antara Jimmy dan Andreas sama-sama memiliki paras yang tampan menawan.
"Jim maaf, tapi aku takut jika nanti ada yang melihat kita. Ah maksudku, pacarmu. Aku takut dia akan salah paham." Ucap Zarin sambil menarik tangannya dari genggaman Jimmy.
Namun Jimmy malah tersenyum, bahkan tertawa kecil mendengar perkataan Zarin.
"Bukan kah calon pacarku kini ada di depanku, hm?"
__ADS_1
Deg!
"A-apa.."
Kedua mata Zarin seketika langsung membulat sempurna dengan kalimat Jimmy yang menurutnya cukup ambigu, apalagi orang yang ada di hadapan Jimmy hanyalah dirinya.
Sekali lagi, Jimmy tertawa kecil sambil kembali meraih tangan Zarin dan mulai mendekatkan tubuhnya ke arah tubuh wanita itu lalu kemudian merangkul pinggang Zarin dengan cukup mesra.
"Sudah lupakan, mari kita kesana." Sahut Jimmy.
Zarin hanya bisa patuh karena pria itu seolah sedang berusaha menarik dirinya dalam rangkulan mesra itu, hingga akhirnya keduanya berjalan bersama layaknya sepasang kekasih di dalam gedung tersebut.
Andreas yang sedang asyik mengobrol tiba-tiba saja dibuat terkejut saat kedua matanya secara tidak sengaja melihat pasangan gadungan itu sedang melangkah di tengah-tengah kerumunan para tamu yang seolah sedang mengagumi keserasian keduanya.
Tangan Andreas langsung mengepal kuat, ia benar-benar tidak bisa membiarkan Zarin berada di dekat pria brengs*k itu, namun ia sendiri juga tidak bisa bersikap bod*h di acara tersebut, karena jika ia secara terang-terangan merebut Zarin bisa saja pernikahannya dengan Zarin dapat terbongkar.
"Ah permisi sebentar, sepertinya saya melihat teman lama saya. Saya harus ke sana." Ucap Andreas yang berusaha mengakhiri percakapannya dengan salah satu rekan bisnisnya untuk menghampiri Zarin dan Jimmy.
"Hei And, kau di sini juga, huh?" Sapa Jimmy yang berusaha bersikap bod*h seolah tidak mengetahui keberadaan Andreas di sana.
Namun Andreas hanya terdiam, pria itu sama sekali tidak memiliki keinginan untuk membalas apapun ucapan Jimmy karena ia tahu jika ia saling berbicara dengan mantan temannya itu, ia akan semakin mudah terpancing amarah dan sikap tempramentalnya itu akan semakin terlihat, apalagi ini di acara oranglain dan banyak terdapat rekan bisnisnya.
Andreas lantas menatap ke arah Zarin dengan tajam seolah sedang mengisyaratkan sesuatu. Tentu saja wanita itu sedikit paham, ia lantas melepaskan pelukan Jimmy di pinggangnya dan sedikit bergeser untuk memberikan jarak diantara keduanya.
"Aku dan Jimmy tidak sengaja bertemu." Sahut Zarin dengan sedikit kikuk.
"Iya And, sepertinya kami memang berjodoh, buktinya aku dan Zarin bertemu lagi di sini. Bukan kah itu bagus jika kami berjodoh And?" Cetus Jimmy sambil mendekatkan tubuhnya dan merangkul bahu Zarin, bahkan pria itu juga mengulas senyum sumringahnya.
Sumpah, Andreas semakin ingin sekali menghajar wajah menyebalkan itu kini, pria itu bahkan semakin mengepalkan kedua tangannya di bawah sana dan berusaha menahan diri agar tidak bertindak gegabah.
Melihat ketegangan Andreas, Zarin langsung berusaha untuk melepaskan tangan Jimmy dari tubuhnya sambil meneguk salivanya.
__ADS_1
"Maaf Jim, sepertinya aku ada sedikit urusan dengan Andreas. Aku harus berbicara dengannya, permisi." Ucap Zarin sambil melangkah melewati tubuh Andreas dengan begitu elegan, ia benar-benar menjaga sikapnya, bahkan ia tidak memegang tangan Andreas sama sekali.
Andreas hanya melirik ke arah Zarin yang sudah melangkah terlebih dulu, sebelum pria itu berbalik badan, Andreas mendekatkan dirinya pada Jimmy sehingga jarak keduanya begitu dekat.
"Jangan berani-beraninya mendekati wanita itu lagi atau aku akan menghabisimu!" Desis Andreas lirih tepat di telinga mantan temannya itu dan kemudian berbalik badan meninggalkan Jimmy tanpa menunggu jawaban apapun darinya.
Andreas lantas mengikuti langkah Zarin meskipun berjarak sedikit jauh, hingga akhirnya keduanya sampai di depan sebuah toilet wanita.
"And, kenapa masuk? Ini toilet wanita. Aku mau buang air dulu." Sahut Zarin sambil mengerutkan dahinya karena tiba-tiba saja pria itu masuk mengikutinya sampai ke dalam toilet wanita, padahal ia bermaksud berbicara dengan Andreas cukup di depan toilet saja.
Namun Andreas hanya terdiam, pria itu masih bersikap dingin dan kemudian mendorong tubuh Zarin hingga masuk ke dalam ruang kecil toilet lalu menguncinya.
"And..."
Cup!
"Mmmp...."
Pria itu menekan tubuh Zarin, bahkan menindihnya dengan tubuhnya di dinding ruang toilet dengan tidak terlalu besar itu untuk mereka bedua.
Kedua mata Zarin lagi-lagi dibuat membola oleh aksi pria itu yang selalu saja mengagetkannya, apalagi kini mereka sedang berada di tempat umum dan Andreas tiba-tiba saja menguncinya di toilet lalu membekap bibir ranumnya dengan bibir pria itu.
"Mmm......"
Apa dia akan mengajakku untuk melakukannya di tempat ini? Ah ini benar-benar gila!
*
*
*
__ADS_1