
Suara yang terdengar begitu asing ditelinga Zarin dan membuatnya langsung menoleh ke pusat suara itu.
Kini tatapan Zarin mulai berubah, kedua matanya langsung membulat melihat sosok pria dihadapannya yang tampak tidak asing baginya meskipun sepertinya ia yakin sebelumnya belum pernah melihat pria itu.
"Kalian berdua kenapa membiarkan wanita ini hampir masuk ke ruangan kak Andreas!" Bentak pria yang wajahnya hampir mirip dengan Andreas itu.
Amarah pria itu mulai tersulut karena ia merasa jika anak buah sang kakak sangat tidak tegas apalagi membiarkan wanita asing dihadapannya ini hampir masuk ke ruangan pribadi sang kakak, yang ia sendiri pun terkadang tidak boleh masuk secara sembarangan.
Bahkan menurut Marco sepertinya wanita itu sejak tadi membuat keributan, karena suaranya sejak ia masuk dan menginjakan kaki di dalam mansion, suara itu terdengar hingga ke lantai bawah dengan jelas.
Ya, pria itu adalah Marco--adik kandung Andreas yang baru saja pulang dari Jepang. Bahkan dugaan beberapa anak buah Andreas tadi yang sempat mengira mungkin pria yang berparas hampir mirip dengan Andreas itu pulang besok atau beberapa hari ke depan salah besar.
Karena nyatanya pria itu kini sudah berdiri dihadapan mereka bahkan dihadapan istri sang kakak yang dirahasiakan darinya itu.
Kedua anak buah Andreas kini hanya bisa terdiam, keduanya gugup atas kedatangan Marco yang sangat tiba-tiba itu.
"Ma-af Tuan Marco, kami sudah melarang Nona Zarin. Tapi dia bersikeras dan ingin tetap meminta masuk ke dalam ruangan itu. Tapi tenang saja Tuan, dia belum sempat masuk ke sana." Ucap salah seorang pria yang berada di sisi kanan Zarin.
"Zarin? Siapa dia sebenarnya, hm! Siapa wanita ini, kenapa bisa ada di sini!" Cecar Marco dengan tatapan tajam bak burung elang yang hampir menerkam mangsanya itu, bahkan tatapan itu sama persis dengan tatapan Andreas saat sedang marah kemarin pada Zarin.
"Di-a...."
"Aku istri Andreas, kamu siapa? Kamu Marco, adik Andreas ya?" Sahut Zarin yang tiba-tiba saja menyela ucapan salah satu pria disampingnya itu, hingga membuat kedua anak buah Andreas semakin kebingungan karena Zarin malah mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya.
Sebenarnya kedua pria yang kini berdiri mengapit Zarin itu belum mau mengatakan siapa wanita itu sebenarnya pada Marco, karena mereka takut jika nantinya ucapan mereka malah akan salah dan menjadi boomerang untuk mereka sendiri.
Tapi dengan lantang, wanita yang kini mengenakan dress rumahan berwarna coklat muda malah mengungkapkan siapa dirinya.
Sumpah demi apapun, kini Marco seperti tersambar petir disiang bolong.
Ya bagaimana tidak, perjalanannya ke Jepang selama beberapa minggu untuk menyelesaikan berbagai masalah bisnis mereka, dan selama itu sang kakak sama sekali tidak mengatakan apapun padanya terkait wanita yang sedang menjalin hubungan asmara dengannya, bahkan hingga menikah.
Ada perasaan kecewa di hati Marco karena ia merasa sang kakak tidak memberikannya kabar apapun sama sekali, bahkan kini ia merasa sudah seperti tidak dianggap sebagai keluarga oleh sang kakak.
__ADS_1
"A-apa! Istri? Kakak ku menikah? Hah! Apa-apaan ini! Kalian menikah saat aku tidka ada disini? Tanpa aku! Kenapa tidak ada yang memberitahuku! Brengs*k!" Umpat Marco yang sebenarnya setengah tidak percaya jika wanita dihadapannya itu adalah kakak iparnya sendiri yang secara diam-diam dinikahi kakaknya tanpa sepengetahuan dirinya.
Zarin lantas mengangguk seperti sama sekali tidak bersalah, ya memang tidak bersalah sebenarnya, tapi paling tidak seharusnya ia tidak langsung memperkenalkan dirinya sebagai istri Andreas atau kakak kandung Marco, karena ia juga tahu jika sepertinya pernikahan itu sangat rahasia, bahkan tidak ada satupun keluarga Andreas yang datang kecuali Ricard dan anak buahnya, juga dengan kedua orangtuanya.
"Aku harus menghubungi si brengs*k itu!" Desis Marco yang kini memilih acuh dan masih tidak percaya dengan siapa sebenarnya wanita yang ada dihadapannya.
Pria itu kemudian memilih melangkah pergi turun ke lantai satu untuk menuju ke dalam kamar pribadinya, dan berniat menghubungi sang kakak untuk meminta penjelasan.
[Marco : Hallo kak!]
[Andreas : Ya, ada apa? Tumben sekali menghubungi ku? Apa ada masalah penting yang tidak bisa kau selesaikan, ha?]
[Marco : Ya tentu ada! Bahkan masalah itu sangat besar dan rumit! Siapa wanita itu sebenarnya! Kenapa kakak menikah tanpa menunggu ku pulang, bahkan kakak seperti menyembunyikan dariku karena tidak memberitahu ku apa-apa!!]
[Andreas : Huh, jadi hanya itu masalahnya? Jadi kau sudah pulang? Ya, dia memang istriku, kami menikah kemarin secara sederhana, dan semua itu ada alasannya.]
[ Marco : Apa! Kemarin! Bahkan kakak sebelumnya juga tidak mengatakan apapun padaku! Apa benar-benar sudah tidak menganggapku keluarga hah!!]
Tuttt....
Tiba-tiba Andreas secara sepihak langsung mengakhiri dan mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.
Sungguh ia tidak tahu kenapa akhir-akhir banyak sekali orang yang membuat kesal, contohnya seperti hari ini. Ia beberapa kali dibuat kesal oleh banyak orang, yang bahkan seperti hampir membuatnya darah tinggi.
Apalagi sekarang ditambah dengan kepulangan sang adik secara tiba-tiba dan mengomel tidak jelas sejak tadi karena bertemu dengan Zarin di mansion.
Tanpa ba bi bu lagi, pria itu dengan kesal akhirnya memilih untuk pulang saja ke mansion, ia ingin menjelaskan semuanya pada sang adik sebelum semuanya menjadi berantakan dan tidak sesuai dengan rencanannya.
"Perintahkan yang ada di bawah untuk menyiapkan mobilku di depan! Aku sedang terburu-buru!" Titah Andreas pada seorang pria yang mengenakan setelan pakaian serba hitam itu, pria itu dengan sigap langsung menghubungi rekannya yang ada dilantai dasar untuk segera menyiapkan apa yang diperlukan oleh sang tuan.
Andreas dengan tergesa-gesa segera turun dari gedung itu menggunakan lift khusus para petinggi dan bergegas menuju ke arah mobil mewah miliknya yang sudah terparkir tepat di depan pintu keluar.
Tentu saja ia tidak akan menyetir sendiri seperti kebiasaanya, selalu ada seseorang atau anak buahnya yang akan berada di belakang kemudi itu dan ia hanya tinggal bersantai di jok kursi penumpang.
__ADS_1
Hanya saja kali ini sopir pribadinya bukanlah Ricard. Karena pria itu sudah pergi sejak tadi untuk menyelesaikan tugasnya.
Baru saja mobil mewah itu keluar dari kawasan gedung perusahaan milik Andreas namun tiba-tiba saja mobil itu terhenti karena banyak orang yang sepertinya merupakan penjual bucket dan juga para pembeli yang sebelumnya telah ia lihat dari jendela ruangannya memadati jalanan yang ada di depan gedung perusahaannya.
Bahkan ada seorang yang mengetuk kaca mobilnya dan berusaha menawarkan bucket itu padanya.
Namun sang sopir terus menyalakan klakson mobil untuk memperingatkan mereka semua agar cepat menyingkir dan memberikan jalan untuk mereka berdua.
"Tunggu! Jangan jalan dulu." Cetus Andreas sembari membuka kaca jendela mobilnya.
"Baik boss."
Andreas lantas memanggil seorang wanita yang membawa beberapa bucket coklat dan bucket bunga agar mendekat ke mobilnya.
"Bucket untuk orang tersayang, Tuan. Silahkan." Ucap wanita itu sembari mengulurkan sebuah bunga mawar mewah pada Andreas.
Pria itu lantas meraih bucket tersebut dan memberikan beberapa lembar uang pada sang wanita, namun dengan cepat ditolaknya.
"Maaf Tuan, ini gratis. Kami tidak menjualnya, kami hanya memberikannya dan membagi-bagikannya secara cuma-cuma untuk memperingati hari kasih sayang." Ucap wanita yang mengenakan pakaian casual itu.
Andreas hanya tertegun, ia tidak tahu jika ternyata apa yang ia lihat sejak tadi bahkan sejak dari ruangannya ternyata bukanlah penjual bucket, melainkan orang yang sedang membagi-bagikan bucket untuk merayakan hari valentine--hari kasih sayang.
Jujur, apa yang dilakukan orang-orang yang kini ada disekitarnya terasa begitu hangat, bahkan hal itu juga membuat Andreas menjadi teringat akan masalalunya dengan sang mantan kekasih yang juga selalu merayakan hari valentine bersama.
"Pasti untuk Nona Zarin ya Tuan?" Cetus pria yang ada di belakang kemudi itu tanpa sadar.
"Hah? Apa?!"
*
*
*
__ADS_1