
Sungguh pagi ini cukup untuk membuat Andreas merasa kesal, apalagi karena ulah istrinya sendiri.
Namun ia tidak mau semakin larut dalam urusan yang berkaitan dengan istrinya lagi, karena ia kini malah merasa takut jika semakin hari ia akan semakin merasa peduli dengan wanita itu, seperti kejadian pagi ini contohnya.
"Bos, ini laporan pendapatan bisnis bulan ini, sedikit ada kenaikan dibandingkan bulan kemarin." Jelas Ricard secara singkat sambil mengulurkan sebuah map yang berisi beberapa berkas.
Andreas yang kini duduk di kursi kebesarannya di dalam sebuah gedung yang juga merupakan miliknya itu pun lantas meraih map itu, dan melihatnya secara rinci.
Namun sebenarnya tidak perlu dilihat lagi secara detail karena ia percaya dengan hasil pekerjaan Ricard yang selalu bekerja dengan baik selama ini.
Andreas lantas menutup kembali berkas-berkas itu dan meletakkannya di atas meja sambil mendekatkan dirinya ke arah meja tersebut.
"Ric, aku mau kamu menjatuhkan semua usaha dan bisnis Ronny, aku juga mau kamu yang turun tangan sendiri dengan semua anak buahmu. Buat dia bangkrut agar semakin bertelur lutut padaku, dan nanti aku akan semakin membuatnya sengsara dengan Zarin sebagai alatnya." Titah Andreas dengan gamblang dan cukup jelas.
Bahkan tatapan yang tadi pagi Ricard lihat dengan apa yang ia lihat sekarang nampak jelas berbeda, karena tatapan Andreas kali ini penuh dengan amarah dan dendam yang semakin menggebu-gebu.
Ricard tentu saja hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan patuh, apapun akan ia lakukan untuk membantu bosnya dan menyelesaikan pekerjaannya, apalagi ia juga tahu bagaimana cerita yang sebenarnya tentang Rony yang telah merenggut nyawa keluarga Andreas dengan begitu keji.
Dendam itu juga seolah melekat dan mendarah daging dalam hati Ricard yang sudah menganggap Andreas sebagai keluarganya sendiri.
"Bereskan hal ini secepatnya, jika misi ini berhasil dengan mulus, aku akan memberikan mu bonus yang cukup besar, bahkan aku juga akan memberikan mu satu daerah kekuasaan." Imbuh Andreas yang kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya itu.
"Baik bos, saya akan berusaha semaksimal mungkin." Balas Ricard sambil menganggukkan kepalanya untuk kedua kalinya.
Ricard lantas memilih berpamitan pergi untuk segera menjalankan semua misinya dengan para anak buah kepercayaannya, dan hingga akhirnya kini hanya tinggal tersisa Andreas sendiri di dalam ruangan yang cukup besar itu.
Pria matang itu beranjak dari tempat duduknya dan mengarahkan tatapannya ke luar jendela yang berada di lantai 5 itu.
__ADS_1
Perhatiannya tiba-tiba saja tertuju pada seorang penjual bucket bunga dan coklat dipinggir jalan yang terlihat dari dalam ruangannya, apalagi hari ini adalah hari ini bertepatan dengan moment valentine yang sangat berkaitan dengan cinta kasih sayang, bunga, coklat dan sebagainya.
Sudah beberapa tahun rasanya ia tidak pernah lagi merayakan hari valentine semenjak hubungannya dengan sang mantan kekasih kandas, meskipun sebenarnya ia juga bukan tipikal pria yang bisa melakukan hal dan bersikap romantis, namun mantan kekasihnya adalah tipikal seorang yang memiliki jiwa romantis dan selalu merayakan valentine bersamanya dulu.
Bayangan manis yang sebenarnya terasa sangat pahit dan menyakitkan di hati Andreas kini seketika muncul kembali dan membuat perasaanya menjadi tidak karuan.
Ddrrrttt....
Ddrrrttt...
"Apa lagi ini! Brengs*k!" Umpat Andreas yang kini semakin kesal karena ponselnya terus bergetar karena sebuah panggilan masuk yang ternyata dari Laura.
Baru juga ia merasakan perasaanya yang mulai berkecamuk tidak jelas, sekarang malah ditambah wanita yang sejak kemarin membuat kepalanya pening, meskipun disisi lain wanita itu juga merupakan alat pemuaasnya.
Andreas saat ini benar-benar sedang cukup malas rasanya menanggapi Laura yang sudah bisa ia pastikan akan mengajaknya untuk merayakan hari valentine hari ini, jadi ia memilih untuk mengacuhkan panggilan itu dan kembali mengarahkan tatapannya ke luar jendela.
*
Namun sejak tadi perhatian Zarin terus terpusat pada beberapa foto yang ada di ruang tengah maupun di beberapa ruangan tertentu. Seperti sebuah foto keluarga yang cukup lengkap, ada ayah, ibu, kakak dan adik.
Zarin yakin jika salah satu anak yang ada di dalam foto itu adalah foto Andreas semasa kecil.
"Kemana kedua orangtuanya? Lalu, apa dia memiliki seorang adik laki-laki? Itu foto Andreas 'kan?" Cecar Zarin pada seorang anak buah Andreas, sungguh ia kini malah seperti wartawan saja yang semakin banyak bertanya pada kedua anak buah Andreas yang sejak tadi mengikutinya.
Pria yang ada disamping Zarin itu lantas mengangguk. "Ya benar Nona. Dia adalah Tuan Andreas saat masih kecil, dan pria itu adalah Marco yang merupakan adik kandung Tuan Andreas. Sedangkan untuk kedua orangtuanya, mereka sudah lama meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis. Bahkan kejadian itu sudah cukup lama, dan sepertinya selalu membekas di hati Tuan Andreas." Jelas pria yang berpakaian serba hitam itu.
Mendengar penjelasan singkat dari pria itu, Zarin hanya manggut-manggut saja.
__ADS_1
"Dimana Marco sekarang? Apa dia juga tinggal di sini? Tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya?" Sekali lagi Zarin memberikan cecaran pertanyaan pada anak buah Andreas.
"Tuan Muda Marco sedang berada di luar negeri untuk mengurus beberapa permasalahan bisnis keluarga. Tapi sebenarnya ia juga tinggal di mansion ini. Mungkin lusa Tuan Muda Marco sudah kembali ke tanah air." Jelas pria itu sekali lagi.
Untuk kedua kalinya, Zarin hanya manggut-manggut saja dan kembali melanjutkan langkahnya ke sebuah ruangan yang ada di dekat kamarnya, tepatnya itu adalah ruang kerja milik Andreas.
Baru saja Zarin hendak memegang knop pintu ruangan itu, namun dengan cepat langsung dicegah oleh salah satu pria yang sejak tadi bersama Zarin.
"Maaf Nona, tidak ada yang boleh masuk ke dalam ruangan pribadi Tuan Andreas kecuali atas permintaannya." Pria itu langsung menjadikan tubuhnya sebagai tameng di depan Zarin, agar wanita itu tidak bisa masuk ke dalamnya.
"Tapi aku istrinya, pasti aku boleh masuk. Lagi pula apa isi ruangan ini?" Ucap Zarin yang merasa sangat penasaran dengan isi ruangan itu, dan bersikeras untuk masuk ke dalamnya.
Namun apapun alasannya, bahkan jika Zarin istri Andreas sekalipun, dua pria itu tidak akan pernah mengizinkan wanita itu untuk masuk ke dalam, dari pada mereka harus mendapatkan resiko yang cukup besar dan mempertaruhkan pekerjaan serta keselamatan mereka.
Keduanya juga bersikeras melarang Zarin agar tidak masuk, meskipun wanita itu terus mengemis meminta agar bisa masuk ke dalamnya.
"Biarkan aku masuk! Ayolah cepat, aku hanya ingin melihat dalamnya saja, aku juga tidak akan membuat onar atau mengambil barang apapun dari dalam sana!" Pinta Zarin yang semakin keras kepala.
Bahkan wanita itu berusaha menembus pertahanan kedua pria itu karena cukup penasaran dengan rahasia yang ada dibalik pintu ruangan itu, namun sayangnya tiba-tiba seorang pria datang dan meraih bahu Zarin dengan cengkeraman yang cukup kasar dan menariknya ke belakang.
"Hentikan! Apa yang kamu lakukan!"
*
*
*
__ADS_1