Istri Rahasia Sang Mafia

Istri Rahasia Sang Mafia
Bab 39. Tidak Punya Harga Diri


__ADS_3

Kedua mata Andreas langsung membola sambil ia mendengus kasar saat wanita yang ada di dalam gendongannya mulai sadarkan diri, dan bahkan kini telah membuka matanya lebar-lebar sambil menatap lekat ke arah Andreas.


Zarin pun juga lantas tersenyum lebar sambil memeluk erat tubuh suaminya itu karena ia benar-benar merasa senang Andreas begitu perhatian padanya, karena nyatanya saat ia sedang tidak sadarkan diri pun pria itu senantiasa menggendongnya.


Wanita itu memang tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi padanya, ia hanya mengira bahwa dirinya sedang merasa tidak enak badan dan akhirnya kehilangan kesadarannya.


Tatapan Zarin kali ini sungguh membuat Andreas merasa tidak nyaman, bukan tidak senang, melainkan ia benar-benar dibuat merasa kikuk saat ini dan dengan reflek pria itu langsung melepaskan gendongannya begitu saja sehingga membuat Zarin hampir saja terjatuh, namun untung saja wanita itu sudah memeluk erat tubuh Andreas sejak tadi sehingga ia tidak langsung terjatuh begitu saja.


"And....! Jahat sekali!" Sahut Zarin sambil mengerucutkan bibirnya seperti bebek.


Namun Andreas tetap bersikap dingin, pria itu langsung berusaha melepaskan Zarin dari tubuhnya, meskipun wanita itu juga terus bersikeras tidak mau turun dan masih memeluk erat tubuh suaminya.


"Kau menipuku, hah! Aku pikir kau iki pingsan atau malah mati! Jadi kamu hanya berpura-pura, hm? Menyesal aku telah menolongmu! Dasar wanita hama!" Cetus Andreas sambil masih berusaha melepaskan tubuh Zarin yang bergelayut ditubuhnya.


Sontak, tuduhan Andreas membuat Zarin cukup terkejut.


"Apa! Berpura-pura apa lagi! Aku tidak sedang berpura-pura apapun! Lagi pula untuk apa juga aku melakukannya, hah!" Sahut Zarin yang akhirnya memutuskan untuk melepaskan pelukannya dan turun dari tubuh suaminya itu dengan kesal.


Zarin menghentakkan kedua kakinya dengan cukup kesal karena merasa tersinggung dengan kalimat Andreas yang selalu menuduhnya yang tidak-tidak.


"Ah tunggu-tunggu. Tadi apa yang kamu katakan? Menolong, hm? Menolongku? Menolong untuk apa?" Imbuh Zarin yang seketika penasaran dengan maksud dari perkataan suaminya.


Andreas lantas melipat kedua tangannya di depan dada sambil berdiri dengan santai menatap lekat ke arah Zarin.


"Jangan berakting! Berlebihan!" Balas Andreas dengan ketus.


"And..! Aku sungguh tidak mengerti apa maksud mu sebenarnya, dan menolong apa! Jelaskan padaku, aku ini kenapa tadi!" Ujar Zarin seolah ingin berusaha meyakinkan suaminya agar pria itu percaya dan tidak menuduhnya lagi.


Tatapan mata dan mimik wajah Zarin memang terlihat meyakinkan, apalagi Andreas tahu betul jika istrinya juga tidak mungkin memberikan tubuhnya pada orang lain, terutama pada Jimmy yang merupakan orang asing yang baru saja ia kenal.

__ADS_1


"Hah sudah lupakan!" Sahut Andreas sambil beranjak pergi meninggalkan Zarin dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Hei tunggu! And! Hih dasar menyebalkan!"


*


Brak!!


"Sial! Aku tidak mau tahu, kalian harus membuat wanita itu bertekuk lutut padaku dan menjadi milikku seutuhnya!" Ucap Jimmy sambil membanting beberapa benda yang ada di atas mejanya.


Sejak semalam, amarahnya semakin memuncak karena ia telah gagal mendapatkan apa yang ia mau, bahkan sekarang pintu untuk mendapatkan Zarin seutuhnya seolah sirna begitu saja karena sudah ia bisa duga jika Andreas pasti akan menghalanginya mendekati Zarin meskipun ia sendiri juga tidak tahu apa status keduanya yang sebenarnya.


Kedua anak buah kepercayaan Jimmy hanya tertunduk sambil terdiam membisu, keduanya bingung harus bersikap bagaimana menghadapi sikap labil bosnya itu, apalagi perihal wanita, ditambah lagi mengingat kegarangan Andreas semalam, mana mungkin mereka bisa membantu bosnya meskipun mereka juga tidak akan pernah bisa menolak perintah Jimmy.


"Bagaimana kinerja yang lain? Apa mereka sudah mendapatkan informasi tentang apa hubungan wanita itu dengan Andreas, hm?" Imbuh Jimmy sambil beranjak mengibaskan jas warna abu-abu muda yang ia kenakan, sebenarnya hari ini ia sudah memiliki janji dengan pengusaha properti yang akan bekerja sama dengannya, namun karena mood nya tiba-tiba saja memburuk, akhirnya ia membatalkan pertemuan itu dan memilih mengurus urusan pribadinya yang tidak jelas itu.


"Maaf bos, kami belum mendapatkan informasi terkait status hubungan keduanya, kami hanya mendapatkan informasi pribadi nona Zarin saja, siapa orangtua dan keluarganya." Jawab seorang pria dengan perawakan tinggi tegap dan memiliki brewok tebal yang menghiasi wajahnya.


Sumpah demi apapun rasanya ia ingin melakukan berbagai cara untuk bisa mendapatkan wanita itu, tidak peduli lagi dengan Andreas jika mantan temannya itu akan bersiteru dengannya.


"Baiklah jika seperti itu, kita datangi saja keluarganya sekarang!" Ucap Jimmy sambil menarik sudut bibirnya dengan sinis sambil menatap lekat ke arah depan seperti memiliki sebuah rencana jahat yang akan ia lakukan nantinya demi bisa mendapatkan wanita impiannya itu.


*


"And, mau kemana? Aku ikut ya." Sahut Zarin yang tiba-tiba saja berjalan mengekor di belakang Andreas yang sudah rapi mengenakan pakaian formal.


Ya, hari ini ia mendapatkan sebuah undangan acara pemberkatan pernikahan salah satu partner bisnis legalnya di suatu tempat.


Pria yang kini mengenakan setelan jas berwarna navy yang begitu pantas menempel ditubuhnya itu langsung menoleh ke arah Zarin yang sudah mengenakan dress dengan warna yang ternyata senada dengan jasnya itu.

__ADS_1


"Di rumah saja. Aku ada urusan penting, dan tidak mungkin mengajakmu." Balas Andreas yang tanpa basa basi lagi langsung beranjak pergi meninggalkan Zarin.


Cup!


Deg!


Tiba-tiba saja sebuah kecuupan hangat mendarat tepat di pipi sebelah kanan Andreas dan tentu saja membuat pria itu sangat terkejut, bahkan kini pipinya terlihat memerah akibat sebuah bekas lipstik yang berasal dari bibir Zarin.


Wanita itu langsung bergelayut manja dilengan Andreas yang kini menghentikan langkahnya.


"Aku ikut ya sayang. Aku berjanji tidak akan membuat ulah, lagi pula aku suntuk di rumah. Kamu boleh menganggap atau memperkenalkan aku sebagai apa saja nanti di tempat umum." Sahut Zarin yang sebenarnya juga tidak tahu kemana pria itu akan pergi, namun yang jelas ia ingin tetap ikut.


Sungguh Andreas semakin tidak habis pikir dengan sikap Zarin yang semakin hari semakin ada-ada saja bahkan penuh dengan kejutan itu.


Andreas menghela nafasnya dengan kasar, sesungguhnya ia tidak mau mengajak Zarin karena beberapa alasan, salah satunya ia tidak mau wanita itu nantinya akan menjadi pusat perhatian para pria apalagi dandannya yang selalu tampil seksi dan menawan itu, sudah pasti akan selalu menjadi perhatian para mata keranjang.


Tapi sekarang, apa boleh buat, karena wanita itu terus merengek meminta ikut, akhirnya mau tidak mau Andreas mengiyakan saja permintaannya selagi wanita itu tidak membuat masalah nantinya.


"Baik, ikutlah. Tapi jangan dekat-dekat seperti ini, kau ini seperti tidak memiliki harga diri saja, huh!" Ucap Andreas sambil melirik ke arah pelukan Zarin dilengannya.


"Memang sudah tidak memiliki harga diri lagi, karena kau telah merenggut semuanya sayang."


Deg!


Apa! Apa yang dikatakan wanita hama ini! Apa dia sekarang benar-benar sudah menjadi wanita gila atau bahkan sepertinya dia sudah menjadi wanita binaal sekarang! Huh!


"Hah bicara apa kau ini! Sudah diam jangan mengoceh terus seperti bebek!"


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2