Istri Rahasia Sang Mafia

Istri Rahasia Sang Mafia
Bab 7. Jangan Macam-macam!


__ADS_3

"Bawa dia masuk ke dalam, tutup semua pintu keluar dan perketat penjagaan! Jangan biarkan siapapun masuk, kecuali Ricard yang membawa orangtuanya!" Titah Andreas dengan tegas, pria itu kemudian berbalik badan dan mengibaskan jas yang ia kenakan.


Patuh, semua anak buah Andreas serentak dengan kompak menjawab, dan kemudian beberapa diantaranya segera membawa paksa Zarin masuk kembali ke dalam mansion yang sejak tadi meronta - ronta minta dilepaskan.


"Lepaskan! Aku tidak mau menikah! Lepas!" Pinta Zarin sambil terus meronta, namun sayang tenaganya tidak lebih kuat dari para anak buah Andreas yang sejak tadi memapahnya secara paksa untuk masuk.


"Diamlah Nona, patuhi saja semua perintah Boss. Lagi pula kamu ini akan menikah dengan orang terpandang, mafia yang disegani, tampan dan kaya. Kurang apalagi, hm?" Sahut seorang pria yang sejak tadi sudah mulai terganggu dengan rengekan Zarin yang terus minta dilepaskan itu.


Tidak mau terlalu menggubris ucapan pria itu, Zarin hanya mendelik sambil masih terus meronta meskipun semakin lama ia semakin tersadar bahwa apa yang ia lakukan pasti hanya akan sia-sia, Andreas dan para anak buahnya tidak akan dengan semudah itu melepaskannya dan membiarkannya kabur.


Kini, akhirnya setelah berbagai drama yang terjadi kedua calon mempelai sudah berada di dalam rumah yang disulap secara sederhana sebagai tempat pernikahan dengan di dampingi oleh seorang pria yang nantinya akan menjadi pemimpin upacara pemberkatan pernikahan mereka.


Tidak berselang lama juga, kedua orangtua Zarin pun juga telah datang bersama dengan Richard dan segera masuk ke dalam mendekat ke arah kedua calon mempelai karena upacara pemberkatan pernikahan itu akan segera di mulai.


Sejak semalam, Karin--ibu Zarin tidak kuasa menahan air matanya karena ia sungguh tidak tega harus melihat putrinya menikah dengan pria yang tidak ia cintai, bahkan pria yang terkenal kejam.


Tapi apa daya, ia tidak bisa berbuat banyak, semua keputusan kini ada ditangan suaminya dan juga Andreas. Karena ia sadar bahwa ia tidak memiliki kekuatan apapun, bahkan kekuasaan untuk melawan.


Hingga tak berselang lama akhirnya pengucapan janji suci pernikahan itu berjalan secara khidmat dan berjalan lancar meskipun semuanya terkesan mendadak dan tanpa persiapan apapun.


Kini keduanya, Andreas dan juga Zarin telah resmi menjadi sepasang suami istri. Bukan tangis haru yang pecah setelah prosesi pernikahan itu, melainkan tangis penyesalan dan kesedihan yang terpancar dari raut Zarin dan ibunya.


Mulai detik ini semua akan berubah, Zarin telah menjadi istri seorang Andreas dan harus patuh pada semua perintah suaminya.


"Antarkan mereka pulang, acara sudah selesai. Mulai detik ini, dia sudah menjadi istriku. Semua kehidupannya ada ditangan ku." Ucap Andreas kemudian menarik paksa Zarin untuk naik ke atas, dan bahkan tidak memberikan kesempatan padanya untuk mengucapkan salam perpisahan pada kedua orangtuanya.


"Tapi, dia tetap putriku. Biarkan aku memeluknya sebentar." Tutur Karin yang hendak melangkah menghampiri putrinya namun segera dicegah oleh suaminya -- Rony.


"Karin, hentikan! Dia sudah memiliki suami, kita sudah tidak bisa mengganggunya! Sekarang kita lebih baik pergi." Ucap Rony dengan gamblang.


Sungguh, Karin ingin sekali menampar wajah suaminya dengan keras karena ia benar-benar dibutakan oleh harta hingga harus merelakan putri mereka satu-satunya pada pria kejam sekelas Andreas.

__ADS_1


"Mommy... Hih lepaskan tangan ku! Biar kan aku memeluk ibuku sebentar saja!" Sahut Zarin.


Sumpah demi apa hatinya hari ini benar-benar hancur, selain harus menikah dengan pria yang menurutnya brengs*k, ini juga sepertinya adalah awal dari perpisahannya dengan sang ibu dan entah sampai kapan ia bisa bertemu lagi.


Namun Andreas tidak mau tahu, ia tetap menarik paksa Zarin untuk segera masuk ke kamar besar yang merupakan kamar miliknya secara kasar.


"Masuk! Patuh atau aku akan lebih bersikap kasar!" Ucap Andreas sambil mendorong tubuh Zarin masuk ke dalam kamarnya.


Zarin lantas tersungkur ke atas lantai, dan segera bergegas untuk beranjak bangkit sambil memegangi pergelangan tangannya yang mulai memerah karena perlakuan kasar pria yang kini telah menjadi suaminya.


Tanpa basa-basi, Andreas segera mengunci pintu itu dan tidak peduli lagi apakah orangtua Zarin masih dibawah atau sudah pergi, karena yang jelas mulai hari ini ia ingin bersenang-senang dengan wanita yang kini telah menjadi miliknya seutuhnya dan melakukan apapun yang ia sukai tidak peduli bagaimana perasaan wanita itu nantinya.


Andreas melepaskan jas yang sejak tadi ia kenakan dan melemparnya ke sembarang arah, ia juga mulai melepaskan semua kancing kemejanya serta melepaskan ikat pinggangnya sambil melangkah mendekat ke arah Zarin yang sudah berdiri memandangi pria yang kini menjadi suaminya itu.


"Kamu mau apa? Kita menikah tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya padaku, aku tidak ingin melakukannya! Kamu tidak bisa memaksaku!" Ujar Zarin sambil melangkah mundur menghindari Andreas yang malah semakin berusaha mendekat padanya.


Pria itu hanya menarik sudut bibirnya dengan sinis dan kini mulai melepaskan kemejanya sehingga dada bidang itu terpampang nyata dihadapan Zarin.


Andreas mulai terkekeh mendengar peringatan istrinya itu sambil terus mendekat dan akhirnya mendorong tubuh Zarin hingga tersungkur ke atas ranjang.


"Berteriaklah sekuat tenagamu, tidak akan ada yang bisa mendengarnya karena ruangan ini kedap suara. Bahkan jika aku menidurimu atau menyiksamu di sini hingga kamu berteriak kesakitan dan mengaduh ampun tidak akan ada yang tahu." Jelas Andreas sambil diiringi kekehan yang terdengar begitu renyah.


Kedua mata Zarin hanya bisa mendelik, ia menggelengkan kepalanya seolah ia tidak mau jika Andreas melakukan hal yang aneh-aneh padanya meskipun mereka telah resmi menikah.


Namun Andreas semakin mendekat hingga mengikis jarak diantara keduanya dengan tubuh Andreas yang kini mulai mengungkungi tubuh wanita itu, seolah siap untuk melakukan sesuatu.


"Jangan, aku mohon! Beri aku waktu untuk siap melakukan hal itu denganmu. Aku mohon!" Pinta Zarin dengan wajah memelas.


Bukannya segera beranjak, namun sepertinya Andreas sedang ingin mempermainkan perasaan wanita itu. Ia malah semakin mendekatkan wajahnya hingga hampir menempel dan membuat kedua mata Zarin terpejam.


Kejadian itu bahkan hampir mirip dengan apa yang dilakukannya kemarin di kamar Zarin hanya saja kali ini posisi mereka sedang berada di atas ranjang dan saat ini sudah resmi menikah.

__ADS_1


"Apapun yang akan ku lakukan padamu kamu harus patuh! Sekarang kamu adalah milikku seutuhnya, itu artinya sekarang kamu adalah manekin hidup ku sekarang!!" Ucap Andreas dengan cukup keras tepat di telinga Zarin.


"Kamu pikir aku akan memperlakukan mu baik seperti seorang istri pada umumnya? Hah, jangan mimpi terlalu indah karena mimpi burukmu akan segera dimulai!"


Untuk kedua kalinya kalimat Andreas terdengar cukup keras, bahkan hampir membuat telinga Zarin berdengung. Namun ancaman itu cukup membuatnya merinding ketakutan apalagi kini kedua tangan Andreas seolah sedang semakin mengancamnya dengan mencengkeram erat rahangnya hingga membuatnya mengaduh kesakitan meminta untuk dilepaskan.


Namun detik selanjutnya setelah puas dengan ancamannya, Andreas melepaskan cengkeraman itu dengan kasar dan kemudian beranjak bangun.


"Bangun dan segera keluar dari kamar ku!" Titah Andreas dengan cukup keras.


Zarin segera mengusap air matanya dan kemudian bergegas beranjak pergi. Sungguh ia kini mulai takut dengan sikap Andreas yang terlihat semakin kasar padanya, bahkan seolah sedang memperingatkannya jika pria itu akan terus menyiksa batin bahkan fisiknya nantinya.


Baru saja Zarin membuka pintu kamar itu, tiba-tiba kebetulan saja seorang wanita dengan tubuh yang tidak kalah seksi dari dirinya, bahkan dengan pakaian yang cukup menggoda datang dan menatapnya dengan tatapan tidak suka, lalu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Andreas yang masih berdiri di dekat ranjang.


"Siapa wanita ini, And?" Sahut Laura sambil mengedarkan pandangannya dari bawah sampai atas ke arah tubuh Zarin dengan sinis.


Ya, dia adalah Laura yang dengan nekat datang ke mansion Andreas, padahal ia sudah beberapa kali diperingatkan agar jangan pernah lagi datang ke mansion. Namun wanita satu itu memang keras kepala, ia bahkan tidak mempedulikan segala ancaman atau perintah Andreas.


Baru saja berbalik badan dengan kesal karena ia tahu betul itu adalah suara Laura, wanita yang merupakan teman ranjangnya itu malah segera berlari berhambur memeluk dan bahkan mengecup bibir Andreas di hadapan Zarin, Laura juga melirik ke arah Zarin sambil menikmati kecupannya di bibir Andreas dengan tatapan sinis.


"Aku sudah bilang jangan kemari!" Desis Andreas sambil sedikit mendorong tubuh Laura, sumpah ia tidak suka jika Laura datang ke mansionnya, apalagi saat ini sudah ada Zarin dan hal itu dapat menggagalkan semua rencana balas dendamnya.


"Sayang, kasar sekali! Lagi pula kenapa aku tidak boleh kemari! Apa kamu tidak merindukan aku! Tunggu, siapa dia!" Ucap Laura sambil menunjuk ke arah Zarin yang masih berdiri di depan pintu yang sejak tadi melihat pemandangan yang seakan hampir merusak pengelihatannya.


"Ah dia itu..."


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2